Bel istirahat sudah berbunyi, Mahesa melirik bangku sebelahnya yang masih kosong. Ciara yang katanya dipanggil kepala sekolah belum juga kembali. Penasaran, Mahesa melangkahkan kaki menuju ruang kepsek dan menunggu diluar. Lima menit kemudian, pintu cokelat itu terbuka. Ciara keluar dan kaget melihat Mahesa menyandar di tembok ruang kepala sekolah, tapi Mahesa justru lebih kaget melihat mata gadis itu yang sembab, tidak salah lagi, Ciara habis menangis. "Lo kenapa?" tanya Mahesa saat ia berdiri di depan gadis itu, mencegah Ciara menghindarinya. Gadis itu tidak menjawab, hanya menarik napas panjang seraya menahan tangisnya. Mahesa akhirnya menarik tangan Ciara menuju belakang sekolah. "Lo kenapa?" tanyanya sekali lagi. Ciara mengeluarkan se

