Daffa paling pertama yang membuka matanya, alarm ponselnya yang membangunkan tidur nyenyaknya, benar apa kata Saka, tidur di kapal memang nyenyak, tapi Daffa harus bangun pagi ini, bukannya pagi ini mereka akan melihat sunrise di dek kapal.
Daffa langsung membangunkan Saka dan Bayu, beruntung mereka berdua mudah di bangunkan, coba kalau tidak, mungkin mereka akan ketinggalan sunrise pertama di kapal.
“Enggghhhh,,, jam berapa sih Daff?.” Tanya Saka dengan mata masih terpejam namun Saka sudah duduk di tempat tidur.
“Setengah lima, buruan bangun, Ghea dan Sonya udah bangun,,” Balas Daffa setelah membuka pesannya.
“Emmmmm,,,” Saka menyibakan rambutnya kebelakang, sebelum dia bangkit dari kasurnya.
Saka, Daffa, Bayu, Sonya, dan Ghea telah berada di dek atas, beberapa anak muda lainnya juga sedang hunting sunrise di atas dek kapal.
“Gimana bagus bukan?.” Tanya Sonya pada mereka berempat.
“Emmmm,, bagus banget,, ini pertama kalinya aku melihat sunrise diatas laut lepas, sungguh indah.” Ghea benar benar kagum dengan keindahan yang ada di depan matanya.
Saka sibuk mengabadikan sunrise dengan kameranya, begitu juga dengan Daffa dan Bayu, mereka bertiga benar-benar telah menyiapkan perlengkapan selengkap mungkin bahkan sampai kamera saja mereka bertiga sama-sama membawanya.
“Heiii,,, kita disini mau nikmatin sunrise apa nganterin kalian foto-foto sih?.” Tanya Gha setengah jengah dengan mereka bertiga,.
“Sayang banget kalau di lewatin.. mending lo berdua pose-pose cantik dehhh gue fotoin..” Ucap Saka, membalas ucapan Ghea barusan..
“Sonya, ayokkk,” Ghea menarik Sonya mendekat, Saka dengan senang hati memotret mereka berdua.
Dari pose yang biasa sampai pose aneh ala cewek-cewek berhasil Saka abadikan dengan kameranya.
“Tunggu,,, tunggu,,,, kenapa kita enggak foto bareng,,” Usul Daffa.
“Benar apa kata Daffa, kita juga harus buat kenang-kenangan disini.” Timpal Saka.
“Benar,, gue set kamera dulu,” Bayu langsung menata kameranya, di antara mereka bertiga, hanya Bayu yang membawa tripod, Saka dan Daffa memang tidak terlalu suka foto menggunakan tripod.
Bayu langsung berlari kearah mereka berempat setelah mengatur kameranya,.
“Satu,, dua, tiga,,” Bayu memencet remot yang terhubung dengan tripodnya.
“Ganti gaya,, ganti gaya,” Teriak Ghea.
Menikmati segelas kopi dan roti kering di atas dek kapal sembari menikmati birunya lautan sungguh sangat nikmat.
“Kalau kaya gini gue bakalan betah di kapal terus,” Ucap Bayu sembari menyeruput kopinya.
“Jangan sesumbar bakalan betah di kapal,, beruntung saat ini kita tidak ada badai, dan gelombang tinggi, coba kalau kalian bertemu dengan keduanya, aku yakin kau akan menarik kata katamu Bay,” Bantah Sonya.
“Emang lo pernah merasakannya? Apa yang lo lakukan saat itu?.” Tanya Bayu.
“Aku hanya mampu berdoa, semoga kapalnya baik-baik saja di tengah laut ini, dan kembali ke rumah dengan selamat. Satu yang harus tetap kalian ingat, jangan panik jika ada badai atau gelombang tinggi, fikiran negative bisa membuat kalian tambah kalut,” Mereka berempat mengangguk paham dengan apa yang dikatakan Sonya.
“Moga perjalanan kali ini lancar jaya,, enggak ada badai ataupun gelombang tinggi, aamiin,” Saka berdoa.
“Amiin,,,” Doa Saka di aminkan mereka berempat,
“Ngomong ngomong, apa yang bisa kita lakukan di kapal?, masa empat hari gak ada yang di kerjakan sama sekali.” Cletuk Bayu, tapi apa yang di katakan Bayu ada benarnya, masa mereka hanya makan tidur nongkrong, di dek gini, enggak enak kalau tidak hari kaya gini.
“Kalian bisa main game, ada tempat buat main game, atau mau olahraga?, ada treadmill di kapal, kalian juga bisa berbaur dengan penumpang yang lain, ngobrol, sharing, cari pengetahuan, ohhh ya,, kalau malam ada live musik, mini bioskop kayaknya juga ada tapi aku belum pernah masuk ke mini bioskop, kalian juga bisa plesiran sebentar di Pelabuhan ketika kapal bersandar di Pelabuhan,.” Sonya menjelaskan apa saja yang bisa mereka lakukan selama di kapal untuk mengusir kebosanan selama di perjalanan..
“Wahhhh gak nyangka lengkap juga ya fasilitasnya. Ehhh nanti sore gimana kalau kita Plesiran sebentar di Makassar, kan lama kapal bersandar,.” Ajak Ghea mumpung mereka di Makassar kan, sekalian liburan singkat.
“Boleh,, biasanya aku juga turun bentar kadang beli pernak-pernik khas Makassar, kadang juga kulineran, tergantung teman ngetripnya sih,” Balas Sonya.
“Wahhhh asik juga nih, udahhh gas aja sih,, dari pada di kapal enggak ngapa ngapain.” Imbuh Bayu..
“Mending kita saparan dulu, masalah kita mau plesiran kemana, pikir nanti aja, lagian masih lama juga,” Saran Daffa.
“Emmmm,,, bener sih, mending kita makan dulu, masih lama juga kapal bersandar mungkin sore menjelang malam baru sampai di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar.” Imbuh Saka.
“Yaudah, mumpung masih disini makan dulu, baru balik kamar,” Usul Bayu, karena jarak cafetaria dan kamar mereka cukup jauh, lebih baik makan dulu baru balik kamar dari pada bolak-balik bikin capek.
“Akukan belum mandi, masa iya aku makan tapi aku belum mandi.” Ucap Daffa tiba tiba.
“Daffa lo udah makan roti panggang dan minum kopi ya,, dan lo baik-baik aja, jangan yang aneh-aneh dehhh,,” Balas Bayu.
“Tapi Aku memang enggak bisa makan sebelum mandi, aneh rasanya.” Daffa masih saja berkilah, Daffa memang sudah dari dulu biasa mandi pagi baru makan, hingga kebiasaan itu mandarah daging pada Daffa, jadi kedua teman Daffa sudah tidak heran jika Daffa harus mandi pagi sebelum makan.
“Kenapa enggak pesen makanan aja di bawa ke kamar masing masing?.” Tanya Ghea,
“Benar apa kata Ghea,, mending kita pesen makan, terus di makan di kamar, jadi ada yang mau makan silahkan yang mau mandi juga silahkan, jadi enggak bingung mau makan atau mandi dulu,” Usul Saka setelah mendengar ucapan Ghea barusan.
“Iya juga ya,, kenapa enggak kepikiran dari tadi.” Timpal Daffa.
“Daff, Bay, Ghe, Sonya, Kalian mau makan apa?.” Tanya Saka,
“Gue pengen sotomie,” Ucap Ghea.
“Gue pengen soto ayam,” Sahut Daffa.
“Gue pengen nasi rames aja,” Ucap Sonya.
“Gue,, entah, belum tau, gue ikut lo pesen makan aja Ka.” Bayu masih kebingungan mau makan apa,
“Woyyy,, emang kita bawa mangkok ya? Lo berdua minta soto, mau di taruh dimana coba?.” Tanya Saka setelah menyadari jika Daffa dan Ghea memesan soto.
“Iya juga ya,,” Daffa menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Udahh deh,, mendingan di makan di cafetaria aja,” Ajak Sonya.
“Yaudah dehhh iya, habis itu langsung ke kamar ya, mandi,” Daffa mengangguk dengan tidak ikhlasnya.
“Dasar anak Mami,” Uap Ghea pelan namun sayangnya Daffa masih mendengar ucapan Ghea.
“Gheaaaaa,,,” Daffa menggeram marah dengan ucapan Ghea barusan..
“Udah,, udah,, gak usah bertengkar deh, ribut mulu lo berdua dari kemarin,” Bayu menengahi keributan yang hampir terjadi.
“ayoookkkk makan,,, mau sampai kapan lo berdua ribut terus?.” Imbuh Saka,.
Setelah drama ribut ribut selesai, kini mereka berlima sedang menyantap sarapan mereka di cafetaria. Makan bersama memang yang paling nikmat, apapun rasanya dan makanannya sepertinya tidak jadi pengaruh bagi mereka berlima yang penting makan bareng-bareng.
“Uhhhh,, kenyangnya,” Ghea bersendawa setelah selesai makan.
“Ihhhh,, jijik banget sih Ghe, kamu itu cewek, masa kaya gitu,” Daffa kembali mengomentari Ghea yang baru saja bersendawa.
“Suka-suka gue, kalau lo mau, lo bisa ikutan gue sendawa,” Balas Ghea.
“Ogah,,,” Udah Daffa.
“Mending kita balik ke kamar deh,, gerah-gerah gimana gitu disini, gue butuh mandi sepertinya,” Ajak Bayu, memang udaranya panas namun di sertai angin spoi spoi yang masuk ke dalam cafetaria kapal..
“Yukkkk,,” Saka langsung berdiri di ikuti mereka berempat.
Saka langsung duduk di tempat tidur Bayu, begitu juga dengan Bayu, berbeda dengan Daffa yang langsung mengambil pakaiannya untuk mandi pagi..
Diantara mereka bertiga, memang Daffa yang paling rajin mandi, sementara Saka dan Bayu, mereka berdua memang jarang sekali mandi pagi kecuali jika mereka ada kuliah pagi.
“Ka,, lo baik baik aja?.” Tanya Daffa setelah melihat mimic wajah Saka yang berbeda setelah Saka membuka ponselnya.
“Emmm,, gue baik baik aja, gue mau lanjut tidur lagi,” Saka bangkit dari duduknya.
Bayu merasa ada yang aneh dengan sikap Saka barusan namun, Bayu tidak ingin mengganggu Saka untuk saat ini.
Bayu membiarkan Saka istirahat, walau sebenarnya Bayu sangat-sangat penasaran dengan Saka yang tiba-tiba berubah menjadi pendiam seperti barusan.