Bab 9. Teror

1005 คำ
Nadira masih shock melihat foto yang muncul pada layar ponselnya. Namun segera dia tutup ketika Bu Ani hendak mendekatinya. "Ada apa, Dira? tanya Bu Ani penasaran. "Tidak apa-apa, Bu. Hanya orang salah kirim. "Ooo ....Ibu kira ada apa." "Dira ke kamar dulu mau lihat Nafa!" pamit Dira seraya berjalan tanpa menunggu jawaban dari Ibu dan Mamaknya. Nadira menutup pintu kamarnya dan kembali membuka ponselnya. Hatinya semajíkin terluka melihat foto-foto mesra suaminya dengan wanita lain. Wanita itu sangat cantik dan seksi. Raut wajah Farhan terlihat bahagia merangkul wanita itu. Tanpa di sadarinya genggaman tangannya semakin kuat saat mencengkeram ponsel itu. Tubuhnya luruh ke lantai bersandar pada pintu. Selama ini Nadira tahu kalau suaminya memiliki kekasih jauh sebelum menikahinya. Tapi dia masih bisa bertahan untuk tetap bersama Farhan hingga detik ini. Hampir setiap sepertiga malam Nadira memanjatkan doa untuk kebahagiaan keluarga kecilnya. Namun pertahanan yang dia jaga selama ini seakan ambruk ketika melihat foto-foto itu. Farhan tak pernah semesra itu padanya. Kenapa sesakit ini rasanya. Nadira tak sanggup menahan air mata yang terus jatuh di kedua pipinya yang mulus. Kulit wajahnya yang putih memerah karena menangis. Selama ini dia kuat karena tak pernah melihat wanita yang menjadi kekasih suaminya. Namun kini bayangan suaminya bersama wanita lain begitu menyakitkan hatinya. Kenapa sesakit ini rasanya ya Allah ... Sebuah pesan masuk kembali dari nomor yang sama. Dengan tangan gemetar Nadira membuka pesan tersebut . Hatinya kembali bagai diremas ketika membaca kalimat yang dikirim oleh wanita itu. Aku akan mengambil Farhan yang telah kau rebut dariku setahun yang lalu. Tinggalkan Dia malam ini juga! Atau aku akan melakukannya dengan caraku sendiri! Tak henti-hentinya Nadira beristighfar setelah membaca pesan dari wanita itu. Malam ini? Apa yang harus kuperbuat? Nadira dilanda kebingungan dan kecemasan. Bagaimana mungkin dia pergi malam ini juga? Sementara masih ada Ibu dan Mamaknya di sini. Namun bagaimana jika perempuan itu nekad? Tangisan Nafa membuyarkan lamunannya. Nadira bergegas menghampiri Box bayi dan meraih Nafa untuk diberi Asi. ☆☆☆ "Jadi bagaimana Farhan? Apa Dira sudah bicara padamu bahwa keluarga besar kami besok akan datang ke rumah ini, mereka ingin melihat anakmu." Nadira tersentak mendengar pertanyaan Mamak pada Farhan saat mereka sedang makan malam bersama. Pasalnya dia memang belum mengatakan apapun pada suaminya itu. Sejak kemarin menerima pesan dari wanita yang mengaku kekasih Farhan itu, Nadira banyak melamun dan tak banyak bicara. "Apa? Oh ya, sudah. Nadira sudah bicara. Nanti Aku akan bilang pada Nadira agar menyuruh pelayan masak yang enak-enak." Nadira tertegun mendengar jawaban Farhan. Padahal dia sama sekali belum bicara apa-apa pada suaminya itu. Nadira tersentak saat tersadar bahwa Farhan sedang tersenyum menatapnya. Wanita itu salah tingkah dan langsung tertunduk. Farhan tersenyum geli melihat kegugupan istrinya. "Ah baiklah, Farhan. Nanti Mamak akan kenalkan kamu pada semua saudara Mamak yang tinggal di jakarta ini. Mereka pasti akan bangga padamu." "Iya, Mak. InsyaAllah besok saya tidak ke mana-mana." Sepanjang makan malam, Farhan tak henti-hentinya menggoda istrinya. Dia terus mencuri-curi pandang dan sesekali mengedipkan satu matanya pada Nadira. Hingga membuat istrinya itu semakin gugup dan salah tingkah. ☆☆☆ Sejak pagi Bu Ani dan pelayan sibuk di dapur. Aroma masakan khas padang menguar sampai ke halaman belakang. Membuat Mamak dan Farhan yang sedang duduk santai di saung taman sesekali memuji aroma masakan itu. "Ini pasti masakan Ibu mertuamu, Farhan. Kamu pasti tak akan berhenti makan nanti. Hahahaha! Kalau istilah minangnyo, sampai indak nampak mintuo lalu." Mamak Sutan Sati terus memuji masakan Bu Ani. "Iya, Mak. Saya sudah lama tidak makan masakan asli kampung kita. Rindu rasanya. Jadi ingat masakan Bunda," sahut Farhan terkekeh. "Memangnya Nadira tidak pernah memasakkan kamu masakan awak? Asal kamu tau, masakan Nadira tak kalah enaknya dari masakan ibunya." Farhan gelagapan. Bukannya Nadira tidak pernah memasak untuknya. Tapi memang dia yang melarang Nadira untuk mengurus dirinya. Walau Nadira tetap saja memasak setiap hari, namun dia enggan untuk makan di rumah. Entah kenapa kini ada perasaan menyesal menyelusup ke relung hatinya. "Nadira, Kemarilah!" Tiba-tiba Mamak memanggil Nadira yang kebetulan lewat di depannya. "Ada apa Mak?" Nadira mendekat. "Kenapa kamu tidak pernah memasak masakan kampung kita untuk Farhan?" Nadira spontan menoleh pada Farhan. Suaminya itu membalasmya dengan tatapan rasa bersalah. "Oh, mungkin Nadira pikir Saya tidak suka masakan kampung kita, Mak. Karena Saya sudah lama tinggal di Jakarta. Tidak apa-apa, Mak. Mulai besok saya akan minta Nadira sesekali memasak masakan padang untuk Saya," sanggah Farhan cepat sebelum Nadira menjawab. "Apa benar itu, Dira?" "Iy-iyyaaa, Mak." Maaf, Mak. Dira ke dapur dulu." Nadira segera beranjak meninggalkan dua lelaki berbeda usia itu sebelum lebih banyak lagi yang akan ditanyakan oleh Mamaknya. Nadira kembali dikejutkan oleh pesan masuk lewat ponselnya dari nomor yang sudah dua hari ini menerornya Nadira berusaha untuk mengabaikan. Walau hatinya tak tenang. Tamu-tamu sudah mulai berdatangan. Sanak family yang datang tidak hanya yang tinggal di sekitar jakarta saja. Bahkan ada yang datang dari bekasi , Cikarang, Tangerang dan Bogor. Untunglah rumah Farhan sangat luas. Para tamu tak henti-hentinya berdecak kagum melihat rumah Farhan yang megah seperti istana. Mamak tak henti-hentinya membanggakan menantunya itu. Farhan jadi tidak enak hati pada para tamunya. Sesekali Farhan merangkul pundak Nadira dan bersikap mesra di hadapan para tamu. Membuat mereka semakin kagum pada Farhan. Pria itu menggendong Nafa dengan bangga dan penuh kasih sayang. Betapa bahagianya Farhan hari itu. Hingga tak dihiraukannya berpuluh-puluh kali panggilan dari Erika pada ponselnya. Sementara, Nadira gelisah tak menentu sejak tadi. Karena tiap sebentar ponselnya bergetar. Ancaman demi ancaman dari wanita itu terus menerornya. Namun Nadira berusaha tenang demi menghormati para tamunya. "Beruntung kamu, Dira. Punya suami sukses seperti Farhan itu." "Farhan itu baik dan sayang sekali sama kamu, Dira." Nadira hanya membalas dengan senyuman ucapan-ucapan dari para sepupunya. Tiba-tiba terdengar suara gaduh di depan gerbang. Terdengar suara seorang wanita berbicara lantang pada security yang berjaga di depan. Farhan dan Mamak yang berada di ruang tamu sontak berdiri hendak melihat apa yang terjadi. Nadira pun penasaran dan berjalan melangkah ke depan. Namun setibanya di depan, mereka semua ternganga melihat seoang wanita cantik berpakaian seksi datang bertamu. Mata Farhan melebar melihat seseorang yang sangat dikenalnya, saat ini berada di halaman rumahnya. bersambung.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม