Prolog

796 คำ
Hujan di Malang malam itu tidak deras, hanya cukup untuk membuat cahaya lampu kota tampak buram dari balik jendela ruang tamu kecil milik Inari Handayani. Tetesannya jatuh pelan, bersahutan dengan detak jantungnya yang sejak tadi berdetak terlalu keras. Ia duduk di sofa dengan selimut tipis melingkari tubuhnya, menatap ke luar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Udara malam yang lembap membawa aroma tanah basah masuk ke dalam ruangan. Dingin menempel di kulitnya, menegaskan kesunyian yang terasa semakin nyata. Di meja kecil di depannya, dua cangkir teh terletak berdampingan. Satu sudah dingin, uapnya menghilang sejak lama, meninggalkan bekas lingkaran pucat di permukaan kayu. Satu lagi masih mengepul, hangat seperti perasaan yang belum sepenuhnya ia relakan mati. Ia menyiapkan dua cangkir itu tanpa berpikir panjang. Karena lelaki yang sebentar lagi mengetuk pintu adalah orang yang seharusnya ia jauhi sejak awal. Bramasta. Nama itu selalu membuat dadanya bergetar. Teman SMP yang kembali hadir setelah hampir dua puluh tahun menghilang. Lelaki yang awalnya ia kira hanya singgah sebagai kenangan. Lelaki yang ia pikir sendiri. Lelaki yang membuatnya jatuh terlalu mudah, terlalu cepat, dan terlalu dalam. Kini Inari sudah tahu kebenarannya. Foto-foto itu masih jelas di benaknya. Cincin di jari Bramasta. Senyum seorang perempuan bernama Raisa. Seorang anak kecil yang berdiri di antara mereka. Tujuh tahun pernikahan. Tujuh tahun kehidupan yang sama sekali bukan miliknya. Inari menelan ludah. Dadanya terasa perih. Ironisnya, tujuh tahun itu adalah waktu yang sama ketika ia pernah menjadi istri sebelum akhirnya diceraikan karena suaminya memilih perempuan lain. Dulu ia korban dari pengkhianatan. Sekarang, ia berdiri di posisi yang paling ia benci. Ia tahu seharusnya ia mundur. Menutup pintu. Mengakhiri semuanya sebelum perasaannya makin menjerat. Namun hati manusia tidak pernah sesederhana logika. Setiap kali ia mencoba berhenti, enam bulan terakhir selalu muncul begitu jelas. Bramasta yang datang saat ia terpuruk. Bramasta yang memeluknya ketika tangisnya pecah. Bramasta yang mendengarkan tanpa banyak bertanya, tanpa menuntut apa pun darinya. Lelaki itu hadir ketika dunia seolah berpaling darinya. Justru itu yang membuatnya hancur sekarang. Karena sebagian dari kehadiran itu adalah kebohongan yang tidak pernah ia sadari. Tok. Tok. Tok. Ketukan pintu itu membuat napas Inari tercekat. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha mengumpulkan sisa keberanian yang masih tersisa, lalu berdiri dan membuka pintu. Bramasta berdiri di sana. Rambutnya sedikit basah oleh hujan, jaket hitam menempel di tubuhnya. Senyum hangat itu masih sama, senyum yang dulu membuatnya jatuh cinta di usia empat belas, dan kini melukainya di usia tiga puluh empat. “Inari…” suaranya rendah dan lembut. “Tadi hujannya lumayan deras. Kamu baik-baik saja?” Ia hanya tersenyum kecil. Tidak menanyakan Raisa. Tidak menyebut anak itu. Ia tahu batasnya, meski hatinya memberontak. “Aku bikin teh,” katanya pelan, suaranya bergetar tipis. Bramasta masuk tanpa curiga, duduk di sofa, lalu menyentuh pundaknya sekilas. Sentuhan sederhana itu cukup untuk meruntuhkan pertahanan yang sejak tadi ia bangun dengan susah payah. Ia ingin berkata malam ini bahwa semuanya harus selesai. Bahwa ia tak mau menjadi perempuan kedua dan tak sanggup mengulang luka yang dulu hampir mematahkannya. Namun setiap kali Bramasta berbisik, “Aku kangen kamu, Ri,” kata-kata itu menghilang sebelum sempat terucap. Kenangan lama menyerbu tanpa izin. Catatan kecil yang diselipkan di bawah meja sekolah. Tawa di lapangan saat jam istirahat. Degup jantung pertama yang terasa aneh dan menyenangkan. Semua kenangan itu kini berubah menjadi rasa bersalah yang pahit. Inari tersenyum samar. Kenyataan paling menyakitkan adalah ia masih mencintainya, meski tahu cinta itu salah. Malam itu, ia membiarkan Bramasta tinggal. Membiarkan hujan menjadi saksi. Membiarkan kehangatan yang seharusnya tak ada kembali mengisi ruang tamu kecilnya. Bramasta menggenggam tangannya dan menuntunnya ke kamar. Mereka sudah menikah siri beberapa bulan lalu sebuah keputusan yang dulu terasa seperti pegangan, namun kini berubah menjadi beban yang kian berat. Di kamar, mereka saling menatap dalam diam. Tidak ada pembelaan atau janji. Hanya dua orang yang sama-sama tahu mereka keliru, tapi tetap memilih bertahan. “Aku rindu kamu,” bisik Bramasta. “Aku juga merindukanmu, Bram,” jawab Inari jujur, meski dadanya terasa sesak. Mereka saling menatap lalu saling mendekat, berbagi kehangatan dengan ciuman dan pelukan yang terasa benar sekalipun penuh dengan api. Inari tahu, dia di jalan yang salah. Namun, cinta telah membutakan logikanya. Dia memilih percaya bahwa cinta yang dimilikinya pantas untuk dipertahankan. Walau banyak kekacauan yang mungkin akan terjadi di kemudian hari, dia memilih untuk membungkam semua kemungkinan dalam diam. Malam itu, ia memilih tenggelam. Dalam pelukan yang salah, dalam cinta yang tak pernah benar. Ia tahu, pagi akan membawa air mata dan penyesalan. Namun untuk satu malam ini, ia memilih lupa. Di luar jendela, hujan mulai mereda. Kota Malang kembali sunyi. Inari menatap Bramasta di sisinya dan akhirnya mengerti bahwa terkadang cinta tidak datang sebagai hadiah melainkan juga sebagai hukuman yang kita terima dengan sadar, meski tahu rasa sakit akan mengikutinya setelah fajar menyingsing.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม