"Kita pulang,Mbak?" tanya Satriya ketika kami gagal membuntuti Mas Tara.
Aku menghela napas, mengatur hati yang terlanjur kecewa.
"Mbak!" Sentuhan di pundak menyentakku. Kutoleh ke kanan, tepat di mana Satriya menatapku penuh iba.
"Kita pulang, kan?" tanyanya lagi.
"Ke pasar dulu."
"Mau ngapain? Belanja sayur? Mas Tara, kan gak ada di rumah.".
Memijit kepala yang terasa berdenyut, begini kalau rekan kerjanya masih anak labil.
"Alasan pada Mama tadi ke pasar, Sat. Tidak lucu kalau kita pulang tanpa membawa apa pun."
"O, iya, Mbak. Lupa." Satriya menggaruk kepala yang tak gatal.
Satriya kembali melajukan kendaraan roda empat ini menuju Pasar Legi. Jarak antara pasar dan tempat kami berhenti sekitar sepuluh menit. Kali ini Satriya mengemudikan mobil dengan hati-hati.
"Mau beli apa, Mbak?" tanyanya setelah kami sampai di parkiran pasar.
"Gak tahh juga, Sat. Kepala Mbak pusing."
Aku tak bisa berpikir jernih. Hati dan pikiran terpaut pada Mas Tara.
Aku dan Satriya berjalan sejajar menuju pasar. Segera aku membeli sayur dan beberapa buah. Sebenarnya di kulkas masih ada beberapa beberapa jenis sayur. Namun kami tetap membeli agar Mama tidak curiga.
"Kalian ke pasar kenapa gak bilang-bilang?" tanya Mama sewaktu kami tiba.
"Tadi spontan, iya, kan, Sat?" Aku mengedipkan mata pada lelaki yang berdiri di sampingku.
"Benar begitu?"
"Iya, Ma."
"Tidak ada yang kalian tutup-tutupi dari Mama, kan?" Mama menatap kami bergantian.
"Aluna di mana, Ma?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Nonton TV di ruang keluarga, Lin," jawab Mama "Tara ti...."
"Alin masuk dulu, Ma." Kubawa dua kantung plastik ke dalam. Tak kuhiraukan Mama yang hendak menanyakan keberadaan Mas Tara. Aku malas mendengar nama itu.
Barang belanjaan kuletakkan di atas meja, kubiarkan Bibi menata sayur dan buah itu. Aku melangkah menuju ruang keluarga, tempat di mana Aluna berada.
Ternyata Mama dan Satriya sudah berada di sana terlebih dahulu. Ibu dan adik Mas Tara itu duduk di kasur lantai sambil menemani Aluna bermain.
"Mama!" teriak Aluna lalu berlari ke arahku. Bahkan masih ada lego yang ia bawa. Anak ini begitu antusias melihat kedatanganku.
"Mama dari mana, sih?" Dia mengerucutkan bibir, merajuk?
Tangan yang hampir memelukku ia tarik kembali. Lalu ia silangkan kedua tangan di d**a.
"Mama tadi diajak Om Satriya ke pasar."
"Aku?"
Kukedipkan mata ke arah Satriya. "Iya, tadi Om cari stroberi ke pasar tapi tidak ketemu."
"Om janji ngajak Aluna memetik stroberi, kan?"
Benar saja Aluna mengingat janji yang diucapkan Satriya dan Mama semalam. Anak ini memiliki ingatan yang kuat. Pantang memberikan janji padanya.
"Oma juga janji, kan?" Aluna menatap Mama dan Satriya bergantian. Wajahnya mengiba, pasti Mama tak akan bisa menolak kemauannya.
"Oke kita ke sana."
"Beneran, Oma?"
"Iya, Sayang."
"Hore! Hore!" Aluna melonjak kegirangan. Tawanya pecah seketika. Marahnya hilang dalam sekejap mata.
Anak kecil memang mudah memaafkan kesalahan orang lain. Namun apakah aku mampu memaafkan kesalahan yang telah Mas Tara lakukan? Tidak, tidak semudah itu memaafkan kesalahan fatal yang telah ia perbuat.
"Ayo kita bersiap!" Mama mengajak Aluna ke kamar.
"Mbak sarapan dulu. Mbak belum makan dari semalam, kan?" Satriya beranjak lalu melangkah mendekatiku.
"Aku tidak lapar, Sat. Kamu saja yang sarapan. Kamu harus kuat agar bisa menyetir mobil dengan baik." Kupaksa bibir ini tersenyum meski hati tergerus, remuk.
"Tapi, Mbak?"
"Mbak tidak apa-apa, Sat," ucapku lirih lalu melangkah pergi meninggalkan Satriya seorang diri di ruang keluarga.
Pintu kamar terbuka lebar, tapi tak kutemukan Aluna di sana. Putri kecilku pasti berada di dalam kamar Mama.
Aku melangkah gontai menuju kamar mandi. Baju ganti dan handuk sudah kuletakkan di tempatnya.
Guyuran air dingin sedikit menghilangkan rasa kantuk yang sempat mendera. Kusandarkan tubuh di dinding kamar mandi. Tetes demi tetes air shower mengenai tubuhku.
Bulir demi bulir jatuh membasahi pipi. Kubiarkan air mata ini berbaur dengan dinginnya air dari shower. Menangis, kukeluarkan semua beban yang mengganjal di pundak.
Setelah hati merasa tenang, aku segera keluar. Kukeringkan rambut yang masih basah kuyup menggunakan hairdryer.
"Mbak sudah siap?"
Aku menoleh ke belakang, Satriya sudah berdiri di mulut pintu sambil menatap ke arahku.
"Keluar, Sat!"
Satriya masih mematung sambil menatap lekat ke arahku.
"Satriya! Keluar!" teriakku.
"Eh, iya, Mbak. Maaf." Lelaki itu segera membalikkan badan kemudian menutup pintu rapat.
Dasar tidak tahu sopan santun. Harusnya dia mengetuk pintu sebelum menerobos masuk kamar orang. Menyebalkan.
Mobil yang Satriya kendarai melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan Aluna terus menyanyi, putri kecilku sangat bahagia. Harusnya Mas Tara yang ada di depan, bukan justru Satriya.
"Om nyalakan musiknya, dong. Lagu balonku ada lima," pinta Aluna sambil menyenggol tangan Satriya.
"Adek, duduk yang anteng." Aluna tak menghiraukan ucapanku, dia terus saja meminta Satriya menyalakan musik sesuai permintaannya.
"Ditepikan dulu, Sat."
Satriya segera menepikan mobil kemudian menyalakan musik sesuai permintaan putriku. Alunan lagu balonku ada lima menggema memenuhi mobil. Aluna pun mengikuti setiap syair lagu itu.
Mobil kembali berjalan menuju Tawangmangu, tempat kebun stroberi berada.
"Alin." Aku tersentak lalu menoleh ke kiri. Mama menatap penuh tanya ke arahku
"Kamu kenapa diam saja, Lin. Mama lihat dari tadi kamu melamun."
Aku menelan ludah dengan susah payah. Apa yang harus kukatakan padanya?
"Alin tidak melamun, Ma. Alin hanya menikmati pemandangan luar. Ternyata banyak, ya, yang pergi ke Tawangmangu. Lihat saja, jalanan sampai macet begini," jawabku sekenanya.
Mama mengangguk menyetujui ucapanku. Syukurlah, alasanku masuk akal.
"Mama mau makan keripik?" Kuberikan keripik singkong yang ada di depanku. Namun beliau menggeleng.
"Tara kenapa tidak ke rumah Mama, Lin?"
Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut mama. Ternyata aku tak bisa lagi mengalihkan pembicaraan ini.
"Mas Tara semalam lembur, Ma. Hari ini dinas ke luar kota. Dia minta maaf karena tidak bisa menginap di rumah Mama."
Maafkan, Alin berbohong, Ma. Tidak mungkin kukatakan semuanya. Ini bukan waktu yang tepat. Aku tidak mau Mama kembali jatuh sakit.
"Tapi kenapa kamu tidak pulang dan menyiapkan barang-barang Tara, Lin? Anak itu tidak suka menyiapkannya sendiri."
"Mas Tara melarang, Ma. Kasihan Mama katanya. Takut Mama kecewa."
"Tumben, Lin."
Aku mengangkat bahu, pura-pura tak mengerti. Walau aku yakin ada sesuatu yang Mas Tara sembunyikan di belakangku. Hanya waktu yang mampu menjawab semuanya.
"Kalian tidak sedang bertengkar, kan?" tanya Mama penuh selidik. Beliau seolah tak puas dengan jawaban yang baru saja kuberikan. Orang tua memang selalu peka dengan keadaan rumah tangga anaknya.
"Enggak kok, Ma."
"Kalau berantem Mbak Alin pasti ke rumah orang tuanya, Ma. Ngadu sama kakek neneknya Luna."
Aku memutar bola malas mendengar perkataan Satriya. Namun aku bersyukur ucapannya mempu membuat Mama diam dan percaya.
Setelah satu setengah jam perjalanan akhirnya kami sampai di kebun stroberi. Tepatnya di Bukit Sekipan, Tawangmangu.
"Ayo keluar," ucap Satriya.
Udara dingin dengan angin segar menyambut kedatangan kami. Tempat ini begitu indah dengan pemandangan gunung dan pohon. Di sini aku merasakan ketenangan.
"Dingin, ya, Ma." Aluna menyilangkan tangan di d**a.
"Tapi seger, kan?"
"Iya, Ma. Enak banget. Pemandangannya indah. Ayo kita panen stroberi." Aluna menarik tanganku.
Kami berjalan menuju kebun stroberi.
"Boleh makan di tempat, Pak?" tanya Satriya pada penunggu atau pemilik kebun itu.
"Perorang boleh makan maksimal dua buah stroberi, Mas."
"Ayo, Ma!" Aluna kembali menarik tanganku ini.
"Ambil keranjang dan guntingnya dulu, Sayang."
"Ini kakak cantik," ucap lelaki berkulit hitam sambil memberikan sebuah keranjang berwarna kuning dan sebuah gunting di dalamnya.
"Ayo, Ma." Aluna langsung masuk.
Aku mengikuti ke mana kaki Aluna melangkah. Dengan cekatan kuambil foto Aluna. Anak itu tanpa diminta bergaya sambil memamerkan stroberi yang ada di tangan kanannya.
"Asem, Ma."
"Ha ha ha, jelas asem yang kamu petik masih hijau, Lun." Satriya tertawa sambil memegangi perutnya.
"Om Satriya nakal, Ma."
"Sini biar Mama jewer." Aku mendekat ke arah Satriya. Tetapi lelaki itu justru berlari. Kami pun bermain kejar-kejaran, sudah seperti Tom dan Jerry saja.
"Aluna ambil stroberi yang berwarna merah, ya," ucap Mama.
Aluna mengangguk lalu segera memotong stroberi yang berwarna merah. Baru beberapa menit keranjang Aluna telah penuh dengan stroberi. Ada yang berwarna merah ada yang masih peralihan hijau dan merah. Tapi tak apalah, yang penting dia bahagia.
"Kita pulang, ya?" tanyaku saat kami berada di dalam mobil.
"Gak mau."
"Kita ke kampung Halloween mau, Lun?" tanya Satriya.
"Mau, Om. Aluna, kan tidak takut hantu."
"Oke, berangkat!" Satriya begitu antusias membahagiakan Aluna.
Harusnya dengan Mas Tara bukan Satriya. Ah, hati ini kenapa begini?
Mobil kembali berjalan. Tak butuh waktu lama kami telah sampai di kampung Halloween.
"Yakin Aluna berani masuk?" tanya Satriya sambil melirik ke arahnya.
"Berani, dong. Kan, ada Om sama Mama."
"Ha ha ha ..." Kami tertawa serentak.
Aku sedikit ragu jika ia benar-benar berani melihat replika hantu. Wahana ini terlalu menakutkan untuk anak seusianya. Tapi kalau ini kemauannya, yasudahlah. Toh ada Satriya di sini.
Kami turun dari mobil. Baru melihat patung hantu di depan ia sudah ketakutan.
"Ma, takut!" Aluna memeluk tubuhku erat.
"Aluna ...."
Aluna tak menjawab dia fokus menatap ke seberang jalan. Apa dia masih takut? Rasa penasaran membuatku membalikkan badan. Mataku melotot melihat dua orang yang ada di seberang jalan.