Gadis Pekerja Bar

1448 Words
Malam hari di awal musim semi. Seorang gadis bertubuh tinggi sedang dengan berat badan sekitar 49 kg, tengah menatap pantulan dirinya di cermin. Cahaya remang kekuningan di ruangan sempit tempat ia berada saat ini membuatnya harus memicingkan mata untuk memeriksa riasan wajahnya, takut kalau itu akan terlihat menor ketika ia berada di ruangan terang nanti. Tapi syukurlah, sepertinya riasan wajahnya tampak natural, tidak terlalu mencolok. Ya, ia memang selalu menghindari riasan menor walau atasannya selalu mengomel padanya, katanya riasannya yang seperti ini tidak akan bisa menggoda pelanggan. Hah! Masa bodo. Memangnya ia bekerja untuk apa? Ia hanya bekerja paruh waktu di tempat terkutuk ini. Tidak perlu repot-repot menuruti segala aturan yang membuat harga dirinya semakin direndahkan. Pandangannya beralih turun menatap seragam hitam putih super ketat dan mini yang tengah ia kenakan. Seperti biasa, ia tidak pernah tidak mencibir jijik ketika menatap tubuhnya mengenakan seragam ini. Lihat saja, lekak-lekuk tubuhnya jadi terpampang begitu jelas, benar-benar memalukan. Tapi apa boleh buat, ia terpaksa mengenakan pakaian terkutuk ini jika sedang bekerja di tempat ini. Gadis itu, Lee Ha Na, ia memutar badan, berusaha melihat pantulan belakang tubuhnya di cermin. Tubuhnya yang sedikit berisi membuat rok hitam ketatnya semakin terlihat pendek. Ia menurunkannya sedikit, berharap itu bisa menutupi bagian yang ingin ia tutupi. Tapi tentu saja itu tidak banyak membantu. Pakaian ini seperti sudah di design untuk menjadi sependek itu. “Ah, aku benar-benar benci pakaian ini.” Ia mengeluh. “Apa aku benar-benar tidak bisa mendapat seragam yang lebih besar sedikit saja?” “Itu tidak akan pernah terjadi. Tugas kita disini selain sebagai pelayan adalah untuk menarik perhatian pengunjung agar mau membeli minuman.” Seorang gadis berambut coklat sebahu menjawab Ha Na. Dia mengenakan seragam yang sama dengannya. Gadis itu, Han Ye Rim, ia tersenyum lembut pada Ha Na, sambil mengikat setengah rambutnya ke belakang, menyisakan sedikit poni di depan. Wajahnya yang kecil jadi terlihat lebih manis dengan tampilan rambut seperti itu. “Yang penting 'kan kita tidak menjadi seperti orang-orang yang ada di ruangan sebelah itu,” sambungnya lagi. Ha Na paham betul apa yang dimaksud Han Ye Rim. Ruangan sebelah adalah tempat perkumpulan para wanita bayaran yang bisa disewa secara tersembunyi setiap sabtu malam. Walaupun orang-orang seperti itu hukumnya sangat ilegal di kota Seoul, namun tetap saja ada beberapa kelab malam yang menyediakan wanita sewaan secara diam-diam. Dan sialnya, kelab malam tempat Lee Ha Na dan Han Ye Rim bekerja saat ini adalah salah satu kelab malam yang menyediakan pekerja kotor itu. Sebenarnya, Ha Na sangat malu bekerja di tempat seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, ia yang hanya seorang anak dari panti asuhan kecil yang saat ini sedang kekurangan sponsor, sangat membutuhkan pekerjaan ini. Dan lagi di tempat ini bayarannya cukup besar walau ia hanya perlu bekerja selama empat jam tiap malam. “Kau sudah selesai?” tanya Ye Rim kemudian. Gadis itu memiki perawakan yang ramah dan lembut. Dia selalu tersenyum walaupun sebenarnya dia juga membenci pekerjaan ini. “Ayo kita turun bersama.” Ha Na yang baru saja selesai menggelung rambut panjangnya, tersenyum mengangguk pada Ye Rim. Mereka pun turun ke lantai bawah bersama-sama. Bising. Itulah kesan pertama Lee Ha Na saat ia menginjak lantai bawah yang sudah menjadi lautan pesta. Gemerlap cahaya lampu warna-warni yang terus berkedip-kedip mengikuti irama musik membuat matanya sedikit terganggu. Tapi tidak apa, ia sudah terbiasa dengan itu. Lee Ha Na dan Han Ye Rim berpencar untuk memulai pekerjaan mereka masing-masing. Ha Na melihat arloji di tangannya, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tempat ini akan semakin ramai jika waktu sudah semakin malam. Ha Na pun melenguh malas, tetapi tetap memaksakan kakinya bergerak menuju meja bar tempat ia berjaga. Waktu terus berlalu. Tempat ini sudah semakin sesak dipenuhi oleh orang-orang yang memesan minuman. Inilah yang Ha Na benci dari pekerjaan ini. Terkadang ada beberapa pria yang tidak sopan padanya saat ia sedang melayani mereka. Seperti mencolek wajahnya, atau memintanya untuk melayaninya. Ha Na sangat benci hal itu. Ingin sekali ia menampar mereka yang merendahkannya seperti itu, tapi tentu saja tidak bisa. Ia dituntut untuk tetap tersenyum walau banyak pria berbuat semena-mena terhadapnya. Karena jika tidak, orang itu bisa saja mengamuk dan menimbulkan keributan yang cukup besar, atau melakukan hal-hal yang akan merugikan posisinya. Ya, tahu sendiri lah bagaimana temperamen orang mabuk. Waktu kembali berlalu. Saat ini sudah pukul satu malam. Biasanya, jam-jam seperti ini adalah puncaknya orang-orang berpesta. Mereka yang menari di lantai dansa pasti sudah on seratus persen dan itu membuat mereka jadi lebih agresif. Biasanya akan ada beberapa pria mabuk yang memandang rendah para pelayan dan melecehkan secara paksa. Maka dari itu sebaiknya Ha Na harus tetap berada di dalam bar pada jam-jam seperti ini jika tidak mau menjadi bulan-bulanan para p****************g. Tapi sialnya, Ha Na malah tidak tahan ingin ke toilet. Ia mengutuk dirinya sendiri karena hal itu. Masalahnya, tempat ini tidak menyediakan toilet untuk karyawan. Itu berarti ia harus pergi ke toilet umum yang ia yakini pasti sudah di penuhi dengan muntahan-muntahan menjijikkan atau bahkan pasangan-pasangan yang berniat m***m secara gratis. Ah, ia harus menahannya. Apa yang akan terjadi padanya nanti jika ia menerobos kerumunan orang-orang yang tengah dibakar api semangat berpesta? Tapi sekeras apa pun usahanya untuk menahan hajatnya, pada akhirnya ia tetap tidak tahan juga. Ia pun akhirnya nekat pergi ke toilet. “Lee Ha Na, kau mau ke mana?” tanya Ye Rim. Ya, gadis itu sudah ada bersamanya di dalam bar sejak lima belas menit lalu. “Aku harus ke toilet.” Ha Na menjawab singkat sambil mengulurkan tangannya membuka kenop pintu bar. Namun Han Ye Rim mencegatnya. “Aku akan mengantarmu.” Ia berinisiatif. “Tidak, tidak.” Itu suara kepala bar memberi perintah. “Kau harus tetap disini, Ye Rim ssi. Banyak pesanan, aku akan kewalahan kalau kalian pergi bersama.” Ye Rim menatap Ha Na penuh sesal. “Tidak apa.” Ha Na segera memberikan jawaban agar tidak membuat Ye Rim merasa tidak enak padanya. Ia lalu pergi menuju toilet yang cukup jauh dari bar. Ia harus melewati jalan yang sudah berubah menjadi lautan dansa, melewati orang-orang mabuk yang menjijikkan. Setelahnya, ia harus melewati lorong gelap dekat toilet yang dipenuhi dengan pasangan yang tengah b******u atau melakukan adegan tidak senonoh lain yang bahkan jauh lebih parah. Tapi syukurlah, Ha Na masih bisa selamat dari rintangan itu. Ia juga bersyukur karena ternyata keadaan toilet terlihat sepi, tidak ada orang sama sekali. Ia pun segera masuk sebelum ada pengunjung lain yang masuk dan mengganggunya. Setelah selesai melepas beban yang sedari tadi ditahannya, Ha Na keluar dari toilet dengan hati-hati. Ia menghela napas lega setelah mendapati ruangan depan toilet tampak masih kosong. Ia jadi sedikit merasa santai sekarang. Ha Na mulai membuka keran wastafel dengan perasaan yang tenang, sambil melihat pantulan wajahnya di cermin. Rambutnya terlihat sedikit berantakan. Ia pun membuka gelungan rambutnya untuk merapikannya. Namun, betapa terkejutnya Ha Na saat tiba-tiba saja ada seorang pria mabuk yang bersandar tepat di tembok sebelah cermin tempatnya berkaca. Matanya menatap Ha Na tajam nan menusuk. Ekspresinya masih tetap datar untuk beberapa detik. Namun saat Ha Na mulai bergerak mundur berusaha menghindar, pria itu malah memberinya sebuah senyum miring yang terkesan jahat. Jantung Ha Na mulai berdetak kencang lantaran takut akan diapa-apakan oleh pria itu. Ia melangkah mundur perlahan, masih terus berusaha menghindarinya. Tapi sialnya, pria itu malah berjalan mendekatinya, hingga ia terpojok di dinding penyekat antara toilet sebelah kanan dan kiri. Ha Na semakin panik. Jantungnya berdegup lebih kencang lagi, tubuhnya juga mulai gemetar ketakutan. Semakin lama, jarak wajahnya dengan wajah pria itu semakin dekat. Bahkan saat ini tangan pria itu sudah bertumpu pada tembok, tepat di sebelah wajah Ha Na. ‘Oh, tidak ... mau apa dia?’ batin Ha Na takut. Matanya mulai terpejam karena tak kuasa melihat tatapan matanya yang terasa sangat mengintimidasi. Lalu kemudian, pria itu tiba-tiba mengeluarkan suara tawa yang terdengar mengerikan. “Kau cantik,” katanya lirih. Ketika mendengar bisikan itu, Ha Na sontak mendadak membuka matanya. Keduanya pun bertatapan. Kini, entah bagaimana kabar jantung Ha Na, ia bahkan sudah merasa agak sesak, tubuhnya semakin melemas. Tapi kemudian, tiba-tiba saja tubuh pria itu roboh. Kepalanya sempat bersandar di d**a Ha Na sebelum ia benar-benar jatuh ke lantai, tak sadarkan diri. Melihat adanya kesempatan untuk kabur, tanpa mau menunggu lama lagi, Ha Na segera berlari keluar dari toilet sambil mengikat rambutnya asal. ‘Ah ... yang tadi itu ... jangan sampai terjadi lagi. Rasanya seperti mau mati saja,’ batinnya sedikit lega. Ha Na kembali ke bar dengan perasaan yang sulit di jelaskan. Tapi setidaknya sekarang ia sudah aman, itu yang terpenting. Ia pun merasa sangat lega karena tidak terjadi sesuatu terhadap dirinya. Namun tidak tahu mengapa, bayangan sorot mata tajam nan menusuk milik pria itu masih terus terbayang-bayang dalam pikiran Ha Na. Ia pun menggeleng cepat, mengerjapkan diri dari bayang-bayang mengerikan itu. Ia berharap, semoga saja ia tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD