hampir kepergok

1162 คำ
"Pagi, Nona Asaki." Asaki menghentikan langkah dan berbalik. Seorang pria dengan perawakan tinggi nan gagah sudah berdiri di hadapannya. Pria itu tentu saja terlihat lebih dewasa daripada Asoka yang masih terlihat imut-imut. Mendadak Asaki jadi teringat akan perjanjian barunya dengan Asoka, bahwa ia tidak boleh dekat-dekat dengan pria ini, pria yang merupakan reka seprofesinya lebih tepatnya. "Pagi, Tuan Sam." Asaki sudah hendak berlalu setelah menjawab sapaannya dengan sopan. Tapi pria ini sepertinya tidak akan melepaskannya dengan mudah. "Hari ini terasa lama dari biasanya, ya?" Apa?" Asaki tidak mengerti ucapan pria itu. "Tidak, aku hanya saja tadi melihatmu keluar dari mobil yang sama dengan salah satu maha siswa di sini. Dan kebetulan mahasiswa paling terkenal di kampus ini. "Apa!" Wajah Asaki sekarang pasti sudah merah seperti kepiting rebus. Ia tidak menyangka masih ada saja yang memergokinya, padahal sebelum keluar dari mobil ia menunggu situasi di luar aman dan memastikan tidak akan seorang pun yang akan melihatnya. Ternyata Sam malah memergokinya, dimana pria itu tadi berada? Kenapa bisa lolos dari pengawasannya? "Aku tidak mengerti, anda bicara apa?" Asaki mencoba mencari celah meloloskan diri dari rekan kerjanya tersebut. "Astaga... Walaupun kau keluar dari mobil dengan menutupi wajahmu dengan tas, tapi tetap saja aku bisa mengenali pakaianmu." "Tunggu, jangan salah paham, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan pria itu." Sam mengeriyitkan dahinya, melihat Asaki malah sibuk menjelaskan tentang hubungannya dengan Asoka, itu malah menimbulkan kecurigaannya kembali. Jadi mungkin memang benar mereka menjalin hubungan secara diam-diam. "Tapi aku tidak sedang bertanya hubungan kalian, aku hanya memastikan apa benar yang keluar dari mobil mewah itu adalah kau?" Wajah Asaki kini berubah pucat, ia seperti terjebak oleh perkataannya sendiri. Bagaimana kalau akhirnya Sam tahu yang sebenarnya? Tapi bukankah itu tidak masalah? Lalu kenapa Aku masih berusaha menutupinya darinya? "Memang kenapa kalau itu sungguhan aku?" Asaki bertanya dengan hati-hati kali ini. "Mobilku mogok di jalan dan kebetulan ia lewat menawarkan ku tumpangan. Itu saja," lanjut Asali sembari mengedarkan matanya ke segala arah, itu karena ia tidak terbiasa berbohong, namun kali ini ia terpaksa. "Oh... Jadi begitu, tapi kenapa kalian tidak keluar bersama saja? Kenapa kau harus keluar mengendap-endap seperti itu?" "Itu karena--" Asaki tiba-tiba kehilangan kata-kata, tenggorokannya terasa tercekat. Namun detik berikutnya ia sadar jika pria di hadapannya itu sedang memancingnya untuk mengatakan hal yang sebenarnya. "Aku rasa aku juga tidak punya kepentingan apapun untuk menjelaskan apapun pada anda kan?" Asaki mengembalikan kembali kendali dirinya. Benar, mereka kan tidak ada hubungan apapun, jadi Asali berpikir tidak perlu susah payah menjelaskan apapun pada pria itu kan? Termasuk hubungannya dengan Asoka. Tapi... Bagaimana jika Sama bermulut ember dan menyebarkan gosip ke seluruh kampus? Asaki memekik dalam hati. Asaki kembali memperhatikan raut wajah Sam, mencoba menebak apa yang di pikirkan oleh pria itu. Jika di perhatikan, Sam bukanlah orang yang seperti itu. Lagipula apa untungnya untuknya menyebarkan gosip murahan? "Ah... Iya, ku rasa kau benar. Aku seharusnya tidak mendesakkanmu untuk menjelaskan hal yang tidak perlu kau jelaskan padaku. Maaf jika itu membuatmu tidak nyaman." Pria bermata coklat itu tampak menyesal. Membuat Asaki sedikit merasa bersalah, apakah ucapannya tadi keterlaluan? Sudah hampir satu tahun mereka menjadi rekan kerja, tapi mereka tidak pernah benar-benar akrab. Mereka hanya saling sapa sebagai formalitas, dan jika harus bicara, mereka hanya membahas soal pekerjaan, tidak pernah lebih dari itu. Asaki memang terkenal dingin. Jadi Sam berusaha menghormatinya. Namun melihatnya ada di dalam mobil bersama seorang pria untuk pertama kalinya. Entah kenapa hatinya tiba-tiba saja terusik. "Tidak apa-apa, maafkan aku juga. Tidak seharusnya aku sekeras itu tadi pada anda." Asaki menunduk salah tingkah. "Tidak... Kau tidak salah, jadi tidak perlu minta maaf. Aku janji aku tidak akan mengatakan apapun pada siapapun tentang apa yang ku lihat tadi. Kau tidak perlu khawatir." Mendengar itu, perasaan bersalah Asali bertambah, padahal tadi ia sempat membatin jika Sam akan bermulut ember. Ternyata dia memang bukan orang yang seperti itu. Astaga... Ada apa denganku? Asaki berkali-kali merutuki dirinya sendiri dalam hati karena pemikiran bodohnya. "Baiklah, sampai jumpa di kantor." Kantor yang di maksud adalah ruang kerja mereka yang masih ada dalam satu ruangan. Tapi mereka tidak hanya berdua, melainkan masih ada dosen-dosen yang lainnya. Sam pergi berlalu melangkah lebih dulu menuju kantor yang jaraknya masih lumayan jauh dari tempat mereka berdiri. Meninggalkan Asaki dengan seribu pertanyaan di benaknya. Kenapa Sam memperlihatkan ekspresi yang tidak biasa. Seperti ada yang sedang di sembunyikan oleh pria itu, tapi entah apa. Astaga... Ada apa dengan pagi ini? Kenapa pagi ini terlihat lebih runyam dari biasanya? Bahkan Asali merasa lelah padahal ia belum memulai pelajaran pertamanya. *** Asaki seperti benar-benar kehabisan energi pagi ini. Ada apa dengan Sam. Bahkan sejak masuk ke dalam kantor, pria itu seolah enggan menatap ke arahnya apalagi bicara. Padahal Asaki merasa tidak memiliki salah apa-apa dengannya? Atau mungkin itu karena masalah tadi pagi? Bukankah sudah selesai? Tapi kenapa sikap pria itu langsung berubah padanya. Asaki hendak menyapa lebih dulu. Tapi tenggorokannya terasa tercekat, sangat sulit baginya untuk mengeluarkan suara. Karena selama ini, Asaki tidak pernah menyapa duluan pada siapapun. Bukan karena ia sombong. Tapi itu semua karena sifat introvert-nya. Ia akan merasa segan dan sungkan jika harus menyapa duluan. Takut jika itu terlihat aneh. Karena ia memang terkenal sebagai dosen yang dingin seperti kulkas. Apakah benar image-nya semengerikan itu? Setelah mengisi mata pelajaran di beberapa kelas, akhirnya tiba waktu makan siang. Seperti biasa, Asaki membawa bekalnya menuju taman yang ada di halaman belakang kampus. Ada sebuah pohon besar rindang yang menjadi tempat favoritnya. Ia memang suka sekali menyendiri. Menghabiskan bekal makannya sendiri sembari menikmati semilir angin yang berhembus sejuk di siang yang terik. "Nona Asaki." Beberapa maha siswi menyapa saat Asaki melewati sebuah koridor menuju taman belakang. Ia hanya membalas dengan mengangguk sembari menyunggingkan senyum tipis. Entahlah... Bahkan untuk tersenyum lebar dan berbasa-basi saja ia sangat enggan. Mungkin itulah sebabnya ia di juluki dosen dingin atau dosen kulkas. Asali baru saja mendaratkan bokongnya di rumput saat ponsel yang tergantung di lehernya bergetar. Ia segera menilik layar ponsel dan matanya tampak terkejut. "Astaga... Untuk apa bocah ini menelponku?" Asali terdiam sebentar, ia berpikir antara ingin mengangkat panggilannya atau mendiamkannya saja. Ia paling tidak suka jika acara makan siangnya terganggu. Tapi di detik terakhir akhirnya Asaki milih untuk menggeser tombol hijau di layar. "Halo..." "Halo istriku." Sahut suara di ujung telepon. Wajah Asaki mendadak memerah, tidak biasanya Asoka menelponnya, apalagi Samapi bersikap manja seperti ini. Apa bocah itu sungguh salah minum obat? "Asoka... Apa kepalamu habis terbentur? Atau kau salah minum obat?" "Heh... Di telepon suamimu kenapa mengatakan hal seperti itu?" Suara Asoka terdengar merajuk. "Tidak... Aku hanya heran saja, kenapa kau sekarang berubah seperti ini?" "Kenapa harus heran? Setiap orang boleh kan berubah? Pertanyaan kakak aneh sekali." Asaki terdiam, mencoba mencerna perkataan suami bocahnya itu. Mungkin memang terdengar benar, seseorang bisa saja berubah, tapi bagi Asaki perubahan yang ada pada Asoka terlalu mendadak dan seperti ada yang janggal. "Tentu saja, semua orang bahkan harus berubah ke arah yang lebih baik. Itu bagus... Hanya saja--" "Hanya saja apa?" Asoka jadi tidak sabar mendengar kelanjutan kalimat Asaki. Bersambung
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม