One living being, the only woman he loved in the world – stood there. It was Gilbert’s first time ever loving someone. He used not to know the intricacies of loving and being loved.
Kutipan isi novel hits Violet Evergardeen agaknya menyinggung sedikit kisah cinta kedua orang dalam buku diary. Dua orang yang terluka, jatuh bangun menjalani kehidupan, saling melengkapi untuk bertahan. Laura tak benar-benar mengerti perasaannya, dia hanya menganggap Berandal sebagai teman yang tidak pernah dia miliki sebelumnya, sedangkan Berandal yang hidupnya begitu keras, mirip perasaan yang dirasakan Gilbert. Itu adalah kali pertama dia mencintai wanita, dia tak terbiasa dalam urusan mencinta dan dicintai. Sehingga dia tergila-gila pada satu-satunya wanita di dekatnya, yang dikenalnya.
Eddie membacanya seolah-olah membaca novel fiksi. Secara keseluruhan tidak seperti diary yang biasa dia ketahui, melainkan potongan-potongan cerita sedih karangan seorang gadis belasan tahun. Dia turut sedih dengan apa yang menimpa gadis itu. Sudah berkali-kali dia melihat jiwa-jiwa muda yang kehilangan semangat hidup bahkan kehidupannya terenggut hanya karena beberapa anak lain yang dengan kejamnya merusak secara psikologis.
Bullying, salah satu momok yang masih menghantui kawula muda hingga saat ini. Meski juga kerap terjadi di kalangan pekerja maupun sosial masyarakat, lebih-lebih di era digital, bullying lebih banyak terjadi di dunia cyber.
Sayang, buku itu hanya berupa salinan, sehingga dia tak dapat mengidentifikasi tulisan Laura secara jelas. Dari tulisannya saja, Eddie dapat menyimpulkan sedikit banyak karakter gadis itu.
Sesuai yang diketahuinya, tulisan dianggap merepresentasikan diri seseorang. Ini karena sistem syaraf di otak yang menggerakkan tangan untuk menulis dipengaruhi keadaan psikologis seseorang, tulisan tangan pun bisa mengungkap banyak tentang kepribadian seseorang.
Laura memiliki tulisan kecil miring ke kiri dengan ukuran spasi yang besar dengan huruf L kecil dan S yang memiliki lingkaran yang terlihat jelas di bawah.
Laura adalah pribadi yang pemalu, senang mengekang emosi, introvert, senang menyendiri, dan mandiri. Tetapi itu pun tidak cukup membantu untuk mengetahui tepatnya di mana gadis itu tinggal.
Yang dia ketahui hanya secercah petunjuk kecil tempat dia dan Berandal “jadian”. Eddie memijat tumitnya yang terasa sakit akibat menaiki tanjakan tinggi menuju bukit. Dia mengetatkan pelukan jaketnya, perbedaan cuaca ekstrem begitu terasa saat menginjakkan kaki pertama kali.
Dia mendekati jendela-jendela tinggi yang sebagian grendelnya telah berkarat. Aku mengikuti arah pandangnya. Gunung Putri Tidur terlihat utuh dari tempat ini.
Laura mengatakan dapat melihat view Gunung Putri Tidur dari ceritanya. Dan begitulah kakinya membawanya ke kota apel yang lumayan dingin karena letaknya di dataran tinggi. Malang, Jawa Timur, pernah Eddie kunjungi sewaktu mengikuti karya wisata saat SMA, dan tak pernah berkesempatan unuk mengunjunginya lagi.
Eddie akhirnya sampai ke puncak. Benar saja, dia dapat melihat sebuah bangunan tinggi tak terpakai, sesuai yang dikatakan buku diari.
Eddie mengikuti cara yang diajarkan Laura saat naik. Dari atap dia menuju tangga untuk turun ke bagian jendela besar, tempat keduanya berdiri menatap kembang api. Dia seolah-olah sedang memasuki kenangan orang lain.
Berandal berjalan mendahului, aku baru akan melewati ambang pintu ke dalam sebuah kantor besar tanpa penyekat ruang, atau kantor kuno yang tak lagi digunakan, dengan banyak meja-meja yang ditumpuk satu sama lain.
Eddie meletakkan tas di lantai berdebu, sarang laba-laba menghias seperti sebuah kain yang menutupi seluruh benda. Mungkin tidak banyak yang tahu tempat ini selain kedua anak itu, dan setelah kejadian itu, mereka tak lagi kemari. Dia mengeluarkan teleskop untuk melihat di kejauhan. Dari sana Eddie dapat melihat gedung hotel tertinggi di kota, tetapi yang dia cari adalah gedung dengan tinggi 165 meter, tempat Laura berniat mengakhiri hidupnya. Berlanjut pada jembatan tak jauh dari sana.
Dia mendapatkannya!
“Nice, Eddie,” pujinya pada diri sendiri.
Setelah mencatat letak koordinat tempat itu, Eddie mengemasi barang-barangnya dan bermaksud akan turun kembali. Eddie menjatuhkan strap ponselnya. Strap berbentuk kepala Einstein yang didapatnya dari Fitra. Eddie tertegun sejenak, memungutnya dari lantai.
Fitra.... Eddie merindukan keceriannya. Mengapa kemenakannya itu harus mengalami hal tragis semacam ini. Eddie selalu menganggap Fitra sebagai putranya sendiri, pun Fitra selalu menganggap Eddie sebagai ayahnya yang lain. Dia menyayangi Ulva, lebih menyayangi anak-anaknya.
Dia berjanji akan membalaskan dendam dan membersihkan namanya. Bagaimana pun sulitnya dia akan menemukan Laura dan kedua pemilik diari lain. Dia harus menemukannya, harus mendapatkan USB itu dari mereka.
Perasaan Eddie tak nyaman, sewaktu menyadari, ada noda hitam mengering di lantai. Noda itu menuntun Eddie ke sebuah pintu dan berakhir di sebuah lemari besi. Suasana sepi membuat bulu kuduk Eddie berdiri. Ada hawa tak menyenangkan di balik lemari itu. Jika dianimasikan mungkin akan keluar hawa berbentuk tangan warna hitam yang memanggil-manggil dari celah atau menarik-nariknya ke arah datangnya.
Berniat menuntaskan rasa penasarannya, pelan-pelan dia buka rantai pintu lemari yang telah mengarat. Derit menyakitkan telinga membuatnya berjengit. Eddie sempat menahan napas sewaktu membukanya. Banjir kecoa dan bau apek memenuhi ruangan. Tidak ada apapun di dalamnya. Hanya kertas bertumpuk yang telah berdebu tebal dan sarang laba-laba yang membuat tangannya lengket.
Eddie belum menyerah. Dia yakin ada yang tak wajar dengan lemari itu. Bukan hanya karena bentuknya yang bengkok di sana-sini, terdapat bekas tinju atau pemukul. Pemukul tidak akan menyisakan bekas semacam ini. Eddie menebak terjadinya perkelahian di dalam. Atau mungkin dua orang itu bukan satu-satunya yang pernah datang. Tidak menutup kemungkinan tempat ini digunakan sebagai persembunyian.
Mengenakan masker dan sarung tangan, Eddie mengibas pelan untuk membersihkannya. Diraba-rabanya dalam lemari, hasilnya dia tidak menemukan tombol atau pun jalan rahasia.
“Hmm, percuma saja. Tidak ada apapun ternyata. Itu mungkin hanya tinta.”
Eddie menutupnya kembali. Rasa penasarannya belum terpuaskan. Dia memeriksa bagian luar. Di bawah lemari itu ada dua potong kayu yang biasa digunakan untuk memindahkan benda berat. Eddie menggesernya sedikit, dia merasakan hawa udara keluar dari sela lemari.
Dengan jantung berdebar-debar, dia geser lemari itu, hingga terpampang papan putih yang berkamuflase sebagai tembok. Eddie mencari benda yang dapat dia gunakan mencungkil, dia menemukan tripod reklame rusak dari tumpukan kursi.
Tak butuh waktu lama bagi Eddie melakukannya. Pintu itu menjeblak terbuka, terdapat tangga melingkar yang menuntunnya ke ruang bawah tanah. Intuisi Eddie nyaris tak pernah salah.
Entah masalah apa yang menantinya di bawah, Eddie sempat bimbang hendak pulang atau meneruskan. Dan dia memilih meniti tangga demi tangga sambil berharap, semoga ini bukan skenario yang terburuk dari kisahnya menjejaki kenangan Laura.
***