“Aku menyayangi Papa, maafkan aku tidak jujur dengan perasaanku”
Ketika Fitra masih hidup, dia jarang mendengar anaknya mengatakan menyayanginya. Sekarang jangankan memeluk dia tak akan lagi bisa mendengar rupa maupun suaranya. Semua itu seperti mimpi bagi Gatot.
Orang-orang berpakaian hitam hari itu. Sekelam langit pertanda hujan akan datang. Semua memandang ke arah yang sama, tubuh remaja yang baru berusia enam belas tahun yang telah didandan rapi di dalam peti. Pastur memberikan khotbah dan kata-kata terakhir mengiringi sebelum kotak kayu itu ditutup dan dimasukkan ke lahat.
“Kami turut berduka atas kematian Anda, Pak Gatot.”
“Semoga Anda dna keluarga senantiasa diberikan ketabahan.”
Kata-kata sejenis meluncur dari lisan orang-orang yang datang, kerabat, rekan, handai taulan, dan teman-teman Fitra.
Gatot menoleh pada Andrew, dia meminta berbicara empat mata, anak itu mungkin mengetahui sesuatu, atau bahkan terlibat hal yang sama, dia harus menghentikan kenekatan anak-anak muda ini.
“Saya sama sekali tidak menyangka, Om, Fitra akan....”
“Tidak ada yang perlu disesali. Saya hanya ingin tahu, apakah yang kamu katakan malam itu adalah benar?”
“Soal apa, Om?”
“Geng Populer.”
Andrew tampak berpikir. “Saya tak bisa memeberitahu, Om.”
“Mengapa?”
“Karena kami sudah berjanji sampai mati. Janji seorang pria tidak boleh dilanggar.”
“Baiklah. Saya hanya sedikit heran karena ketika bertanya pada anak-anak lain, tidak ada yang tahu mengenai dia. Tapi ya sudahlah. Saya mau tanya satu hal yang lain lagi.”
“A-apa itu, Om.”
“Apa kamu mengenal seseorang bernama Lim?" Fitra sama sekali tidak menyebutkan Lim dalam videonya, dan ketiadaan Lim di tempat itu membuatnya semakin curiga.
“Lim? Sepertinya tidak, Om.”
Jadi, Lim bukan bagian dari teman dekat. Lalu siapakah sebenarnya Lim ini?
“Terima kasih, Andrew.”
“Sama-sama, Om. Fitra pasti anak yang bangga memiliki ayah seperti, Om.”
Pujian Andrew mungkin jika didengarnya sebelum menonton video, hanya akan menambah kesedihannya, tetapi setidaknya dia tahu, bahwa Fitra masih menghormatinya.
Seharian Ulva menangis di kediamannya, mengurung diri di kamar Fitra. Gatot meggantikannya, mengurus Tanya yang masih kecil.
“Ma, makan dulu.”
“Mama enggak lapar.”
“Nanti Mama sakit.”
“Hati Mama lebih sakit. Mama enggak ingin bicara dengan siapapun saat ini. Bahkan Papa yang Mama percayai sudah berbohong sedemikian rupa.”
“Ma....”
“Kenapa? Mama tidak pernah mempermasalahkan pekerjaan Papa selama ini, tetapi jika sampai itu membahayakan keluarga, Mama enggak terima! Papa keluar saja dari pekerjaan itu.”
“Maafkan aku. Papa enggak bisa, Ma.”
Tidak mungkin dia berhenti saat ini, bahkan setelah dia mendengar permintaan terakhir anaknya untuk tidak pernah berhenti menjadi pahlawan yang membantu orang lain.
“Papa egois! Jika sampai terjadi hal buruk terhadap Tanya juga, Mama tidak akan pernah memafkan Papa.”
“Papa minta maaf, semua salah Papa. Maaf.”
Ulva tertegun melihat derai air mata Gatot mengalir deras, dia tak pernah melihat pria itu berada di titik ini. Dia mendekat dan memeluknya, keduanya membagi perasaan sedih dan sakit yang sama. “Maafkan, Papa yang tidak bisa melindungi keluarga kita.”
Dari balik pintu, gadis kecil mengintip juga turut menangis dalam diam.
***
Sesuai prediksinya, pemindahan tugas dan dikeluarkannnya dia dari satuan khusus berlangsung cepat. Gatot sebagai wali korban, tidak lagi diizinkan mendekati apalagi menyelidiki diam-diam seputar kasus ini.
“Saya turut sedih, Pak. Fitra anak yang keren dan penuh semangat selama saya mengenalnya.”
“Tidak apa-apa, Fir, tidak perlu menghiburku.”
“Yah, Anda sangat kuat, Pak. Saya jujur saja, sedikit tidak menyangka, meski pola dan cara pembunuhannya berbeda, anak Anda tetap ditetapkan sebagai korban Puppet Killer tersebab laporan sebelumnya..”
“Laporan itu sebanrnya berasal dari mana?”
“Hanya segelintir saja yang tahu, Pak. Kerahasiaannya sangat dijaga.”
“Oh ya, Fir. Saya baru ingat. Kamu ada saat itu kan.”
“Kapan, Pak?”
“Waktu di kafe, Ada pria muda yang mendekati kita, dia minta tolong saya, namanya Lim.”
“Oh, orang itu. Iya, Pak, memang ada apa, Pak.”
“Kamu tahu dia ada di mana sekarang?”
“Eh? Bukannya Bapak sendiri yang mengajaknya pergi.”
“Kalau begitu saya minta formulir dan biodata dirinya.”
“Mmm, soal itu, sepulang dari kafe, saya kecopetan, Pak. Tas saya hilang, dan profil yang belum dimasukkan ke komputer, menghilang.”
Sial!
Kemana kiranya dia dapat mencari begundal itu. Orang itu pasti tahu sesuatu. Satu-satunya cara yang dia ketahui, hanyalah mengandalkan Eddie.
“Hallo. Bantu aku mencari seseorang yang penting.”
***
Kejadiannya sekitar tiga hari sebelum pembunuhan terjadi. Firman yang ditekan atasan, menghubungi menanyakan perkembangan terbaru. Saat itu Gatot telah hamppir memutuskan keluar dari tim, tidak mungkin dia bisa menangkap anaknya sendiri.
“Pak, suasana di sini semakin memanas. Wartawan dan kru TV berkemah di luar gedung. Komisaris sudah menghubungi beberapa kali, beliau ingin tahu perkembangannya.”
“Sepertinya beliau tidak akan suka perkembangan terakhir ini. Dan aku mungkin akan pensiun dari kasus ini.”
“Pak, apa yang terjadi? Apa maksud Anda.”
“Firman, bisa kamu datang ke sini, ada sesuatu yang hendak saya bicarakan.”
Kemudian setelah Firman datang, seorang pria muda datang mendekati Gatot yang tengah berdiskusi dengan Firman. Pria itu terlihat lebih tua dari usianya. Wajahnya begitu tegas, perawakannya kurus ramping, dari lengannya yang menonjolkan otot-otot liat, dan telapak tangannya yang kasar, tampak seperti seorang pekerja keras. Dahinya terus menekuk dan tangannya bergetar karena takut.
“Pak polisi, tolong bantu saya, selamatkan saya.”
Entah pria itu tahu darimaan dirinya yang tidak berpakaian dinas adalah petugas kepolisian, Gatot memberinya pertolongan.
“Ada apa? Apa yang terjadi?”
“Bisa kita bicara di tempat yang lebih privasi? Saya tidak ingin orang lain mendengarnya.”
Firman dan Gatot membagi pandang.
“Sebelum itu, bisa kamu sebutkan nama dan data diri kamu.”
Pria bernama Lim itu menjawab pertanyaan dengan berbisik-bisik. Setelahnya, Gatot menyuruh Firman pulang terlebih dulu, dia akan memberinya laporan. Gatot sengaja menyembunyikan hal tersebut karena Lim berbisik padanya, bahwa dia mendengar seorang bernama Fitra berhasil lari dari kejaran.
“Kamu menegenal Fitra? Di mana kamu mengenalnya?”
“Saya adalah bagian dari orang-orang yang dipilih. Mereka adalah orang-orang yang menyeramkan. Tidak akan ada yang hidup jika tidak keluar dari lingkaran itu.”
“Siapa yang kamu maksud mereka?”
“Mereka bagian dari organisasi yang tak boleh disebut, bagian dari Puppet Killer yang diburu.”
***