8

1786 คำ
Belum pukul delapan tepat, Helena sudah menampakkan diri di lobi gedung pencakar langit dengan label mentereng Savanah Home Industries yang cukup ramai. Selepas memberi sidik jari untuk keperluan absen, dia mengamati ramainya lobi yang biasa terjadi di pagi hari. "Selamat pagi." Nahira—gadis manis yang bertugas menjadi resepsionis guna membantu jalannya administrasi kepadatan kantor yang memiliki waktu hectic tanpa lelah menyapa. Menatap Helena yang merapat dengan amplop putih di tangan. Senyumnya melebar. Secerah matahari pagi yang membuat Helena ikut tersenyum. "Baru sehari libur, kau berdandan. Tampil sempurna pagi ini." Nahira tidak segan memuji. Helena menggeleng keras. Memainkan centil rambutnya dengan senyum. "Bagaimana? Kau suka?" "Cantik parah," kata Nahira, memberikan jempolnya. Memperhatikan penampilan personil tim purchasing yang terkenal sempurna luar dan dalam. Pret. Helena memakai kemeja putih polos dengan blazer cokelat berbentuk garis lurus dengan kesan putih yang mencolok. Memakai rok pensil senada dan sepatu kerja dengan heels hanya dua sentimenter. "Siapa yang bergosip tentangku?" Nahira meringis. Senyumnya merekah sempurna. "Si mulut bocor dari tim purchasing. Siapa lagi?" "Aku akan membunuhnya nanti." Helena mendorong amplop putih itu dan Nahira berkedip. "Jadi, benar sakit?" "Bos incaranmu memberikan tugas tanpa akhir. Revisi tak berkesudahan. Dia ingin membunuhku," ujar Helena memelas. "Aku tidak bisa bangun semalaman. Ini surat sakitku. Berharap aku tidak mendapat alpha di bulan ini." "Kau sakit," tegur Nahira. Meremas amplop itu dan akan memastikan sampai di tangan yang tepat. "Seharusnya kau tidur sehari lagi." "Aish, bos Edzard sudah berisik." Nahira tertawa. "Ah! Nyaris lupa! Nyonya Keiko menitipkan berkas untukmu. Sebentar."  Nahira kembali dengan berkas baru di tangan. Cukup tebal dan Helena lagi-lagi harus meringis. Menemukan berkas baru yang membuatnya bisa kerja lembur malam ini. "Thanks." "My pleasure, cantik. Nikmati harimu." Nahira melambai dan Helena berpaling untuk mencari tempat duduk. Menyempatkan diri memeriksa sebelum naik. Toh, dia tidak terlambat karena sudah absen. Matanya menelisik satu demi satu tulisan yang berderet rapi. Keiko dari tim finance pintar mengelola tim dan dana. Helena harus membandingkan pengeluaran tim keuangan dengan timnya sendiri untuk mengurangi defisit. Mereka harus bisa mengelola kas sebaik mungkin. Seperti menimalisir kerugian yang diakibatkan vendor. Helena menarik napas. Pekerjaannya akan bertambah. Tapi dia merasa lega sekarang. Bayang-bayang tentang rayuan si bos yang cukup—maut—berhasil ditepis semalaman suntuk. Dengan dalih pedasnya hot pot membuatnya diare, Helena harus berterima kasih pada tetangga apartemennya yang bekerja di rumah sakit swasta mau membantunya membuat surat izin sakit.  "Helena?" Kepalanya menoleh, menemukan senior cantik yang menarik kursi untuk duduk. Kalila merapikan rok pensilnya, memandang sekitar dan mendesah. "Bagaimana kabarmu?" "Bos aman, kan?" Kalila mendesis. "Dia mencarimu. Kami bilang kau pergi mencari wangsit dari guru tapak Buddha." "Kau serius?" Helena tergelak karena tawa. "Serius. Baru satu hari, Edzard kelimpungan seperti anak ayam kehilangan induk. Dia mencecar kami dengan banyak revisi. Padahal kau sudah submit proposal kemarin. Kau mengirimkannya pagi buta," cerocos Kalila lelah. Jemari itu mengusap pipi yang terpoles blush on peach dengan senyum. "Oh, malang nian nasibmu." "Lancar interview?" "Lancar," bisik Helena. "Aku hanya perlu duduk manis menunggu jawaban." Kalila menarik napas. "Kapan CV milikku dilirik perusahaan lain? Sialan. Bagaimana bisa bekerja dengan Edzard membuat sakit kepalaku sering kambuh?" Helena merapikan berkas. Bersiap mengalungkan tasnya saat melirik jam di pergelangan tangan. "Hari ini ada rapat, kan?" "Ya. Sai yang memimpin. Dia akan membahas tentang vendor baru yang mengirimkan barang sebagai uji coba," kata Kalila, turun dari kursi dan berjalan berdampingan mencari lift kosong untuk naik. *** "Kau serius diare atau pergi menikmati rendaman air bunga di salon?" Helena mengulas senyum mencela. "Kenapa memangnya? Iri bilang bos!" "Baunya seperti kembang melati di pemakaman. Nyengat," gerutu Sai, berpura-pura menutup hidungnya dan Helena mendesis. Saat Abel tertawa, terpingkal-pingkal karena geli. "Heh, dia tampil cantik sekarang. Mungkin ada pangeran yang jatuh dari langit? Atau kau siap ikut kencan buta?" "Diam saja," sela Helena dingin, Kalila terkekeh keras. "Aku suka gaya rambutmu. Semenjak bekerja di sini, kau jarang merawat diri. Yang kulihat tampilanmu kusut, rambut diikat sembarangan, terkadang memakai pensil atau pulpen, tampang pucat pasi kurang nutrisi. Astaga." Ini semua karena Edzard. Kalau saja pria itu punya kunci pintu semua kandang di kebun binatang, mungkin Edzard sudah membiarkannya kabur bebas sampai sedapur-dapurnya. Menyebalkan. Super hiperbola yang membuat anak buahnya kelimpungan. "Selamat pagi." Suara serak sang bos menyapa. Batasan sopan seharusnya ditegakkan. Tetapi Helena mendapat wejangan dari Keiko dan sebangsanya kalau Edzard diperlakukan seperti manusia biasa, jangan dewa. Apalagi Dewa 19. Karena pada dasarnya dia pecinta grup metal. "Pagi." Helena berbalik menghadapnya. Sesi gosip pagi ini harus bubar karena si pembunuh suasana sudah tiba. Edzard menurunkan tangannya, mengangkat alis ketika matanya menelusuri Helena dengan skeptis. "Tumben dandan." "Biar cantik. The most wanted tim purchasing sudah sebelas dua belas seperti zombie," celetuk Abel dan Sai tertawa. "Oke. Setengah jam lagi rapat." Edzard berlalu begitu saja. Saat pintu tertutup, Helena kembali merapat pada kubikel Sai dan menaruh tangannya dengan santai di sana. "Paginya sedang buruk. Bertengkar dengan belahan jiwa?" Ekspresi Kalila menyiratkan kejijikan luar biasa. "Dia punya kekasih? Sekelas Saira saja dilepeh. Kau serius pria empat dimensi itu bisa berkencan?" "Kalau segi tampang memadai, kenapa tidak? Saira cantik. Sangat malah. Badannya serupa dengan gitar Spanyol yang mahal," timpal Sai masam. "Kalian pernah mendengar dia bicara mesra pada seorang gadis?" Ketiganya menggeleng. Abel menghela napas panjang. "Kalau begitu, sama." "Sebelumnya saat aku lembur, aku pernah mendapati Saira menghubungi. Dan si bos cuek, tidak mau menjawab." "Umpan sekelas Saira saja ditolak. Kucing tidak pernah menolak ikan pindang. Tetapi kenapa Edzard menolaknya?" "Edzard bukan kucing," sahut Kalila muram. "Dia armadillo." Semua tertawa. "Kalau tidak demi bonusan, kita sudah buru-buru resign dari tempat ini. Bonusan besar bisa membeli SUV dalam semalam," gerutu Abel, kembali ke tempat duduknya dan mendesah panjang. "Membeli SUV tidak berguna kalau kau belum melamar kekasihmu," kata Helena, mencoba menasihati dan Abel mendelik tajam ke arahnya. "Aku sudah berinvestasi untuk menggelar pesta mewah. Mungkin dengan gedung seharga ratusan juta dan makanan yang banyak. Kalian suka?" "Kau mau kuberi apa?" "Sepuluh juta per-orang. Ini pernikahan sekali seumur hidup. Kapan lagi?" Abel melempar seringai yang membuat Kalila melempar pulpennya ke kepala kuning pria itu. "Kau gila!" "Masih ada kesempatan cerai. Santai saja. Kalau kau bisa menyapa si bos dan bilang 'kapan menyusul' kuberi kau lebih," tantang Sai dengan seringai. Abel mendelik tajam. Mata birunya memelotot jengkel. "Lebih baik aku mati!" *** "Berapa persen rasionya?" Edzard seperti karakter mengerikan di film Cabin In The Woods yang gemar menebar teror seram ke seluruh manusia yang hidup di wilayah yang sama dengannya. Sebelum menemukan korban, satu demi satu kecemasan melingkupi. Membuat anak buah menciut dan kehilangan konsentrasi. "Tiga persen." "Yakin?" Edzard berseru dengan senyum mengejek. Nada suaranya berubah ketika kursi berputar, memandang semua anak buah dengan sorot sinis. Helena terburu-buru membuka laptop. Menemukan tanda loading yang mengganggu, membuatnya nyaris mati karena panik. "Empat koma sekian," kata Helena, mencoba mencari celah untuk membantu Sai yang kehilangan kontrol suaranya. "Periksa lagi." Abel meremas pulpennya saat Kalila membuka catatan keuangan. "Empat koma dua." Alis Edzard terangkat naik. Mata kelamnya menyorot dingin pada Abel yang tampak tenang, namun Helena tahu benar dia ikut panik. Balasan sang bos bisa berarti dua mata pisau. Mungkin saja mereka salah menyebut angka dan Edzard tahu, atau berbalik dia yang salah dan mencoba menelisik kesiapan para anak buahnya. Intinya sama; tetap salah. "Empat koma dua." Helena menahan napas. Mendapati layar kini menunjukkan rasio dengan sangat jelas. Kalila mengembuskan napas lega, terutama pada Sai yang hampir mati berdiri. Edzard memainkan tangannya di atas meja. Memandang layar yang menunjukkan presentase kuartal tahun ini. "Empat koma dua adalah rasio sebelum kuartal tahun. Kalian tidak periksa proposalnya lagi? Keiko tidak memberitahu?" "Baru hari ini, Sir." Helena bersuara, berharap cemas mendapat semprotan baru dari si bos. Edzard menatapnya. Sama sekali tanpa belas kasihan. Helena tidak membutuhkannya, tentu saja. Tapi setidaknya jangan membuat mereka mati kutu dengan kesalahan yang mereka perbuat. Lagi-lagi karena ketidaksengajaan dan faktor kelelahan. "Kita punya empat kuartal dalam satu tahun. Empat koma dua adalah kuartal kedua." Sai menarik napas. "Kami mencoba menghitung kuartal ketiga dan keempat setelah semua data masuk." "Kalian tim profesional, bukan? Kenapa bergerak lamban?" Semua orang diam. Saat Edzard menatap satu-persatu, kemudian menghela napas. "Bekerjalah yang benar. Kalian dibayar sesuai kinerja." Abel menarik napas. Helena tercenung. Berpikir kalau Nahira ada benarnya. Dia seharusnya tidur, bergelung di ranjang bersama Hitler. Kalila menunduk, mencoba untuk tidak menangis. Ini semua salahnya. Semua data yang diberikan, beberapa terlewat matanya. Mungkin ia harus berbenah diri sebagai senior yang seharusnya membantu, bukan mendorong juniornya ke tepi jurang dan mati. Edzard tiba-tiba melempar berkas di hadapan Kalila yang membatu. "Kesalahan di halaman tiga dan delapan. Perbedaan angkanya mencolok. Kalau sampai berkas ini ada di meja wakil direktur, dia akan memberi kalian nilai minus karena tidak becus." "Typo, Sir?" "Kau pikir aku mentolerir kesalahaan satu hurup?" Edzard kembali menerjang, membuat semua orang diam. Tidak lagi bereaksi. "Bagaimana bisa aku memberi cuti jika kesalahan terus berulang?" Helena terkesiap sekarang. Mata hijaunya melebar, tampak kesal dan marah. Edzard sama sekali tidak berbaik hati padanya. Setelah malam panjang yang membuat Helena sulit tidur dan mendapat keajaiban panggilan kerja, dia harus berhadapan dengan mood swing sang bos yang kelewatan. "Bantu temanmu," kata Edzard acuh. "Aku ingin revisinya dikerjakan sekarang. Kalau perlu kalian lembur, silakan." Semua orang diam. Helena merapatkan bibirnya untuk tidak memaki. Andai saja dia lebih cerdik dan mencari latar belakang Edzard sebelumnya, dia tidak mungkin berkeinginan besar melempar heels ke wajah tampan itu sekarang. Sai menarik napas, menutup presentase dengan kecanggungan luar biasa. Saat ia berdeham, Edzard lekas tidak pergi. Satu-persatu semua orang bersiap pergi. Helena setengah bangun untuk membereskan berkas dan laptop di atas meja. Belum sempat ia berdiri tegak, Edzard kembali bersuara lebih sinis. "Duduk, Helena." Kalila melirik cemas. Saat Helena kembali duduk, memandang rekannya dengan pandangan meringis meminta tolong. "Edzard, ini murni kesalahanku, aku—," "Semua boleh pergi. Kecuali Helena," serunya tidak mau dibantah. Melirik jam mahal di pergelangan tangan. Abel menepuk bahunya. Menguatkan Helena dari mata birunya yang bersinar kalut. Helena merespon dengan ringisan kecil. Pintu tak lama tertutup. Helena menelan ludahnya kasar. Meresapi suasana ruang rapat yang sempit, pengap, dan sesak. Ingin menangis itu ada. Dan tiba-tiba dia teringat tingkah lucu Hitler dan malah ingin tertawa. Walau matanya terasa panas. "Kenapa tidak masuk?" Hah? "Sakit." "Sudah ke rumah sakit?" "Sudah," balas Helena singkat. Dia bisa menjelaskan asal muasal diare dadakan itu terjadi. "Diare karena hot pot itu, kurasa." Alis Edzard tertaut tajam. "Hot pot itu bisa membunuh?" "Mungkin ada racun," balas Helena datar. Berpura-pura untuk tidak memasang tampang nelangsa. Mungkin kekesalan Edzard mengarah pada panggilan telepon yang Helena abaikan dari pria itu. Dia tidak mau kalau Edzard tahu dirinya berbohong. Karena radar pria itu terlalu kuat, kencang dan terkesan parah. "Ah, rumah sakit yang kau kunjungi ada di Gate Manufactur, ya?" Seringai Edzard timbul tanpa bekas. Membuat jantung Helena berdetak tak nyaman. Saat sang bos memandangnya dengan sinar geli. "Lain kali kau harus bertahan dua sampai tiga tahun lagi untuk mempercantik CV. Mau bersabar? Itu sangat berguna untuk membantu kelancaranmu bekerja di lahan baru." Helena menelan ludahnya kasar. Saat dia mencoba bangun dan Edzard masih menatapnya dengan seringai lenyap timbul. "Aku bisa memberimu kelonggaran untuk pulang cepat. Terlebih sepertinya diare itu membuatmu kepayahan. Tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja," kata Edzard lagi, memutar kursinya dan memandang Helena dengan seulas senyum simpul. "Tidak, Sir. Terima kasih. Kemurahan hati Anda membuatku—," "—aww!" Helena menemukan dirinya membentur pintu kayu. Membiarkan berkasnya jatuh dan dirinya jatuh berlutut dengan ringisan cukup keras. Masih dengan posisi memeluk laptop, ia mencoba bangun dan merasakan ada sosok lain yang menarik lengannya. Untuk membantunya bangun. "Benar-benar diare ternyata," ucap Edzard datar. Lalu membuka pintu untuk dirinya sendiri berlalu. Membiarkan Helena sendiri di dalam ruangan dengan berusaha untuk tidak menjerit keras.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม