Ahmar menyeringai dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Maharani. “Akhirnya, kau memanggil namaku lagi,” bisik Ahmar sembari memeluk Maharani dengan manja. Maharani mengatupkan rahangnya, kesal. Maharani pun mencubit perut liat Ahmar dan membuat Ahmar kegelian. “Oke, aku lepas. Ayo, antar aku hingga pintu depan!” seru Ahmar lalu menghela lembut tangan Maharani. Ahmar tampaknya tidak mau mempedulikan wajah Maharani yang sudah tidak terlihat baik-baik saja. Selain karena Maharani tidak senang dengan perlakuan Ahmar, penyebab ekspresi wajah Maharani yang buruk tak lain adalah bayangan yang kini berputar pada benak Maharani. Pasti para pelayan dan adik tiri Ahmar yang melihat Maharani ke luar dari kamar Ahmar pasti akan marah bukan main padanya. Mereka pasti akan semakin m

