bc

Berlian Retak

book_age16+
237
FOLLOW
765
READ
family
drama
ambitious
city
small town
slice of life
sisters
naive
like
intro-logo
Blurb

Prita Astuti datang dari keluarga yang tidak terlalu baik secara finansial, pengalaman yang kurang menyenangkan itu membangun watak super ambisius dan oportunis pada diri Prita. Cita-cita itu hampir tercapai, hingga suatu ketika ia tersangkut masalah yang berakibat fatal bagi karier yang selama ini dibangunnya dengan susah payah, belum lagi urusan rumah tangganya yang semakin rumit. Diam-diam ia merasa iri dengan kehidupan kembarannya, Prihatini.

Akankah Prita berhasil mencapai tujuan hidupnya? Atau akhirnya malah terjerembap ke dalam jurang penyesalan yang mendalam?

---------------

Cover: Orisinal |

Pembuat: Annisaa T.K |

Gambar:

h****://www.paxels.com/foto/woman-in-diamond/ |

font:

Nickainly by Canva

Didact Gothic by Canva

Tenor Sans by Canva

chap-preview
Free preview
Pertemuan

Tahun 1987

“Anaknya kembar, Pak.. Alhamdulillah!” bidan yang membantu proses persalinan istri Pak Sumitro memberi tahu, seberkas senyuman pun keluar dari sudut bibirnya.

“Alhamdulillah...terima kasih Bu Bidan.” Pak Sumitro tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Dengan terburu, Pak Sumitro bergegas ke ruang bersalin di mana istrinya berada, untuk melihat istri dan anak kembarnya.

Hari itu cuaca sedikit mendung, di luar gerimis kecil mulai turun, hawa dingin sangat menusuk di bulan Desember. Sebuah Puskesmas yang terletak tepat di sebelah balai desa, menjadi tempat yang rutin dikunjungi istri Pak Sumitro, Bu Aan, beberapa waktu terakhir untuk rutin memeriksakan kandungannya.

Bu Aan cukup ringkih untuk kehamilannya yang ini, selain karena sebelumnya sudah 3 kali mengalami keguguran, karena faktor usia ibu hamil yang masih sangat muda saat kehamilan pertamanya, Bu Aan juga mengandung bayi kembar.

Tadinya bidan keberatan untuk membantu persalinan Bu Aan di puskesmas, mengingat kehamilannya yang berisiko, tapi Pak Sumitro bersikeras meminta Bu Bidan untuk melakukan persalinan di puskesmas saja, karena ia tak punya biaya jika harus melahirkan di rumah sakit.

Pak Sumitro pun jadi teringat, percakapannya dengan bidan beberapa minggu sebelum hari perkiraan melahirkan Bu Aan,

“Tolong lah, Bu, saya ini cuma juru tik biasa saja di balai desa, mungkin gaji ibu di puskesmas saja dua kali gaji saya, Bu, dengan apa saya harus membayar biaya rumah sakit nanti.”

“Tidak bisa pak, peralatan di puskesmas sangat terbatas, takutnya terjadi apa-apa, nanti siapa yang mau tanggung jawab. Apa lagi ini bayi kembar, Pak.”

“Iya Bu, saya tahu, tapi gimana ya Bu, kemarin biaya USG di rumah sakit saja baru saya bayar setengahnya, kalau sekarang ditambah biaya persalinan, jujur saya tidak sanggup.” Pinta Pak Sumitro dengan penuh harap.

“Mungkin nanti saya coba usahakan untuk ajukan dana bantuan desa, Pak. Mungkin bisa meringankan.”

“Tapi Bu...” Wajah Pak Sumitro sudah tak keruan, antara sedih, malu, kesal akan keadaan, campur aduk.

“Sudah Pak, tidak perlu khawatir, jaga kesehatan, nanti kan Bapak harus temani istrinya melahirkan, itu pasti butuh tenaga yang besar bukan hanya masalah biaya.” ucap bidan menenangkan.

Akhirnya, Pak Sumitro pun pulang dengan lesu. Sepanjang jalan ia berpikir, begitu beratnya beban yang ia pikul. Menjadi seorang suami bukan perkara ijab kabul saja, tapi apa setelahnya. Menikah juga bukan soal upacara resepsi yang megah, tapi apa setelahnya. Jangan salah menerka, tidak ada resepsi yang megah atau upacara ijab kabul yang sakral, karena pernikahan Pak Sumitro dan Bu Aan saja hanya dilangsungkan sederhana di kantor KUA desa, bermodal mahar seperangkat alat shalat dan satu ekor kambing yang dibawa keluarganya dari Banyuwangi.

 

***

Pak Sumitro pemuda Jawa yang gagah, bertubuh tegap, dengan kulit sawo matang. Ia datang ke tanah Sunda untuk mengadu peruntungan setelah lulus SMA, karena beberapa kali gagal ikut penyaringan Bintara. Pak Sumitro selalu berdalih tak punya koneksi orang dalam, sebagai kambing hitam setiap kegagalannya ikut penyaringan Polisi itu. Padahal mungkin memang bukan takdir, atau dia yang memang tidak memantaskan diri.

kebetulan pamannya adalah seorang camat di salah satu daerah di timur kota Bogor, setelah pulang kampung saat Lebaran, Pak Sumitro yang saat itu usianya genap 20 tahunan ikut merantau bersama pamannya. Mungkin saja ini salah satu jawaban Tuhan atas doanya, berkat orang dalam, yakni pamannya sendiri, Pak Sumitro berhasil menempati posisi sebagai aparatur negara. Meski hanya sebagai juru tulis desa. Hanya diperbantukan.

Setelah dua tahun bekerja sebagai juru tik di kantor desa, Pak Sumitro kepincut seorang gadis yang kala itu sedang mengurus KTP di antar oleh kakak laki-lakinya, kebetulan gadis itu baru seminggu lalu berulang tahun yang ke-17. Seorang gadis pribumi—ibu-bapaknya lahir dan besar di desa itu, begitu pula nenek-kakeknya, bahkan buyutnya. kembang desa yang baru ranum dan sedang cantik-cantiknya. Aan Komariah.

Bu Aan lahir di tahun kabisat, saat bulan Februari berjumlah 29 hari,  di tanggal itu ia dilahirkan. Jika mengacu pada perhitungan tahun Syamsiah, Bu Aan akan awet muda, karena ulang tahunnya baru akan diperingati ketika tanggal 29 Februari muncul pada cetakan kalender legendaris yang tergantung di dinding rumah—berlatar gambar foto model jadul, hadiah dari toko emas. Yaitu 4 tahun sekali saja.

Tapi sayangnya, orang tua Bu Aan tidak menggunakan perhitungan tahun Syamsiah, jadi ulang tahun Bu Aan bisa dirayakan setiap tahun di bulan Ramadhan berbarengan dengan peringatan Nujulul Quran. Itu juga jawaban kenapa nama panjang Bu Aan adalah Komariah bukan Syamsiah. Ada nama ada cerita.

Jam menunjukkan pukul 10.00 WIB saat Aan remaja menyerahkan berkas pengurusan KTP ke loket di kantor desa. Pegawai kantor desa berseragam coklat s**u mengambil berkas itu, dan mulai membuka lembaran demi lembaran, memeriksa apakah sudah sesuai birokrasi.

“Neng Aan?” Tiba-tiba petugas itu melontarkan kata dari kebisuannya.

“ Iya, Kang..” Sahutnya, sedikit canggung, ia bingung harus menyebut petugas itu apa. Memanggil Bapak rasanya berkesan terlalu tua untuk orang di usianya, maka dengan refleks ia memberikan kata sapaan “Akang” yang secara universal berarti kakak laki-laki dalam bahasa Sunda, tentu saja lebih pas dibandingkan panggilan “Bapak”.

Mendengar dipanggil macam itu, entah mengapa petugas kantor desa mendadak memerah mukanya, seperti udang yang baru keluar dari panci dimsum. Senyuman kecil pun tersungging di kedua ujung bibirnya. Tampaknya, Aan remaja sudah tepat memberikan panggilan itu untuk menyenangkan hati petugas kantor desa, yang usianya paling sekitar 20 tahunan.

“Ini betul namanya Aan Komariah ya?” tanya dia lagi, sambil sibuk mengecek berkas-berkas di tangannya, semuanya ada lima lembar, plus selembar amplop yang entah apa isinya.

“Iya, Kang.. Betul,” jawab Aan remaja dengan logat Sunda yang kental.

“Ini di surat keterangan kelahiran Neng Aan lahir tanggal 28 Februari, tapi di KK ditulisnya tanggal 1 Maret ya, mana yang betul?” Tanya petugas itu, mengernyitkan kening.

Aan hanya terdiam, karena bingung harus menjelaskan dari mana. Ditambah ini baru pertama kalinya ia datang ke kantor desa untuk mengurus-urus dokumen semacam ini. Dia juga mana tahu jika tanggal lahir di Suket Kelahiran dan KK itu harus sama kalau akan mengurus KTP. Benar-benar awam.

Melihat ada yang tidak beres, kakak laki-lakinya yang bernama Dadang akhirnya beranjak dari tempat duduknya yang mirip bangku duduk pasien di ruang tunggu puskesmas, berwarna putih dengan sandaran punggung terbuat dari kayu, dan masih tercium wangi cat, sepertinya bangku ini baru dipoles ulang.

“Ada apa, Neng?” tanyanya pada Aan remaja. Tapi petugas segera menyambar sebelum Aan menjawab pertanyaan Dadang.

“Begini, Pak. Ini ada dua dokumen yang tidak sama datanya, tanggal lahirnya berbeda,” petugas kantor desa itu lantas menyerahkan dua lembar kertas kepada Dadang. Dadang dan petugas itu sepertinya usianya masih sebaya.

“Oh begini, Pak, Neng Aan ini lahirnya itu tanggal 29 Februari, jadi sepertinya yang membuat surat-surat waktu itu bingung antara mau tulis tanggal 28 Februari atau 1 Maret, kan di kalender juga jarang ada tanggal itu, kitu panginten, Pak," jawab Dadang sekenanya.

“Baik..baik..” Petugas itu mengangguk.

“Begini saja, sekarang Neng Aan urus dulu saja penggantian tanggal lahirnya, sampai sama di semua dokumen. Nah, nanti baru diurus pengajuan bikin KTP nya.” Petugas itu kembali menyerahkan berkas-berkas yang diberikan, kecuali selembar amplop yang juga tadi diselipkan di sana. Ternyata isi amplop itu adalah uang.

Aan remaja dan Dadang yang masih bingung, tetap mematung di depan loket penyerahan berkas KTP, sambil menjinjing kertas-kertas yang entah harus mereka apakan. Di tengah kebingungan, petugas yang tadi kembali bersua,

“Neng Aan dan Bapak langsung menuju loket sana, di sana tempat pengurusan dokumen-dokumen yang salah cetak atau mau di perbaiki, nah, setelah dari sana beres, lalu ke loket yang di ujung belok kiri itu, yang ada tulisan legalitas, nanti di urus lagi di sana, sudah itu sebulan datang lagi ke sini, ya, buat ambil dokumen yang sudah diperbaiki. Baru bisa urus KTP. “ Jelas petugas itu panjang lebar, sambil menunjukkan posisi loket-loket yang dimaksud dengan jari jempolnya.

Ngartos atuh pami kitu mah, nuhun ( Kalau  begitu mengerti, terimakasih), Pak Sumitro.” Kata Dadang, sembari melirik tag nama yang digunakan petugas itu di saku bajunya. Aan hanya tersenyum, dibalas senyum lagi oleh Sang Petugas.

Begitulah, pertama kalinya Pak Sumitro bertemu Bu Aan, hanya dibatasi kaca dengan lubang kecil seukuran lingkar tangan di hadapan mereka. Wajah mereka terlihat jelas satu sama lain, tak ada yang tersembunyi. Bahkan hingga t**i lalat Bu Aan yang menempel di bagian atas bibir sebelah kiri, semuanya tampak jelas. 

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

IKHLASKU DALAM DUKA

read
132.1K
bc

Alea (Bidadari tak bersayap)

read
137.1K
bc

Noda Masa Lalu

read
168.3K
bc

Dear Mr. Doctor

read
51.4K
bc

Our Story (Sequel My Ex Boss)

read
305.7K
bc

Hati Seorang Perempuan

read
126.0K
bc

Imperfect Marriage

read
267.8K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play