3

1604 คำ
Rendra berkutat pada layar laptopnya di ruang kerja yang berada di sebelah kamar tidurnya di rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam namun kedua matanya masih begitu fokus dengan pekerjaannya di laptop. Saat sedang bekerja, Rendra tak suka diganggu maupun ada keberisikkan. Jika ada maka ia akan langsung murka. Tak suka waktu pribadinya diganggu. Namun hal itu tak digubris oleh adiknya, Arini. Arini memasuki ruang kerja kakaknya tanpa mengetuk pintu maupun mengucapkan apapun. Emosi mulai mencuat dalam d**a Rendra. Arini duduk di sofa. "Jangan marah dulu, gue kesini cuma mau kasih tau. Kalo besok bakal ada reuni lagi. Bukan reuni keluarga besar Peterson, yah brother pasti tau kan." Rendra menghela napas. "Gue sudah tau, sekarang keluar sana." "Galak amat sih lo jadi brother!? Udah deh pokoknya gue disini." Rendra berdecak kesal. "Lo keluar dengan tenang atau gue tendang lo keluar?" Arini tak peduli, ia meraih majalah di meja kemudian membacanya dengan santai. Tak mempedulikan kakaknya yang sudah akan keluar tanduknya. Melihat hal itu, Rendra menarik napas dalam-dalam kemudian dihembuskan. Sedingin-dingin sikapnya, ia tak akan memukul adiknya sendiri maupun bertindak kasar. Rendra kembali melanjutkan pekerjaannya dan mencoba tak mempedulikan Arini. Suasana begitu hening di antara mereka berdua. Hingga Arini angkat bicara. "Bro, gue serius. Ayo baikan seperti waktu kita masih kecil." Celetuk Arini tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah yang ia baca. "Gue nggak bisa bermain-main seperti anak kecil lagi, sis. Mengertilah." Sahut Rendra yang juga fokus pada layar laptop. Arini berdecak kesal. "Siapa yang minta kita bermain-main seperti dulu? Gue hanya bilang kita baikan dan berhenti bersikap dingin satu sama lain." "Lalu apa untungnya? Sudahlah, lo sudah protes berjuta kali." "Jahat amat lo. Gue bilang ke mommy Cia baru tau rasa lo!" Rendra terkesiap. Seumur hidup perempuan yang paling ia takuti di dunia hanyalah ibunya seorang, Alicia. Jika sudah marah, Alicia nggak tanggung-tanggung untuk memarahi Rendra dengan kejamnya. Hal itu membuat Rendra menjadi paranoid jika menolak permintaan ibunya. "Oke oke, gue bakal jadi brother lo yang dulu. Yang sering main sama lo, jadi tempat curhat lo, dan lain sebagainya. Asal lo jangan bilang ke ibu yang nggak-nggak !" Arini tersenyum lebar. "Hehe, makasih brother. I love you!" Rendra memutar bola matanya malas. Menghadapi Arini adalah salah satu dari sekian daftar hal yang paling ia benci. *** Pagi hari Rendra tiba di kantor. Sapaan para karyawan kembali ia dengar. Dan seperti biasanya, hanya ia sahut dengan deheman bahkan ada yang tak disahut sama sekali. Para karyawati semakin gencar untuk mendapatkan hati sang wakil direktur tersebut. Sifat dinginnya seakan menjadi tantangan tersendiri untuk menaklukan hatinya. Dari sekian banyaknya karyawati di Peterson Corporation, hanya Alya yang bersikap netral di hadapan Rendra. Alya sendiri merasa tak cukup senang dengan profesi baru yang ia miliki sekarang. Bahkan Alya akan dengan senang hati jika ia akan dipindahkan kembali ke manager keuangan. "Selamat pagi, Pak Rendra." sapa Alya dari depan pintu ruang kerja miliknya. "Pagi." Balas Rendra kemudian memasuki ruangannya sendiri tanpa menoleh maupun berkata apapun lagi. Alya menghela napas panjang untuk menahan emosinya. Ini pertama kali dalam hidupnya, ia mempunyai atasan yang sangat dingin dan irit bicara sekali. Alya memasuki ruangannya kemudian duduk di kursi kerja, menyalakan laptop kemudian menata jadwal Rendra hari ini. Sebelumnya Rendra sudah pernah bilang kepada Alya untuk memberitahu semua jadwal pada jam 7 tepat. Berkat hal itu, Alya menuruti saran Selma. Bangun jam 5 pagi, berangkat jam 6 pagi kemudian tiba di kantor jam 06.25 pagi. Hal itu membuat Alya sedikit kurang tidur. Lingkaran hitam pun mulai muncul di bawah matanya. Telpon berdering, Alya segera mengangkatnya. "Halo, sekretaris wakil direktur disini." "Karena kau sekretarisku, mulai besok kau harus menyiapkan ruang kerjaku di pagi hari." "Maaf, Pak Rendra? Maksudnya, membersihkan ruang kerja anda dan menyiapkan semuanya?" "Iya, masih kurang jelas? tak ada bantahan. Aku tak suka dengan keadaan ruanganku yang berantakan dan pengap di pagi hari." "Baiklah, Pak. Besok akan saya kerjakan." Telpon kembali diputus secara sepihak. Alya mengepalkan kedua tangannya sekuat mungkin. Menahan emosi yang ingin naik ke ubun-ubun. Rendra menambah tugas dalam hidupnya menjadi semakin banyak. Membuatnya semakin harus disiplin dan membagi waktu harus dengan tepat. Jam 7 pagi, Alya memasuki ruang kerja Rendra setelah Rendra mempersilahkannya masuk. Alya berdiri di depan meja kerja Rendra, menatap sosok atasannya dengan pandangan berusaha netral. "Katakan saja, nggak usah menunggu aku memerintahkanmu." Tutur Rendra serius dengan laptop di hadapannya. Alya membuka buku notenya. "Hari ini anda ada pertemuan privasi dengan Pak Randy pada jam 9 pagi. Pada jam 11 siang, ada rapat pembahasan kecurigaan tindak korupsi dalam perusahaan PTC. Jam 2 siang, ada pertemuan dengan Pak Rafael atau CEO CSG di ruangan anda ini. Sudah, itu saja." Rendra mengerutkan keningnya sejenak. "Hanya tiga?" Alya mengangguk. "Benar, Pak. Pak direktur mengosongkan semua jadwal anda hari ini hingga menyisakan tiga tersebut." "Untuk apa?" "Karena anda diharuskan pulang jam 3 sore untuk acara reuni keluarga anda." "Oh, terima kasih. Kau boleh keluar." Alya keluar dari ruangan Rendra. Jantungnya tak bisa berhenti dagdigdug nggak jelas jika berhadapan dengan Rendra. Alya menganggap itu hanya karena ia dilanda gugup. Peristiwa kemarin saat Rendra memarahinya, masih teringat jelas dalam benaknya. Jadi Alya menyimpulkan karena itulah jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Alya kembali berkutat dengan laptop. Tugas-tugas yang menumpuk mengharuskannya untuk kerja ekstra cepat. Pada jam 11 siang nanti, ia harus mendampingi Rendra dalam rapat penting. Jadi sebelum jam 11, setidaknya setengah dari tugasnya sudah terselesaikan. Tok Tok "Masuk!" Sahut Alya ketika suara ketukan di pintu terdengar. Seorang lelaki jangkung dengan setelan kemeja, dasi dan celana bahan memasuki ruangannya. "Kakak? Ngapain kesini?" Tanya Alya dengan kening berkerut. Harris, nama pria tersebut, duduk di sofa dengan senyuman kecil di wajahnya. "Nggak ada, hanya ingin menengok adikku sebentar. Kau tau kan, aku baru pulang dari Bandung. Gak kangen nih?" Jawab Harris. Alya mendengus kesal. "Nggak ada, nanti aja di rumah." "Idih, jutek amat. Oh ya, selamat atas jabatan barumu. Nggak nyangka kau bakal menempati jabatan yang cukup penting dan super sibuk itu." "Aku sendiri juga heran kok, kak. Oh ya, kakak udah bilang ke papa sama mama belum?" Harris tertawa pelan. "Biarlah jadi kejutan buat mereka." Alya ikut terkekeh mendengarnya. Harris adalah kakak kandungnya. Mereka akrab sekali sejak kecil bahkan susah untuk dipisahkan. Jarak umurnya hanya 2 tahun. Dan selalu bersekolah di sekolah yang sama dari SD hingga kuliah. Karena hubungan yang baik dan sangat akrab, jarang sekali melihat mereka berdua bertengkar. *** Rendra pulang jam 3 sore, lebih awal 2 jam dari jadwal sebenarnya. Ayahnya mengosongkan seluruh jadwalnya menjadi tiga hingga menyuruhnya untuk pulang jam 3. Semua itu disebabkan oleh acara reuni sahabat yang diadakan hari ini di rumahnya. Ketika mobil Rendra akan melintasi pintu masuk utama gedung, ia melihat sosok Alya berdiri dengan wajah kusut. "Ngapain dia?" Batin Rendra. Berusaha tak peduli saat mobilnya melewati Alya. Namun hati dan pikirannya berkata lain, Rendra memberhentikan mobilnya cukup jauh dari teras pintu masuk. Rendra keluar dari mobilnya kemudian menghampiri Alya. "Ngapain disini? Jam pulangmu masih lama." Tanya Rendra dingin. Alya menoleh. "Oh bapak. Iya saya tau itu tadi saya sudah izin untuk pulang lebih cepat. Ibu saya sakit, tadi ditelpon sama ayah saya. Jadi saya disuruh pulang cepat sama sekalian belikan obat." "Lalu kenapa masih disini? Bisa naik taksi, kan?" Alya menggigit bibir bawahnya. "Itu... dompet saya tertinggal di rumah. Mau minta bantuan Selma tapi sungkan." Hening. Rendra tak menyahut, ia memperhatikan Alya dalam diam. Kelakuan Rendra yang berdiri di dekat Alya di depan pintu masuk gedung sedikit menyita perhatian. Karena ia belum pernah melakukan hal seperti itu di depan semua orang. Rendra menggenggam pergelangan tangan kiri Alya. "Ikut aku." Tanpa aba-aba Rendra menarik Alya pergi dengan cukup kasar. Alya terkejut dan ingin melepas genggaman atasannya itu namun tenaganya tak sebanding dengan Rendra. Rendra membuka pintu mobilnya kemudian menyuruh Alya masuk tanpa bicara dan memaksa. Alya hanya bisa menurutinya dengan penuh keheranan. Setelah Rendra memasuki mobil dan menyalakan mesin, mobil BMW putih miliknya melaju keluar dari gedung kantor. "S...Sebentar, Pak Rendra! Bapak akan membawa saya kemana?!" Tanya Alya panik bercampur bingung. "Apalagi selain mengantarmu pulang dan beli obat?" Mulut Alya terbuka lebar. "Nggak usah Pak, saya bisa menghubungi Selma. Turunkan saya!" "Selma sibuk dengan acara reuni keluargaku. Sebenarnya itu acara reuni sahabat. Orang tuaku dan orang tua Selma bersahabat jadi bisa dibilang kami kerabat." "Meskipun begitu, bapak juga nggak seharusnya mengantarkan saya pulang. Bapak ada acara penting di rumah, kan?" "Mereka bisa menunggu. Sekarang diamlah dan jangan banyak protes." Alya melongo. Tak menyangka ia akan diantar pulang oleh sang atasan dingin tersebut tanpa diminta. Alya hanya bisa menuruti kemauan Rendra, karena Rendra adalah atasannya dan Alya hanya sekretarisnya. Sesampainya di apotek, Alya masih diam karena tak membawa dompet. "Bapak nggak perlu mengantarkan saya ke apotek. Saya tak bawa dompet jadi antar saya pulang dulu saja. Nanti saya ke apotik sesudahnya." Tutur Alya. Rendra menoleh. "Ibumu sakit apa?" "Demam sama batuk." Tanpa membalas lagi, Rendra keluar dari mobilnya dan memasuki apotik. Alya menutup mulutnya dengan tangan kanannya. "Kenapa gue barusan kasih tau, sih?! Udah gila kali ya gue!" Pekik Alya gemas dengan dirinya sendiri. Setelah 5 menit, Rendra keluar dari apotek dan masuk kembali ke dalam mobil. Ia menyerahkan sekantong plastik berisi obat kepada Alya. "Ini obatnya. Sekarang katakan dimana rumahmu." Ujar Rendra kemudian melajukan mobilnya kembali. Alya menerima obat itu dengan wajah sedikit malu. Tak ia sangka Rendra sebaik itu. Di balik topeng dingin dan sikap arogannya, Rendra tak tanggung-tanggung untuk membantunya. Sesampainya di rumah Alya. "Terima kasih, Pak. Saya nggak tahu bagaimana membalas bapak." Ujar Alya. "Nggak usah. Itu gak seberapa, sampaikan salamku ke ibumu." Sahut Rendra. "Iya pak, sekali lagi terima kasih." Alya keluar dari mobil Rendra dan menatap kepergian mobil Rendra yang menjauh dari rumahnya. Alya tersenyum kecil. "Gue udah salah menilai rupanya." TBC 
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม