Ke Luar Kota

1262 คำ
Sebuah pernikahan harus dilandasi oleh kejujuran dan kepercayaan. Namun jika keduanya sudah tak ada mampukah aku bertahan? Atau memilih mundur dan menyerah? Kuhilangkan pikiran ini untuk sesaat. Karena aku sedang berada di rumah Mama. Jangan sampai ibu Mas Tara tahu. Jika putra kesayangannya sudah melakukan perbuatan memalukan. "Mbak Alin diam saja, itu kopi diminum, Mbak! Bukan dianggurin macam aku ini." Satriya duduk di kursi tepat di sampingku. Adik kandung Mas Tara memang suka ceplas-ceplos kalau bicara. Untung aku sudah kebal dengan tingkahnya. "Baru datang, Sat?" tanyaku lalu mengambil cangkir yang berisi kopi yang sudah dingin. "Sudah dari semalam, Mbak. Memangnya Mas Tara tidak cerita?" Dia tatap wajahku dengan lekat. Membuatku sedikit risih lalu memilih mengalihkan pandangan. "Memangnya harus cerita, gitu?" "Iya, aku tahu kok, aku memang gak penting buat kalian. Apa lagi buat Mbak Alin." Aku membuang napas, anak ini lama-lama menguji kesabaranku. Dia tidak tahu apa, perasaanku sedang tidak baik-baik saja. "Mbak Alin tidak sedang marahan sama Mas Tara, kan?" Aduh, ini anak kecil kenapa bisa tahu jika aku sedang marah dengan Mas Tara? "Tidak." "Yakin, Mbak?" Satriya menatapku penuh selidik. Ah, anak ini benar-benar seperti emak-emak rempong yang suka gosip. "Eh, anak kecil kuliah yang bener. Sudah umur berapa gak lulus-lulus." Satriya menghembuskan napas kasar lalu mengalihkan pandangan. Satriya sudah berusia 24 tahun, tapi hingga sekarang kuliahnya tak juga selesai. Entah apa yang ia lalukan hingga betah menyandang status mahasiswa. "Aku sudah 24 tahun, Mbak. Sudah bisa menentukan hidup. Termasuk mencari jodohku sendiri." "Mana ada cewek yang mau sama kamu, Sat. Makannya lulus lalu cari kerja biar punya cewek." "Dengerin nih, Satriya akan lulus kuliah demi Mbak Alin." "Mama yang akan jadi saksinya, tahun depan kamu harus sudah wisuda." Satriya menggaruk kepala yang tak gatal kemudian memilih masuk ke dalam. Setelah kepergian Satriya, mendadak suasana menjadi tegang. Bohong jika aku pandai menyembunyikan perasaan ini. Sekuat hati berusaha biasa saja tapi pikiran ini selalu tertuju padanya. "Tara belum pulang, Lin?" tanya Mama memecah keheningan yang sempat mendera. "Belum, Ma. Mungkin sebentar lagi sampai sini," jawabku sekenanya. Aku sendiri tak tahu kapan Mas Tara akan pulang. Saat ini dia sedang apa dan di mana aku juga tidak ingin tahu. Lama kelamaan aku mati rasa. Bukan aku tak mencari tahu bukti perselingkuhan Mas Tara. Namun lelaki itu sungguh pandai menyembunyikan semua ini. Hanya anting bukti terakhir yang kudapatkan. Setelah itu semuanya nihil. "Biasanya kalau jumat kalian kemari bersama-sama, kan? Apa Tara lupa hari ini jadwal menginap di rumah Mama?" tanya Mama lagi. Aku hanya menggeleng tanda tak tahu. Seperti yang Mama katakan setiap bulan sekali kami harus menginap di rumah beliau. Jumat ini jadwal kami bermalam di sini. Namun Mas Tara sendiri tak tahu ke mana. "Kalian tidak sedang bertengkar, kan?" Uhuk... Uhuk.... Kopi yang ada di mulut menyembur ke luar. Untung saja tak ada orang di hadapanku. Malu jika itu sampai terjadi. "Pelan-pelan, Lin. Kamu kenapa, sih?" Mama menatapku penuh tanda tanya. "Keselek, Ma." "Jangan terburu-buru kalau minum. Mama tidak akan minta kopi. Tenang saja." "He he he...." Aku tertawa hambar. Jarum jak sudah menunjukkan pukul delapan malam. Namun hingga detik ini Mas Tara belum juga menampakkan batang hidungnya. Dia pasti sedang pacaran dengan Imelda atau siapalah. Lagi, kecurigaan itu muncul kembali. "Tara belum kasih kabar, Lin?" "Belum, Ma. Mas Tara lembur mungkin." Aku kembali fokus menatap Aluna dan Satriya yang tengah bermain monopoli. Mereka berdua begitu asyik, tak jarang tawa keluar dari mulut keduanya. "Aluna, sudah malam. Bobog dengan Oma, yuk!" ajak Mama. "Aluna belum ngantuk, Oma!" "Kalau bobog dengan Oma, besok kita jalan-jalan. Iya, kan Om Satriya?" Mama melirik putra bungsunya. "Iya dong, kita petik stroberi langsung di kebunnya." "Beneran, Om?" Aluna menatap lekat manik bening Satriya. Sebuah anggukan membuat Aluna melonjak kegirangan. Tanpa diminta putri kecilku segera berlari menuju kamar Mama yang terletak tak jauh dari ruang keluarga. Ah, anak itu kalau sudah diberi janji langsung menurut. "Anak itu kalau ada maunya langsung nurut. Persis seperti Papanya," ucap Satriya seraya membereskan mainan lalu meletakkannya di atas meja. "Bukannya persis seperti Om Satriya, ya." "Itu yang benar, Mbak. Aluna lebih cocok jadi anakku dan Mbak Alin menjadi ibu dari anak-anakku," jawabnya sambil mengedipkan mata padaku. Aku memutar mata malas mendengar ucapannya. Ini memang bukan kali pertama Satriya mengatakan hal itu. Namun tak pernah kutanggapi dengan serius. Aku tahu sifatnya humoris dan suka bercanda. Sehingga apa yang keluar dari mulutnya tak pernah kuanggap serius. "Bercanda, Mbak. Itu muka biasa aja kali," ucapnya lagi. Perkataan Satriya mampu membuatku semakin tak enak berdua dalam ruangan yang sama dengannya. Rasa canggung kian mendominasi menjadikan batasan untukku bergerak. "Mas Tara gak ke sini, Mbak?" tanyanya memecah keheningan yang sempat melanda. Aku mengangkat bahu tanda tak mengetahui jawaban. Beberapa kali kukirim pesan tapi tak satu pun yang dibaca. Entah di mana Mas Tara berada. "Coba telepon temen kantornya, Mbak." Ah, kenapa aku tak pernah kepikiran untuk menanyakan pada rekan kerja Mas Tara. Namun untuk apa kutanyakan jika aku sendiri yakin Mas Tara sedang berada dalam pelukan wanita lain. "Buruan telepon, Mbak." Dengan terpaksa kucari kontak Adnan, teman sekantor Mas Tara. "Di loudspeaker, Mbak!" Anak itu memerintah seperti presiden saja. Kalau bukan adik ipar sudah kutendang dia. "Alin, ada apa? Tumben menghuhungiku?" tanyanya. Bahkan aku belum sempat mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum." "Waalaikumsalam, maaf lupa, Lin." Aku menghembuskan napas kasar, untuk saja dia tak dapat melihat ekspresi wajahku yang sedikit kesal. "O, ya ada apa nih? Tumben menghubungiku menggunakan nomor kamu. Biasanya, kan pakai nomor Tara." Benar dugaanku Mas Tara pasti tak ada di kantor. Dia pasti lembur dengan wanita itu. "Memangnya Mas Tara tidak lembur, Nan?" Kalimat itu tetap kutanyakan meski sebenarnya aku tahu jawaban itu. Hanya ingin meyakinkan. Lagi pula Satriya terlihat sangat penasaran. Biar saja dia tahu jawaban dari orang lain. Bukan dariku. "Tara? Hari ini hanya aku yang lembur di kantor. Dia saja pulang lebih awal, kok. Katanya ada keperluan mendadak." "Mbak." Satriya menatapku, sorot penuh tanda tanya tergambar jelas di sana. Setelah ini Satriya pasti meminta penjelasan. Ah, apa yang harus kukatakan padanya? Menceritakan tentang kecurigaanku? "Ya sudah kalau begitu, Nan. Assalamu'alaikum." Sambungan telepon kumatikan sepihak. "Aku ngantuk, Sat!" Aku beranjak berdiri tapi sebuah tangan berhasil menahanku. Hingga akhirnya aku kembali menjatuhkan bobot di tempat yang sama. "Aku butuh penjelasan, Mbak." "Apa yang harus dijelaskan, Sat? Mbak juga tidak tahu Mas Tara berada di mana." Satriya menatap tajam ke arahku. Seketika kualihkan pandangan. Aku tak ingin dia tahu ketakutan ini. "Ikut aku, Mbak!" Satriya menarik tanganku lalu berhenti di teras depan. Dia mencari tempat yang aman untuk mencecarku dengan berbagai pertanyaan. "Apa?" "Mbak tahu Mas Tara ada di mana, kan?" "Tidak tahu." "Jangan bohong, Mbak. Aku tahu Mbak Alin sedang menyembunyikan sesuatu padaku dan Mama." Anak kecil ini sok tahu, meski aku tak menampik semua perkataannya benar. "Aku gak tahu Mas Tara ada di mana, Sat?" "Tapi Mbak tidak cemas?" Untuk apa mencemaskan orang yang sedang asyik dengan wanita lain. "Sudahlah, Sat. Aku capek." Aku beranjak berdiri. Suara ponsel berbunyi membuat langkahku terhenti. "Siapa, Mbak?" "Mas Tara." "Nyalakan pengeras suaranya, Mbak." Tanpa menjawab kulakukan permintaannya. "Sayang, kamu ada di rumah Mama?" tanyanya setelah mengucapkan salam. "Iya, Mas. Mas sudah ditunggu Mama dan Satriya." Kutahan amarah yang sebentar lagi mau meledak. "Tolong bilang sama Mama, aku tidak bisa menginap. Besok pagi Mas harus ke luar kota. Pak Leo meminta Mas ikut untuk meninjau proyek barunya." Aku dan Satriya beradu pandang. Lelaki yang berdiri di hadapanku menggeleng pelan. "Mau aku bantu berkemas?" "Tidak usah, kasihan Mama jika kamu pulang. Sudah dulu, Sayang. Mas harus segera bersiap." Sambungan telepon terputus sebelum aku menjawab perkataan Mas Tara. "Mbak percaya?" Aku diam, dalam hati bergejolak rasa benci dan amarah.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม