Anastasia menatap James dengan sorot menggoda. Sepasang kakinya yang mulus itu melingkar di pinggang James, diikuti dengan kedua tangannya yang merangkul manja di leher James. Dia menyisir rambut tebal milik James dengan kelima jarinya. “Aku sudah tahu dari lama kok kalau selama ini kamu cuma pura-pura lupa ingatan,” ungkapnya. “Damn,” gumam James. Dia tersenyum manis. “Pasti Enik yang memberitahumu?” terkanya. Anastasia terkikik geli. “Kamu memang tak cukup pandai dalam hal berbohong, sayang,” katanya. “Dari awal aku sudah merasa ada yang janggal dan tidak beres dengan kasus ‘kecelakaan’-mu,” akunya. Dia lanjut bicara sambil menyentuh bibir James dengan ujung jari telunjuk tangan kanannya, “Ditambah lagi dengan kehadiran Dokter Mauritz. Dokter macam apa yang perawakannya seperti itu?”

