Chapter I

1036 คำ
Sebuah mobil pajero merah saga berhenti tepat di depan sebuah gedung berlantai lima milik FA.Corp Company, adalah perusahaan yang dirintis oleh tangan dingin seorang Fahmi Alatas. Pria berwajah ke-timur tengahan dengan alis tebal, hidung bangir, bibir cium-able. Keluar dari dalam mobil, menebar pesona dan wibawanya. Setiap kali dia datang, karyawannya berkelompok menyapa, Fahmi mengangguk sekilas, acuh tak acuh. Punggung tegapnya menandakan sikap tegas dengan wajah bosan. Pantang baginya menebar senyum atau menampakkan ekspresi lain di hadapan karyawannya. Salah-salah, mereka tinggi hati, atau mungkin justru menganggapnya sudah tak tegas lagi. Saat masuk ke dalam kantor, sekretarisnya mengejar di belakang, terengah-engah meminta maaf. Romeo membukakan pintu, dan seorang wanita fashionista bertubuh langsing semampai, menduduki meja kebesaran Fahmi. Kakinya yang mulus terlihat saat rok berbelahan tingginya tersingkap saling tumpang tindih. Fahmi menampar pipi Romeo untuk membuatnya tersadar liurnya menetes mengotori lantai. "Siapa yang biarkan dia masuk!" "Tadi sudah saya cegah Pak, tapi--" "Cukup! Pergi kalian semua!" potong Fahmi tanpa mendengar penjelasan lebih jauh. Romeo dan sekretarisnya seketika menghambur keluar ruangan. "Kenapa menghindari aku, Fahmi?" Gadis anggun berbalut pakaian one piece dipadu rok belahan merah itu berjalan mendekatinya. Setiap ketukan heelsnya membuat Fahmi terganggu. Dia benci ada wanita tidak tahu diri yang memasuki teritori terlarangnya dan duduk seenak udel di tempatnya. "Perlu aku tegaskan kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun. jadi jangan ganggu hidupku." "Aku tidak bisa menerimanya! Aku tidak merasa melakukan kesalahan apapun! Kamu harus mempercayaiku, Fahmi. Aku cuma cinta sama kamu." "Benarkah?" Wanita bernama Melly itu cemberut. Merengek seperti seorang anak kecil meminta permennya yang direbut. “Bukankah kamu menikmati lollipop yang lain.” Melly mendengus Fahmi terlalu kejam dan dingin. Kalau dia terus seperti itu, mana ada wanita yang mau dengannya. Mendengarnya dari siapa yang berbicara dan siapa yang masih menguntitnya membuat Fahmi lelah. Dua satpam datang tak lama kemudian. "Bawa dia keluar!" Perintahnya.. "Fahmi, kenapa kamu melakukan ini padaku? Aku enggak terima! Aku tidak bersalah! Semua ini fitnah!" Fahmi mengorek telinga dengan jengah dan pintu tertutup meredam kehisterisan Melly yang mencoba meyakinkannya. Dia menekan interkom menyuruh asisten pribadinya, Romeo Torpedo untuk masuk dan membacakan jadwal. "Berani sekali dia muncul di sini." Fahmi membanting berkas dan mengendurkan dasinya. "Tapi Bos, kan itu rencana Bos juga.” “Diam, Romeo! Meski begitu dia akan tetap salah, karena aku ingin dia tetap bersalah. Mengerti!” “Siap, Bos!” Fahmi sejujurnya tidak tertarik pada hubungan emosional dengan wanita. Dia menghindari hal-hal itu. Pernikahan dia gunakan sebagai media untuk membuat kontrak kerja, tanpa perlu bersusah-susah. Dengan menjaring beberapa wanita atau anak semata wayang pemegang perusahaan besar dan kaya, kemudian menjebaknya. Terlalu mudah dilakukan. Wajah tampan Fahmi yang menjadi modal dalam kesuksesan kariernya. Dia akan membuktikannya suatu hari. Dan orang-orang akan mulai mengakui keberadaannya. "Pak Bos hari ini ada rapat dengan kepala perusahaan PT. Lokal Indo. Dan… apa kita perlu memasukkannya sebagai jadwal mengikuti ke mana Pak Chu pergi?” “Tentu saja. Sudah kamu cari tahu tentangnya?” “Hari ini beliau sepertinya hendak main arcade game.” "Arcade game? Bapak Chu Jhonson adalah pemilik perusahaan yang diincarnya belakangan ini, memang sedikit eksentrik, tetapi hasil yang mungkin akan didapat Fahmi cukup sepadan nantinya. "Kosongkan jadwal saya menyesuaikan jadwal Bapak Chu." "Oke, Bos." Romeo menutup pintu kantor Fahmi. Fahmi kembali memusatkan diri pada tumpukan dokumen yang harus dia pastikan. Ponselnya berkedip kedip setiap satu menit sekali. Fahmi terheran. Siapa yang punya nyali menelponnya saat jam kerja kecuali rekan bisnisnya? Tak berselang lama dari laporan sebelumnya, Romeo menguak pintu kantor direktur. Pria cebol itu berdiri gelisah menunggui Fahmi selesai membubuhkan tanda tangan pada tumpukan dokumen. Fahmi me-notice tingkah aneh Romeo. "Kamu ngapain? Mau buang air?" Dia menggeleng, tergagap hendak mengungkapkan maksud. "Itu, anu, Bos. Anu kan anu terus anu begitu." Fahmi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bawahannya satu itu memang agak ajaib. Entah mengapa dia selalu dikelilingi orang-orang aneh di sekitarnya. "Apanya yang anu?" "Anunya, Bos." Fahmi yakin, jika ada wanita yang mendengar pembicaraan mereka mungkin akan mengira yang aneh-aneh. "Bicara yang jelas! Anu-anu? Anu-an!" Dia tak tahan juga setelah berputar dengan kata anu. Sebelum Romeo membuka mulut, pintu kayu yang dipesannya dari Jepara, diketuk beberapa kali. Sekian detik kemudian, terbuka dan menampilkan wajah dengan gigi gingsul tersenyum ke arah. Raut Fahmi berubah cemberut. "Nah, itu anu!" Fahmi melirik sinis ke arah Romeo yang mengerti untuk langsung pamit meninggalkan keduanya. Laki-laki berpakaian kasual, celana hijau tiga perempat, dan kacamata gaya itu mendekat dengan tangan terbuka. Fahmi menghindar dan memberi isyarat padanya untuk duduk. "Kaif hal? Khoir*, 'kan?" "Enggak usah basa-basi. Lu mau apa ke sini?" "Ya Allah, Jali*. Masa ana* enggak boleh datengin saudara sendiri." Fahmi melengos. Saudara, katanya? Senyum mencibir dia tampilkan untuk merendahkan adiknya itu. Kesayangan Abi satu-satunya. Orang tuanya bahkan lebih mempercayakan usaha keluarga kepada Farhat, adiknya yang berusia lebih muda lima tahun darinya. "Kalau tujuan lu mau bikin ana sama Abi baikan, lupain!" Dia mendekat dan duduk menyilangkan kaki. "Farhat, Farhat. Gak perlu sok polos. Kenapa Alatas tua itu ngirim lu ke sini? Mau jadi mata-mata? Mau merendahkan ana lagi?" Farhat mengelus d**a. Beristighfar pelan. Setiap hal yang menjurus ke arah pertengkaran keduanya, dia seolah tak berdaya dan hanya ingin marah. "Gimana pun Abi tetap orang tua ente*!" "Ya ya anak kesayangannya belain." Fahmi tertawa getir, merasakan kepalanya mendadak panas mendengar nama tua bangka itu disebutkan dari lidahnya sendiri "Mau sampai kapan kalian bertengkar kayak gini? Jangan kayak anak kecil! Abang harus ngerti kalau Abi ndak benar-benar serius dengan perkataannya!" "Iya semua salahku! Abi ndak salah. Di mata lu Abi selalu benar!" Farhat menghela napas kasar. Memang susah sekali berurusan dengan dua kepala batu, apalagi ditambah kesombongan yang menutupi hati. "Ana enggak tau lagi, mau nyadar ente kayak apa lagi. Tapi tolong jangan libatkan Ummi di antara perseteruan kalian!" Fahmi bergeming. Ketika nama wanita yang telah melahirkannya dilibatkan, dia tak bisa lagi berkutik. "Minimal kali ini, datanglah. Umi udah nunggu ente dari lama. Pokoknya ana tunggu kehadiran Abang di rumah." Titik. Tidak boleh ada argumen lain. Dan begitu saja Farhat berlalu. Fahmi masih terdiam di tempat. Setelah hampir setahun lamanya dia tak menginjakkan kaki di rumahnya, dia akan kembali? Fahmi hendak memaki. Kenapa seolah dengan mudahnya dia dikalahkan sang adik. *** NB: Ana: Saya Ente: Kamu Rijal: Laki-laki atau cowok Khoir: Baik
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม