BAB 1d-Lousy Dad

1109 คำ
Satu jam kemudian, Chevy Gatot sampai di Hidden Heart, salah satu pantai tersembunyi yang jarang diketahui orang. Pasirnya sangat putih dan airnya berwarna biru terang, pantulan mentari membiaskan cahayanya seolah banyak berlian terapung di atasnya.   Tanya menarik-menarik ayah dan kakaknya untuk segera menuju tepi, rambut panjangnya berantakan tertiup angin laut. “Wah, indah banget. Kakak ayo cari kerang.”   Gatot meninggalkan keduanya yang asik bermain pasir untuk membantu istrinya mengangkat keranjang piknik dan menyiapkan panggangan. Di sana, selain mereka, hanya ada beberapa pengunjung yang terlihat. Terdapat sekitar lima mobil keluarga terparkir di dekat mobilnya tadi. Bisa dikatakan pantai itu tidak ramai, namun juga tidak terlalu sepi.   Tanya melambaikan tangan ke arah keduanya, tertawa bahagia. Fitra juga terlihat menikmati suasana bersama sang adik.   Agenda mereka telah sampai pada acara makan bersama. Dengan manja, Tanya meminta disuapi oleh Gatot, Tak luput Fitra masih menjadi concern-nya. Dia menyodorkan minum dan menepuk-nepuk punggungnya dengan akrab, sebuah kemajuan jika anak itu tak marah dan hanya menggerutu singkat.   Matahari mulai meninggi saat keluarga Gatot akan melanjutkan acara keluarga ke taman bermain. Agenda mereka sepenuhnya disusun oleh dua bidadari dalam keluarga mereka. Gatot mendapat lima miscall telepon dari Firman   Ada apa ini? Pertanyaan itu selalu hanya akan muncul ketika firasatnya memberitahukan hal yang buruk.   “Pak, sudah sampai di mana?”   “Ada apa? Kamu tidak tahu ini hari apa?”   “Anda sedang tidak di kantor, Pak?” heran Firman.   “Maksud kamu? Bicara yang jelas, saya sedang tidak punya waktu. Memangnya apa yang terjadi?”   “A-AKPRI Hendro kemungkinan diserang dan ditemukan terluka parah. Saat ini kondisinya sedang kritis, Pak.”   “Apa?!” Dan akhirnya menjadi nyata. Jantung Gatot seolah hendak melompat keluar mendengar pernyataan pemuda itu. Gatot buntu dalam dilema. Melihat keluarganya yang menunggu, atau menyanggupi kewajibannya? “Saya akan segera ke sana.”   “Ada apa, Hon,” tanya Ulva yang melihat raut cemas di wajahnya.   “Sesuatu yang buruk sedang terjadi. Aku harus segera kembali.”   “Lagi?”   “Sudah kuduga akan begini.”   “Fitra, tolong beri pengertian, Sayang.  Saat ini Papa kamu sedang dibutuhkan.”   “Jadi, kita enggak jadi pergi.” Rasanya tak tega mengamati wajah kecewa si imut Tanya.   “Memangnya kita tidak butuh?”   “Maafkan Papa. Kita pasti akan pergi lain kali.”   “Kau menyebut dirimu seorang ayah?”   “Fitra jaga sikap kamu!”   “Mau sampai kapanpun Papa akan tetap payah!”   Ulva terkesiap Fitra dapat melontarkan perkataan menyakitkan seperti itu. Anak itu melenggang pergi ke arah mobil terparkir.   “Papa jangan marah sama Kakak ya. Papa tetap jadi ayah yang terbaik buat Adek.” Gatot yang sangat tertohok, sedikit terhibur dengan perkataan putrinya.   “Maafkan dia, Hon, dia masih anak-anak. Ketika dewasa dia pasti akan mengerti beratnya menjadi seorang ayah.”   Chevy kinclong Gatot berubah suram karena penghuninya pulang dengan berbagai macam perasaan tak menyenangkan.   ***   Tirai berat yang disibak Eddie membiaskan cahaya mentari memasuki rak-rak buku yang telah dibersihkannya. Perpustakaan itu adalah miliknya, dibangun atas inisiatif dan ketekunan Eddie.   Selain sebagai rumah untuk buku-buku limited edition, tempat itu adalah rumah baginya bernaung. Eddie tak memiliki keluarga, sehingga dia mudah tinggal di mana saja, selama tempat itu memiliki atap, listrik, dan air minum. Setelah kematian kedua orangtuanya, sejak kecil dia berada di rumah sepupunya Ulva. Dia mengakui telah banyak berhutang budi terhadap keluarg Ulva. Dan saat dia telah mencapai usia dewasa, dia memutuskan keluar dari sana untuk mengejar mimpi.   Beberapa tahun kemudian, Ulva telah menikah dengan pria yang lebih sering menyalonkan kumisnya dibandingkan pulang ke rumah. Gatot masih menjadi rivalnya. Sedikit yang dia ingat mengenai Gatot, adalah pria bertalenta yang dicintai Tuhan. Dia sangat jarang mengalami kegagalan berkat intiuisinya yang tajam. Sial. Eddie setiap mengingat Gatot hanya ingin mengumpat, menyadari kekalahannya, baik mengenai prestasi ataupun tentang Ulva.   “Om!” Eddie tengah mengembalikan beberapa buku ke tempat semula, sewaktu imitasi Ulva versi remaja gender male mendorong pintu dan memanggilnya dengan ceria.   “Fitra. Masuklah.” Eddie memberi isyarat dengan kepala. Fitra mengenakan jaket bomber hitam, rambutnya tampak lebih panjang dari terakhir kali.   “Ini dari Mama seperti biasanya.” Anak itu meletakkan rantang yang dibawanya ke meja depan.   “Bukannya sudah kubilang untuk tidak lagi mengirim makanan.”   “Om sudah tahu, begitulah Mama, sampai Om menikah mungkin tidak bisa dihentikan.”   Eddie mencibir Ulva sebagai wanita tua yang bebal.   “Lagi sibuk, Om?”    “Enggak juga. Gimana kabar Papa dan Mama.” tanya Eddie tanpa nada bertanya.   “Baik.” Eddie menemukan rasa sangsi dari suara anak itu. Fitra mencoba membantu meletakkan buku-buku yang tersisa.   “Bertengkar lagi?” Eddie mengejar.   “Enggak juga.” Fitra memberengut. Alisnya bergerak-gerak ketika tengah menahan kekesalan. Kebiasaan itu ditularkan dari Ulva. Selain tubuhnya yang semakin tinggi hampir menyamainya, mata sayu dan bibir mungil turunan ibunya, hanya rahang kuat yang merupakan bibit jelek sang ayah, anak itu benar-benar mengingatkannya pada masa lalu.   “Segeralah berbaikan, jangan bikin Mama-mu sedih.”   “Benar-benar pria yang tidak bisa diharapkan." Perkataan itu jelas tidak ditujukan pada Eddie.   “Ya, Papa-mu memang seperti itu, bukan.”   "Aku selalu berharap untuk segera dewasa dan bebas seperti Om Eddie.”   Eddie dapat memahami perasaan dan amarah yang dipendam Fitra. Hanya saja dia tidak berharap Fitra akan seperti dirinya. Eddie bukan orang baik, dia sejujunya membenci keluarganya karena sebab-sebab tertentu, sampai suatu ketika dia mengetahui kebenaran yang terjadi saat ayahnya telah ada di dalam peti.   “Bukannya menjadi polisi adalah impian kamu sejak dulu. Kamu bilang ingin menjadi seperti ayahmu suatu saat.”   “Entahlah. Setelah melihat dan mulai memahami, aku rasa aku tidak ingin menjadi polisi, jika harus mengabaikan keluarganya seperti itu. Dan kupikir menegakkan keadilan tidak bisa hanya dicapai dengan menjadi seorang penyidik.”   Amarah seorang anak yang hanya sesaat, Eddie pikir. Seiring waktu, Fitra juga mungkin akan bisa memahami.   “Benar juga. Mungkin kamu bisa jadi pengacara atau bahkan sebagai hakim. ” Lagi-lagi dia mencuri peranan sosok ayah. Di mata Fitra, Eddie adalah ayah keduanya. Anak itu hanya akan lebih terbuka terhadapnya dibandingkan ayahnya sendiri. Fitra hendak membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, namun dia urungkan.   “Iya,” hanya itu yang terlontar, “Aku pulang dulu kalau begitu, Om.”   “Jika kamu menghadapi masalah, kamu bisa datang ke Om kapan pun.”   “Aku mengerti.”   Ketika Fitra berbalik, Eddie memanggilnya, tampak sekali ada yang mengganggu pikirannya, walaupun Eddie tak dapat memaksanya untuk bercerita.   “Seorang ayah memang tak pandai mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, namun mereka lebih banyak menunjukkannya dengan perbuatan. Om yakin, suatu hari kamu akan menyadari peranan sosok ayah itu dalam diri Papa-mu sendiri. Jangan pernah putus harapan.”   Fitra balas mengangguk sebelum melenggang meninggalkan Eddie yang masih menatap punggungnya penasaran.                                                                    ***
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม