5. Ketukan hati

1979 Words
Reza mendorong paksa kepala Audi untuk menjauhinya, laki-laki itu beberapa kali tampak mengusap bibirnya yang tadi dicium paksa oleh Audi. Reza tidak menyangka kalau bibirnya akan disosor seperti ini.  Audi yang melihat tingkah Reza pun merasa sangat kecewa. Secara tidak langsung Reza menolak ciumannya. Air mata melesak membasahi mata Audi. Wajah cantiknya kini memerah, bukan amarah yang ada di hatinya tapi lebih ke sebuah kekecewaan. Saat perempuan memiliki komitmen untuk menemani satu pria yang dicintai berjuta wanita, dia harus siap menelan kekecewaan suatu saat nanti. Juga, selama ini Audi sudah tahan gunjingan para fans Reza yang menyerangnya diam-diam, mengatakan dia tidak pantas menjadi pendamping Reza dan bahkan sampai mengorek semua kekurangannya. Tidak semua fans menyukai kehidupan pribadi Reza. Bahkan banyak yang tidak suka Audi menjalin hubungan dengan Reza. Saat itu, Audi selalu berpikir positif dan mencoba acuh, lantaran dia menjalin hubungan bersama Reza yang juga menyayanginya. Namun saat Reza sendiri yang menolaknya, dia bisa apa? “Audi, maafkan aku. Aku tidak bermaksud,” ucap Reza yang panik. Melihat wanita menangis adalah kelemahan terbesar Reza. “Tidak bermaksud apanya, Reza? Aku sudah sering bertanya padamu tentang kejelasan hubungan kita, tapi apa kamu pernah memberikan aku kepastian? Aku capek ditanyain terus sama mamaku kapan kamu lamar aku. Kamu gak pernah bisa peka!“ jerit Audi memukul d**a Reza dengan bertubi-tubi. Reza memaklumi bila Audi sampai seperti ini. Dia sendiri sadar kalau dia menjadi pria yang tidak tegas soal perasaan. Dia menyayangi Audi, tapi untuk ke jenjang berikutnya, Reza belum siap. “Sekarang aku tidak bisa memberimu kepastian, Audi,” ucap Reza pada akhirnya. Mendengar kejujuran Reza, makin membuat Audi terluka. Air mata sudah tak terbendung lagi, Audi menangis lebih kencang. Titik terendah dalam hidup pasti akan dirasakan setiap orang. Saat ini Audi telah berada di titik ini. Di mana dia didesak kedua orangtuanya, tapi kekasihnya tetap tidak ingin memberinya kepastian. Lalu, apakah dia harus bertahan. “Hikss  … aku menyesal sudah meminta kepastian darimu, Reza,” bisik Audi mendorong tubuh Reza hingga pria itu menyingkir. Audi berlalu pergi dengan menahan sesak di dadanya. Apa salahnya dia sebagai kekasih minta kepastian? Audi mematung saat teringat sesuatu. Saat membalikkan tubuhnya, dia mendapati Reza yang sudah berdiri di belakangnya. “Bagaimana aku bisa lupa, kalau seorang pria sepertimu tidak akan cukup dengan satu wanita,” sinis Audi. “Audi, kamu boleh marah denganku, tapi cara bicaramu seolah kamu sudah mengenalku luar dalam. Sejak kapan aku tertarik dengan wanita lain selain dirimu? Aku baru tau kalau kamu meragukan kesetiaanku,” sinis Reza mengusap kasar wajahnya. “Aku tidak akan berpikir demikian kalau kamu bisa memberiku kepastian!” sangkal Audi. “Audi, beri aku waktu. Bahkan sampai saat ini aku tidak paham apa itu pernikahan yang sesungguhnya!” teriak Reza marah. Audi berjingkat kaget, baru kali ini Reza berbicara dengan nada tinggi. “Aku akan menenangkan diri,” ucap Audi kembali berbalik untuk pergi. Reza mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu. Ia mengusap wajahnya dengan perasaan yang berkecamuk. Ia tidak bermaksud melukai hati sang kekasih. Namun, dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Pernikahan, hidup bersama, punya anak, membangun keluarga, belum pernah terpikirkan oleh Reza. Hidupnya hanya sebatas kesenangan dan terbelenggu dalam pemikiran yang kesepian. “Definisi cinta saja tidak bisa aku jabarkan,” gumam Reza mengusap bibirnya. Reza mengacak-acak rambutnya gemas, dia tidak ingin seperti ini. Pria itu ingin berguling di lantai lantaran saking stresnya otaknya memikirkan hal-hal tentang cinta ini. Reza menuju lemari pendingin yang tak jauh darinya. Matanya memandang beberapa botol alkohol yang selalu tersedia di sana. Rasa ciuman Audi tadi tidak berarti apa-apa untuk Reza. Rasanya hambar, tidak seperti yang Reza bayangkan sebelumnya. Bagaimana pun, Reza laki-laki normal, tentu saja dia pernah berfantasi dengan sosok perempuan. Namun, saat merasakan sendiri ciuman, rasanya tidak nikmat. “Nak, kamu sudah mau durhaka sama mama? Kenapa gak mau jemput mama di rumah sakit?” suara seseorang membuat Reza menutup kembali lemari pendinginnya. “Ma.” Reza menghampiri mamanya yang datang bersama seorang anak kecil laki-laki yang kisaran delapan tahun. “Kamu kenapa gak jemput mama? Sesibuk apa sih kamu?” tanya Manda sewot. “Maaf, Ma. Aku baru menulis lagu,” jawab Reza. Reza mengamati anak kecil yang tersenyum ke arahnya. “Hai, Boy. Siapa namamu?” tanya Reza mengusap puncak kepala anak itu. “Teman-teman memanggilku Darel,” jawab anak itu tersenyum. “Darel akan tinggal di sini sama kita. Mama sudah menyuruh orang untuk keperluan hak asuh, anak ini sejak bayi ada di panti asuhan dan kabur saat umur tujuh tahun. Mama yang akan mengurusnya dan membesarkannya,” jelas Manda. “Terserah mama, aku akan menerimanya,” jawab Reza tersenyum. Reza paham betul kalau saat dia pergi manggung ke luar kota, mamanya akan kesepian seorang diri. Papa Reza sudah meninggal beberapa tahun silam, dan mamanya tidak ada niatan untuk menikah lagi. Yang diimpikan mamanya hanya memiliki anak kecil yang bisa diasuh dan disayangi. “Kamu sih gak ada niatan kasih mama cucu,” cibir Manda. “Mama ingin aku segera menikah?” tanya Reza. “Jelas saja, Reza. Semua keinginan orang tua yang punya anak dewasa adalah memiliki cucu!” tegas Manda geram. “Tadi Audi ke sini, dia ingin aku menikahinya,” ucap Reza memberitahu. Reza menarik tangan Darel dan mengajaknya duduk di sofa. Reza mengamati kaki dan tangan Darel yang ada bekas lukanya. Tatapan anak polos itu membuat Reza teringat pada anak-anak d*********s tempo lalu. Tatapan polos tapi tersirat sesuatu di dalamnya. “Kalau sama Audi, maaf mama belum bisa mengiyakan,” ucap Manda menundukkan kepalanya. Reza menatap mamanya, kan mamanya selalu membingungkan. “Kenapa, Ma? Bukankah dia baik? Dia juga mendukung karir Reza,” kata Reza mengelus tangan Darel. Reza tipe orang yang penyayang, saat ada anak kecil dia paling gemas hingga suka sekali mengusap tangannya. “Dia memang baik, dan mama juga sayang sama Audi. Tapi, mama ada kandidat lain yang mama yakin kamu bakal menyukainya,” ungkap Manda dengan antusias. “Tapi, Ma. Kayaknya kakak yang di rumah sakit tidak akan menyukai kak Reza,” celetuk Darel. Sedetik kemudian Darel menutup bibirnya rapat-rapat dengan kedua tangannya. “Maaf aku tidak sengaja, maaf!” ucap Darel panik. Darel sangat takut saat memikirkan ucapannya yang sederhana bisa melukai keluarga barunya. Darel sangat memimpikan sebuah keluarga yang utuh, dan kini doa-doanya oleh Allah dikabulkan. Darel sangat senang saat Manda mengurusnya selama empat hari di rumah sakit. Dia merasa kasih sayang Sang pencipta sangat besar hingga menghadirkan Bu Manda untuknya. “Kamu jangan panik, tidak apa-apa kok. Coba ceritakan pada kakak, kenapa bisa dia tidak mau sama kakak yang tampan ini?” Reza mengelus kepala adik barunya. Sedikit pun Reza tidak tersinggung oleh ucapan polos Darel. Menurutnya itu sangat wajar, dan ucapan anak kecil cenderung jujur. Reza juga sedikit penasaran dengan wanita yang mama dan adiknya ceritakan. “Kakak itu sangat cantik, Kak. Saat malam hari semua tertidur, tanpa sengaja aku terbangun. Aku mendengar suara lirih orang mengaji, suaranya lembut banget, ternyata Kak Syahilla,” jelas Darel. “Mengajinya tidak dengan membaca, Kak. Tapi hafalan, keren banget. Aku ingat kak Syahilla melantunkan surah Al-waqiah, Kak.” Darel berucap lagi. Reza dan Manda melihat binar kekaguman di mata Darel saat menceritakan Syahilla. Manda tidak menyesal sudah mengadopsi Darel, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengurus Darel. Darel terlihat polos dan sangat tulus. Dan Manda pun bangga dengan anaknya yang menerima Darel tanpa protes sedikit pun. Awalnya Manda tidak percaya saat Darel mengatakan Syahilla mengaji di saat semua orang tertidur. Perempuan itu membuktikan sendiri di hari berikutnya, ternyata memang benar dan suara Syahilla sangat indah didengar. “Terus apa hubungannya dia yang suka ngaji tapi tidak suka dengan kakak?” tanya Reza bingung. “Yang aku dengar dari ceramah Pak ustad di masjid, laki-laki baik untuk perempuan baik. Kak Syahilla sangat baik dan pintar mengaji, kalau kakak tidak pintar mengaji, mana mau kak Syahilla sama kaka?” Reza menganggukkan kepalanya. Mengaji? Reza sudah lupa kapan terakhir kali dia melakukan hal itu. Sampai saat ini, Reza tidak yakin dengan keyakinannya sendiri. Mau memeluk agama apa, Reza pun tidak tau. Kalau di identitasnya sebagai warga negara, tertulis dia beragama Islam. Namun menurut Reza, kepercayaan yang dianutnya karena keturunan. Bukan karena keinginannya sendiri. “Oh iya, Mama. Aku belum salat Asyar. Bolehkah aku salat?” tanya Darel setengah takut. Darel pun masih sedikit canggung memanggil Bu Manda dengan sebutan Mama. Namun kalau dia salah manggil, Bu Manda akan menggelitiki perutnya.  Hidup di kerasanya pertokoan membuat Darel menjalani hari-hari beratnya. Sebelum mengamen, Darel pernah bekerja di ruko, saat akan salat pasti si bosnya akan ngamuk karena dinilai membuang-buang waktu. Umur Darel memang masih kecil, tapi dia selalu menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. “Boleh dong, Sayang. Ayo mama antar ke kamar kamu, dan mama ambilkan sarung ya,” ucap Manda menggiring Darel menuju kamar tamu. Untung saja Manda sudah menyuruh orang kemarin untuk membersihkan kamar tamu juga membelikan baju anak dan peralatan beribadah. Saat di rumah sakit, Darel juga memaksa salat. Manda pun dengan senang hati selalu menemaninya. Reza tercenung seorang diri, matanya melihat mama dan adik barunya yang memasuki kamar tamu. Selang beberapa lama, mamanya keluar kamar tamu dan menuju kamarnya sendiri. Reza berdiri, langkah pelan bak orang yang sedang mengedap-edap ia menuju kamar tamu. Dibukanya pelan pintu itu oleh Reza. Tampak Darel sedang duduk di atas sajadah dengan menengadahkan kedua tangannya. Berkali-kali Darel mengucap syukur atas takdir yang sudah digariskan Allah kepadanya. Berawal dari saat dia kecil tidak pernah tau orangtuanya siapa, dan dia dibesarkan di panti asuhan tanpa diberi makan. Lalu bocah itu kabur dan kini ada seorang wanita paruh baya yang mengadopsinya. Reza masuk mendekati Darel, selang beberapa saat Darel menyudahi do’anya. Tampak anak itu menghapus air matanya dengan pelan. Reza tau kalau Darel tengah menangis. Pria itu mengambil duduk di lantai, menanti Darel selesai menghapus air matanya. “Apa aku salat mengganggu kakak hingga kakak ke sini?” tanya Darel polos. “Sini!” ajak Reza menarik Darel untuk duduk di pangkuannya. “Ceritakan pada kakak, kenapa kamu berdoa sampai menangis?” “Aku sedang bersyukur, Kak. Aku bersyukur pada Allah karena dipertemukan dengan wanita baik yang saat ini aku panggil mama, juga bersyukur bertemu kakak baik bernama kak Reza. Allah sangat menyayangiku, membuat hidupku yang semula penuh debu, kini bisa berada di rumah mewah bak istana ini. Tapi aku sangat sedih juga, saat aku sering berbuat dosa, Allah tetap memberikan nikmatnya kepada hambanya,” tutur Darel. “Dosa apa yang bisa dilakukan anak sepertimu?” tanya Reza. “Aku pernah tidak punya uang, aku mencuri mangga di pohon orang, Kak. Kata Pak ustad itu perbuatan tidak terpuji.” “Siapa Pak Ustad yang kamu maksud? Sepertinya kamu mengaguminya.” “Beliau adalah orang pertama yang mengajariku Salat, Kak. Dulu aku hanya gelandangan miskin setelah kabur dari panti, mencari kerja kesana-kesini tapi tidak ada yang mau memberiku kerja. Lalu aku singgah di sebuah masjid kecil, ada Pak Ustad yang sudah tua menawariku minum, memberiku baju dan sarung lalu mengajakku Salat. Awalnya aku tidak tau apa itu salat, terus Pak Ustad menjelaskan. Di awal aku benci saat mendengar kumandang adzan yang sehari semalam lima kali, aku capek mencari uang tapi masih disuruh salat. Namun, hati kecilku terus menggerakkanku untuk menuju ke masjid. Sampai saat ini suara yang paling aku rindukan adalah kumandang adzan,” jelas Darel panjang lebar. Darel mengenang masa-masanya saat awal mengenal Sang Pencipta. “Kamu percaya surga dan neraka?” tanya Reza. “Percaya, Kak.” “Setan itu tercipta dari api, dan nantinya dia akan menempati neraka yang panas. Bukankah ini lelucon saat api bertemu dengan api? Lalu, siksaannya berupa apa? Setan malah senang bertemu habitatnya,” ucap Reza. Darel menatap Reza dengan datar. Plak! Tamparan keras mengenai pipi Reza. Darel lah yang dengan lancang menamparnya. “Kenapa kamu menamparku? Sakit tau,” ujar Reza. “Kak, lihat tanganku! Ini tangan terbuat dari tanah, pipi kakak pun terbuat dari tanah, Tanah bertemu tanah, kenapa tanah merasakan sakit?” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD