Chapter IV

1193 คำ
Men-cangklong tas backpacker Humaira turun dari bus dengan selamat. Matanya me-radar sekeliling terminal, celingak-celinguk karena tidak ditemukannya Afifah di mana pun. Humaira melihat jam di tangan, memang lebih awal satu jam dari perjanjian. Dia mengambil makanan dalam tas, berkeliling mencari masjid atau mushalla terdekat sekadar beristirahat. Afifah tak akan sulit mencarinya. Setelah menikmati bekal yang dibawanya, Humaira merasa bosan dan mulai mencari makanan ringan di dekat sana. Masjid di dekat terminal terletak sekitar 500 meter jauhnya. Di sepanjang jalan berjajar pertokoan dan rumah makan. Humaira mengagumi jalanan kota yang padat. Baginya pemandangan ini terasa asing. Tiba-tiba dari arah kanan mobil truk tengah melaju kencang. Dari arah restoran seorang perempuan paruh baya berlari mengejar anak kecil yang menuju ke jalan raya. Reflek Humaira yang melihat kejadian itu ikut berlari mengejar, perempuan itu sampai lebih dulu memeluk bocah dan nyaris tertabrak jika Humaira tidak melompat untuk mendorongnya ke pinggir. Ban truk terselip karena pengemudi mencoba menghindar dan malah menabrak trotoar. Humaira merentangkan badan, dadanya naik turun. Dia hampir bisa melihat cahaya putih yang mungkin akan mengirimkannya ke dunia lain. Dilihatnya kedua orang tadi. Bocah menangis, perempuan itu pingsan, mungkin terbentur sesuatu. Humaira menepuk-nepuk dan mengguncang tubuhnya. Dia memeriksa napas dan denyut nadinya. Syukurlah beneran pingsan. Mendengar derit ban dan suara debam tabrakana, orang-orang berdatangan. Dia meminta siapapun menelpon ambulans segera, menyediakan minyak kayu putih beserta air untuk bocah yang terguncang. Mereka membaringkan si wanita tepat saat dua orang laki-laki yang mengaku keluarganya tiba. Sekitar lima menit kemudian, wanita itu terbangun. Humaira dimintai keterangan yang memakan waktu cukup lama, dia bahkan tidak ingat lagi dengan Afifah. Humaira pergi diam-diam saat keadaan mulai mereda. Humaira sebenarnya buta dalam membaca penanda jalan, malangnya dia juga tidak memiliki telepon genggam untuk berkomunikasi. Coba saja dia minta tolong polisi untuk menggunakan telepon tadi. Sekarang dia harus mencari keberadaan wartel atau tempat untuk bisa menelpon. “Ira!” *** “Bos, mau pesan apa?” “Saya enggak lapar dan kita sebentar lagi mau ketemu orang penting. Tahan diri kamu.” “Tapi kalau nanti perut saya bunyi pas klien dateng kan bahaya, Bos.” “Banyak alasan.” Sejam menunggu tak juga datang, Fahmi mencoba menghubungi kantor, dan seperti sebelum-sebelumnya, perusahaan besar menolak kerja sama dan lebih memilih bergabung dengan perusahaan cabang Alatas. Tanpa sadar Fahmi meremas gelas yang dipegangnya sampai tangannya berdarah. Romeo yang panik segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Sampai di sana pun wajah Fahmi masih tertekuk masam. Sejak perusahaannya berdiri, tidak henti-hentinya Alatas tua itu menghalangi jalannya. Kekesalan Fahmi sudah menggunung. “Bos hati-hati dong. Itu darahnya keluar banyak banget tadi.” “Bagaimana caranya?” “Caranya?” “Bagaimana caranya menghancurkan si tua bangka itu.” “Mana saya tahu, kan Bos anaknya.” “Saya bukan anaknya dan jangan pernah sebut saya anaknya.” “Oke oke. Lagian mana mungkin juga kita bisa menang melawan perusahaan besar kaliber internasional kan.” “Dasar! Kamu terlalu pesimis.” “Saya realistis, Bos.” “Saya bersumpah akan menghancurkannya.” “Bos keren. Udah mirip Lelouch Vi Brittania.” Romeo berhenti berceloteh melihat wajah Fahmi yang mengeras. Pandangannya menembus tubuh yang baru keluar dari ruang pemeriksaan. Untuk pertemuan ketiganya dengan ayah Fahmi, dia masih saja merinding tanpa sebab, tatapan matanya membuatnya menggigil dan kesemutan. Dari cara jalannya saja dia bisa merasakan keangkuhan, kewibawaan, ketegasan yang terpancar dari setiap pori-pori tubuhnya, seolah-olah seluruh dunia telah takluk hanya dari kedipan matanya, dan semua orang menunduk untuk menghormatinya. Aura orang besar memang beda. Fadhil Alatas, mungkin replika Fahmi di masa tua, hanya saja dia memiliki garis rahang yang jelas, alisnya juga tebal, rambut di bagian telinga sudah memutih. Garis bajunya sangat rapi, tubuhnya tegap dan lebih tinggi dari Fahmi. Fadhil berjalan mendekati keduanya. Romeo berharap bisa melindungi Fahmi sebagai bawahan, namun dia terlalu takut dan bersembunyi di balik punggung Fahmi. “Wah wah siapa ini. Tidak disangka bisa bertemu di tempat seperti ini. Bagaimana perusahaan kamu?” “Tidak usah sok peduli. Bukannya Anda sendiri yang selalu berusaha menghalangi kami?!” Siapapun bisa melihat permusuhan yang tercipta di antara keduanya. Seolah ada tirai api yang memisahkan keduanya. Fadhil tidak menghentikan langkah, semakin mendekat dan membisikkan di telinga Fahmi. “Jangan salah paham, Fahmi. Saya tidak perlu mengotori sepatu saya hanya untuk menginjak kecoak kecil. ” Fahmi mengepalkan tangan kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Dia hanya bisa berdiri mematung tanpa bisa membalas perkataan Fadhil yang menepuk pundaknya dan melenggang pergi dengan santainya. “Semoga berhasil.” Rasanya Fahmi ingin menebas seseorang saat ini juga. Suatu saat dia pasti akan mencoreng wajah angkuh dan seringai yang pria itu tunjukkan. “Bos, Anda tidak apa-apa? Jangan dimasukkan ke dalam hati, Bos. Sebentar saya belikan kopi dulu.” Fahmi berjalan tergesa-gesa, sebelah tangannya memegang telinga, bosnya tengah serius. Kekecewaan dan penghinaan ayahnya pasti akan sangat berdampak. Rasa-rasanya setiap kali keduanya bertemu selalu berakhir dengan pertengkaran. Fahmi terus berjalan tanpa memperhatikan sekitar hingga menabrak seseorang. Gadis itu menumpahkan minuman ke pakaian Fahmi. Fahmi mendorongnya dengan marah dan pergi tanpa memperdulikannya. “Maaf ya Mbak, dia memang orangnya begitu. Mbaknya tidak apa-apa?” “Saya enggak apa-apa. Maaf saya yang salah karena tidak lihat-lihat.” “Mbak bisa bangun kan? Kalau gitu saya permisi.” Secepat kilat Romeo mengejar. Berbahaya membiarkan bosnya saat sedang kalap. Untungnya Fahmi hanya berjalan lurus ke mobil sambil membersihkan tumpahan minuman di bajunya. “Romeo kita balik ke markas.” “Eh? Kantor maksudnya?” “Di mana lagi, kan.” “Siap, Bos.” *** “Ira!” Humaira melihat lambaian tangan seseorang dari kejauhan. Afifah. Syukurlah dia tidak perlu berputar-putar mencari alamat. “Bikin khawatir tahu, Ir. Kalau aku enggak tanya sam orang-orang di sana pasti susah ketemunya.” “Maaf maaf, Afifa, tadi ada kecelakaan.” “Kamu enggak apa-ap-- Ya Allah! tangan kamu berdarah, ayo kita ke rumah sakit dulu..” Darah? Humaira baru menyadari tangannya terluka. Dia tidak membantah sewaktu Afifah mengajaknya dan membawakannya minuman enak. Milkshake namanya. Baru kali ini Humaira meminumnya. Perawat membalut lukanya. Sekilas Humaira melihat babatan perawat yang merawatnya seperti belum berpengalaman. Humaira tahu karena dia pernah menjadi perawat selama beberapa tahun sebelum ikut dengan ibunya yang menikah lagi. Dia sebenarnya juga tidak terlalu berpengalaman. Sayangnya di desa mereka tidak banyak tenaga kesehatan yang beroperasi dan membutuhkan perawat. "Ir, bawaan kamu cuma segini?" Ira mengecek jumlah barang yang dibawanya. Benar saja titipan untuk Afifa terlupa. "Ya Allah, titipan dari Ama, Fif." Humaira berlari keluar tergesa-gesa dan berakhir menabrak seseorang. Yang sangat disesalinya, semua minumannya tumpah, dan orang yang dia tabrak mendorongnya sampai jatuh. Sungguh kasar. Dengan dongkol Humaira menatap punggung berjas biru yang tadi mendorongnya. Bukannya membantu malah ngibrit entah ke mana. Humaira dibantu pria yang satunya yang tampak terburu-buru. Afifah mengejar di belakangnya. "Kamu enggak apa-apa, Ir?" Humaira menceritakan kejadian tadi yang ditanggapi ocehan konyol Afifah. “Laki-laki kota emang banyak yang songong. Jarang ada yang kayak suamiku. Tapi aku harap kamu bisa ketemu paling enggak satu.” “Kalau yang songong, enggak deh.” Keduanya berbincang-bincang hingga sampai ke rumah Afifah. Hari pertamanya dan banyak hal yang terjadi. Humaira tidak tahu apa yang akan menanti di depannya. Dia hanya harus bersyukur dan menikmati hidupnya hari ini.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม