BAB 8c-Run!

1000 คำ
Melarikan diri itu memang memalukan, tetapi lakukanlah ketika diperlukan. Eddie ingat seorang mengatakan itu padanya, sehabis mencuri pohon mangga di belakang rumah tetangganya. Dia tak lari sewaktu dipergoki. Anak-anak lain menganggapnya gentle sejati, tetapi kata gentle tak pantas disematkan untuk maling. Naasnya, hanya dia yang mendapatkan hukuman karena tak lari. Sesuatu yang seperti itu juga dapat terjadi. Eddie tidak gentle, tidak juga bodoh, apa yang dia lakukan adalah bentuk rasa bersalah. Karena itu seperti juga saat ini, Eddie tak lari walau kini yang memergoki adalah dirinya. Dia merasa bersalah memasuki privasi orang lain. Tempat itu terletak di bagian dalam, di bawah tanah yang bau dan pengap. Eddie langsung tak dapat bernapas dengan lega. Setelah tangga, masih ada pintu kedua. Pintu besi berat berderak-derak ketika dibuka. Banjir kecoak. Eddie melompat-lompat kegelian, membersihkan pakaiannya dari hama menjijikkan itu. Bahunya menempli dinding bata kotor, sampai pasukan itu keluar. Bau anyir dan busuk menguar memnuhi udara, membuatnya ingin muntah. Eddie mengeluarkan masker oksigen dan senter dari tas kecil yang dia bawa, tas besar dia letakkan di atas. Mengintip dari celah pintu, mata Gatot membeliak. Perca darah membentuk pola melintang, membujur, bahkan lingkaran sempurna di dinding kekuningan. Lantainya benar-benar hitam karena darah yang begitu pekat. Berapa nyawa yang telah menyumbangkan darahnya untuk pagelaran seni ini. Apakah ini semacam tempat penyiksaan, bagi orang-orang yang bersalah. Tiba-tiba dia merasa perutnya kembali teraduk membayangkan penyiksaan yang telah terjadi. Mengapa ada di sini. Eddie merasa menemukan titik terang. Mungkin saja ini adalah tempat persembunyian pada jaman Belanda. “Apakah ini semacam sandi.” Dia mulai memeriksa bagian dinding lain, berharap ada sebuah tulisan atau hieroglif atau prasasti barangkali, meskipun tempat ini tidak terlihat terlalu lama dibangun. Ada sebuah treesome kecil di bagian paling atas, dia menduga sebagai ventilasi. Perawakannya memang cukup tinggi, tetapi masih membutuhkan penopang untuk melihat keluar lubang itu. Eddie mengeluarkan tali magnetnya dan menempelkannya ke atap untuk memudahkan bergelayut. Pemandangan itu membuatnya tercengang. Dibalik dinding itu terdapat sebuah rumah kaca, dan Eddie tak salah mengenalinya, terdapat banyak tumbuhan-tumbuhan ganja. Eddie tak tahu di bagian mana tempat itu berada. Apakah di balik gedung ini, atau di samping kiri, yang dia tahu, dia harus memeriksanya. Eddie mengemasi kembali peralatannya. Harap-harap cemas akan dapat mengungkapkan sesuatu dari tempat ini. Krieeet. Bunyi benda yang ditutup. Perasaan Eddie buruk. Saat dia melangkahkan kakinya keluar pintu, silau sinar lampu yang masuk melewati tembok tadi, berganti kegelapan pekat. Tembok itu telah kembali tertutup dan dia mendengar suara tawa menyeramkan. *** Buntu. Eddie tak dapat memikirkan jalan lain selain menghancurkan tembok yang menjadi penghalang. Dia benar-benar terperangkap. “SIAL!” Bunyi gebrakan pintu besi yang dipukul, menghasilkan gema ke seluruh penjuru ruangan itu. Dia membutuhkan sebuah lubang untuk keluar. Naasnya satu-satunya lubang di sana, hanya ventilasi udara dari jendela treesome mengarah ke gudang ganja. Dia harus menemukan cara kabur dari tempat itu. Dan suara tawa siapa tadi, Eddie benar-benar dibuat goosebump dengan tawa melengking makhluk yang tak dia ketahui rupanya. Dalam kepalanya terbesit adegan slide horror ketika hantu muncu berniat memakan mereka. Rupanya mungkin mirip dengan jelmaan Hendry Frueger dalam Nightmare. “Buat keputusan segera, agar tak menyesal nantinya.” Eddie bermonolog untuk mengurangi kegelisahannnya. Udara sekelilingnya semakin terasa menyesakkan, lembab dan dingin tiba-tiba merangkul tubuh Eddie yang sedikit gemetar. “Pasti ada celah yang tersembunyi di sini.” Eddie meraba-raba, mengetuk, bahkan mnghantam tembok yang tenyata dinding betulan. “Tetap tenang, Ed. kalau kau tidak tenang, nyawamu bisa melayang.” peringatan untuk dirinya. Eddie melakukan respirasi, masker oksigen di wajahnya hanya bertahan beberapa waktu, walaupun begitu, Eddie yakin dia belum akan mati di tempat ini. Eddie merasakan perbedaan dari tekstur dinding-dinding empat arah. Dingding di kirinya menggunakan cat tembok dengan pelapis, di sebelah kanannya, menggunakan cat tembok anti air, dan di depannya menggunakan bahan kapur yang kasar, sedangkan di belakangnya menggunakan bata putih tanpa semen. Eddie berpikir untuk membongkar bata itu satu persatu, tetapi ada yang aneh dengan keempat dinding itu. Jalinan keempat dinding jika disatukan membentuk sebuah tanda panah-garis-lengkungan-dan perca darah membentuk semburan. Kembang api, barangkali. Eddie menggunakan sabuk pengait magnetnya untuk menggantung di langit-langit, di tempat yang sama dia melakukannya tadi. “Sudah kuduga, ini gambar--” Brakkk. Tak disangka langit-langit itu tak sekokoh yang terlihat. Atapnya rubuh, tidak mengenainya, tetapi bokongnya menyentuh lantai dengan keras. Beruntung dia jatuh tidak pada tulang ekornya. Entah sebuah keberuntungan atau kesialan, itu menandakan Eddie selamat. Eddie yang merasa terbebas, segera menjalankan rencana. Menggunakan sabuk magnetnya lagi, dan berayun membentuk lengkungan hingga dapat masuk tepat ke lubang. Lubang itu hanya seukuran tubuhnya, perlu kecekatan dan timing yang tepat untuk melakukannya. Begitu masuk ke dalam, hanya kegelapan yang menyambutnya. Dia tak yakin ini adalah jalan keluar yang benar. Jadi Eddie menyalakan lampu senternya, menyorot sekitar tanpa ekpektasi bahwa tempat itu adalah kuburan tempat mayat-mayat pemilik darah di lantai dasar. *** Ini kutukan. Bagaimana mungkin ada tempat semacam ini. Kurang dari du apuuh empat jam dia telah disuguhkan kengerian nyata. Sensasi merinding merambati bulu kuduk yang beum pernha dia alami sebelumnya. Dia sangata berterima kasih jika jantungnya tak terus menerus dimompa akan ketegangan tiada akhir. Apa yang dia harapkan, sejak awal dia hanya sendirian, berjuang di tempat gelap minim penerangan dan udara bersih yang tercampur anyir darah dan tanah. Tempat itu adalah kuburan lama. Tulang belulang kecil berserakan bagai daun-daun gugur. Dari struktur tulang itu Eddie dapat menyimpulkan mayat-mayat itu adalah anak-anak berusia sekitar 7-12 tahun. “Di mana ini.” Apakah dia kembali tersesat? Bukannya menemukan jalan keluar, dia malah dihadapkan pada serangkaian kejadian tak menyenangkan. Tiga puluh menit kemudian dia mengelilingi tempat itu dengan nyala cahaya dari ponsel pintar miliknya, nihil, bahkan dia tidak dapat menemukan lubang tikus di sana. Mustahil tempat setua ini tanpa seekor tikus yang menghuni, hanya ada dua kemungkinan. Tempat itu pernah ditempati dan masih, atau tempat itu cukup berbahaya untuk ditinggali bahkan untuk makhluk pengerat seperti mereka “Kau yang di sana!” Eddie tak mengkhayal kali ini, dia benar-benar mendengar suara seorang. Di antara gelapnya ruangan, penampakan dua buah mata bercahaya kemerahan menatapnya. Edddie melompat karena kejutan tak terduga.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม