Bab 002: Kecelakaan
Bagi Kartiah, Aruna tetap orang luar.
Keberadaannya di keluarga itu hanya karena Pak Arga pernah menikahi ibunya.
Kini Pak Arga telah tiada.
Di matanya, alasan Aruna tetap berada di tengah keluarga itu ikut menghilang.
"Gavin tahu."
Suara Gavin mulai terdengar berat.
"Makanya Gavin juga ikut ngurus."
"Tapi..."
Kartiah kembali hendak menyela.
"UDAH!"
Bentakan keras mengguncang seluruh ruangan.
Semua orang refleks menoleh.
Kakek Wawan berdiri tegak.
Wajahnya memerah.
Sorot matanya menyapu seluruh isi ruangan.
Tak ada lagi senyum ramah yang biasa menghiasi wajah lelaki tua itu.
Yang tersisa hanya kemarahan.
"Ribut nggak tahu tempat!"
Suara beratnya memenuhi ruang tamu.
"Kuburan Arga masih basah!"
"Lu pada ribut apa?!"
Semua orang menundukkan kepala.
Tak ada lagi yang berani menyahut.
Bahkan Rustam yang sejak tadi paling vokal hanya menatap lantai.
Di antara mereka, hanya Kakek Marwan dan Nenek Sundari yang masih memandang Kakek Wawan. Raut wajah keduanya tampak mengeras. Sebagai orang yang lebih tua, mereka merasa ikut disindir di hadapan keluarga besar.
Namun tak satu pun dari mereka membalas.
Marwan memang anak sulung dari tiga bersaudara, sedangkan Wawan adalah yang paling bungsu. Meski begitu, ia sadar adiknya tidak sedang berbicara tanpa alasan. Belum genap tujuh hari sejak Arga dimakamkan. Membahas warisan dan harta pada saat seperti ini memang tidak pantas.
"Berhenti!"
"Balik!"
"SEKARANG!"
Tak ada lagi yang bersuara.
Satu per satu mereka mulai bangkit.
Ada yang merapikan sarung di pinggangnya. Ada yang mengambil peci yang sejak tadi diletakkan di atas tikar. Beberapa orang berpamitan lirih tanpa berani menatap Kakek Wawan.
Tak lama kemudian, ruang tamu yang semula sesak perlahan lengang.
Hanya suara kipas angin tua yang masih berputar pelan di sudut ruangan.
Gavin tetap berdiri di tempatnya.
Kedua tangannya masih mengepal di sisi tubuh.
Dadanya naik turun. Rahangnya terasa kaku sejak entah kapan.
Baru ketika rumah mulai benar-benar sepi, ia menyadari jemarinya bergetar pelan.
Di sudut ruangan, Nenek Halimah hanya menundukkan kepala.
Matanya sembap.
Sejak tadi ia hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun. Namun setiap pembicaraan tentang kontrakan, warisan, hingga perebutan hak mengasuh kedua bayi itu terasa menghantam dadanya bergantian.
Empat hari.
Baru empat hari Arga dan Aisyah dimakamkan.
Namun yang diperebutkan orang-orang bukan lagi doa.
Melainkan harta yang mereka tinggalkan.
Kakek Wawan memejamkan mata sejenak.
Dadanya terasa sesak.
Selama puluhan tahun ia mengenal watak sebagian besar keluarganya. Namun melihat mereka berubah secepat ini, tepat setelah kepergian Arga, tetap saja membuat hatinya perih.
Ia menarik napas panjang, lalu melangkah menghampiri Gavin.
Telapak tangannya menepuk pelan kepala pemuda itu.
"Gavin... lu capek kan? Udah gih, sono tidur. Udah malem."
"Iya, Kek..." Gavin mengangguk pelan. Senyum tipis akhirnya muncul di wajahnya. "Makasih ya, Kek."
"Buat apa?" Kakek Wawan mendengus pelan. "Udah tidur aja. Kunci pintunya. Si Runa masih di rumah sakit, kan?"
"Iya, Kek."
"Kasihan tuh anak," gumam Nenek Halimah lirih.
Ia memandang lantai sebelum melanjutkan.
"Udah empat hari dia nungguin si kembar di rumah sakit. Nggak ada yang gantiin."
Ruang tamu kembali hening.
Suara kipas angin dan gesekan dedaunan dari halaman menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar.
"Abis gimana, Nek..." Gavin menghembuskan napas pelan. "Gavin juga masih sibuk ngurus di sini."
"Udah makan belum tuh bocah?" tanya Nenek Halimah lagi. Nada suaranya dipenuhi kekhawatiran.
"Insyaallah dia bisa jaga dirinya sendiri, Nek. Lagian ada Om Ardan. Beliau juga rajin nemenin Aruna di rumah sakit."
Alis Kakek Wawan terangkat.
"Oh..."
Ia mengangguk pelan.
"Itu makanya Ardan kalau malem pulang cuma sekelebatan doang."
"Iya, Kek." Gavin mengangguk polos. "Aruna kan perempuan. Om Ardan nggak mungkin ngebiarin dia tidur sendiri di ruang tunggu rumah sakit."
"Hm..."
Kakek Wawan hanya mengangguk kecil.
Tatapannya menerawang sesaat.
Entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Ya udah," katanya akhirnya. "Mudah-mudahan si kembar cepet pulang."
"Amin."
Gavin menjawab sambil tersenyum tipis.
Setelah berpamitan, Kakek Wawan dan Nenek Halimah meninggalkan rumah.
Langkah mereka pelan menyusuri gang yang mulai sepi.
Selama empat hari terakhir, ada sesuatu yang terus mengganjal pikiran Kakek Wawan.
Ardan.
Aruna.
Dua nama itu terus berputar di kepalanya.
Ada sesuatu yang terasa janggal.
Namun ia mengurungkan niat untuk bertanya.
Malam ini Gavin sudah terlalu lelah.
Wajah pemuda yang baru menyelesaikan ujian akhir SMA itu tampak pucat. Lingkar hitam mulai menggelayut di bawah kedua matanya. Bukan hanya karena kurang tidur, pola makannya pun berantakan sejak empat hari terakhir.
Di rumah itu, tak ada lagi orang yang mengingatkannya untuk makan.
Empat Hari Sebelumnya
CIIIITTTT...!
Decitan rem memekakkan telinga.
BRAAKK!!
Benturan keras mengguncang persimpangan. Sebuah sedan hitam berputar setengah lingkaran sebelum menghantam pembatas jalan. Kaca depannya pecah berhamburan, sementara asap tipis mulai mengepul dari balik kap mesin yang ringsek.
Beberapa pengendara motor refleks menginjak rem. Seorang perempuan menjerit sambil menutup mulut. Dalam hitungan detik, kendaraan dari dua arah melambat hingga berhenti. Orang-orang berlarian mendekat, sementara sebagian lain mengangkat ponsel untuk merekam.
"Astaga...!"
"Ada orang di dalam!"
"Jangan dideketin dulu!"
Seorang polisi lalu lintas yang berjaga tak jauh dari persimpangan langsung berlari menuju mobil. Peluit panjang melengking dari bibirnya.
"Mundur! Semua mundur! Kasih ruang!"
Kerumunan perlahan mundur, meski masih banyak yang berusaha mengintip ke dalam mobil.
Melalui kaca yang retak, polisi itu melihat seorang pria paruh baya terkulai di balik kemudi dengan tubuh terjepit dashboard yang remuk. Di kursi penumpang, seorang perempuan berperut besar terdiam tanpa bergerak. Sabuk pengaman masih melintang di dadanya.
Rahangnya mengeras.
Ia segera meraih handy talkie.
"Pusat, di sini Bravo Tiga. Terjadi kecelakaan lalu lintas. Dua korban masih terjepit. Minta ambulans dan tim DAMKAR segera."
"Diterima. Bantuan dalam perjalanan."
"Siap."
Handy talkie kembali dikaitkan ke pundaknya.
"Jangan ada yang mendekat! Kasih jalan buat ambulans!"
Sirene akhirnya terdengar dari kejauhan.
Mula-mula samar.
Semakin lama semakin nyaring.
Namun ambulans tersendat kemacetan jam sibuk. Klakson bersahut-sahutan, sementara kendaraan baru bergeser setelah sirene terdengar tepat di belakang mereka.
Beberapa menit kemudian, ambulans berhenti di belakang mobil yang ringsek.
Pintu belakang terbuka.
Dua petugas medis turun membawa tas peralatan dan tandu lipat, lalu bergegas menghampiri polisi.
"Dua korban masih terjepit," lapor polisi singkat. "Pria di balik kemudi, perempuan hamil di kursi penumpang. DAMKAR sedang menuju."
Belum sempat mereka bergerak, sirene lain kembali meraung.
Mobil pemadam dengan lampu rotator menyala perlahan menerobos kemacetan.
Komandan regu DAMKAR turun dari kabin.
"Kami periksa kondisi korban dulu," ujar salah satu petugas medis. "Setelah itu kita evakuasi bersama."
"Siap."
Petugas medis mengenakan sarung tangan, lalu menunduk melalui celah kaca yang pecah.
"Bu... dengar suara saya?"
Tak ada respons.
Ia memeriksa jalan napas, meraba nadi, lalu memasang monitor portabel.
Beberapa detik berlalu.
Garis lurus membentang di layar.
Ia bertukar pandang dengan rekannya, lalu mengalihkan perhatian ke perut korban yang masih membuncit.
"Korban wanita sudah tidak bisa diselamatkan," ujarnya kepada komandan DAMKAR. "Bayinya kemungkinan masih punya kesempatan. Kita harus keluarkan korban secepat mungkin."
Komandan DAMKAR mengangguk mantap.
"Mulai evakuasi!"
Mesin hidrolik segera meraung. Perlahan, rangka mobil yang ringsek dipaksa membuka.
"Pelan... tahan."
Begitu celah cukup lebar, dua petugas medis menjangkau tubuh perempuan itu.
"Hati-hati bagian perut."
Dengan gerakan perlahan, korban berhasil dikeluarkan dan dipindahkan ke atas tandu. Seorang petugas langsung mendorongnya menuju ambulans, sementara rekannya terus memantau monitor portabel.
Di sisi lain, anggota DAMKAR masih berjibaku membebaskan pria yang terjepit.
"Dashboard masih menjepit kakinya."
"Potong sisi kanan."
Mesin pemotong kembali meraung. Percikan api sesekali menyala sebelum dashboard berhasil disingkirkan.
"Tarik pelan."
Tubuh pria itu akhirnya berhasil dikeluarkan. Wajahnya pucat, darah mengering di pelipis, tetapi napasnya masih terdengar lemah.
"Masih ada napas."
"Masukkan ke ambulans!"
Kedua tandu didorong hampir bersamaan.
Pintu ambulans ditutup rapat.
Tak lama kemudian, sirene kembali meraung, meninggalkan lokasi kecelakaan menuju rumah sakit terdekat.
Suara roda tandu beradu dengan lantai keramik memenuhi lorong Instalasi Gawat Darurat. Begitu pintu ambulans terbuka, perawat dan dokter yang sudah bersiap langsung menyambut.
"Korban laki-laki, trauma berat. Penurunan kesadaran."
"Korban perempuan, hamil. Prioritas penyelamatan bayi."
Kedua tandu segera didorong ke arah berbeda.
Seorang petugas kepolisian mengikuti dari belakang sambil membawa dompet, dua telepon genggam, dan beberapa barang milik korban yang berhasil diamankan dari lokasi kecelakaan.
Ia menyerahkannya kepada petugas administrasi.
"Tolong catat semua barang korban."
"Baik, Pak."
Sementara tim medis berjibaku di balik pintu ruang tindakan, polisi itu membuka dompet korban laki-laki.
Kartu Tanda Penduduk.
Arga Wiryawan.
Usia empat puluh lima tahun.
Dompet satunya dibuka.
Aisyah.
Alamat pada kedua kartu identitas itu sama.
"Suami istri," gumamnya.
"Pak."
Seorang petugas IGD menghampiri.
"Ada keluarga yang bisa dihubungi?"
"Sedang saya cari."
Polisi itu menyalakan salah satu telepon genggam yang ditemukan di dalam mobil.
Beruntung, perangkat itu tidak terkunci.
Daftar kontak terbuka.
Satu nama langsung menarik perhatiannya.
Jagoan Kecilku.
Alisnya sedikit berkerut.
Riwayat percakapan menunjukkan hubungan yang sangat dekat.
"Sepertinya keluarga."
Ia segera menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar beberapa kali.
Klik.
"Selamat siang."
Suara laki-laki dari seberang terdengar tenang.
"Selamat siang. Apa benar Bapak mengenal pemilik nomor ini?"
"Tentu. Itu nomor kakak saya."
"Boleh saya tahu nama beliau?"
"Arga Wiryawan."
Polisi itu menarik napas pendek.
"Perkenalkan, saya dari Kepolisian Lalu Lintas. Pak Arga mengalami kecelakaan lalu lintas siang ini dan saat ini sedang menjalani penanganan di rumah sakit."
Hening.
"...Kecelakaan?"
Nada suara di seberang berubah.
"Iya."
"Bagaimana keadaan kakak saya?"
"Beliau dalam kondisi kritis."
Terdengar hembusan napas berat.
"Saya mohon Bapak segera datang ke rumah sakit."
"Rumah sakit mana, Pak?"
Polisi itu menyebutkan nama rumah sakit beserta alamatnya.
"Baik. Saya berangkat sekarang juga."
Sesaat kemudian, pria itu kembali bersuara.
"Pak..."
"Iya?"
"Tolong lakukan apa pun yang diperlukan untuk menyelamatkan kakak saya."
Suaranya mulai bergetar.
"Masalah biaya jangan dipikirkan. Saya yang tanggung."
Polisi itu menoleh ke arah pintu ruang tindakan yang masih tertutup rapat.
"Kami sedang melakukan yang terbaik, Pak. Silakan segera kemari."
"Baik."
Sambungan telepon terputus.
Polisi itu menurunkan ponselnya perlahan.
Tatapannya kembali tertuju ke pintu ruang tindakan yang masih tertutup.
Sementara di luar, seseorang sedang berpacu dengan waktu untuk menemui kakaknya.