Pada asteroid pertama, sang pangeran bertemu dengan seorang raja yang mengaku berdaulat atas semua bintang dan bisa menyuruhnya melakukan apa saja. Dia menjelaskan kepada pangeran kecil bahwa rakyat hanya mematuhi perintah yang masuk akal dari pemerintah atau penguasa mereka. Pertama-tama, dia memaksa sang pangeran untuk tinggal sebagai Menteri Kehakiman. Namun setelah pangeran kecil berkeras untuk pergi, raja mengizinkannya pergi sebagai Duta Besar. Pangeran kecil menyimpulkan bahwa orang dewasa itu aneh.
Pada asteroid kedua, sang pangeran bertemu dengan orang yang sombong. Dia hanya mau mendengar pujian dan berpikir bahwa dia adalah orang yang terhebat di planetnya (yang hanya berisi satu orang itu). Dia mengira bahwa sang pangeran, atau siapa pun, adalah penggemarnya. Pangeran kecil semakin percaya bahwa orang dewasa itu aneh.
Pada asteroid ketiga, sang pangeran bertemu dengan seorang pemabuk yang minum-minum untuk melupakan kenyataan bahwa dia malu; namun ia mengaku ia malu bahwa ia suka mabuk. Logika yang berputar itu membuat pangeran kecil memastikan bahwa orang dewasa itu aneh.
Pada asteroid keempat, sang Pangeran bertemu dengan seorang pengusaha yang sibuk menghitung jutaan bintang yang ia anggap menjadi miliknya. Dia mengharapkan untuk mendapat keuntungan dari hal itu, untuk mendapat lebih banyak uang untuk membeli lebih banyak bintang. Sang pangeran pun menyampaikan pendapatnya tentang kepemilikan. Sang pangeran mempunyai bunga dan gunung-gunung berapi di planetnya karena ia merawat mereka dan mereka merawatnya, dan karena seseorang tidak bisa merawat bintang dan mereka tidak bisa merawat kita, maka tidak ada seorang pun yang bisa memilikinya. Si pengusaha tentu saja tidak mau tahu.
Pada asteroid kelima, sang pangeran bertemu dengan seorang petugas yang harus menyalakan lampu setiap sore menjelang malam dan mematikannya tiap pagi. Dulu, ketika planetnya masih berputar dengan normal, dia bisa tidur dan beristirahat dengan cukup. Sekarang planetnya berputar setiap satu menit dan dia tidak bisa tidur dengan cukup. Namun petugas itu tetap patuh akan tugasnya, tetap menyalakan dan mematikan lampu, walaupun ia tidak pernah tidur. Walaupun tetap merasa bahwa orang dewasa itu aneh, pang pangeran menghormati petugas ini lebih daripada orang-orang lain yang ia temui, karena ia memikirkan sesuatu yang lain dari dirinya sendiri. Tapi, karena planetnya terlalu kecil untuk dua orang, sang pangeran pun pergi.
Pada asteroid keenam, sang pangeran bertemu dengan seorang ahli geografi yang tidak pernah pergi dari mejanya dan bergantung kepada pengelana-pengelana untuk membuat petanya. Dia lalu meminta sang pangeran kecil untuk bercerita tentang planetnya. Ia mencatat gunung yang ada di planet itu, tetapi menolak untuk mencatatkan mawar ke dalam petanya karena ia tidak mau mencatat hal yang bersifat fana. Sang pangeran sangat terkejut untuk mengetahui bahwa bunganya suatu saat akan hilang. Sang pembuat peta akhirnya mengusulkan kepadanya untuk pergi ke Bumi.
Sang pangeran kecil pun pergi ke bumi dan mendarat di gurun. Di sana dia bertemu dengan seekor ular yang kata-katanya selalu bermakna ganda. Ular ini mengingatkan si pangeran bahwa justru di tengah banyak orang, kita semakin merasa sepi. Ular ini juga mengaku memiliki kekuatan untuk mengirim seseorang ke asalnya.
Setelah itu, sang pangeran memanjat gunung untuk melihat bumi dengan lebih jelas dan terkejut ketika mendengar gemanya sendiri. Dia berpikir bahwa manusia sangatlah aneh karena mereka selalu mengulangi apa yang ia katakan dan bahwa bumi itu keras dan penuh dengan benda tajam.
Pangeran pun sampai ke kebun yang penuh dengan bunga mawar. Dia terkejut karena dia mengira bahwa mawarnya hanya satu-satunya di dunia. Sang pangeran menangis, tetapi ia lalu bertemu dengan seekor rubah yang meminta sang pangeran untuk menjinakkannya. Dia lalu menjelaskan kepadanya tentang cinta, dan bahwa mawarnya memang spesial baginya dan hanya satu-satunya di dunia, karena waktu yang sudah sang pangeran habiskan untuk merawatnya, dan hanya ia yang pangeran cintai. Dia juga menjelaskan bahwa sang pangeran sudah menjinakkan bunga dan sang bunga pun sudah menjinakkan sang pangeran, dan itulah kenapa sekarang ia merasa bertanggung jawab atasnya.
Pada bab-bab berikutnya, sang pangeran bertemu dengan seorang penjaga pintuel kereta yang menjelaskan kepadanya bahwa manusia pergi kemanapun dengan kereta cepat, tetapi tidak pernah tahu apa yang mereka cari; kecuali hanya anak-anak yang memiliki perhatian akan apa yang ada di sekitar mereka. Sang pangeran kecil juga bertemu dengan seorang pedagang yang menjual obat untuk menghilangkan haus. Jika tidak harus minum, orang dapat menghemat waktu 53 menit seminggu. Sang pangeran menjawab bahwa jika punya waktu tambahan, ia akan berjalan dan minum air dengan tenang.
Setelah deretan kilas balik itu, sang pilot kembali menceritakan kondisinya saat itu. Mulai sekarat kehausan, sang pilot dan pangeran kecil berjalan melintasi gurun, dan akhirnya menemukan sebuah sumur. Sang pangeran kecil mengingatkan bahwa gurun itu tampak cantik, karena ia menyembuyikan mata air di dalamnya. Hal-hal yang tersembunyi itu yang membuat segalanya memiliki arti.
Keesokan harinya, sang pilot melihat sang pangeran kecil kembali berbicara ke si ular. Ia menjadi sangat resah. Apalagi kemudian sang pangeran kecil mengucapkan selamat tinggal, karena sudah waktunya ia kembali ke planet asalnya. Ia akan seperti mati, karena tidak mungkin membawa tubuhnya kembali ke planet yang jauh itu. Sang pilot berusaha mencegah. Namun berjalan di gurun membuatnya lelah. Ia tak berdaya melihat sang pangeran kecil dipatuk ular kuning, dan terjatuh tanpa suara di gurun.
Tak lama, sang pilot diselamatkan dan kembali ke negerinya. Para penyelamatnya tidak menemukan tubuh si pangeran kecil, yang dianggapnya ditelan bumi. Cerita berakhir dengan gambar pemandangan tempat di mana sang pangeran kecil datang ke bumi dan ketika sang ular mengambil nyawanya. Sang pilot meminta kepada pembaca, jika menemukan seseorang anak kecil aneh yang menolak untuk menjawab pertanyaan, untuk menghubungi dia secepat mungkin.
Sang pangeran kecil dikisahkan sudah berada selama satu tahun di Bumi, dan sang narator mengakhiri ceritanya 6 tahun setelah ia diselamatkan dari gurun.
***
“’On ne voit bien qu'avec le cœur, l'essentiel est invisible pour les yeux. Seseorang hanya dapat melihat dengan sebaik-baiknya melalui hatinya, karena yang terpenting (dalam kehidupan) tidak terlihat oleh mata’. Sang penulis hendak mengemukakan pandangannya tentang kesalahpahaman yang sering dilakukan oleh manusia dan kebenaran sederhana yang sering dilupakan oleh mereka seiring mereka bertambah dewasa.”
“Benar.”
“Mungkinkah itu yang hendak dikatakan korban. Apakah itu akan menunjukkan si pelaku. Atau memang ditujukan untuk si pelaku.”
“Kita belum tahu sampai melanjutkan ke yang berikutnya.”
“Maksudmu cerita si pincang Oidipus Rex.”
“Menurutmu bagaimana?”