Sebuah Rencana

1029 คำ

Asaki tidak langsung menjawab pertanyaan Asoka kala itu. Ia memilih akan membicarakan tentang ide-nya setelah pulang dari kampus. Asoka beberapa kali menghela napas frustasi sembari menilik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tatapannya sesekali ia layangkan ke dinding kaca kafe. "Sialan! Dia pikir dia siapa membuatku harus menunggu seperti ini!" Umpatnya dengan wajah geram. Sepertinya Asaki selalu bisa membuatnya naik darah, jika saja ia tidak penasaran dengan ide Asaki, dan juga demi ketenangan hidupnya, ia tidak akan sudi duduk di tempat ini hampir satu jam lamanya hanya untuk menunggu wanita itu. "Kemana perginya wanita tua itu! Astaga!" Umpatnya sekali lagi setelah berusaha menghubungi ponsel Asaki tapi tidak pernah di angkat oleh wanita itu. "Ya... ampun, ba

อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม