Bagian ketiga

1132 Words
Hari pemotretan tiba untuk Lethisa, gadis 23 tahun dengan tinggi 170cm itu bergaya didepan kamera Luke, sebenarnya Lethisa masih sedikit kaku karena biasanya Nathan menfoto dirinya tidak dengan berpakaian sexy seperti ini. Luke menurunkan kameranya menatap Lethisa sambil berkacak pinggang "Santai saja anggap aku ini adalah kakakmu atau apapun yang bisa membuatmu tidak canggung dan lebih rileks" ucap nya. "Apa aku tidak bisa memilih pakaian yang lain? Ini terlalu terbuka aku sedikit tidak nyaman" jawab Felisa. Stacey datang membawa gelas kopi ditangan nya "Itu konsekuensi untuk menjadi model jadi apapun yang diberikan padamu untuk pemotretan kau harus memakainya" Sahut nya. Lethisa tidak sempat memikirkan bagian itu. Luke mendekati Lethisa mengarahkan perempuan itu untuk lebih santai agar pengambilan gambar hari ini cepat selesai. Lethisa menghela nafas berat. "Baiklah aku paham aku akan berusaha yang terbaik" katanya. Luke mengacungkan kedua jempol nya. "Itu bagus kalau begitu mari bekerja sama" ujarnya sambil tersenyum. Tiga kali ganti baju dengan sesi waktu pemotretan dua jam akhirnya Lethisa selesai pengambilan gambar untuk hari ini. Seorang pria tak dikenal berdiri melihat penampilan Lethisa barusan, pria itu berbicara pada Stacey. Lethisa mendekati Luke. "Siapa pria itu?" bisik nya. Luke menutup lensa kameranya setelah melihat hasil jepretan barusan lalu melihat kearah yang Lethisa tunjuk. "Oh dia orang yang aku maksud kemarin namanya Ben, dia sepertinya suka dengan bakat modelmu" Jawab Luke. Pria yang bernama Ben itu bukan pria macho melainkan sedikit feminin dengan gaya seperti perempuan, jadi pria seperti ini yang menaungi agensinya?. "Aku sudah melihat usahamu hari ini Mrs.Kinney dan itu cukup bagus" ucap Ben memuji. "Thanks sir" Ben mengangguk "Apa ada yang dilakukan setelah ini?" tanya nya. Lethisa menggeleng. "Kalau begitu ikutlah denganku ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu" lanjutnya. Lethisa menatap Stacey dan wanita itu mengode Lethisa untuk mengikuti Ben. Lethisa pun bergegas mengganti pakaian nya lalu ikut bersama pria bernama Ben. Pria feminin itu masuk ke ruangan nya mempersilahkan Lethisa duduk. "Apa kau ingin karir yang bagus di dunia model?" tanya Ben langsung. Tentu saja mau bukan nya itu sudah keputusan Lethisa untuk menerjuni dunia sebagai seorang model. "Tentu saja tapi apa ada cara khusus untuk memiliki karir bagus?" Lethisa balik bertanya. Ben tersenyum "Tentu saja ada kau hanya perlu mengikuti arahanku dan kupastikan kariermu akan melejit seperti bom waktu hingga kau tidak akan sadar jika posisimu sudah ada diatas tapi--" katanya sengaja menggantung. "Apa ada syarat khusus yang harus aku lakukan?" tanya Lethisa penasaran. "Bingo!" sahut Ben "Tapi ini rahasia hanya orang-orang tertentu yang mendapat tawaran seperti ini kurasa kamu pantas menerimanya" kata Ben meyakinkan. Perasaan Lethisa mulai berdebar-debar kira-kira syarat seperti apa yang harus dia lakukan agar kariernya berkembang pesat dalam waktu yang tidak begitu lama, Lethisa butuh biaya hidup apalagi tak ada orang yang akan membantunya untuk saat ini selain percaya pada kemampuan diri sendiri. "Apa kamu yakin menerima tawaran ini jika iya aku sudah menyiapkan kontrak untuk kamu tanda tangani sebagai perjanjian resmi setelah itu kamu akan mendapat akomondasi sebuah apartemen untuk jaminan langsung dari perusahaan" Ben menyodorkan beberapa lembar kertas untuk Lethisa. "Ingatlah ini bersifat rahasia jika sampai kamu membocorkan rahasia ini aku jamin semua orang yang dekat denganmu tidak akan bisa hidup dengan tenang" ancam Ben. Lethisa membaca perjanjian yang tertulis didalam lembaran kertas itu dan ada satu bagian yang membuatnya tanpa sadar menjauhkan kertas itu dari hadapannya, Ben tersenyum miring saat Lethisa menatapnya syok. "Aku tidak mau" jawab Lethisa. "Yakinkan dirimu lebih dulu, sebuah apartemen lalu karier yang bagus apa itu masih kurang untukmu?" Ben sengaja membuat Lethisa berpikir dalam tapi ada bagian didalam perjanjian itu tertulis. 'Siap menjadi teman tidur' Menjadi teman tidur artinya memuaskan sesuatu pada lawan jenis bukan? Lethisa tidak terlalu bodoh dengan satu kalimat itu. Tapi bayangan sebuah apartemen dan penghasilan yang memadai itu mampu sedikit mengubah pemikiran nya, jika ia punya banyak uang Lethisa tidak perlu merepotkan keluarga Nathan lagi. "Siapa yang dimaksud di dalam surat itu?" tanya Lethisa memastikan. "Kamu akan menemuinya setelah menandatangani nya kau tenang saja orang itu bukan aku atau Luke tapi dia orang yang berbeda kemungkinan belum pernah kamu temui" Lethisa kembali berpikir akankah ia mengambil jalur singkat demi karier nya?. "Masih banyak orang yang mau jika kau menolaknya jadi keputusan ada ditanganmu" Ben mengambil kembali kertas yang ada di depannya namun Lethisa menahan kemudian mencoretkan tanda tangan diatas kertas tersebut. Ini adalah pilihan demi kehidupan yang lebih baik dan jika Lethisa merasa tidak cocok dengan pria yang Ben maksud maka Lethisa hanya perlu melompat dari puncak gedung untuk mengakhiri hidup nya. "Kapan aku menerima apartemen itu?" ucapnya setelah selesai menandatangani kontrak. ____ "Apa yang dikatakan Ben padamu?" tanya Luke. "Stacey ingin melatihku seperti apa yang kamu katakan kemarin sepertinya aku memiliki kesempatan menjadi yang terbaik sampai Ben menawarkan apartemen khusus untukku" jawab Lethisa. Luke berhenti melangkah untuk menatap Lethisa "Jadi kau akan pindah dari sini?" Lethisa mengangguk "Gedung ini bukan milikku aku hanya meminjamnya dari seseorang dan kini aku memiliki apartemen jadi tidak perlu meminjam milik orang lain lagi pula aku tidak mau merepotkan orang yang dekat denganku" katanya, Luke mendesah pelan. "Padahal baru beberapa hari kau menjadi tetanggaku sekarang kau sudah harus pindah lagi" Ucapnya lesu. Lethisa tertawa pelan "Kita masih bisa bertemu di pengambilan gambar berikutnya kan?" "Selamat atas kesempatan yang kau dapatkan hari ini semoga saja kariermu semakin bagus oh ya kamu akan pindah kapan?" tanya Luke. "Nanti sore" "Secepat itu?" ujarnya. Lethisa meringis "Apa ada masalah?" tanya nya hati-hati. Luke menggeleng. "Aku hanya terkejut aku pikir kau akan pindah besok pagi atau lusa agar aku bisa membantumu tapi jika nanti sore aku tidak bisa pasalnya ada hal yang aku kerjakan" "Tidak masalah aku bisa melakukan sendiri lagian barangku tidak begitu banyak" Luke tersenyum "Meskipun kita belum lama saling mengenal kurasa aku menyukaimu sebagai teman" Luke mengeluarkan satu lembar Foto untuk Lethisa. "Aku mengambil fotomu saat pertama kali kita bertemu dan kini itu jadi milikmu sebagai hadiah dari seorang teman" Ucap Luke. Lethisa menerima foto yang Luke berikan "Terima kasih" ucap nya. Luke mengangguk "Kalau begitu sampai jumpa di tempat kerja" pamitnya. Lethisa terkekeh pelan lalu pergi ke tempat tinggalnya untuk segera beres-beres karena sebentar lagi dirinya akan pindah ketempat yang lebih luas dan nyaman. Sekitar dua jam Lethisa berberes dan diarahkan oleh seseorang menuju sebuah apartemen menunjukkan dimana Lethisa akan tinggal hari ini setelah itu orang yang mengantar Lethisa segera pamit. Sebuah kamar yang sangat luas dimana kadang hanya dapat Lethisa lihat di dalam tv atau ponsel tapi kini ia memilikinya sendiri. Tubuhnya dibaringkan diatas tempat tidur yang sangat nyaman, telapak tangannya mengusap seprai yang lembut itu tapi telinga seperti mendengar sesuatu apa di apartemen ini bukan hanya dirinya saja?. Lethisa kembali duduk menatap pintu kamar mandi hingga pintu itu terbuka, bola mata Lethisa membola melihat seorang pria keluar dari sana hanya dengan memakai lilitan handuk dipinggangnya. "Kau siapa!" pekik Lethisa. ____ Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD