"Selamat pagi Mbak Aisyah," sapanya dengan senyum mengembang.
"Pagi Mas, ada perlu apa ya? Mas Adamnya sudah berangkat ke kantor. Maaf saya tidak bisa menerima tamu kalau Mas Adam tidak ada," usirku halus.
"Saya tidak ingin bertamu kok,Mbak."
Kalau tidak ingin bertamu, kenapa kemari Mas. Aneh sekali teman Mas Adam ini.
"Lalu ada perlu apa Mas?"tanyaku ketus.
"Jangan ngegas dong mbak, nanti tambah cantik lho," godanya sambil tersenyum.
Lama-lama pusing juga menghadapinya.
"Yasudah aku tutup pintunya." Kutarik knop hingga sebentar lagi pintu akan tertutup.
"Tunggu,Mbak!" Daniel menarik pintu dengan cepat.
"Aku beri waktu lima menit. Kalau tidak bicara serius akan ku tutup."bentakku.
"Oke, oke, kemarin kan mbak mau bekerja di butik kakak saya. Nah, saya mau telepon mbak untuk memberi tahu kalau kakak saya setuju mbak bekerja di butiknya.Tapikan saya gak punya nomor ponsel mbak Aisyah. Jadi aku datang kemari untuk jemput mbak Aisyah," terangnya.
Alhamdulillah akhirnya dapat pekerjaan juga. Tapi aku belum izin Mas Adam. Boleh atau gak ya?
Haduh bagaimana ini?
Terima,tidak,terima,tidak...!
Kenapa jadi galau begini ya?
Ah, nanti sajalah bilangnya kalau Mas Adam sudah pulang.
Toh kemarin dia juga bilang tidak akan ikut campur semua urusanku. Jadi izin atau tidak sama saja, Mas Adam tak akan perduli.
"Mbak Aisyah, gimana mau atau tidak?Kok malah melamun sih!"
"Maaf,maaf Mas. Iya saya terima.Saya siap-siap dulu Mas."Ku balikkan badanku.
"Mas Daniel tunggu diluar saja ya." Kututup pintu dan berjalan menuju kamar.
Kukenakan gamis berwarna soft pink di padukan jilbab berwarna senada dengan sedikit corak di ujung hijab. Tak lupa ku poles sedikit bedak dan lipstik berwarna pink muda. Aku memang suka tampilan natural. Sehingga kebanyakan pakaianku tak bermotif.
Memakai sepatu flat aku berjalan menuju teras. Mas Daniel sampai ketiduran karena terlalu lama menungguku.
"Mas, Mas Daniel ...." Kupanggil namanya. Mau menyentuh pundaknya rasanya tak mungkin. Mas Daniel menggeliat,lalu mengucek kedua matanya.
"Maaf ya Mas, kelamaan ya?" ucapku tak enak hati. Perasaan cuman sebentar, tapi kok Mas Daniel sampai pulas sekali tidurnya.
"Gak kok mbak,kurang tidur semalam mbak jadi ketiduran disini," ucapnya sambil menatapku tanpa berkedip.
Apa ada yang salah dengan dandananku. Kenapa Mas Daniel melihatnya sampai begitu.
"Make up ketebalan ya,Mas? Atau pakaiannya tidak cocok?Kok lihatnya sampai begitu?" Kulihat gamis yang ku kenakan.
"Gak kok,Mbak." Mas Daniel menggaruk-garuk kepala yang tak gatal. Seperti orang yang salah tingkah saja.
"Masuk, Mbak!" Daniel membukakan pintu mobil.
"Saya duduk di belakang saja ya,Mas," ucapku tak enak hati.
Bukan niat tak sopan, aku hanya takut menimbulkan fitnah. Terlebih statusku sekarang adalah seorang istri, meski tak diakui Mas Adam.
"Lho, kenapa, Mbak? Saya bukan sopir lho." Daniel menatapku, seakan keberatan jika aku duduk di belakang.
"Takut jadi fitnah,Mas. Mas Daniel,kan bukan mahram saya. Kalau Mas Daniel tidak mau, saya bisa naik tadi online kok,Mas." Kutundukkan kepala. Sungguh aku benar-benar tak enak hati.
"Oke, baiklah." Daniel membuka pintu bagian belakang.
"Terima kasih,Mas."
"Kembali kasih." Seulas senyum tergambar di wajahnya.
Sepanjang perjalanan Daniel terus saja bercerita. Dari status lajangnya sampai kesibukannya sehari-hari. Daniel, tipe orang yang mudah bergaul dengan siapapun. Termasuk orang yang baru dia kenal, seperti diriku ini.
"Mbak Aisyah benar sepupunya Adam?" tanyanya sambil terus menyetir.
"Em, i-iya Mas," jawabku tergagap.
Ya Allah maafkan hamba ini yang harus berbohong. Aku tahu satu kebohongan akan menimbulkan kebohongan yang lainnya. Tapi aku bisa apa? Kalau aku jujur, Mas Adam pasti akan marah besar.
"Kamu sudah punya pacar?"
Uhuk... Uhuk....
Aku tersedak ludahku sendiri, harus bagaimana ini Ya Robb. Aku memang tak punya pacar.Bahkan pacaran pun aku tak pernah.Tapi kini sudah memiliki seorang suami.
"Kamu kenapa,Mbak?" Daniel menepikan mobil dan memberiku sebotol air mineral padaku.
"Terima kasih,Mas." Kuminum air dalam botol sampai menyisakan setengahnya.
"Haus banget ya mbak? he he he ...," ledek nya.
Aku hanya tersenyum, jujur aku masih bingung mau menjawab apa. Karena memang statusku sekarang istri orang. Kalau aku bilang sudah memiliki suami. Pasti Daniel bertanya di mana suamiku, sampai aku harus tinggal di rumah Mas Adam. Itu yang aku takutkan, kalau aku menjawab suamiku adalah Mas Adam. Mas Adam pasti akan mengamuk.
Mobil melaju membelah padatnya jalanan kota. Hening, suasana canggung mendera kami. Untung saja Daniel tak bertanya lagi tentang statusku.Aku tak ingin berbohong lagi tapi aku juga belum berani menjawabnya.
Sepuluh menit dalam suasana canggung membuat perjalanan terasa sangat lama. Mobil Daniel berhenti di butik ternama di kota ini. Butik muslimah yang baru buka dua tahun yang lalu. Aku tahu butik ini,karena aku sering lewat di jalan ini sewaktu kuliah dulu.
"Ayo turun,Mbak." Daniel keluar dari mobil.
"Iya,Mas." Kuikuti langkah kaki Daniel yang berjalan memasuki butik tersebut.
"Butik ini di buka dua tahun yang lalu oleh kakak saya,Mbak. Tepatnya setelah dia berhijrah mbak," terang Daniel.
Aku memang sempat mendengar desas-desus kalau pemilik butik muslimah ini dahulunya seorang nasrani dan berpindah keyakinan menjadi muslim.
"Iya Mas, saya juga pernah mendengar Mas saat saya masih kuliah dulu. Kebetulan kan saya sering lewat sini. Eh, ternyata pemilik butik ini kakaknya Mas Daniel."
"Ternyata sudah tahu sebelumnya ya, Mbak. He he." Lagi-lagi Daniel menggaruk kepalanya.
Kami berjalan ke lantai dua, sepanjang kaki melangkah semua mata tertuju pada kami. Ada yang memandang dengan sinis, ada yang penuh penasaran,ada pula yang acuh tak acuh. Apa memang seperti ini tatapan orang-orang dengan calon karyawan baru? Membuatku tak nyaman saja.
Kami telah sampai di depan ruangan. Sepertinya ini ruangan pemilik butik ini. Tanpa mengetuk pintu Daniel masuk begitu saja ke dalam. Aku hanya mematung di tempat, rasanya enggan masuk karena aku belum dipersilahkan masuk ke dalam.
"Mbak Aisyah, ayo masuk!" Daniel menolehku yang masih diam terpaku.
"Iya Mas." Kulangkahkan kaki perlahan memasuki ruangan.
Seorang wanita berhijab syar'i menatapku penuh tanda tanya.Mungkin ini kakaknya Daniel, dari wajahnya pun ada kemiripan dari mata dan hidungnya. Anggun dan cantik, itu kesan pertama untuknya.
"Kebiasaan kamu ini, masuk ruangan orang tanpa mengetuk pintu," ucap wanita itu.
"Gak papa dong,Mbak," jawab Daniel sambil duduk di sofa tak jauh dari meja. Kini tinggal aku yang berdiri. Keterlaluan memang si Daniel ini.
"Silakan duduk Aisyah," ucap wanita itu sambil tersenyum padaku.
Dari mana dia tahu namaku Aisyah. Ah, mungkin Daniel sudah menceritakannya. Dia kan yang membawaku kemari.
"Iya Bu" Kujatuhkan bobot ini tepat di kursi depannya.
"Perkenalkan nama saya Bella, kakaknya Daniel." Ucapannya sambil mengulurkan tangan.
"Aisyah ...." Kami pun berjabat tangan.
"Kemarin Daniel sudah cerita kok. Boleh minta berkas lamarannya."
"Baik Bu." Kuberikan berkas lamaran di atas meja. Segera Bu Bella membaca seksama berkas yang ku serahkan.
"Masih single ternyata," ucapnya saat membaca fotokopi KTP ku.
Kutelan saliva yang terasa mengganjal di tenggorokan. Bagaimana ini Ya Allah. Semua orang pasti mengira kalau aku belum menikah. Karena aku memang belum menikah secara negara. Jadi di KTP pun masih tertulis belum kawin. Akta nikah pun aku tak punya. Ya beginilah akibatnya kalau menikah siri. Pihak wanitalah yang sangat di rugikan.
Abi dan Umi memang pernah bilang akan menikahkan ulang aku dan Mas Adam secara negara. Tapi aku belum tahu kapan, karena kedua orang tua Mas Adam menginginkan pesta meriah untuk pernikahan kami. Tanggal pernikahannya pun akan di atur Abi dan Umi. Dulu aku hanya mengiyakan saja, karena ku pikir Mas Adam perlahan akan mencintaiku. Tapi kalau seperti ini, mana mungkin Mas Adam mau menikahiku secara negara.Sampai detik ini pun pernikahan kami masih di rahasiakan dari teman-teman Mas Adam.
Aku harus bagaimana Ya Allah.?
Aku tak mau semua orang menganggap diriku belum menikah.Padahal kenyataannya aku telah memiliki suami.
Aku tak ingin berdosa Ya Robb.
"Oke, Aisyah, kamu saya terima bekerja disini sebagai asisten saya. Selamat bergabung di butik kami" ucap Bu Bella mantap.
"Terima kasih Bu, tapi..." Mulut ini menjadi kelu tak mampu melanjutkan ucapanku.
"Tapi apa Aisyah? Ada yang ingin kamu katakan?" Bu Bella menatapku penuh tanda tanya.
Aku atur napas ini, Bu Bella dan Daniel menatapku seakan menunggu setiap kata yang akan kuucapkan.
Ya Allah, apa aku harus jujur sekarang juga?
Bagaimana kalau Mas Adam marah?
Aku harus bilang apa?