Chapter XI

1007 คำ
Dan sekarang dia melihat sendiri, orang tuanya lengkap, dia bahkan memiliki Adik. Ibunya sehat dan terlihat muda, mereka tinggal berkecukupan di rumah mewah dengan belasan pembantu rumah tangga. Rumahnya saja tidak seluas ruang tamu di rumah mereka. Lalu, kebohongan apalagi yang dibuat Fahmi selama ini.   Seperti gadis katro pada umumnya, Humaira tak berhenti tercengang, mengagumi rumah keluarga Alatas. Dia pasti salah memasuki rumah orang lain, ini pastinya bukan rumah Fahmi, mungkin ini adalah rumah orang kaya yang memungutnya, atau keluarganya bekerja menjadi pembantu di rumah ini. Semua pemikiran itu terasa masuk akal. Namun, apa yang ditakininya justru sebaliknya.    Dia baru tersadar saat seorang wanita anggun menyapanya. wajah itu mirip dengan fahmi dalam versi yang lebih halus. Di samping wanita itu, ada pria berbadan besar yang sedikit menakutkan, mata itu diturunkannya pada pria yang beberapa bulan ini dicarinya. Pria yang begitu dibenci Fahmi, ayahnya, tidak habis pikir dengan apa yang terjadi.  "Jadi, kamu gadis yang waktu itu mengirimkan surat pada kami?"   Humaira mengangguk, lalu menunduk karena merasa telah salah tempat dan kostum untuk berada di hadapan kedunya.   "Kamu, orang asing jangan ikut campur dalam urusan keluarga kami!" Fadhil berucap tajam yang langsung mendapat teguran istrinya.   Tadinya, dia pikir pria itu akan tinggal bersama keluarganya, nyatanya dia salah. Fahmi sudah lama tak kembali, itu hanya karena kesalahpahaman yang dibesarkan dengan sang ayah.   "Anak itu memang harus diberi pelajaran. Bisanya cuma menyusahkan!"   "Abi!" Lagi, Khadijah memperingatkan dan membuat pria di sampingnya seperti balita yang langsung menurut.   "Kamu wanita yang baik, Humaira. Kalau boleh tahu, apa alasan kamu kemari? Apa ini tentang pertunangan kalian yang kamu sebutkan di surat?"   Humaira menghela napas berat, satu bulir air mata dia biarkan terjatuh. Menatap wanita dengan mata teduh itu lebih dalam. Khadijah menyadari masalahnya lebih pelik.   "Coba kamu ceritakan."   "Kami sudah menikah."   Keduanya terkesiap, bahkan Farhat yang baru datang pun tertegun mendengarnya.   "Nah, lihatkan! Bahkan menikah pun dia tidak menganggap kita ada. Jadi, benar selama ini rumor yang dikatakan tentang b******n itu."   Khadijah semakin tak tahan dengan celotehan Fadhil yang tiada habisnya. Dia menghubungi Romeo untuk membawa Fahmi segera kemari tanpa menambahkan alasan mengapa, hanya dengan sebuah peringatan ibunya menunggu atau dia yang akan datang dan menjewer telinga anak nakal itu.   Fahmi benar-benar datang bahkan sebelum mendengarkan ancaman Khadijah. Itu karena janji yang dia katakan pada Farhat.   Setelah sekian lama, akhirnya dia kembali menginjakkan kaki ke rumah terkutuk yang telah haram dia kunjungi setelah penghinaan hari itu. Kenangan-kenangan buruk itu mengiringi tiap entak sepatunya. Tidak ada yang berubah sejak dua tahun lalu. Semua masih sama berada di tempatnya.   Setibanya di pintu depan, wajah-wajah masam dan tegang yang menjadi sambutan. Fahmi dibingungkan dengan pandangan ketiganya yang menjurus pada sosok wanita berhijab sederhana yang duduk memunggunginya.   Langkah Fahami terhenti saat menyadari siapa wanita itu, kalah cepat dengan orang-orang yang kemudian menyadari kehadirannya.   "Akhirnya, anak tak tahu diuntung itu datang! Masih berani kamu menginjakkan kaki ke rumah ini."   "Abi!” Khadijah semakin gemas dengan tingkah kekanakan laki-laki di rumah ini.   “Bang, tolong bilang kalau ini bohong.” Farhat rasanya masih tak percaya mendengar pengakuan Humaira.   “Fahmi katakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi, Nak. Dan siapa gadis ini?"   Fahmi speechless, fokusnya tertambat pada Humaira, bahkan berondongan pertanyaan ketiganya tak dapat dia jawab. Siapa Humaira untuknya?   "Bukan urusan kalian," tuntas Fahmi. Matanya menatap tajam pada Humaira yang membalik badan. Menarik tangannya dan menyeretnya keluar. Tak dia gubris keluarganya memanggil manggil.   “Lepas!” Humaira meronta-ronta dari cekalan yang begitu kuat dan penuh emosi.   Sampai di luar, Fahmi membuka pintu mobil untuk Humaira. "Masuk!" perintahnya.   Humaira menuruti tanpa protes lebih jauh.  Dan saat mobil melaju, Humaira sudah sangat  gatal untuk buka suara. "Kenapa kamu pergi? Dan apa itu? Semua yang kamu katakan hanya kebohongan?"   Fahmi hanya diam selama perjalanan. “Jawab aku!” Dia mempercepat laju mobilnya. "Pelan-pelan!"   “Berisik.”   Jawaban Fahmi semakin menyulut emosi Humaira. Memasuki pelataran parkir suatu gedung, Fahmi turun dan berjalan menedahuluinya.  Humaira mengejar. Dia tak akan melepaskan pria itu lagi. Dia harus tahu alasan dia dicampakkan.   "Tunggu!"   Dia memegang lengan Fahmi. Namun, Fahmi justru balik menarik tangannya. Langkahnya sangat cepat. Humaira sampai terseok seok mengikuti.   Semua karyawan yang dia lewati melongo. Sekretarisnya bahkan tak percaya mengalami pemandangan langka itu. Mungkin selama ini banyak perempuan yang datang ke ruangan bosnya, tetapi tak ada satu pun yang benar-benar bosnya bawa   Humaira menunduk malu, merasa risih ditatap begitu banyak pasang mata. Dia sangat salah kostum mengenakan pakaian biasa ini, menyadari di mana dia berada sekarang. Posisi Fahmi mungkin seperti yang dia pikirkan, seorang direktur perusahaan, dan setiap harinya selalu dikelilingi karyawati-karyawati yang begitu cantik.   Mereka akhirnya masuk ke ruangan Fahmi. Dia baru melepaskan tangannya. Humaira mengibaskan tangannya yang terasa kram dan kesemutan.   Dia tak mengerti, mengapa Fahmi membawanya kemari?   “Untuk mempermalukan kamu, agar kamu tahu di mana level kamu sebenarnya.” Fahmi menjawab seolah benar-benar dapat membaca pikirannya. Dan satu lagi, tanpa perasaan.   Pria itu bersedekap, menaikkan sebelah alisnya, merendahkan Humaira dengan meneliti penampilannya. "Jangan berharap aku benar-benar menyukai gadis desa seperti kamu. Fahmi tertawa menyindir Humaira bahkan tidak dapat berpakaian sesuai dengan mode.  "Entah kamu yang begitu lugu atau bodoh, aku enggak tahu."   Fahmi dengan tampilan berbeda. Mungkin lebih tampan dari terakhir kali, tapi ketampanan hatinya lebih buruk. Bukannya hanya luarnya, tetapi benar-benar tak dapat Humaira kenali lagi. Kemana perginya pria yang pandai mengaji, rendah hati, dan dia cintai?   "Sebaiknya kamu jangan pernah muncul di hadapanku lagi karena kamu begitu menjijikkan."   Humaira menggigit bibir menahan kuat tangis yang hampir tumpah. Dia menunduk, jemarinya terkepal erat di samping. Benar-benar Fahmi telah merendahkannya dengan hina. Humaira menyesal telah sempat mengenal pria itu meski hanya satu detik.   "Kenapa kamu melakukan ini padaku?”   "Karena kamu berguna." Dengan santai Fahmi menancapkan belati di hatinya.   "Karena aku bodoh, makanya aku begitu percaya."   Fahmi menertawainya. "Apalagi yang kamu inginkan? Bukankah semua telah sesuai kesepakatan? Aku menikahi kamu supaya ibu kamu tidak terus memaksa. Dan aku mendapatkan keinginan yang aku mau?"   "Apa yang kamu dapatkan dari aku? Kenapa harus aku?!" Humaira benar-benar memuncak.   "Kamu benar-benar ingin  tahu?"   Sekali lagi dia diseret dengan paksa entah kemana Fahmi akan membawanya.   ***  
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม