delapan

1506 คำ
"Dokter, ada yang benar-benar membutuhkan bantuan di depan sana." Dannes mengangkat alis bingung. "Kalian tidak membawanya ke UGD secepatnya? Pasien harus mendapat pertolongan pertama." "Pria itu menolak," seorang staf dengan panik menghampiri Darius yang berbincang dengan Dannes. Membahas beberapa hal terkait rumah sakit, dan bukan membahas masalah lain. "Pegang ini." Darius mundur dan melenggang pergi begitu saja. Membiarkan sang kakak mengernyit, kemudian memerhatikan berkas yang adiknya bawa. Membaca dalam diam sebelum bergegas untuk pergi ke ruangannya sendiri. "Silakan, bawa putra Anda ke ranjang ini. Kami akan memberikan pertolongan pertama." Darius bisa melihat seorang pria berpakaian formal tampak membungkuk menahan sakit. Setelah beberapa kali bujukan, pria itu mau mengalah dengan membiarkan seorang anak berusia sekitar delapan sampai sembilan tahun pergi. Dirinya mencoba bangun, tertatih-tatih berjalan masuk. "Pastikan anak itu mendapat pertolongan pertama," ujar Darius memerintah dan perawat segera berlari pergi. "Anda baik-baik saja?" "Ya Tuhan, tulang rusukku terasa nyeri. Aku baru saja dihantam sesuatu. Yang paling penting putraku," kata pria itu gusar. Saat Darius mencoba mendekatinya, dia beringsut mundur dan terlihat panik. "Jangan terlalu mencolok, dokter. Aku tidak mau kau terkena masalah karena baru saja terlibat denganku." Darius mengernyit dan meneleng. "Ini rumah sakit. Kami harus menjalani prosedur sesuai SOP yang berlaku. Anda membutuhkan bantuan." "Tolong, jangan. Bantu saja putraku. Dia layak hidup ketimbang diriku yang tidak berguna." Darius benar-benar tidak mengerti. Ketika dirinya mendekat, pria itu seolah ketakutan dan mundur. Lalu kehilangan tenaga setelah membentur tembok dan duduk. Beberapa orang memandangnya dengan cemas. Serta menunjukkan raut prihatin yang kental. "Anda bisa bicara di ruanganku." "Bagaimana bisa?" Suaranya bergetar. "Putraku akan selamat, kan?" "Kalau Anda membawanya yang terluka lebih cepat, semua akan baik-baik saja. Berapa usianya?" "Delapan tahun, dokter." Pria itu berkata dengan terbata-bata. "Sembunyikan dia sampai keadaan aman." "Biar aku membantumu," ujar Darius memaksa. Memapah pria itu pergi ke ruangannya sendiri. Berhubung mendapati jam istirahat pasca menerima pasien yang berkonsultasi, Darius hanya perlu membuang waktunya sebentar untuk melayani pasien mendadak yang membuat rumah sakit pecah. "Beri aku obat pereda rasa sakit saja. Aku tidak apa. Sungguh. Yang butuh pertolongan anakku, bukan aku." Darius meraih stetoskop miliknya dengan desahan. "Aku perlu memeriksa sebelum memberikan diagnosa. Dengan apa d**a Anda dihantam?" "Balok yang tumpul dan tendangan. Rasanya nyeri sekali. Aku sempat batuk dengan darah." Pria itu meringis saat Darius menekan telapak tangannya di area yang sakit. "Mungkin saja lebam dan akan membiru besok." "Lebam dan kemungkinan pendarahan di dalam. Yang itu lebih membahayakan," tukas Darius datar. Memindahkan tatapannya untuk memeriksa bagian lain. "Sudah berapa lama?" "Setengah jam yang lalu. Aku beruntung karena Tuhan memberiku kesempatan sampai sini." "Aku akan memeriksa lebamnya." "Anakku yang malang." Suaranya berubah lirih. Darius mengintip ke wajah malang pria itu dan menemukan setitik air mata baru saja tumpah. "Anakku yang tidak berdosa." "Aku akan memberi resep obat pereda nyeri. Kita bisa melihat efeknya dalam beberapa jam ke depan. Setelah meminum obat dan mengalami gangguan sampingan, segera pergi ke rumah sakit. Anda mengerti?" "Ya." Pria itu mencoba bangun. "Aku tidak punya kesempatan untuk hidup di atap yang sama atau mereka akan mengejarku." Darius mengerutkan kening. "Kenapa?" "Aku baru saja melakukan sesuatu yang fatal. Dan ini ganjaran akibat perbuatanku. Aku menyesalinya sekarang. Anakku terkena imbas." "Kau akan—," "Tidak, dokter. Tidak akan baik-baik saja. Kehidupanku sudah lama dikendalikan oleh para penguasa. Termasuk keluarga ini. Keluarga kaya lama yang meresahkan tiap napas kehidupan kami." Darius hanya perlu mengontrol dirinya agar tidak terlalu tampak tegang. *** "Lihat, siapa dia." Alicia mengamati Hana yang baru saja keluar dari toko buku besar di pinggir jalan. Toko buku terlengkap yang tidak hanya menjual buku-buku dari berbagai belahan dunia, melainkan menjual peralatan sekolah serta kebutuhan-kebutuhan lain khusus untuk mereka yang masih mengenyam bangku pendidikan. Cecil melambai girang pada gadis manis berambut hitam yang dikuncir tinggi. Kedua mata Hana membelalak. Dia berbicara sesuatu pada supir, lalu meminta pria itu membawakan barangnya. Kemudian menunggu sampai lampu berganti merah untuk menyeberang. Menghampiri Alicia dan Cecil yang sedang bersantai. "Kalian di sini?" Hana tampak senang. "Aku beruntung." "Duduk dulu." Cecil menarik kursi untuk gadis itu. "Hana, namamu. Kau berbelanja cukup banyak di toko buku." "Oh, hanya mengoleksi lima buku dan membeli dua tas. Aku bosan dengan tas lamaku. Lalu membeli tas laptop. Hanya itu. Apa terlihat banyak?" Alicia bertumpu pada tangannya saat bersuara. "Kau terlihat bisa membelanjakan uang dengan baik." "Aku tidak sekaya dirimu," ujar Hana dengan seringai. "Tapi untuk membiayai kehidupanku sampai punya anak, keluargaku masih mampu." Alicia tertawa dengan kepala menggeleng. "Aku menduga matahari tersembunyi di keluarga Foster ada pada dirimu. Omong-omong, pesan sesuatu di dalam. Aku yang membayar." "Oke." Hana melompat dari kursinya untuk masuk. Sedangkan Cecil melempar tatapannya pada si supir malang yang tengah menghubungi seseorang. "Supir itu mungkin menghubungi ibunya." Alicia mengaduk lemon squash pada gelas. "Asal tidak Darius yang datang." "Darius?" Cecil mengernyit dan menatap sahabatnya penuh tanya. "Kenapa harus Darius?" "Aku bertemu Hana di bar malam. Gadis itu sepertinya berusaha mencari jati diri. Lalu yang menjemputnya Darius. Kami bertemu. Aku berpura-pura tidak melihatnya." "Lantas?" "Dia kembali." Tepat setelah Alicia mengatakannya, Hana muncul dengan segelas kopi dan sumringah. Gadis itu bergabung tanpa canggung. Yang membuat Alicia tersenyum. "Kenapa kau terlihat sangat menyenangkan?" "Haha. Darius dan Dannes sepakat aku ini menyebalkan. Sering membuat mereka kerepotan," tukas Hana menyedot kopinya. "Tapi aku beruntung karena saudara sepupuku sangat baik terlepas mereka menjengkelkan." "Darius, si pangeran?" Cecil bertanya sembari melirik Alicia. "Julukannya banyak tersebar." "Oh, tentu saja. Di kalangan para gadis, teman-temanku, rumah sakit bahkan pasien. Sebagian dari mereka datang dan berpura-pura sakit hanya untuk melihat Darius. Sepupuku jual mahal. Tapi sebenarnya dia hanya tidak mau berurusan dengan perempuan." "Dia punya trauma?" Cecil yang tidak akan berhenti memancing jawaban sampai benar-benar menemukannya. Kepala Hana menggeleng. "Tidak. Mungkin sempat berkencan tapi tidak terlalu lama." "Kurang percaya diri karena circle keluarga?" "Bermuka dua," timpal Hana malas. "Ibunya tidak terlalu suka dengannya. Sepupuku juga mengalami hal serupa. Dan dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan sebelum semua bertambah rumit. Nah, Alicia. Aku penasaran denganmu." Alicia tersenyum malas. "Apa yang ingin kau tahu?" "Banyak hal. Asumsi-asumsi yang mereka bentuk ... oh! Tapi aku percaya kau tidak seperti itu. Manusia memang pendosa, tapi mereka tidak berhak mengolokmu sampai sejauh itu. Menurutku, itu tidak keren sama sekali." Hana menyedot kembali kopinya setelah berbicara panjang lebar. Yang membuat Cecil mendengus. Sementara Alicia terdiam, mengatupkan bibirnya rapat-rapat. *** "Terima kasih banyak." Pria itu bersujud di kakinya. Yang membuat Darius bergeming, berusaha meresapi apa yang baru saja terjadi. Si anak berhasil selamat setelah pertolongan yang panjang. Gegar otak, patah pada rusuk dan tangan, lebam yang cukup banyak. Cukup malang karena anak itu berhasil selamat dari detik terakhir. "Sama-sama." Darius membungkuk, membawa bahu yang bergetar itu untuk bangun. "Kita mengharapkan yang terbaik." "Tidak apa-apa aku yang terluka, asal tidak putraku." Si pria mencoba berbicara tanpa menangis. Tetapi dorongan emosi terlalu kental. "Masa depannya masih panjang. Dirinya masih punya banyak waktu untuk mengejar mimpi. Tidak seperti aku." "Peran ayah penting untuk menemaninya di masa-masa berkembang," ujar Darius serius. "Anda tidak bisa bicara seperti itu. Semua akan membaik." Darius merasakan dorongan simpati yang tinggi. Saat dia menghela pria itu untuk duduk, memeriksa si anak yang sedang tertidur. "Aku akan mengurus biaya administrasi." Darius ditinggalkan sendiri. Dalam sepinya kamar. Sesuai permintaan sang ayah, meminta agar perawat memindahkannya ke kelas yang lebih rendah alih-alih kelas terbaik. Berhubung kelas dua rumah sakit cukup sepi, mereka memindahkan bocah malang itu ke kamar yang kosong. Hampir lima belas menit dan si ayah belum juga kembali. Darius mundur dan pergi dari ruangan, menemukan si pria gemetaran saat duduk berhadapan dengan Alicia yang santai. Sama sekali tidak terpengaruh dengan guncangan pria yang sedang terluka di depannya. "Alicia?" "Aku hanya memintamu jujur," ujar Alicia dingin. "Kalau kau bersuara, putramu yang malang tidak akan mengalami hal mengenaskan sejauh ini. Ayahnya tidak mau berkorban." "Aku sudah bersumpah," ucapnya terbata-bata. "Sumpah ... yang tidak bisa dipermainkan." "Bisa. Kau yang tidak mau melakukannya." "Aku tidak bisa." Darius menghampiri keduanya tanpa ekspresi. Ia mengernyit memandang si pria yang tampak ketakutan. Terintimidasi karena kehadiran Alicia yang tiba-tiba. "Kau boleh masuk." "Terima kasih, dokter." Alicia menatap kepergian pria malang itu tanpa suara. Saat urusannya selesai, yang ia butuhkan hanya pergi. "Kau mengintimidasinya?" "Aku punya urusan dengannya." "Dengan melukai anak-anak?" tanya Darius sinis. "Usia putranya baru delapan tahun. Dan kondisinya memprihatinkan." "Oh, nurani doktermu terluka berkat anak itu, bukan?" tanya Alicia tak kalah sinis. "Aku ada urusan dengannya. Ini sama sekali tidak bersangkutan denganmu." "Memang tidak," ujar Darius datar. "Aku juga tidak ingin tahu. Tetapi masalahnya kau membuat si ayah terguncang. Dia tertekan karena putranya. Dan mempunyai luka lebam di bagian d**a berkat tulang rusuk pukulan di tulang rusuk." "Dia baik-baik saja?" Alis sang dokter terangkat sebelah. "Putranya." "Belum sadar. Tetapi masa kritisnya telah berlalu. Hanya menunggu waktu." Darius membalas dengan kepala meneleng. "Kau datang hanya untuk menemui pria itu?" Alicia menatap matanya. Dan benar-benar tidak ingin mengenang kencan satu hari mereka yang berlangsung sangat singkat. "Ya." "Oke." Darius hanya perlu memahami bahwa ada batasan yang tidak bisa dirinya tabrak antara dunianya dengan dunia Alicia. Keluarga mereka sama-sama berbisnis. Tetapi satu hal yang pasti, Darius hanya tidak perlu terlalu dekat agar tidak terbakar.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม