Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Sesuai kesepakatan bersama, kalau Gibran dan Syana langsung menikah tanpa acara pertunangan dulu. Sebab kedua orang tua Syana ingin Gibran bisa menjaga Syana kapan pun dan dimana pun. Apalagi setelah kejadian di mall waktu itu yang membuat Syana sempat jatuh sakit.
Dan hari ini adalah hari spesial mereka berdua. Karena dalam hitungan kurang dari 1 jam lagi Syana akan menjadi seorang istri dari Gibran Syakeer. Acara tersebut sangat tertutup karena kedua calon mempelai masih sekolah. Hanya dihadiri oleh keluarga inti saja.
Di dalam kamar, Syana sudah siap dengan kebaya putih model terbaru dengan make up natural yang menambah kecantikan wajahnya. Rambut yang di gulung ke atas menyisakan beberapa helai membuat Syana benar-benar mempesona, di tambah aksen mahkota dan rangkaian bunga untuk menyempurnakan penampilan Syana malam ini.
“Masya Allah. Kamu cantik banget sayang.” Ucap Rahma pada anak gadisnya.
“Ya iyalah.. siapa dulu tantenya.” Ucap Vera adik ipar Rahma yang membantu make up Syana, Membuat kedua pipi Syana memerah.
“Cie yang mau nikah auranya beda ya.” Goda Vera sambil mencolek dagu Syana. membuat Syana makin salah tingkah.
“Udah.. jangan di godain mulu.” Lerai Rahma.
“Sayang.. ingat ya. Setelah ini kewajiban kamu sepenuhnya pindah ke suami. Jadi apapun yang terjadi yang kamu ikuti adalah perkataan suami kamu.” Nasehat Rahma. Dan di angguki Syana.
Tes tes tes.. terdengar suara microfon dari arah ruang tamu. Ya, acara ijab qobul mereka dilaksanakan di kediaman keluarga Dermawan. Dan di hadiri oleh keluarga inti saja. Bahkan karyawan kantor ayah Heri dan papa Riko tak ada yang tau.
“Bismillahirrohmanirrohim.”
“Saudara Gibran Syakeer. Engkau saya nikahkan dan saya kawinkan dengan putri saya Queensya Naila Dermawan binti Heri Dermawan, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas murni 200gram di bayar tunai.”
“Saya trima nikah dan kawinnya Queensya Naila Dermawan binti Heri Dermawan dengan mas kawin tersebut tunai”
“Saahhh...!”
“Alhamdulillah...”
Syana langsung memeluk sang bunda saat terdengar kata ‘sah’. Terharu, tak menyangka jika dia kini berubah setatus menjadi seorang istri dari sahabat serta cinta pertamanya.
“Selamat sayang. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Bahagia selalu.” Ucap Rahma tulus dengan airmata kebahagiaan.
“Terima kasih bun. Kakak minta maaf kalau kakak banyak salah ya bun.” Ucap Syana.
“Iya sayang. Sama-sama.” Jawab Rahma.
“Keponakan tante udah besar sekarang. Sudah menjadi seorang istri. Bahagia selalu ya sayang.” Ucap Vera sambil memeluk Syana.
“Terima kasih tante.”
Tok.. tok.. tok..
“Kakak, bunda. Di tunggu yang lain di bawah.” Ucap Raffa di balik pintu.
“Ayo sayang kita turun. Di tunggu suami kamu.” Goda Vera.
“Iiihh... tante..” seru Syana malu.
“hahaha.”
Diruang tamu, Gibran telah selesai melaksanakan ijab qobulnya. Dan kini menunggu Syana untuk menandatangani surat nikahnya. Deg degan dan grogi membuat keringat dingin membasahi pelipis dan peci yang dia kenakan saat menjabat tangan calon mertuanya tadi. Dan sekarang menjadi meningkat saat menunggu kedatangan sahabat serta cinta pertamanya dan kini menjadi istri nya.
Senggolan di lengannya membuyarkan lamunan Gibran. Menatap sang papa yang memberi kode untuk menatap ke arah tangga. Menoleh, enggan berkedip saat melihat Syana menuruni tangga di apit oleh bunda dan tantenya. Sungguh cantik dan anggun.
“Ehemm... kondisikan matanya kak.” Goda Rizal pada kakak iparnya. Membuat Gibran salah tingkah.
Syana berdiri tepat di depan Gibran. Meminta tangannya dan menciumnya tanda hormat kepada suami, dibalas Gibran dengan mencium mesra kening Syana tanda kasih sayang terhadap istri.
Setelah menandatangani dokumen serta buku nikah, kini semua keluarga berfoto sebagai kenang-kenangan. Tak lupa satu foto Gibran dan Syana sebagai pengantin baru yang di perbesar dan di taruh di kamar mereka kelak.
“Selamat ya sayang. Akhirnya kamu jadi anak mama juga.” Ucap Suci sambil Syana.
“Terima kasih tante.” Jawab Syana.
“Loh.. kok tante.. mama dong, sama kaya Gibran. Kamu kan anak mama sekarang.” Tegur Suci.
“Hehe... iya tan- eh mama.” Jawab Syana malu. Suci kembali memeluk Syana penuh sayang.
“Udah malem sekarang kalian iatirahat ya. Syana, ajak suamimu istirahat dikamar. Besok kalian masih sekolah loh.” Suruh Rahma.
“Dikamar Syana.?” Tanya Syana.
“Ya iyalah masa dikamar gue .?” sahut Rizal dari arah belakang. Membuat semua orang tertawa.
“Iiiihh... nggak tanya.” Jawab Syana sewot.
“Lah, tadikan lu tanya.” Ucap Rizal menggoda sang kakak.
“Auah ah..” ucap Syana manyun.
“Udah, udah. Rizal jangan goda kakakmu terus. Syana kamu sama Gibran kan udah nikah. Ya sekarang nggak papa kalo Gibran istirahatnya di kamar kamu.” Ucap Rahma pada anak nya yang kurang konect itu..
Akhirnya mereka berdua berlalu ke kamar Syana. Tepat sampai di depan kamar teriakan Rizal membuat Syana dan Gibran salah tingkah.
“Kak, awas ya ayah belum pasang kedap suara.!” Teriak Rizal dan diikuti gelak tawa yang lain.
“Iihh... awas kamu.” Ucap Syana dan berniat menghampiri Rizal, tapi tangannya di tahan oleh Gibran.
“Mau kemana.?” Tanya Gibran.
“Turun.” Jawab Syana.
“Ngapain.? Nggak denger tadi bunda ngomong apa.?" Tanya Gibran tanpa melepas tangan Syana.
“Hmmz.” Bingung, sebenernya dia hanya ingin mebgulur waktu sebab dia ragu jika harus sekamar dengan Gibran, meskipun setatus mereka sekarang suami istri.
“Udah masuk kamar, aku capek. Besok kita ujian loh.” Ucap Gibran dengan sedikit mendorong Syana masuk ke kamar. Benar-benar capek dan males jika terus-terusan di godain.
“Iya iya..” pasrah Syana.
Syana tak jadi turun dan memilih masuk ke kamar karena memang sudah malam dan besok ada ujian. Langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih. 15 menit kemudian Syana keluar kamar dengan tangtop dan celana pendek setengah paha. Berjalan santai ke depan cermin tanpa sadar ada yang tengah menahan sesuatu di atas ranjang. Menit berlalu dia baru sadar saat matanya menangkap bayangan yang berjalan mendekat. Perlahan Syana menoleh dan...
“Aaaaaaaaaa..... “
****
Di tempat lain Vino dan Esti tengah janjian di salah satu caffe dekat mall untuk memberi kejutan pada Syana.
“Gimana Vin? Belum bisa dihubungi Gibrannya .?” tanya Esti. Dan hanya di balas gelengan oleh Vino.
“Trus gimana dong. ? Apa kita duluan aja kerumah Syana nya.. keburu malem nih.” Usul Esti saat melihat jam menunjukkan pukul 20:15.
“Yaudah deh, yuk.” Jawab Vino.
Akhirnya mereka berdua datang ke rumah Syana tanpa Gibran. Sekitar 15 menit kemudian mereka sampai di depan rumah Syana. Heran, saat melihat di halaman rumah Syana terparkir banyak mobil dan lampu terang benderang. Mata Vino memicing saat menangkap 1 mobil sport warna putih terparkir di antara mobil-mobil itu.
“Beb, itu bukannya mobilnya Gibran ya.?” Ucap Vino sambil menunjuk ke arah mobil Gibran.
“Eh iya, berarti Gibran udah disini dong.?” Tanya Esti pada Vino.
“Entahlah beb, tapi sepertinya ada acara deh di dalam. Coba gue tanya pak satpam dulu.” Ucap Vino dan keluar untuk bertanya langsung ke satpam rumah Syana.
Esti memilih untuk menunggu Vino di dalam mobil. Disana Vino tengah mendekati satpam rumah Syana dan menanyakan tentang Syana dan Gibran. Sambil menunggu Esti terus mencoba menghubungi Syana dan Gibran, tapi keduanya tetap tak merespon. Menit berlalu akhirnya Vino kembali ke mobil.
“Gimana Vin.?” Tanya Esti penasaran.
“Di dalam memang ada acara keluarga sekalian ulang tahun Syana. Dan hanya keluarga yang boleh masuk.” Ucap Vino.
“Tumben, biasanya acara apapun tetap welcome aja.” Ucap Esti curiga.
“Udahlah beb, mending kita jalan aja. Besok baru deh tanya ke mereka.” Usul Vino
“Males ah. Gue mau pulang aja. Tadi kan gue pamitnya mau ngrayain ulang tahun Syana.” Sahut Esti menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi dan manyun sambil bersedekap, Bener-bener males. Kejutan yang sudah dia persiapkan harus gagal total karena Syana gak bisa ditemui.
“Bentar aja beb, jalan-jalan dulu kek. Please. “ bujuk Vino, dia tau kalau mood Esti sedang gak baik karena gagal kasih kejutan buat sahabatnya.
“Okey. Beneran bentar ya.” Pasrah Esti setelah menimang-nimang.
“Siap komandan.” Ucap Vino bergaya hormat berdera. Membuat Esti tersenyum simpul.
“Kita kemana.?” Tanya Vino setelah melajukan mobilnya.
“Ke toko buku langganan gue di jalan X ya. Mau nyari novel.” Jawab Esti.
“Berangkaatt.” Ucap Vino sambil memukul setir ala Entis TOP.
Tanpa mereka sadari benih-benih cinta mulai tumbuh seiring berjalannya waktu. Vino dengan tingkah polah nya. Dan Esti dengan kejudesannya. Terkadang apa yang kita anggap tak penting bahkan sering mengganggu akan menjadi hal yang kita rindukan bahkan menjadi candu di kemudian hari. Sama halnya dengan rasa benci yang bedaa tipis dengan cinta. Membuat kita sering salah mengartikan hingga yang terjadi hanya penyesalan.
Menit kemudian mereka sampai di tempat tujuan. Esti yang sudah hafal susunan buku di toko tersebut langsung menuju rak dimana dia biasa mencari novel bersama Syana. Setelah melihat dan memilih novel yang dia cari, Esti berniat untuk mencari Vino yang entah ada di sebelah mana.
Saat melewati rak yang tak jauh dari tempatnya mencari novel. Esti tak sengaja mendengar pembicaraan pengunjung lain yang membicarakan cowok berhodie maroon yang beberapa menit lalu masuk.
“Sumpah, tuh cowok keren banget.” Ucap si rambut panjang.
“Iya, udah punya pacar belum ya.?” Sahut si cewek rambut pirang.
“Tadi sih gue lihat dia bareng cewek kesininya, dan kalo nggak salah ceweknya jalan ke arah rak bagian novel deh.” Ucap si rambut panjang.
“Eh .. eh.. itu dia.” Heboh mereka saat melihat cowok yang di maksud.
Esti yang penasaran pun langsung ikut menoleh ke arah cowok itu. Matanya molotot saat tau yang mereka maksud itu Vino. Dengan mulut manyun Esti segera mendekati Vino agar segerombolan cewek tadi tau kalau Vino itu miliknya. Ingat ya ! miliknyaa..
“Vino.!” Ucap Esti mengagetkan Vino yang sedang memilih komik.
“Eh, bebeb Esti udah dapet novelnya?.” Tanya Vino.
“Udah, yuk pulang.!” Sahut Esti manyun. Membuat kening Vino berkerut. Memilih menuruti sang pujaan hati karena tak mau membuat moodnya kembali memburuk.
‘Kenapa lagi nih bidadariku.?’tanya nya dalam hati. Sambil berjalan ke kasir dan membayar tagihannya.
Kini mereka sudah di mobil dalam perjalanan pulang, tapi Esti masih tetap diam dan memilih memandang keluar jendela. Vino yang penasaran dengan perubahan sikap Esti akhirnya memberanikan diri untuk bertanya setelah mobilnya berhenti di lampu merah.
“Beb, kamu kenapa sih ? aku punya salah ya ?.” tanya Vino lembut.
“Gue gak papa.” Jawab Esti tanpa menatap Vino.
“Aku minta maaf kalo punya salah. Tapi please jangan diem terus gini dong. Aku lebih seneng kalo kamu judesin.” Jujur Vino membuat Esti akhirnya menatapnya dengan dalam.
“Nggak usah mulai deh, Vin. Buruan jalan udah hijau tuh.” Sewot Esti.
“Salah lagi.” Gumam Vino tapi tak sampai terdengar oleh Esti.
‘Kenapa gue jadi sebel gini sih, Cuma gara-gara ada cewek yang ngomongin Vino. Nggak nggak nggak. Nggak mungkin gue cemburu. Gue kan nggak suka sama nih curut.’ Batin Esti sambil geleng-geleng kepala.
Dan mereka pun sama-sama diam dalam pikiran masing-masing. Esti dengan ketidaksadarannya dan Vino dengan ketidak-tahuannya.