Akan kuselsaikan akhir bulan mohon bersabar ya
masih revisi
Paras pucat, dibingkai rahang kurus yang seakan tidak bergerak, dengan kedua mata sipit yang hanya setengah terbuka. Sebelah matanya terlekati cairan darah, lebam keunguan seperti gumpalan kotoran yang menempel di sana.
Dia terluka lagi.
Mukanya saja sudah buruk bahkan tanpa semua lebam itu.
Aku menyisir tiap sisi kulit wajahnya, mengadu kepala kami, seolah membagi rasa sakit. Mata itu kukecup dengan lembut, lalu kuusap dengan obat. Dia selalu merasa baikan setiap kali itu kulakukan.
“Terima kasih,” gumamnya.
Dia melengos ke arah lain. Rona merah yang merambat dari pipi hingga telinganya tertangkap mataku.
Di balik otot-otot kerasnya, dia hanya seekor kucing pemalu yang bahkan tak tahu cara berbicara dengan manusia.
Aku memberinya senyum. Senyum tidak bertahan lebih dari lima detik yang mampu membalikkan dunia, katanya.
“Kau punya senyum yang indah.” Satu-satunya pujian yang hampir bosan kudengar dari bibirnya.
“Kalau kau begitu mengagumiku. Bawa aku pergi. Aku ingin menghilang dari dunia ini.” Aku merebahkan diri di rumput-rumput hijau taman, menatap warna langit kebiruan yang membentang. Entah mengapa, langit terlihat lebih cerah dari sebelumnya.
“Jangan berkata begitu. Bukankah hidup ini sangat berharga.”
“Aku masih mempertanyakannya.” Aku bangkit dari posisi rebahan, menyilangkan kaki dan membelakanginya yang juga menatap langit.”Apa jika aku mati mereka akan menyesali? Apakah akan ada yang berubah? Apakah dunia akan berubah tanpaku? Tidak ada, bukan?”
“Aku mungkin akan berubah.” Dia mendapat atensiku. Kupalingkan wajah, dia masih menengadah. “Mungkin, akan sedikit berubah.”
“Kenapa?”
“Karena... aku tidak ingin tinggal di dunia yang tanpamu di dalamnya.” Kali ini dia menatapku. Mengejutkan sekaligus terasa manis di telingaku. “Tapi kau jauh lebih kuat dariku, bukan?” Aku terdiam. “Jangan menyerah atas apapun. Jika kau harus menghilang, kau bisa bersembunyi di tempat yang tak terlihat, di tempat kau dapat menghilang.”
Kemudian, aku tak lagi dapat mendengar suaranya. Justru dia yang menghilang. Dan senyum itu memudar, lalu tak tampak.
Lamunanku buyar, setelah menyadari tangannya yang terlepas, napasnya yang tersengal, dan tubuhnya yang mengejang di atas papan brankar.
Dia tak mengenakan baju. Saat itu aku baru menyadari apa yang terjadi. Seluruh bekas jambukan ikat pinggang, sundutan rokok, dan pemukulan, terekspos dengan nyata. Dia biasanya akan menutupinya rapat-rapat dari orang lain. Begitu juga mengenai harapan dan kepedihannya.
Aku teringat saat awal-awal kami berjumpa. Saat aku menanyakan padanya, siapa mereka? Orang-orang yang memukulimu. Dengan ragu dia menjawab, Dia ayahku.
Aku mencoba menyejajari langkah cepat brankar itu naik, kugenggam lagi tangan itu, dan saat aku melihat tubuhnya, luka itu mengingatkanku pada percakapan terakhir kami.
“Luka apa ini?”
“Ini karena ketidakpatuhanmu, ini karena kau melakukan kesalahan, lalu ini karena kau berniat belajar.”
Kami saling berpandangan dalam keheningan yang menyesakkan. Dia tak menuntutku untuk memberinya tatapan rasa iba di balik wajah datarku.
“Aku juga punya mimpi,” katanya. Matanya sewarna buah saga ketika membicarakan mimpi.
Mimpi itu… kini telah menjadi layangan putus di tengah angin ribut. Dia kehilangan talinya, dan jika dia mengejar sekarang, justru dia yang akan terluka.
Dia sangat berbeda dariku. Anak itu tetap ingin mengejarnya, meski terjatuh, meski terluka berulang kali.
Sekali lagi tautan kami terlepas, kali ini rintangan pintu yang menghadang. Lampu di atasnya menyala. Aku terdiam menatap pintu itu seolah-olah akan terbuka hanya karena aku menatapnya.
Aku akan menunggu. Aku akan menunggumu. Kata itu bagai mantera yang terus kuulang.
Aku akan menunggumu keluar dari balik pintu itu, dari balik penghalang di antara kita.
Aku... ingin selalu jadi temanmu.
Hari ini, atau nanti saat kita dewasa. Saat kau bertumbuh, aku bertumbuh, dan kita terbebas dari belenggu.
Aku selalu ingin jadi temanmu.
Bahkan jika tak bisa bertemu, aku akan menunggu.
Bukankah kau yang mengatakan, “Waktu mengikis ingatan kita, tetapi terkadang ada pengecualian. Meskipun waktu mengikis segalanya, ada seseorang yang tetap tak terlupakan.”
Aku akan menunggu.
***
Aku bahkan tak pernah tahu namanya. Dia hanya pernah kupanggil Berandal dan selama itu aku memanggilnya. Aku bahkan tak perlu repot-repot menanyakan, karena kemudian orang lain yang memberitahukan.
Dia memberiku sebuah kotak persegi, bukan hadiah yang manis sebagai kado ulangtahunku.
Isinya... abu miliknya.
“Dia berpesan agar kamu yang menebarkannya. Tidak ada yang perlu datang, Dia hanya ingin kamu seorang yang melakukan. Ini adalah permintaan terakhirnya.”
Aku tidak mengerti, kenapa mereka memberikannya padaku? Aku bahkan tak tahu namanya.
Hanya satu hal yang selama ini menghubungkan kami. Hanya karena takdir kami yang sama, tak lantas aku mengenalnya. Tetapi mereka begitu keras kepala.
Aku tidak menangis ketika menebarnya di lautan yang sering kami datangi. Hanya kukatakan padanya, semoga kau mendapatkan mimpi dan esok yang lebih baik.
***
Pada sebuah khotbah kenaikan kelas, seorang guru membawakan pidato yang sangat indah. Katanya, dengan sedikit berbenturan, dua orang berbeda dapat saling memahami. Alasan mengapa matahari yang dipenuhi kecerahan… karena ada juga warna yang menyedihkan.
Tetapi banyak orang tak mengerti. Karenanya terciptalah hierarki. Yang satu semakin bersinar karena menghisap sinar-sinar di sekelilingnya. Yang satu harus merasakan sakit, harus berjinjit agar dapat lebih sepadan dalam kesamaan.
Dulu aku mengejarnya. Kini, persetan dengan semua itu! Selama ini pengabaian dan risak yang kualami adalah murni. Saat mereka menjejali mulutku dengan pasir, atau mengisi tasku dengan air, atau mendorongku dari tangga. Ini bukan tentang kasta, mereka hanya membenciku. Itu saja.
Sayup-sayup lentera menjauh meninggalkanku. Aku buta tanpa arah. Menatap dalam temaram yang menghambat laju harapan, dalam diam, dalam sunyi yang menyedihkan
Berandalan itu adalah satu-satunya teman yang jujur. Aku mengakui. Aku adalah satu-satunya cintanya, dan dia juga adalah satu-satunya temanku.
Mataku tergenang. Ketika kupejam, bulir-bulir turun berjatuhan. Dan aku menangis karena kini terasa begitu kesepian.
***
Ibuku selalu berkata, aku harus bertahan sekolah dan tidak jadi seperti dirinya. Katanya, aku harus pergi ke sekolah yang bagus demi esok yang lebih baik. Demi mendapat uang dan bisa hidup dengan nyaman.
Tetapi bagiku, esok tak akan pernah ada.
Esok itu tak lagi nyata.
Tidak akan ada yang berubah.
Semua akan tetap sama.
Mereka berdiri di belakangku, menertawakanku seperti sebelumnya.
“Kau seperti sampah!”
“Matilah!”
Semudah itu mereka mengatakannya.
Kenapa aku tidak mengikutinya, kata mereka. Mengikuti kemana Berandal setelah mengalami koma. Aku juga berharap hal yang sama. Tetapi aku terlalu beruntung sehingga tidak dapat mati dengan cara yang mudah.
Maka dari itu... aku akan berusaha.
Sekali ini aku akan berusaha.
Kelegaan seketika membasuh bagai semilir hangat. Derik kayu yang kutunggangi mendecitkan waktu yang tak lagi utuh. Di bawah sana sapuan ombak bersiap melahapku.
Aku tak lagi goyah, kakiku tak lagi gemetar. Semua jauh lebih mudah kuterima.
Kata mereka, matilah sana. Jika aku benar-benar mati karena mereka, apa mereka akan menyesal? Apa arwahku akan menghantui selama hidup mereka? Aku masih mempertanyakan pertanyaan yang sama.
Terima kasih, Berandal.
Pada akhirnya, aku masih merasakan kehangatan pertemanan, sebelum menempuh jalan yang tak jauh beda.
Aku yang berada di dalam lingkaran setan yang membelit tanpa ujung pangkal. Lalu, di tengah-tengah kegaduhan, kunang-kunang itu datang. Menawarkan setitik cahaya yang menuntunku untuk melewati kegelapan hidup. Membekapku bak kain pemintal yang merajut pakaian hangat, yang menjagaku. Dekat di mana hati terikat, di antara belikat, aku terlindung.
B