2

1141 Words
"Memangnya dengan menangis terus, bisa mengembalikan Rofi!" tanya Mas Rasya sambil menatapku sinis tak bersahabat. Aku terkadang heran, kenapa Mbak Mira mau bertunangan dengan duda satu anak itu. Aku sering memergoki saat ia berduaan dengan Mbak Mira di ruang tamu, seringnya duduk diam-diaman.  Jika sosok Mbak Ndari tak terganti, kenapa memaksa membuka hati? Mungkin juga, alasannya karena Ibu turut andil mencampuri hidupnya, tak henti menyuruh Mas Rasya menikah lagi demi Adnan. Anak lelaki kakak iparku itu tinggal bersama Ibu karena Mas Rasya sangat sibuk. Bekerja dari pagi pulang sore, kadang menjelang dini hari. Rumah kami berdekatan, berjarak 3 kilo dari rumah ibu mertua. Jadi aku tahu betul kebiasaannya.  "Puspita, sudah." Bapak berkata lirih. Tangan Qila kuangkat dari wajah Mas Rofi yang terus membisu, tampak begitu marah.  Tak tahan lagi menanggung kepedihan, aku berlari pergi. Sakit rasanya, andai kamu tahu. Enam tahun kami ihtiar demi datangnya bayi, lalu setelah Qila menjadikan keluarga kami semakin berwarna oleh tangisan dan celotehnya yang menggemaskan, kini Mas Rofi pergi. Apa ini lucu? Kustop taksi yang melintas. Sambil terus menangis dengan Qila dalam dekapan, kusebutkan alamat rumah. Sepanjang jalan tak henti menangis, membuat lelaki tua yang terus mengemudi sesekali menatap dari spion. Aku tak peduli. Manakah yang lebih sakit dari ini? Ditinggal pergi untuk selamanya. Andai aku tahu bakal seperti ini ... Ya Allah. Aku benar-benar tak menyangka kejadian seperti ini akan terjadi. Niat baik ingin membuat Mas Rofi bahagia malah berakhir petaka. Sebagai istri, aku tahu semua tentang suamiku. Luar dalam. Ia terlihat sehat selama ini. Selalu menjaga pola makan dan menghindari makanan berlemak, tak ingin gendut, katanya. Mbak War selalu menyediakan makanan sehat untuk suamiku. Jadi, mana mungkin Mas Rofi meninggal karena serangan jantung?  Jantungku berdetak kencang saat memasuki kamar kami yang ceria. Dindingnya pink terang dengan gambar-gambar Hello Kitty nyaris memenuhi dindingnya. Ada beberapa bunga aneka warna yang telah mengering di dalam pot besar di sudut kamar, dari Mas Rofi. Hampir setiap hari, diberikannya bunga untukku. Kalau dikoleksi dari awal menikah, mungkin sudah berton-ton sampah mengering itu. Aku menghela napas saat tatapan tertumbuk pada ranjang besar berseprei hewan melata tampak begitu nyata. Warna hewan-hewan mengerikan itu hijau terang dengan sisik-sisik yang membuat merinding. Di meja kecil samping ranjang tempat biasa Mas Rofi menyelesaikan pekerjaan yang harus dibawanya ke rumah, tampak kotak mungil dengan pita pink lembut. Kuletakkan Qila ke atas sprei yang membuatnya seolah tengah tidur di badan beberapa ular lalu meraih kotak di meja, membukanya pelan dan menahan napas. Seharusnya, jam mewah ini ada di tangan Mas Rofi saat ini. Seharusnya, kami sedang tertawa-tawa di ruang tamu dengan Ibu dan Bapak, dan aku akan menyuapi Mas Rofi potongan kue tar penuh cinta dengan Qila di pangkuannya. Seharusnya .... Air mataku menetes. Ya, Allah. Apa ini mimpi? Aku menggigit bibir kuat, rasa nyeri yang ditimbulkannya menegaskan bahwa yang kini terjadi bukan halusinasi. Nyata. Seprei hewan melata yang membuatku bergidik itu adalah bukti bahwa beberapa hari lalu, aku menerima tawaran Susi atas barang yang dijajakannya. Katanya, aku harus mencoba sesuatu yang baru. "Memberi kejutan kok, monoton," katanya sambil mengerling menggoda, menyenggol bahuku agar temannya ini mau membeli yang ditawarkannya.  Kupikir, tak ada salahnya. Pasti, lucu, melihat ekspresi Mas Rofi saat melihat motif seprei di mana Qila tengah tengkurap menghadapku. Membuatnya seolah tengah berada dalam tubuh ular-ular besar. Ya. Mas Rofi paling benci ular. Jangankan hewan itu, ketiban cicak saja lelakiku sudah teriak-teriak. Tak puas hanya dengan seprei bermotif ular, aku memutar otak bagaimana agar kejutan kali ini tak biasa-biasa saja. Kuhubungi semua kerabat Mas Rofi, mengatakan pada mereka agar datang. Mas Rofi pasti akan senang dengan perhatian istrinya ini. Tapi, apa yang terjadi? Ini mendadak dan begitu cepat. Tatapanku terpantik pada foto di atas meja. Foto Mas Rofi tengah tersenyum menggoda, seolah meminta agar aku segera merebah di dadanya. Saat itu, aku cepat-cepat mengambil HP dan mengabadikan gayanya yang lucu itu. Aku tersenyum kecil terngiang sepenggal kisah kebersamaan kami dulu, lalu menangis kencang. Bagai mimpi. Semua terjadi begitu cepat. "Ooeeek. Oeeeek. Oeeeeek." Aku menoleh menatap ke arah Qila, tangannya bergerak-gerak dengan mimik wajah sedih, minta diangkat. Matanya yang bundar jernih berkaca-kaca. Menatap bocah tanpa dosa itu, seolah silet tajam tengah digerakkan ke arah dadaku dengan begitu cepat. Ngilu. Sangat ngilu. Tuhaaan, kenapa ini terjadi begitu cepat? "Oeeeeek. Oeeeeek." Qila pasti haus, begitu kata suami sambil membopong Qila ke arahku saat bayi mungilnya mulai menangis. Biasanya sambil meletakkan Qila ke pangkuanku, ia akan mengecup keningku lembut penuh cinta. Kuraih Qila dalam dekapan, membuka jilbab, lantas tanganku bergerak membuka dua kancing teratas. Qila langsung menyusu dengan tak sabar, membuatnya sesekali tersedak. Di sudut mulutnya tampak air kental warna putih, bergulir ke dagunya lalu membasah di lehernya. Tangan Qila bergerak-gerak di payudaraku, dengan tatapan bening berkaca-kaca, memandangku lekat.  Siapa yang akan menyangka, boca polos seumuran Qila mendadak kehilangan sosok yang dibutuhkannya? Atas ketaksengajaan ibunya. Kejadian siang tadi saat aku berkata tengah hamil pada Mas Rofi, tiba-tiba menghantam benak. Saat ia menyentuh dadanya dengan tatapan kecewa dan tampak luar biasa geram, saat ia menepis tanganku kuat. "Mas Rofiii!"  Aku tak tahan lagi. Beban ini begitu berat. Aku ingin menangis kencang menumpahkan semuanya. "Mas Rofiii!" Teriakku sambil terisak. Beban ini sangat menyakitkan.  Mengalun lagu 'selamat ulang tahun. Aku sengaja merekam suaraku sendiri. Mengalun merdu. Selamat ulang tahun Selamat ulang tahun Panjang umurnya Panjang umurnya Panjang umurnya Mas Rofi tercinta Mas Rofi tercinta Aku tersengal-sengal dengan Qila dalam gendongan. Mulut Qila berhenti bergerak, ia menatapku dengan matanya yang jernih lalu perlahan-lahan bibirnya melekuk senyum lebar. Duhai lucunya anakku ini, yang harus kehilangan ayahnya karena kelalaian ibunya. Selamat ulang tahun Semoga panjang umur "Mas Rofiii!" "Mas Rofiii!"  Aku berteriak-teriak sambil mengusap air mata di pipi. Air mata yang sebagian jatuh di wajah Qila yang terus memandang ibunya lekat, dengan bibir mungil yang sebentar-sebentar tersenyum lebar. Ia kembali menyusu, dengan tatapan lekat ke wajahku. Sesekali, ia berhenti menghisap untuk melekuk senyuman. Apa dikira Qila, aku sedang mengajak bercanda? Sesuatu yang besar sedang terjadi, Nak. Anakku. Andai kamu tahu. Melihat Qila, membuat tangisku semakin kencang, menggema berbarengan dengan lagu yang telah kurekam. Selamat ulang tahun "Maas Rofiii!" Aku tersentak saat pintu kamarku didorong membuka. Mas Rasya berdiri di ambang pintu dengan tatapan seperti binatang buas tengah mengintai mangsa. Aku cepat-cepat memasukkan p*yud*r*ku lalu mengenakan jilbab. Tindakanku yang tergesa, membuat Qila yang tengah menyusi menangis kencang. Oeeeeek. Oeeeeek. Oeeeeek. Aku terisak-isak. "Tangisi saja terus! Biar adikku semakin tidak tenang!" Tatapan Mas Rasya yang sinis memancar permusuhan tak kuhiraukan. Aku sangat sedih. Tak bolehkan menangis? Aku sangat sedih. Sedih. Begitu kehilangan dan terpukul. Ia mendekat lalu meraih Qila yang terus menangis.  Selamat ulang tahun Semoga panjang umur Terdengar bunyi bel. Ting nung! Ting nung! "Apa ada di dalam?" Itu suara Susi, kawan karibku. "Halllooo."  "Kami masuk, ya?" "Halllooo!" "Puspitaa, Rofii, kami masuk, yaa!" Selamat ulang tahun Semoga panjang umur Selamat ulang tahun Selamat ulang tahun Aku terisak-isak.  "Puspitaa." Suara itu semakin dekat. Semakin dekat. Lalu Susi melambai di ambang pintu kamar, berdiri di dekat Mas Rasya yang membisu. Qila dalam gendongannya berceloteh riang, menatap ke arahku seolah ingin kembali diberi ASI. "Pita, mana Rof--" ucapan Arman, saudara jauh Mas Rofi terhenti. Ia menatap ke sekeliling ruangan lalu berkata dengan suara lirih, "Apa belum selesai kejutannya? Kuletakkan di mana ini kadonya?" Lalu tamu yang lainnya berdatangan membawa bingkisan besar. Mas Rasya terus membisu, menatapku sinis penuh permusuhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD