Dua: Happy Birthday April

1191 Words
Senin April dimulai dengan kesibukan seperti pada umumnya hari seninnya para pekerja kantoran. Pekerjaan yang menggunung setelah ditinggal libur selama dua hari, dan deadline yang mendadak nongol di depan mata, padahal kemarin - kemarin sepertinya masih jauh. “Pril, serba serbi buat yang terbit hari Rabu udah siap, Kan? Nanti jam dua harus udah masuk cetak loh.” “I'm On it, Kak.” Jawabnya otomatis. Nggak tau apa kalau matanya sudah nyaris jereng karena memandangi tulisan dengan tema yang nyaris nggak dia mengerti? Fashion.  April bukan cewek dengan penampilan kampungan. Dia hanya punya style nya sendiri, and she looks good on it. Yang penting mah bikin pede dan nyaman. “Jangan telat ya!” “Iya.” Dia memang bukan In Chef Editor, dia masih terhitung anak bau kencur di kantor ini meskipun sudah setahun lebih bergabung. Sebenarnya, kalau mau jujur, dia awalnya nggak ingin bekerja di sini. Alasannya simpel, karena ada Jun. Bosen nggak sih, di rumah ketemu, di kantor juga ketemu. Jun mulu! Nggak boleh emang April ketemu cowok lain? Yang lebih ganteng dan keren gitu dari Jun. Walaupun dia nggak yakin cowok - cowok itu bakal meliriknya, tapi boleh lah kalau sekedar untuk cuci mata dan memompa semangat. Tapi Mama membujuk siang malam agar dia menerima tawaran Jun. Mama bilang akan lebih gampang baginya kalau ada yang mengawasi. Dunia kerja kadang horor. Sebenarnya dia ingin protes, kenapa harus dia? Kenapa dulu saat Mei mulai bekerja nggak dititipin siapa gitu juga? Lihat, sekarang Mei bekerja jadi sekertaris salah satu bos di sebuah perusahaan besar. Nggak seperti dirinya yang hanya jadi kacung pena. Tapi dia nggak tega menjawabi Mamanya seperti itu dan berakhir dengan dia menerima tawaran Jun. Tentu saja dengan beberapa syarat yang harus dipatuhi oleh Jun. Salah satunya seperti yang disebut di atas tadi, berlagak nggak saling kenal kalau di kantor. Hal itu karena April sempat shock di minggu pertama dia kerja di kantor yang nyaris seluruhnya kaum hawa ini mengidolakan Jun. Terang - terangan. Syarat yang lain, kalau sampai dia harus pulang atau pergi kantor bareng Jun, dia harus naik dan turun dari mobil Jun di halte yang letaknya sekitar setengah kilometer dari kantor untuk menghindari fitnah netijen yang keji. Yang ketiga, kasih April promosi sesuai dengan kemampuannya. Ini yang sering banget dilanggar Jun. Selalu saja kalau ada apa - apa April yang diajukan, padahal dia punya sekertaris dan Editor In Chef yang siap membantunya. “April bisa tolong ke ruangan saya?” April menoleh cepat saat mendengar suara Jun memanggilnya. Dia menunjuk dirinya sendiri untuk meyakinkan. “April yang ini, Pak?” “Kecuali ada anak baru namanya April juga, then yes, you.” Katanya sambil berlalu.  April menurut. Membereskan mejanya lalu berjalan menuju ruangan kepala direksi. Ruangan Jun. Sepanjang jalan yang tadi dilewati Jun, dia melihat mata para seniornya berubah menjadi hati pink, dengan mulut menganga nyaris ngiler di tempat. “Sumpah, Mas Jun tuh auranya, ya. Baru ditatap gitu aja rahim gue langsung anget.” Huek! Jijik banget sih, mereka! April masuk ke dalam ruangan yang keseluruhannya disekat olah kaca transparan itu. Tapi hari ini tirainya diturunkan. Jadi mereka aman dari pelototan kepo fans Jun yang kadang bikin April senam gedeg itu. “Ada apa, Pak?” Sebisa mungkin April selalu mempertahankan sikap profesionalnya di kantor. Ini agar dia nggak terjebak nantinya sama permainan kata - kata manis dari Jun. Biar aman aja. “Nih.” April mengangkat alis saat Jun memberikan kotak berpita padanya. Dia menatap Jun bingung dengan pandangan bertanya “Sori, gue beneran lupa kalo senin kemaren lo ulang tahun. Gue juga nggak ngeh pas lo bawa nastar ke kantor maksudnya buat rayain itu,” Ah… April mengangguk - angguk. “Happy birthday Apriliani Larasati. Sini, Abang peluk dulu.” “Ogah! Lupa lo lagi dimana?!" April menjawab galak. "But thank you kadonya, nggak kasih juga nggak papa, kok. Nothing special, though.” “April.” Jun memperingatkan. Dia memang selalu kurang suka jika April mengecilkan dirinya sendiri. “It’s okay. Ini… boleh dibuka?” “Of course.” April tersenyum girang. Dia duduk di kursi di depan Jun dan mulai membuka kadonya dengan hati - hati. Wajahnya jelas terlihat menikmati kegiatannya. Keluarganya bukan keluarga berada seperti keluarga Jun. Dan memiliki saudara perempuan berarti dia harus rela berbagi. Dia jarang mendapat kado, meskipun di hari ulang tahunnya sendiri.  Seringnya dia harus memakai barang turunan dari Mei, atau barang yang Mei tidak ingin pakai. Dia bukannya suka banget barang bekasan Kakaknya, hanya saja, dia nggak tega melihat Mama Papanya sedih karena hasil usahanya membeli barang untuk anak-anaknya tidak terpakai. Mereka mendapatkannya dengan susah payah. Jadi April mengalah. April memekik tertahan penuh kegembiraan saat melihat isi kado Jun. Matanya beralih cepat dari Jun ke kadonya, takut kalau - kalau cuma mimpi atau dia lagi di prank sama Jun. “Kok lo tau gue dari dulu pengen ini?!” Tanyanya dengan mata berbinar.” “Apa sih, dari lo yang gue nggak tau?” Banyak. Tapi April toh tersenyum, memeluk recorder pemberian Jun dengan sayang. “Thank you.” “Anytime, Baby.” “And don’t Babe me, please. I told you so many times!” *** Jun melihat gadis itu kembali ke mejanya dengan wajah yang lebih ceria dari sebelumnya. April. Apriliani Larasati, gadis yang disaksikannya tumbuh sejak dia masih bayi merah hingga sekarang. Yang dijaganya dengan sepenuh hati, Dia memang slengek’an, sama sekali nggak bisa terlihat serius dan berwibawa. Hanya sedikit hal yang bisa membuatnya amat serius. Salah satunya adalah menjaga gadis kecilnya itu.  Meskipun agak kecewa karena dia mendadak berubah sikap sejak kejadian sembilan tahun yang lalu, tapi seenggaknya, dia nggak mendorongnya pergi. Dia masih di sana menerimanya.  Mungkin jika ada istilah saudara beda rahim, dia dan April adalah gambaran yang pas. Apakah dengan Mei, sama kayak dia dan April? Anehnya nggak. Mungkin saat mereka bertemu, Mei sudah lebih besar dan kurang menarik perhatiannya. Dia lebih suka bermain dengan April walaupun bayi tersebut nggak paham apa itu gundam, tamiya dan jenis - jenis mobil. Yah, namanya juga bayi. Tapi dia betah lama - lama bermonolog dengan April. Dia nggak bisa kayak gitu sama Mei. Kalau main perang - perangan Mei pasti nangis kalau kalah. Nggak asyik. Lamunannya terputus karena bunyi interkom. Erik, Head Bussiness Management di kantor yang sama tempatnya bekerja. “Yo, Bro.” “Eh, udah sampe, kan? Bini gue bilang udah di kirim via ojol ke kantor.” “Udah kok. Udah gue kasih juga ke orangnya.” “Gimana? Suka orangnya?” Jun mengingat - ingat raut muka April yang kegirangan saat membuka kadonya. Mau nggak mau dia jadi ikut tersenyum lagi. “Suka. Suka banget dia.” “Emang lo kasih buat siapa, sih? Tumben lo beli kado buat cewek. Biasanya cewek - cewek yang kasih kado buat lo.”  Erik memang sahabatnya dari pertama kali masuk di percetakan ini. Meniti karir bersama - sama hingga kini mereka berdua sama - sama di atas. Bedanya, Erik sudah lebih dulu melepas masa lajang nyaris setahun yang lalu, sedangkan dia, masih betah melajang hingga saat ini. “Ada lah, kepo lo.” Klik
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD