Di dalam kelas Esti yang tengah menunggu Syana dari tadi dibuat heran saat melihat Syana masuk kelas dengan mulut manyun dan duduk dengan kasar. Disusul Gibran yang berjalan dibelakang Syana dengan wajah dinginnya, tapi saat pandangannya tertuju ke arah Syana wajah dingin itu berubah seperti menahan tawa. Membuat kening Esti berkerut dalam.
“Eh, Na. Loe kemana aja sih dari kemaren di hubungi nggak bisa.?” Tanya Esti to the poin membuat Syana yang tadinya cemberut kini gelagapan mendengar pertanyaan Esti. Menoleh dan nyengir. Bingung mau jawab apa.
“Iya tuh, Loe juga, Bran. Kemaren gue lihat mobil loe ada di halaman rumah Syana. Pas gue tanya ke satpam katanya ada acara di rumah Syana, dan hanya keluarga yang diperbolehkan ikut.” Tanya Vino.
“Emang ada acara. Dan khusus keluarga.” Jawab Gibran enteng.
“Tumben dikhususkan buat keluarga, biasanya acara apapun semua boleh ikut.” Cecar Esti yang sedikit banyak sudah hafal tentang keluarga Syana.
“Yaa.. nggak semua acara jadi konsumsi publik. Semua orang juga punya privasi kali.” Jawab Gibran membuat Syana yang sudah panas dingin takut pernikahannya terbongkar kini bisa bernafas lega.
Tet.. tet.. tet..
Bel tanda masuk berbunyi nyaring menyelamatkan keduanya dari pertanyaan menjebak Esti dan Vino.
‘Untung aja.’ Batin Syana.
Penjaga ujian memasuki kelas dengan map coklat berisi soal-soal yang harus ditaklukkan seluruh siswa. Ujian di mulai dengan berdoa sesuai keyakinan masing-masing, berdoa khusyuk berharap dapat ilham untuk menjawab semua soal dengan benar.
Satu jam kemudian waktu yang di berikan telah usai membuat mereka yang belum selesai mengambil jalan pintas. Ada yang menghitung kancing baju, mengurutkan ABCDE, ada yang sibuk nyari contekkan membuat kelas yang sebelumnya tenang kini riuh tak terkendali.
“Na, bagi jawaban dong, tinggal satu nih, udah mentok gue.”ucap Esti memelas membuat Syana tersenyum dan memberikan jawabannya.
“Waktu kalian sudah habis. Silahkan dikumpulkan.” Ucap penjaga ujian.
“Yaahh.. belum selesai buk. Nambah dong waktunya.” Keluh Vino.
“Ketua kelas silahkan kumpulkan lembar jawabnya.” Ucap sang penjaga tanpa memperdulikan keluhan Vino.
Dengan terpaksa semua lembar jawaban itu pun dikumpulkan dan semua siswa kini diperbolehkan istirahat. Mereka memutuskan langsung menuju kantin untuk mengisi perut agar lebih konsentrasi saat mengerjakan soal ujian selanjutnya.
“Woy!, Vin. Dicariin ternyata disini.” Ucap Bimo menepuk bahu Vino membuat dia tersedak bakso.
“Uhuk.. uhukk.. uhuk..”
Esti yang memang berada di depan Vino langsung mengambil minumnya dan menyerahkan ke Vino. Setelah reda Vino mengembalikan minum Esti.
“Terima kasih beb.” Ucap Vino kepada Esti.
“Loe juga, hobby baru ya ngagetin orang ?. hampir gue mati kesedak,” ucapnya ke Bimo dibalas cengiran. “untung ada bidadari cantik yang menyelamatkan nyawa pangeran.” Ucap Vino mengedipkan sebelah matanya ke arah Esti.
“Ckk. Pangeran halu.” Jawab Esti sewot. Membuat teman-temannya terkikik geli.
“Kok halu sih beb, kamu itu beneran bidadari penyelamatan pangeran tampan ini loh.” Gombal Vino membuat Esti pengen munt*h.
“Udah, kasian tuh anak orang loe godain mulu.” Ucap Bimo. “Eh, gue kesini mau ngasih tau. Minggu depan kita ada turnamen sedangkan tim kita kurang 1 personil. Fery nggak bisa ikut, kemaren dia kecelakaan dan kakinya patah. Loe punya temen yang bisa main basket nggak. Gue udah tanya ke anak-anak nggak ada yang punya kenalan.” Sambungnya.
“Hmm... siapa ya.?” Pikir Vino.
“Waktu kita nggak banyak, musti latihan sedangkan sekarang kita lagi ujian.” Ucap Bimo lagi sambil menusuk bakso Vino dan memakannya.
“Eh, iya gue baru ingat, loe kan bisa main basket, Bran. Kalo nggak salah gue pernah denger loe kapten basket di sekolah loe yang dulu.” Ucap Vino menepuk bahu Gibran yang duduk disebelahnya, membuat semua yang ada disitu memandang Gibran.
“Ehemm.. gue nggak bisa.” Jawab Gibran.
“Kenapa?” tanya Vino heran.
“Males” jawab Gibran cuek.
“Ayolah, bro. Bantuin kita. Ini juga buat sekolahan kok.” Bujuk Bimo.
“Bener tuh. Bantuin napa, Bran.” Sambung Esti.
“Nggak” keukeuh Gibran.
Akhirnya Vino, Esti, dan Bimo sama-sama mengalihkan pandangannya ke arah Syana yang dari tadi diam, membuat Syana bingung. Detik kemudian dia baru faham maksud mereka.
“Ehemm... Bran. Nggak ada salahnya kan bantuin mereka. Toh ini buat sekolahan kan. Lagian kamu juga bisa.” Bujuk Syana.
Hening...
Gibran yang merasa menjadi pusat perhatian akhirnya menghela nafas panjang. Menatap satu persatu temannya dan berakhir di Syana. Untuk beberapa detik tatapan mereka berdua bertemu.
“Ok. Gue bantu.” Jawab Gibran.
“Alhamdulillah...” jawab mereka serempak.
“Tapi ini untuk yang pertama dan yang terakhir.” Sambungnya.
“Siiaapp.” Ucap Bimo senang. “Thanks ya.” Sambungnya dan pergi.
“Hnn.”
Tet. Tet. Tet.
Bel tanda masuk pun berbunyi membuat seluruh siswa yang tengah menikmati istirahatnya dengan terpaksa meninggalkan aktivitas dan masuk ke ruangan masing-masing. Menit berlalu sekolah yang tadinya riuh dengan suara canda tawa seluruh pengguninya kini senyap. Hanya ada suara serangga yang rebutan pasangan.
Satu jam kemudian, suasana kembali ramai karena waktu ujian telah selesai. Ada yang langsung pulang, ngegosip, pacaran, dan ada yang memilih ke perpustakaan untuk mencari buku tambahan buat belajar di rumah. Seperti hal nya Syana dan Esti yang memilih mencari buku-buku rumus matematika. Sedangkan Gibran dan Vino kini sedang latihan basket di lapangan samping perpustakaan.
Sebenarnya tadi Syana pengen pulang duluan bareng Esti. Tapi, Gibran tak memperbolehkan alasannya karena tadi mereka berangkat bareng, maka pulang juga harus bareng. Gibran juga sudah mengabari orang tua Syana jika pulang telat. Akhirnya Syana nurut dan memilih ke perpustakaan sambil menunggu Gibran latihan di temani Esti yang memang tadi berangkat di jemput Vino karena sopir nya masih pulang kampung, Apalagi rumah Vino searah dengan Esti.
“Na,”
“Hmm?”
“Gue ngrasa ada yang aneh deh, antara loe sama Gibran.” Ucap Esti mengeluarkan unek-uneknya selama ini.
“Aneh gimana ?” jawab Syana tanpa mengalihkan pandangan dari buku di depannya.
“Gue rasa loe punya hubungan lebih dengan Gibran. Lebih dari sepupu.” Ucap Esti membuat Syana langsung diam membeku.
“Ehemm.. aku sama Gibran itu sepupu sekaligus sahabat sejak kecil. Jadi ya wajar dong kalo kita terlihat lebih akrab.” Alibi Syana mencoba menyakinkan Esti.
“Oh iya ?” sahut Esti dengan kening berkerut, belum bisa percaya dengan ucapan Syana karena beberapa kali dia melihat dari gerak gerik kedua temannya tersebut seperti menyembunyikan sesuatu.
“Iyaa..” jawab Syana.
“Okey, gue harap loe jujur, Na. Gue nggak mau persahabatan kita hancur yang kedua kalinya. Gue paling nggak suka dengan kebohongan dan penghianatan.” Ucap Esti mengingat kejadian yang menimpa antara Syana, Sarah, dan Jacky.
Ya, Esti tahu semuanya setelah mendesak Gibran, sebab Syana enggan menceritakan masalah yang dialaminya sampai dia jatuh sakit bahkan pingsan beberapa hari yang lalu. Esti tahu saat tak sengaja mendengar percakapan Syana dan Gibran di UKS. Hatinya sakit mendengar penghianatan kedua sahabatnya yang membuat Syana sampai jatuh sakit. Sedangkan dia tak tahu apa -apa.
“Aku akan berusaha untuk selalu jujur sama kamu, Es.” Ucap Syana tersenyum kemudian memeluk sahabat terbaiknya itu di balas dengan pelukan erat dari Esti.
‘Maaf, Es. Aku belum bisa jujur soal hubunganku dengan Gibran. Tapi aku janji, kalau waktunya sudah tepat, aku critain semuanya.’ Batin Syana.
‘Meskipun gue belum 100% percaya, tapi gue harap loe benar-benar mau jujur ke gue, Na. Gue nggak mau kehilangan loe. Karena bagi gue loe bukan sekedar sahabat, tapi saudara.’ Batin Esti kemudian mempererat pelukannya.
“Ayok pulang be---b.” Ucap Vino dari arah pintu melepaskan pelukan kedua sahabat tersebut.
“Yah, kok di lepas. Padahal mau ikutan.” Sambung Vino pura-pura ngambek.
“Ogaah.. loe bau keringet.” Jawab Esti sewot sambil mengemasih buku-bukunya.
“eehh.. gini-gini masih bau wangi loh beb.” Ucap Vino dengan tingkat kepedean di atas rata-rata.
“Hiiiii...” sahut Esti jijik.
“Bentar, berarti kalau babang Vino udah mandi, cakep, bebeb Esti mau dong meluk abang?” goda Vino.
“Daripada meluk loe mending meluk onta.” Jawab Esti seraya keluar dari perpustakaan di ikuti Vino, meninggalkan Syana yang geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua temannya.
Setelah mengemasi buku-bukunya, Syana melangkah keluar dari perpustakaan dan mencari keberadaan Gibran. Menoleh kekanan dan kekiri sampai pandangannya menangkap sosok cowok tampan yang berdiri di dekat pohon mangga sambil menerima telepon. Perlahan dia mendekat dan dan mendengar percakapan Gibran dan sesorang di sebrang sana.
“Iya ma, habis ini Gibran ajak Syana kesana.”
“.............”
“Iya..”
“...............”
“Waalaikumsalam”
Menutup telepon dan memasukkannya kesaku celana. Memandang Syana yang duduk di sampingnya dengan tersenyum. Tanpa sadar tangannya terangkat mengacak rambut panjang Syana membuat Syana tersipu malu.
“Tadi mama telpon, kita di tungguin di rumah. Hari ini mama minta kita nginep.” Ucap Gibran tanpa mengalihkan pandangannya.
“Kenapa harus hari ini?” tanya Syana membuat Gibran tersenyum lalu mendekat dan membisikan sesuatu ke telibga Syana.
“Karena kamar aku sudah dipasang kedap suara.” Bisik Gibran kemudian berlari meninggalkan Syana, sebelum di hajar sama bini cantiknya itu..
“Gibraan...!!!” pekik Syana.
“Hahahhahaahahh”.