Raungan tangis yang merebak ketika di hadapkan pada tadir yang tak bisa diubah. Takdir yang lalu akan menjadi masa lalu. Namun, takdir yang tergelar di hadapannya bukan bagian darinya.
Masih ada kesempatan kedua. Ira kembali di hadapkan pada situasi yang membuatnya putus asa.
Dia tak bisa memalingkan matanya dari cucuran darah yang terus menetes ke jalanan aspal. Seketika otaknya merespon, memunculkan kembali, gambaran kengerian, brangkar yang didorong, darah yang menetesi lantai putih. Seseorang mungkin akan mati kehabisan darah di hadapannya lagi.
Apa yang harus kulakukan?
Kebingunan ini… apa dia tak belajar dari pengalaman sebelumnya? Yang terpenting saat ini, karena hanya dialah yang berada di sana, bagaimanapun caranya. Hentikan pendarahannya.
Humaira menekan perasaan takut, langkahnya menguat menuju pria yang bari saja terduduk memegangi luka di lengannya.
“Fahmi, biar saya lihat lukanya. Saya akan coba hentikan pendarahannya.” Dan pria itu hanya diam, saat Humaira mulai memonopoli sabtean di lengannya.
Luka itu cukup dlam, walaupun tidak fatal. Selama mereka masih di tempat yang jarang dilewati dan banyak begal ini, tidak mungkin sempat. Jadi HUmaira melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan. Dia mencari dedaunan obat liar yang kadang tumbuh di sekitar sana, bahkan memotong kain roknya sebagai balutan luka. Dan Fahmi hanya melihat itu dalam keheningan.
“Ini mungkin akan bertahan untuk sementara. Kita harus bergegas pergi dari sini. Jika tak salah jalan ini hanya jalan lurus, mungkin kita akan berjumpa dengan kendaraan yang lewat.”
“Ke-kenapa kamu menolong saya? Bukannya Mbak membenci saya.”
“Jangan salah sangka. Saya hanya tidak suka kamu menggoda saya. Wanita itu gampang baper, dan apa yang kamu katakan hanya sebuah penghinaan bagi saya. Dan lagi membantu kan sudah tugas manusia sebagai makhluk sosial. Toh, saya tahu kamu bukan orang jahat.”
Fahmi hanya menatapnya, walaupun Humaira memalingkan wajah. Dlam hati dia berkata, wanita itu mungkin akan menyesali keputusannya hari ini. Karena bagi Fahmii, melihat wajah panik HUmaira hanya merupakan satu pertanda, gadis itu telah masuk ke dalam perangkapnya. Walaupun dia harus memberi pelajaran kepada Romeo Torpedo. oRang itu berniat membunuhnya apa.
Humaira mulai meringkas isi mobil dan menggendong tas, kemudian mengunci mobil. Dia serius akan berjalan kembali ke kota.
“Kamu tidak apa-apa kan?”
“Ya. Dibandingkan di sini, akan lebih baik, jika bisa meminjam transportasi di desa terdekat.”
Keduanya pun mulai terhanyut dengan perjalanan melelahkan, aspal jalanan, sengatan terik matahari. Tidak ada percakapan, tidak ada banyolan Fahmi seperti yang biasanya. Humaira agak khawatir mengenai kondirinya. Mungkin dia teramat lelah, sampai bersuara pun tak bisa. Hampir sekitar satu kilometer mungkin mereka memutuskan beristirahat. Humaira ingat pernah melewati jalan ini bersama ayahnya.
Di bawah pohon mangga yang diberinya warna ungu, ada sebuah jalan kecil menuju pantai Tersembunyi.
Tidak banyak orang yang tahu, spotnya belum terjamah, masih banyak bebatuan tajam yang terdampar di bibir pantai. Humaira melihat jejak memori sekilas itu membawanya menuju persinggahan yang terasa asing, tetapi juga amat familier.
Pantai itu sedikit berubah dari terakhir kali dia kunjungi. Riuh angin me,belai wajah dan kerudungnya berkibar. Apa yang akan dia lihat saat mencoba memejam dan menutup mata, akankah kenangan masa kecilnya kembali, ayahnya akan datang. Dan Fadhlan… mengingatnya, air mata hampir jatuh.
“Mbak Humaira suka pantai?”
Sentakan suara Fahmi di belakangnya mengguyur air agar terbangun dari lamunan. “Tidak. Justru saya membencinya. Karena laut selalu menggulung habis orang-orang yang saya sayangi. Ombak itu ganas, tanpa ampun. Air itu bahkan mampu memcah karang yang keras. Saya tidak bisa menghadapi laut secara langsung. Waktu itu adalah yang pertama dan terakhir kalinya saya menantang lautan.”
Dia mengacu pada hari dia pergi meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke kota yang asing. Humaira beberapa kali harus pingsan di dalam kapal, atau dia harus dibius agar tidak tumbang selama perjalanan. Seperti menghadapi dinding, perjalanannya waktu itu bukan hanya perjalanan menepati janji, tetapi juga untuk memantaskan diri.
Apa yang sudah dia lakukan? Apa dia akan terus begini?
Hanya sekali dan Humaira tidak ingin lagi. Rasa menyesakkan, ringga paru-parunya seolah menyempit dan dia tak bisa lagi bernapas.
“Meski begitu, saya ingin menjadi lebih kuat. Mungkin jika saya datang dengan seorang yang saya cintai kelak tempat ini tidak lagi menjadi tempat yang saya benci.”
“Begitu ya. Mmm, Mabk Humaira, bagaimana jika pergi dengan saya?”
“Kenapa saya harus pergi dengan kamu?”
“Karena saya… sepertinya, saya mencintai Mbak Humaira.”
“Jangan bercanda. Sudah cukup menggoda saya.”
“Memang benar saya selalu mengatakannya dengan main-main, tetapi kali ini, hari ini saya menyadari bahwa kamu yang saya butuhkan. Saya membutuhkan Humaira, dan Mbak Humaira juga membutuhkan saya, bukan?”
Membutuhkan ya. Baru kali ini dia mendengar seseorang membutuhkannya, dan orang itu amat tak terduga.
“Kamu pasti bercanda--”
“Saya selalu serius dengan perkataan saya. Selama ini yang emnganggapnya sebagai gurauan cuma Mbak Humaira sendiri.”
“Ini terlalu tiba-tiba. Dan saya belum mempercayai kamu.”
“Bagiaman jika... saya membutuhkan Mbak Humaira sedangkan Mbak Humaira membutuhkan saya agar tidak terus-terusan disuruh nikah. Bukannya itu hal yang terbaik untuk kita berdua.”
“Sebenarnya, kamu menganggap seperti apa itu cinta? Saya tidak mungkin menghabiskan seumur hidup dengan orang yang tidak saya suka.”
“Kalau begitu, saya akan membuat Mbak Humaira merasakan jatuh cinta.”
Dari mana asal keberanian itu. Humaira merinding mendengar setiap kalimat yang dikatakan Fahmi. Orang itu serius, Humaira bisa melihat dari matanya. Jika Humaira menerima, maka hanya akan menjadi keuntungan baginya. Namun, dia bukan seseorang yang tega. Saat ketulusan seseorang diibayarkan setengah, dia tidak lebih buruk dari pengkhianat.
“Saya sangat berterima kasih. Tapi--”
“Tunggu. Tolong pikirkan lagi, saya akan menungggu jawaban Mbak Humaira, kapanpun itu.”
Menunggu. Bagaimana bisa. Percuma. Meskipun apa yang dia katakan sejujurnya menyenangkan hati, HUmaira punya seseorang lain di hatinya. seharusnya dia tahu itu. hatinya tak dapat berpaling semudah membalikkan telapak tangan. Dan pria ini mencoba peruntungannya, menghadapi Humaira dengan ekspektasi besar untuk diterima.
"Saya membutuhkan Mbak Humaira."
Seandainya yang mengucapkan itu adalah seorang yang dia nantikan. Bagaimana dia akan menghadapi kecanggungan dengan lelaki yang baru saja berniat melamarnya.
"Saya akan memikirkannya."
"Terima kasih."
Dan percakapan mereka terhenti setelah Humaira mengangguk.