"Siapa ya? Ada apa ini?" Kek Usman muncul dari balik tubuh Edwin. Lelaki tua itu menautkan alisnya, memandang heran dua orang tamu di depan rumahnya. Edwin tersenyum, begitu pun Dion. Mereka memberikan jalan pada kakek tua agar bisa masuk ke dalam rumahnya yang sangat sederhana. "Masuklah,," ujar Kek Usman dengan suara rentanya. Siwi masih belum sadar dari keterkejutannya, malah mematung di ruangan depan yang biasanya dijadikan tempatnya bermain bermain bersama Ayumi. Hanya ada tikar tua tergelar di sana sebagai alas duduk. "Jangan, sungkan. Ayo masuk." Kek Usman berjalan ke belakang untuk mencuci tangan. Edwin dan Dion sudah duduk di atas tikar masih dengan mulut terkunci. "Siwi, kamu belum pernah lihat orang kota ya? Ampe bengong gitu. Ayo, buatkan minum. Teh saja." Perintah Kek Usman

