Amora Glandire || Chapter 5 - Black Blood of Pancracia

837 คำ
Panddande 1501 Tenggorokannya terasa tercekat ketika tubuh dan rohnya kembali ke dimensi aslinya. Berharap rasa sakit yang dirasakan segera berakhir. Mungkin ini efek terlalu lama berada di dimensi lain. "Apa masih terasa sakit?" tanya Calviera dengan nada khawatir. Tentu saja wanita baya itu khawatir, karena jika dalam jangka waktu lama berada di dimensi lain dan tiba-tiba kembali ke dimensi asli, itu akan mengakibatkan efek yang luar biasa. Bahkan seseorang akan kehilangan nyawanya. Itu sudah menjadi ciri khas disini. "Sudah membaik. Tapi kenapa tiba-tiba kalian menyeret ku kembali? Aku belum selesai berkomunikasi dengan dia." protes Tansee. Mercus dan Calviera hanya bertatap pandang, "Jika terlalu lama berkomunikasi dengan dia, dia yang akan terkena imbasnya, kasihan dia." "Imbas? Maksud mu? Oh iya, kenapa tidak terjadi apa-apa ketika aku bersama dia, kenapa dia tidak mengalami kesialan seperti kebanyakan orang yang bersamaku?" Calviera tertawa kecil, wanita itu menggenggam erat tangan Tansee. "Sama halnya seperti aku, aku tidak mendapatkan kesialan apapun sejak sedari tadi bersamamu, karena ada batasan tersendiri dari kutukan itu. Aku dan dirimu berbeda, sama halnya dirimu dan gadis itu. Kalian berbeda." "Berbeda?" "Kutukan yang ada pada dirimu akan berimbas kepada orang yang sama seperti mu. Kau ini manusia, dan aku ini roh. Jadi kutukan itu tidak akan berpengaruh terhadap diriku." Mata Tansee membulat, ia refleks melepaskan genggaman tangan Calviera. Tapi jika Calviera adalah roh, kenapa ia bisa merasakan genggaman Calviera? Seolah mengetahui isi pikiran Tansee, Calviera menjawab. "Kau ini terhubung kepadaku sejak zaman dahulu. Sebelum aku tiada, aku sudah mengenal dirimu bahkan terlibat dalam kehidupan mu, jadi aku dan dirimu ini memiliki suatu ikatan. Jika aku mengajak mu ke zaman ku, maka kau bisa melihat roh roh yang masih berkeliaran bahkan bisa merasakannya. Begitupula sebaliknya, aku sekarang berada di zaman mu dan bisa merasakan mu." "Jadi karena ikatan?" "Iya." "Dan semua itu hanya berlaku untuk dirimu saja kak." sambung Mercus. Tansee terdiam sejenak, ia berhasil mencerna apa yang dikatakan Calviera dan juga Marcus. "Tapi kenapa Mercus bisa melihat dan merasakan mu?" Calviera memutar bola matanya, "Karena dia terlalu penasaran dengan dunia dulu, dan juga tentang kutukan Pancracia, jadinya dia menemukan ku dan memaksa rohku untuk berkeliaran lagi, padahal raga ku sudah tiada." Mendengar gerutuan Calviera, Mercus hanya bisa tersenyum dan mengedikkan kedua bahunya. "Lalu, imbas apa yang akan dirasakan Amora?" "Amora?" tanya Mercus dan Calviera. "Ya, gadis itu bernama Amora." "Ternyata dia sudah tahu nama gadis itu." gumam Mercus yang masih bisa didengar oleh Calviera. "Khem jadi begini, ketika kau berkomunikasi dengan Amora maka saat itu hanya ada kau dan dia saja. Dan ketika kau pergi, Amora seolah terbangun dari tidur dan menyatakan pertemuan dengan mu itu hanyalah mimpi. Saat dia bersitatap dan berbicara dengan mu, akan ada batasan tersendiri. Misalnya dia tidak sadar jika wajahnya mirip sekali denganmu, namun ketika dia sadar dia ingat wajahmu dan merasa jika wajahnya sama dengan wajah mu." Tansee menarik nafas dalam-dalam, ternyata dimensinya dan dimensi Amora tidaklah sama, banyak perbedaan didalamnya. "Untuk pembahasan ini, cukup sampai disini. Sekarang waktunya kau bertemu dengan Pancracia." ucap Calviera. Terkejut, tentu saja Tansee sangat terkejut. Wanita itu bahkan tidak pernah memikirkan akan bertemu dengan Pancracia. "Bu--bukankah Pancracia sudah tiada?" "Iya, tapi jasadnya masih tersimpan rapi di dalam peti matinya. Ayo ikut aku." Mereka bertiga berjalan melewati lorong yang sangat gelap. Bau amis darah menjadi sambutan saat Tansee, Mercus dan Calviera melewati pintu tua berwarna hitam. "Ruangan ini adalah tempat dimana berbagai macam darah tersimpan. Dan diruangan ini juga terdapat darah ayah dan ibu mu Tansee." jelas Calviera. "Tapi apa gunanya menyimpan darah-darah itu?" "Tujuannya hanya untuk berkomunikasi dengan mereka. Jika kau ingin berkomunikasi dengan ibu atau ayah mu, kau memerlukan setetes darah mereka dan juga tetesan darahmu." Calviera membuka ruangan itu, dan bau amis semakin menyengat. Calviera berjalan lurus dan berhenti didepan kotak kecil, dibukanya kotak itu dan diambilnya satu wadah berisi darah yang berwarna hitam. "Ini adalah darah Pancracia, kita akan berkomunikasi dengannya. Sebelumnya jangan terkejut jika sewaktu Pancracia melihat mu, dia marah besar. Kau tenang saja dia tidak akan menyakitimu, sebab dimensinya dan dimensi mu berbeda." Calviera menuangkan tetesan darah hitam diatas wadah kecil dan selanjutnya mengisyaratkan Tansee untuk melukai sedikit pergelangan tangannya, demi mendapatkan sedikit darah miliknya. Tansee dengan berat hati menuruti, selanjutnya Calviera membawa wadah tersebut keluar dari dalam ruangan. "Dipojok sana, itu adalah ruangan penyimpanan jasad Pancracia. Ruangan itu dilengkapinya oleh sihir, jadi yang hanya bisa membuka tempat itu adalah diriku." Ketiga orang tersebut berjalan pelan menuju kearah ruangan itu, "Mercus pegang ini." Tak lama kemudian, ruangan perpintu besi itu terbuka, "Mari masuk." Ruangannya gelap, pengap dan sepertinya tak ada oksigen didalamnya. "Ini adalah peti mati Pancracia." ucap Calviera seraya membuka peti mati tersebut. Disana, didalam peti mati itu terbujur seorang wanita cantik lengkap dengan gaun indah yang masih membalut tubuhnya. Jika dilihat-lihat, dia tidak seperti jasad kebanyakan orang. Ini terlihat seperti wanita yang sedang tidur. "Tubuhnya dilapisi oleh sihir, sehingga sampai sekarang tubuhnya seperti orang yang masih hidup." Tes Tes Tes Tetesan darah itu dijatuhkan Calviera diatas kening Pancracia. Tak lama terdapat reaksi dari jasad tersebut. "Ah Haidee kecil, aku membencimu."
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม