Aku menghubungi nomor yang dipakai orang itu untuk kirim pesan. Namun, tidak aktif kembali. "Pengecut!" Aku teriak sambil melempar ponsel. Lalu menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Aku kembali bersedih, melihat isi chat itu. "Mas, kamu di mana? Kenapa nggak bisa lawan orang itu? Dalam bahaya kah kamu di sana?" Aku bicara sendirian sambil membayangkan wajahnya. Senyuman, wibawanya, semua hanya ada dalam bayangan saja. Aku memeluk guling sambil menangis, sesakit ini perpisahan, belum sampai 24 jam saja sudah perih. Rindunya hingga ke ulu hati. Pelukan guling membuatku tertidur hingga pagi hari. Bangun-bangun aku langsung turun dari ranjang mengambil air wudhu. Percikan air kubasuh ke wajah, air mata pun jatuh beriringan dengan air wudhu yang mengalir. Kemudian, selepas sala

