Luka masa lalu

1869 Words
Starla mengulum tawanya, ia mengulurkan segera tangannya untuk membantu Bintang. Cowok itu bukannya marah atau malu, justru memamerkan kepahlawanannya. "Gila gue keren banget tadi. Lo liat gue nyelamatin lo tapi gue malah kena sial haha memang pahlawan gue." Bintang berceloteh sambil menepuk-nepuk jasnya yang kotor. Sedangkan Starla sibuk tertegun memperhatikan wajah cowok itu yang terlihat begitu menggemaskan. Sepertinya Starla mengambil kesimpulan jika Bintang bukan tipe orang yang gampang marah. Buktinya tadi dia justru membuat lelucon dengan membanggakan dirinya sendiri. Selesai dengan kegiatannya, Bintang memergoki Starla sedang menikmati ketampanannya. Yang ketahuan, mengalihkan kontak mata, pura-pura berdehem dan membenarkan rambutnya. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Tangan Starla menggantung saat Bintang memajukan tubuhnya sangat dekat dengan jarak gadis itu. Tinggi Bintang yang melewati kepalanya itu membuat Starla hanya bisa terdiam menikmati aksi Bintang. Cowok itu menggantikan Starla membenarkan rambutnya, mengelusnya dengan lembut. Puk! Puk! "Bintangggg!" Bukan Bintang namanya jika tidak beraksi. Cowok itu memang terlihat sangat lembut di awal, setelah apa yang dia lakukan pada Starla. Menepuk-nepuk kepalanya lalu mengacaknya kembali. "Benerin sendiri jangan manja. Jangan kebanyakan nonton drama lo." Bintang menjauhkan dirinya, berdiri di samping Starla. Cowok itu bersikap biasa saja tanpa senyum dan tanpa Bintang yang bersikap manis seperti tadi. "Sialan lo!" Starla mengumpat, lalu gadis itu membenarkan rambutnya kembali dengan kesal. Bintang yang melirik Starla tersenyum singkat. Ia sengaja mengerjai gadis itu supaya jantungnya aman. Satu menit kemudian, bus terlihat dari arah kiri Bintang. Cowok itu bersiap-siap ingin menghentikan, padahal bus sudah otomatis akan berhenti. Bus berhenti, pintu terbuka otomatis. Bintang dengan cepat menaiki bus itu lalu membayarnya dengan kartu untuk dua orang, tanpa menggandeng Starla ala drama korea biar terlihat romantis. Starla yang tersadar, langsung naik dengan cepat dan berdiri di tengah para penumpang yang duduk. Tempat duduk penuh, tidak ada yang kosong. Gadis itu berdiri di samping Bintang. Di belakangnya ada seorang lelaki, Starla berharap Bintang menggantikan lelaki itu karena Starla risih. Lelaki itu terlalu menempel membuat Starla harus maju-maju dengan keadaan bus yang bergoyang-goyang. Ia berpegangan dengan kuat pada alat yang sudah disediakan. Sebentar melirik Bintang yang sudah sibuk dengan aerphone putih di telinganya. Starla mendengus, sudah ia duga Bintang tidak akan peka sama sekali. Bukan apa-apa, masalahnya Starla menahan panik dari tadi. Sedangkan Bintang enak-enakan berdiri sambil lihat pemandangan luar dengan tenang. Starla kemudian menunduk, tubuhnya ia rapatkan ke depan tempat penumpang yang duduk, tangan satunya masih sibuk menggantung. "Mas, tolong geser ya." Bintang menghampiri mas-mas yang di belakang Starla. Gadis itu tidak sadar jika Bintang sudah ada di belakangnya. Tangan satunya ia gunakan untuk berpegangan pada alat yang menggantung, sedangkan tangan satunya lagi dia gunakan untuk bertumpu pada senderan bangku penumpang. Saat bus berhenti mendadak. Starla terpental sedikit ke depan, untung tangan Bintang yang satunya siap memeluk pinggang kecil gadis itu. Starla terkejut. Ia memekik tanpa sadar karena panik. "Mas, jangan m***m!" Starla memukul-mukul tangan Bintang tanpa sadar karena ia kira itu mas-mas tadi. Membuat seisi bus menjadikannya objek. "Ini gue." Bintang masih memegang pinggang Starla. Takut gadis itu jatuh terjerembab membentur bangku. Suara yang familiar di telinga walau beberapa jam masuk secara nyata bukan virtual membuat gadis itu terdiam. Starla tidak memberontak, ia sadar sudah membuat keributan. Dengan begitu Starla menunduk dan menangkup kedua tangannya guna meminta maaf pada semua orang di sana. Yang masih melihat, ada yang terdiam saja dan ada yang tersenyum penuh arti. "Pacarnya gercep banget, Neng. Ada di saat membutuhkan." Beberapa menyetujui pendapat salah satu penumpang tersebut. Suasana begini membuat keduanya salah tingkah. "Berhenti, Pak!" Bintang menekan tombol berhenti dan otomatis bus berhenti di halte dekat rumah Starla. Cowok itu menarik Starla dalam genggamannya. Berjalan sangat cool dengan Starla yang masih ia tarik dengan lembut. Bintang membawa Starla berjalan menyusuri jalanan yang sudah sepi. Jarang ada kendaraan lewat dan orang lewat jika sudah malam begini. "Kita mau ke mana?" Bintang yang ditanya langsung berhenti saat mereka cukup menjauh dari halte, diikuti Starla. Cowok itu melepas genggamannya kemudian mengambil earphone yang daritadi menempel di leher, lalu dipindahkan ke leher Starla. "Dengerin itu ya sampai kamar lo. Jangan dilepas sampai lo bener-bener masuk kamar." "Yang warna biru juga." Starla mengerti, ia mengangguk. Bintang begitu baik padanya. Hari ini dia memberikan perhatian kepada gadis itu dengan tulus, Bintang tidak pilah-pilih teman. "Yaudah kita pisah di sini, gue nggak tau rumah lo di mana. Inget, lo—" "Makasih." Starla mampu mengunci mata Bintang untuk seperkian detik. Keduanya hanyut dalam tatapan yang sulit diartikan. Angin membawa mereka pada buaian keindahan mata masing-masing. Malam menjadi saksi, bahwa Starla detik itu juga menyukai Bintang. Bulan akan menjadi perantara Bintang yang sebenarnya telah hadir dalam hidupnya. Bintang Gentala. Bintang yang mampu memberikan sebuah sinar yang mampu menghangatkan sekaligus memberikan cahaya di saat Bintang lain mulai redup. "Udah natepnya jangan lama-lama nanti gue bablas lo mau?" "Hey!" "Eh?" Starla tersadar. Ia jadi malu sendiri kepergok doi. "Pulang cepetan. Jam segini biasanya—" "Iya iya gue pulang." "Bia—" "Jangan lanjutin." Starla buru-buru memasang earphone putih milik Bintang dan menyalakan lagu yang ada di playlist sana. Nada-nada mengalun indah bersamaan senyum manis Bintang yang membuatnya kembali berdebar. "Cepetan!" Bintang mendekat, membalikan badan Starla untuk jalan ke depan. Akhirnya Starla melangkahkan kakinya perlahan tanpa menoleh. Membiarkan senyum terbit begitu saja bersamaan lagu cinta yang mengalun indah membawa langkahnya untuk kembali ke rumah. Bertemu Bintang hari ini membuat hari pertama sekolah begitu menyenangkan. Hampir satu tahun dia hanya di rumah saja, keluar jika ada perlu. Karena bumi sedang tidak baik-baik saja. Dan sekarang bumi kembali membaik, kesehatan serta kebersihan diutamakan. Era baru membawa perubahan. Bintang itu tiba-tiba hadir Disambut dengan baik oleh bintang lainnya Wajar saja hati bergetar tak menentu Rupanya ia sudah jatuh hati padanya Di malam tanpa kelabu Di bawah purnama tanpa sendu Definisi kenyamanan membuat seseorang ingin cepat kembali bertemu di hari esok dan selamanya. Berharap kisah itu akan terus ditulis bahagia. *** Pintu rumah bercat putih yang tingginya melebihi kepala gadis itu, terbuka dengan hati-hati. Ada kecemasan dalam dirinya, meski ia menuruti perintah Bintang untuk melewati ruang tamu dan langsung masuk kamar dengan earphone yang menempel. Namun, perasaan yang seringkali muncul setiap malam menghantuinya itu kembali menyergap. "Ayah jangan pernah bawa-bawa Starla. Dia nggak salah, yang salah aku." Itu suara yang sering ia dengar. Di jam seperti ini, sudah menjadi makan malamnya hampir setiap hari. "Bunda jangan belain dia terus. Jelas-jelas anak itu pembawa sial. Dari dulu saya sudah meminta untuk kamu menggugurkannya, tapi kamu keras kepala membesarkannya." Deg. Kalimat itu berhasil membuat Starla mematung. Starla mengingkari janji Bintang, gadis itu berhenti di antara mereka, melepas earphone yang Bintang berikan dan mendengar semuanya. Starla menatap nanar punggung ayahnya, cinta pertama yang ia harap mampu mengelus rambut putrinya dan memuji putrinya seperti Ayah memuji orang lain, tidak ada. Starla tahu, jika Ayah tak sudi memiliki anak seperti dirinya yang hanya menyusahkan. Dari lahir dia sudah membuat mereka menangis dan terluka. Karena sering masuk rumah sakit, mereka kesusahan mencari biaya hingga akhirnya Ayah frustasi. Sudah banyak hutang sampai mereka dicaci maki dengan sebutan keluarga pengutang dan melarat. Ayah kira dengan lahirnya Starla akan membawa keberuntungan, karena Ayah sangat mencintai Bunda. Tapi, ternyata dugaannya salah. Justru Starla dianggap pembawa sial dalam keluarga. Toko yang dibangun mereka juga dinyatakan bangkrut karena dianggap semua terjadi karena Starla. Sampai Ayah meminta Bunda untuk menghempaskan Starla dari rumahnya berkali-kali bahkan ingin membunuh putri kecilnya karena terlalu benci dan muak. Suatu malam, ketika Ayah masih bekerja sebagai penjual minuman di sebuah tempat wisata. Ia pulang dengan keadaan basah kuyup serta babak belur di bagian wajahnya. Bunda menghampiri Ayah dengan tergopoh-gopoh lantaran suaminya mengetuk pintu dengan sangat keras. Tiba di depan matanya, bibir itu membulat. "Ayah—" "Semua gara-gara anak sialan itu!" Ayah kerap sekali membawa nama Starla dengan sebutan anak sialan tanpa berperasaan di depan bocah kecil yang berdiri dengan polosnya. "Ayah," panggil Starla kecil, mendekati lelaki yang sejauh ini tidak pernah memeluknya seperti Ayah yang dimiliki teman-temannya. Ia hanya mendapat kemarahan dan u*****n tiap kali mereka bertemu. "Jangan mendekat!" Ayah memberikan tangan kanannya ke depan tanpa mau melihat putrinya, sebagai tanda jika Starla tidak boleh menyentuhnya secuil pun. Starla gemetar, pelupuk mata yang menggenang air bening itu meluncur begitu saja. Isaknya mulai terdengar begitu jelas tanpa menarik iba hati sang Ayah. Tanpa disuruh, waktu berjalan cepat. Ketika Bunda ingin menarik putrinya. Ayah mendekat dengan jarak 3 langkah terpaksa menatap wajah putrinya yang menunduk, sesenggukan. "Kamu harus mati." Ayah mendekat, mencekik leher Starla tanpa sadar itu adalah buah hatinya. Bunda dengan cepat berteriak dan minta tolong untuk suaminya melepas dan menghentikan kegilaan itu. Namun, tenaga Ayah yang kuat membuat Bunda terpental. Prang! "Bundaaa!" Darah keluar dari telapak Bunda. Pecahan vas bunga menancap di sana. Starla histeris menghampiri bunda lalu memeluknya erat. Ia takut ia panik dan bingung. Beberapa lama Ayah terdiam, mengepal kuat tangannya. Laki-laki itu melangkah cepat, menarik paksa Starla lalu menghempaskan tubuhnya ke lantai sampai tangan gadis itu tergelincir. "Aw!" Starla menahan sakit di pergelangan tangan yang rasanya nyeri sekali. Ia menangis, memperhatikan Bunda yang terpejam kesakitan. Melihat Bunda dan sikap ayahnya jauh lebih sakit daripada kesakitan yang ia rasakan. "Benar-benar pembawa sial!" Ayah membopong Bunda, mengabaikan Starla yang semakin nyeri rasanya seperti putus urat-urat tangannya. "Hiks ... Hikss tolong Bunda, Tuhan ...." *** Ayah adalah Ayah yang akan tetap membencinya sampai sekarang. Bunda memilih untuk membawa Starla pergi dari rumah dan tinggal di rumah Kasih Kita ketika Ayah semakin keterlaluan main kasar. Di sana mereka tumbuh, hingga akhirnya Ayah memutuskan menjemput Bunda. Bunda memilih kembali dengan syarat Ayah harus membawa Starla kembali juga. Karena Ayah mencintai Bunda maka ia membiarkannya tanpa menganggap Starla ada. Ia menganggap Starla hanya orang asing yang menumpang dirumahnya. Bahkan, satu atap tapi tidak saling komunikasi. Hanya ada perang dingin. Hanya ada sahutan dan u*****n kekesalan yang masih ditujukan untuknya. Apakah benar karena kelahirannya adalah pembawa sial? Kenapa Ayah begitu benci? Starla berharap Ayah berubah. Katanya hati manusia itu gampang berubah, dan Starla berharap itu pada ayahnya. Ayah hampir gila karena dia juga orangnya tempramental. Entah hal lain apa yang mengakibatkan Ayah membenci Starla selain karena alasan pembawa sial. "Saya lebih baik kehilangan dia daripada semua perjuangan saya selama ini musnah karena kehadiran anak itu." "Ayah, sadar. Itu bukan kesalahan Starla. Dia tidak tahu apa-apa. Dia masih kecil saat itu dan ini sudah takdir kita. Lagian kita sudah berangsur membaik." "Sama saja dia itu pembawa sial, Renita!" Ayah meluapkan semuanya. Napasnya memburu, sorot matanya menggelap penuh kebencian. Ribuan kata sadar dan penjelasan tidak akan bisa mengalahkan rasa benci yang tertanam semakin dalam di sana. Starla tidak mengerti apa yang harus ia lakukan. Berkali-kali ia meminta maaf pada bundanya, karena dia mereka selalu berdebat dan berujung bertengkar. Karena dia pembawa sial. Starla berlari melewati keduanya. ayahnya tampak terlihat muak, sedangkan Bunda merasa gagal menjadi seorang Ibu yang seharusnya tidak menjadikan putrinya sumber kebencian suaminya. Berkali-kali Starla harus menelan kebencian tanpa alasan. Tahu, kan jika seseorang benci, maka sebaik apa pun kita di matanya akan selalu salah dan akan dibenci sampai hatinya luluh sendiri. Bunda selalu berdoa suaminya segera menyadari, jika putri satu-satunya itu adalah anugerah terindah di hidup mereka. Cahaya di saat mereka benar-benar butuh. Harta yang tidak pernah bisa digantikan dengan uang yang sekarang mereka miliki. Dan permata yang akan selalu hadir di keluarga mereka sampai kapan pun. Kapan Ayah akan menganggap itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD