Jika sebelumnya Gatot memiliki keraguan yang banyak akibat kurangnya bukti. Kini dia begitu yakin atas apa yang telah dilihatnya. Mengencangkan sabuk dan tali sepatu, berjalan keluar mendenting baju zirah yang dia kenakan. Inspektur Gatot menaiki kuda besi miliknya, bersiap perang melawan keegoisan dirinya. Hal ini sudah keluar dari batas toleransinya.
Tak terlalu jauh, Dia masih bisa melihat anak laki-laki mengenakan kaus hitam yang tampak tergesa-gesa mengayuh sepedanya. Deretan kafe, restauran, dan butik memudar, berganti bangunan-bangunan beton menjulang.
Entah kemana lagi anak itu akan membawanya, dia sudah terjebak ke dalam perangkapnya. Fitra berhenti di sebuah gedung lain. Itu adalah tempat korban pertama ditemukan.
Meninggalkan sepedanya di sana. Gatot bermaksud menyelidik lebih jauh. Sepersekian detik ledakan terdengar, Fitra berlari tunggang langgang.
Beruntung tempat itu tak lagi ditempati, sehingga tidak meninggalkan korban jiwa, hanya kemudian menghentikkan aktivitas lalu lintas sejenak. Yang lebih membuat Gatot marah adalah dia kembali kehilangan jejak anak itu.
Gatot akhirnya kembali ke markas pagi pada hari berikutnya. Dia tidak tidur nyenyak, namun harus meyakinkan istrinya mengenai alasan ketidakpulangan Fitra ke rumah, kendati dia sendiri begitu cemas setngah mati. Sangat pagi, sebelum pelataran kepolisian dipenuhi wartawan yang mengocehkan pertanyaan tentang perkembangan kasus.
Sejauh ini tidak ada yang mengalahkan Alfred yang bangun dan bekerja terlalu pagi. Selain karena memilih tinggal, dia tidak memiliki anak dan istri yang perlu dikhawatirkan karena hidupnya selalu sebatang kara.
“Yo, selamat pagi, Inspektur.” Gatot menyapa Alfred. Lalu mulai meracik kopi miliknya.
“Hei, dari mana saja? Kami mencoba menghubungimu sejak kemarin.”
“Ada berita apa?”
“Mayat yang kau laporkan tidak dapat ditemukan di TKP.”
“Apa?! Tidak mungkin. Aku jelas-jelas berada di sana.”
“Maksudmu kau adalah saksi utama? Jadi, kau sudah siapa pembunuhnya?”
“Mengenai itu, saya masih dalam penyelidikan, yang kudengar hanyalah suara tembakan.”
“Apa yang membawamu ke tempat kotor semacam itu?”
“Ah, itu... sebenarnya aku tengah mengikuti seseorang dan kehilangan jejaknya di TKP.”
“Kau menemukan petunjuk?”
“Bukan. Hanya kasus kecil yang kebetulan terjadi di depan mataku.”
“Aku dengar kau juga yang menemukan ledakan bom kemarin, apa ada sangkut pautnya.”
“Ti-tidak juga.”
Gatot matikutu, seberapa kali pun menjawab, Alfred akan selalu menemukan celah. Gelagat Gatot terlihat mencurigakan di matanya. Ada banyak hal yang disembunyikannya baru-baru ini.
“Yah, aku tidak bermaksud mencampuri urusanmu. Hanya pastikan kau tidak mencampur jamu dengan kopi dan memudahkan tim khusus. Kasus sebesar ini tak akan mudah kau tanggung sendiri.”
Semua tidak mudah memang, namun dia harus memastikan kasus ini berjalan sesuai pada tempatnya. Walaupun terlihat bahwa Fitra hanya satu-satunya tersangka dalam kasus tersebut, tetapi dari lubuk hatinya dia sama sekali tak yakin.
Gatot mendapat telepon dari Ulva yang mengabarkna Fitra menghubunginya dan mengatakan kemarin bermalam di rumah temannya.
“Sudah kubilang, bukan.”
“Pa, jemput Fitra. Perasaan Mama enggak enak. Anak itu tiba-tiba berubah semenjak hari itu.”
“Mama tenang saja, Papa janji akan menjaganya dengan selamat.” Janji itu dia katakan sebagai ayah yang ingin melindungi anaknya.
***
Melacak lokasi terakhir Fitra dari jaringan telepon umum yang dia gunakan, Gatot menyusuri wilayah perkumuhan dekat sungai dan jembatan gantung yang sudah tak digunakan. Dinding-dinding gangnya dipenuhi grafiti warna-warni, gambarnya cenderung lebih sopan dengan tema yang yang beragam.
Entah bagaimana dia berakhir di sebuah gedung yang sedang direnovasi. Pasir, semen, batu dan perlengkapan bangunan terletak di tempatnya. Tidak ada pekerja yang terlihat karena ini memang sudah jam pulang. Anak-anak ini sungguh menyukai tempat tak terpakai, gedung kosong maupun tempat-tempat tersembunyi, tentu saja lebih memudahkan untuk menyembunyikan jasad.
Apa sebegitu puasnya anak itu mengaduk-aduk penyelidikan? Atau driinya yang seperti tidak memiliki pekerjaan lain dan terus membuntutuinya tanpa jera, Gatot mengalami jalan buntu, Fitra tak ada di sana. Kemana lagi dia harus mencarinya.
Sayup-sayup terdengar pembicaraan nyaring di salah satu dinding konstruksi. Tempat itu dipenuhi dengan kardus kaleng cat yang bertumpuk. Gatot menaiki tangga kardus tersebut, mengintip sekitar banyak anak-anak seusia remaja berkumpul. Mereka masing-masing memegang skateboard atau sepeda, dan hampir semuanya mengenakan jaket bomber hitam. Yang mengejutkan bahwa dia menemukan Fitra di sana, mengembalikan pistol yang digunakannya.
“Kita terlambat.”
Saat Fitra mengucapkan kata itu sebagian besar dari mereka tertunduk.
“Jadi, apa selanjutnya?”
“Gue enggak bisa lagi bareng kalian.”
“Maksud lo?”
Fitra menunjukkan kata silang yang langsung dimengerti. Setelahnya, mereka saling berpelukan.
“Farewell,” ucap Fitra, sebelum membuka pintu keluar.
Tiba-tiba dari balik tembok, muncul tiga orang bertopeng yang mengenakan senjata dan mulai menembaki yang ada di sana. Gatot dengan gesit mengekuarkan revolver dari saku jaketnya. Rmbongan itu berlari kocar-kacir membelah arah. Satu orang tumbang di tangan Gatot yang menembak kedua tangan dan kakinya.
Sambil berlari, dia menghubungi kepolisian terdekat, mengejar dua orang lain. Sasaran yang dituju adalah anaknya. Fitra bersembunyi ke arah bangunan konstruksi. Gatot berhasil mengejar satu orang dan segera menendangnya hingga tak sadarkan diri.
Tinggal satu orang yang mencari keberadaan Fitra. Pria bertopeng harimau itu menembaki ke segala arah seolah menikmati. Fitra mencoba mencari jalan keluar, dan seminimal mungkin terlihat olehnya. s***h, satu tembakan berhasil mengenai lengan Fitra. Darah mengucur dari lengannya, Fitra menekan darah dengan menggunakan tangan kanannya.
Sial. Apa yang harus dia lakukan di saat seperti ini? Dia bisa mati konyol jika terus-menerus bersembunyi.
Fitra melempar jauh peralatan kayu hingga terjatuh ke tanah, Kemudian mengamati orang itu menuju ke arah jatuhnya. Baguslah orang bodoh itu termakan umpannya. Secepatnya Fitra bangkit dan berlari, namun kakinya terjerat tali tambang. Dengan kepanikan dan putus asa, Fitra mencoba melepaskan tali yang mengikatnya. Kecemasan itu membuat Fitra semakin sulit mengendalikan dirinya.
Pria itu tertawa-tawa, menodongkan pistol ke arahnya sembari berjalan mendekat.
“Mati kau kali ini.”
Dor! Satu tembakan terlepas, begitu pun pistol yang terjatuh. Gatot menembaknya tepat di bahu. Fitra dengan segera merebut pistol dan menodongkannya. Fitra berjalan mundur, sedangkan Gatot maju masih mengacungkan moncong revolver ke wajahnya.
Berhasil dilumpuhkan, Fitra justru menodong pistol ke arah Gatot.
“Berikan pistol itu. Itu berbahaya.”
Fitra menggeleng, berjalan mundur, matanya masih tajam, bibirnya mulai memutih karena kehabisan darah. “Menyerah saja. Kamu mau kemana lagi? Mama kamu sangat khawatir.”
Gatot melihat kerlip keraguan, dan pandangannya mulai melunak. Dalam hitungan ketiga Fitra berlari mencapai pintu keluar, kemudian membuang pistol di tangannya.
Gatot melompat dari atas lantai dua menggunakan tali, bertepatan Fitra akan mencapai gerbang, terlihat tiga orang kawannya yang berlari melihat Gatot muncul.
“Lepaskan aku!”
“Apa kamu tahu siapa mereka? Mereka berbahaya Fitra!”
“Jadi pekerjaan Papa lebih penting dari menyakiti anak sendiri,”
Gatot menyadari kekeliruannya perlahan cekalan tangannya terlepas.
“Ini demi kebaikan kamu.”
“Kenapa baru sekarang Papa hadir?”
“Beritahu semuanya, mengerti! Mulai saat ini kamu berada di bawah pengawasan Papa.”
Walaupun belum semua yang dia kuliti, dia tak berniat mengambil resiko kehilangan anaknya bahkan sebelum kasus ini berakhir.
***