Bab 03 Barbie Untuk Mika

2262 Words
Mika bersekolah taman kanak-kanak yang memiliki layanan penitipan anak bagi para orangtua yang bekerja sementara tidak ada yang menjaga anak di rumah. Pagi hari Mika diantar Sadin ke sana, lalu dijemput pada sore hari. Dan pagi ini, seperti pagi-pagi di hari kerja lainnya, Sadin mengantar Mika ke sana. Mika tampak cantik dengan bando bunga di kepala dan rambutnya dikuncir rapi di balakang, serta tas ransel berisi alat tulis dan beberapa mainannya. "Jangan nakal, ya. Nanti bunda punya kejutan buat Mika." "Apa itu, bun?" "Rahasia, dong." Sadin menjawil hidung Mika sambil tertawa. "Namanya juga kejutan." Mika mengerucutkan bibir. "Ah.. bunda main rahasia-rahasiaan terus." Sadin lagi-lagi hanya tertawa, lalu mengecup bibir manyun Mika. "ayo, masuk. Bu Laras sudah menunggu." Mika balas mencium bibir Sadin. "Dadah Bunda, Mika sayang Bunda,” Seru Mika memasuki pintu masuk sekolah. Sadin melambai, lalu memacu motornya lagi menuju mal tempatnya bekerja. *** Siang itu terik sekali, Duta dan beberapa orang berstelan formal berdiri di atas rooftop sebuah gedung pencakar langit kota. Memandang sekeliling dibalik kaca mata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya. "Jadi bagaimana Pak Duta, anda pasti sudah punya bayangan kan rooftop ini akan dijadikan taman seperti apa?" Duta menangguk-angguk pelan. "Ya, ini akan menjadi tropical di siang hari, dan romantic di malam hari." Ini merupakan projek pertama Duta di Indonesia, bukan projek besar seperti gedung bertingkat. Tugas Duta hanya diminta menyulap rooftop kosong dan panas ini, menjadi sebuah taman hijau yang akan dijadikan salah satu treadmark mal. Survey lokasi selesai, namun Duta belum pergi meninggalkan mal karena masih ada agenda lain dengan para petinggi mall, yakni makan siang bersama. Dan bergeser ke dalam mal, Sadin dan seorang temannya berdiri di depan meja kasir karena memang sedang tidak ada pelanggan yang harus dilayani. Inilah waktu istirahat mereka yang tak diatur dalam jadwal. Dari sana mereka masih bisa melihat lalu lalang mengunjung malalui kaca. Sadin bisa melihat seorang anak kecil tertawa senang sambil memeluk sebuah box set boneka Barbie dengan kedua orang tua berjalan dibelakangnya. Sadin jadi teringat dengan Mika. Mika juga pasti akan sebahagia anak itu jika mendapatkannya.   Sabar, sayang. Bunda bekerja untuk kebahagiaan kamu. "Oh ya, kalian tahu nggak. Gue denger-denger atap mal akan dijadiin taman di atas awan gitu." "Oh ya? Keren tuh." Selain fashion, Sadin selalu menyukai hal-hal yang menyangkut taman karena penagalamannya yang sulit sekali menentukan tempat yang aman dan untuk putrinya bermain. Ayu mengangguk mengiyakan. "Lebih keren lagi, kalau kalian tahu siapa arsiteknya." "Siapa?" "Duta Alexandrie." Detik itu juga senyuman Sadin memudar. Duta alexandrie? Sadin tak lagi mendengar obrolan kedua temannya karena sudah sibuk dengan pikirannya sendiri. Bukan hanya sebagai luka, bagi Sadin, Duta juga seperti virus yang merusak sistem kerja otaknya. Sampai sebuah suara memanggil namanya. Sadin menoleh cepat, penasaran dengan siapa yang memanggilnya karena itu jelas bukanlah suara Angela, pemilik toko. Dan Sadin terpaku untuk beberapa detik lamanya.  “Vella?" gumamnya tercekat di tenggorokan. Sadin terlalu terkejut untuk akhirnya berhadapan lagi dengan salah satu sahabatnya dulu. Bodoh! Mereka masih berada di kota yang sama, dan Sadin bekerja di area publik yang mungkin sekali didatangi oleh sahabat-sahabatnya. Dulu. Harusnya, Sadin sudah bisa mempersiapkan diri untuk kemungkinan seperti ini saat memutuskan untuk meninggalkan kota persembunyian dan merintis kembali kehidupan di Ibukota. "Ya Tuhan, Sadin. Ini beneran kamu?" Vella masih menatap tak percaya sosok berseragam yang berdiri dihadapannya. Vella yang datang bersama teman-teman kampusnya melupakan mereka dan mendekati Sadin. Meneliti Sadin dari ujung kaki hingga ujung kepala. Setelah menyakini bahwa itu benar Sadin yang dikenalnya, Vella lantas memeluknya dengan rasa haru dan penuh syukur. "Syukurlah akhirnya aku ketemu sama kamu. Kamu kemana saja selama ini?" "Aku disini, Vel." Sadin menepuk pelan punggung Vella, lalu Vella pun mengurai pelukannya. Masih dengan mata basah oleh air mata, Vella berujar. "Kenapa kamu ninggalin kita semua tanpa kabar?" "Vella aku - " "Kamu jahat tahu nggak, kita tuh mencari kamu kemana-mana." "Vell—" "Kami semua—" Kali ini Sadin yang menyela dengan meremas tangan Vella sambil melirik dua temannya yang sibuk malayani teman - temana Vella.  "Aku di sini sedang kerja. Ada atasan yang mengawasi aku."   Vella mendesah menyerah pada akhirnya. "Oke,  meskipun aku masih nggak ngerti kenapa kamu bisa sampai kerja disini. Aku akan tunggu sampai jam kerja kamu habis. Kamu berhutang banyak penjelasan padaku." Sadin mengangguk, bukan bermaksud berjanji, tapi ini caranya agar Vella segera pergi. Untuk saat ini Sadin tak tahu harus bersikap seperti apa pada semua orang dari masa lalunya. Sejak Sadin diusir dari rumah, dibuang oleh keluarganya, Sadin sudah memutuskan untuk melupakan segalanya. Memulai hidup baru bersama Mika. Yah, hanya dirinya dan Mika. Berdua saja. *** Sebelum pergi tadi Vella sempat bertanya jam berapa pekerjaanya selesai. Sengaja Sadin berbohong dengan menjawab jam 5 sore. Teman-teman yang mengetahui ia berbohong hanya diam tak ikut campur. Mereka tahu Sadin pasti memiliki alasan sendiri. "Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" Sapa ramah seorang pelayan sebuah toko mainan di lantai dua mall. Sadin mampir kesana untuk membelikan kejutan yang tadi pagi dijanjikannya untuk Mika. Mungkin karena Sadin tampak kebingungan ditengah - tengah rak besar berisi berbagai mainan, jadi sang pelayan menegurnya. "Selamat sore, bisa bantu saya menemukan boneka Barbie?" Jawab Sadin ramah. Pekerjaan pelayan itu seperti dirinya. Sadin tahu betul apa yang dialaminya. Harus tersenyum meskipun tak ingin. Sedihnya, jika senyuman itu dianggap sebelah mata. Sadin sering mengalaminya, dan sering pula mengelus d**a berusaha memaklumi itu sebagai bagian dari pekerjaannya. "Oh, beneka Barbie. Mari ikut saya." Sadin diantar ke sebuah rak penuh dengan boneka barbie berbagai model. Sadin bingung dibuatnya. Abaikan soal model yang pastinya bagus-bagus, Sadin memutuskan untuk memilih berdasarkan label harga yang tertera. Sebagai seorang ibu dengan budget mainan pas-pasan, Sadin harus bisa memilih dan memilah mainan apa yang dibeli. Harus bagus dan ramah dikantong. *** "Di mal mutiara?" Ulang Duta pada si penelpon yang tak lain adalah Vella. "Kamu serius Sadin kerja disana?" "Iya, Duta. Ini kami udah janji mau ketemu sepulang dia kerja. Kalau gue memang ingin ketemu dia, datang ke sana sekarang juga." Duta melirik jalanan disekitarnya. Ini baru beberapa ratus mater dari mutiara mall tempatnya sepanjang siang berada. Ternyata ia dan Sadin sedekat itu. "Baiklah, kalian akan bertemu dimana?" "Satu jam lagi di foodcourt lantai 5. Gue juga udah ngabarin yang lain, Bagas sama Rena bisa datang."   "Oke, gue ngerti. Gue tutup teleponnya." Bip! Duta memutus sambungan telpon lebih dulu. "Kembali ke mall mutiara, Pak." Ujarnya pada sopir keluarga yang disiagakan mengantarnya sampai Duta tidak malas lagi menyetir sendiri di jalanan macet Ibukota. Tak butuh waktu 10 menit, Duta sudah kembali di mall mutiara. Turun di pelataran, Duta lantas masuk ke dalam mall yang semakin sore semakin ramai. Biarlah Duta harus menunggu satu jam lagi, karena itu tak sebanding dengan kerinduannya selama enam tahun ini. Duta sadar, ia mengakhiri hubungan mereka dengan egois. Berpikir sepihak bahwa Sadin gadis egois yang tidak peduli dengan cita-citanya, melarangnya pergi hanya agar mereka tetap bersama. Sementara disisi lain Duta tak mau mencari tahu alasannya. Padahal alasannya sudah jelas, Sadin mencintainya. Begitu besar rasa cintanya hingga Sadin terkejut atas kepergian mendadaknya. Jika Duta mau berpikir jernih saat itu, ia pasti bisa memberikan pengertian pada Sadin, dan hubungan percintaan mereka akan masih berlanjut sampai sekarang. Enam tahun ini Duta memang menjalin hubungan beberapa kali dengan beberapa gadis, namun tak seserius saat ia bersama Sadin. Anggap saja Duta gagal move on, karena Duta memang tidak bisa move on, selama wajah Sadin selalu melintas di pikirannya. Tunggu aku, Sadin. Aku ingin minta maaf, sekalipun keadaan tak lagi sama. Ya, bagaimanapun juga Duta telah mempersiapkan segala kemungkinan terburuk. Seperti Sadin membuang muka tak mau bertemu dengannya, atau kemungkinan terburuk Sadin telah memiliki penggantinya. Setidaknya Duta ingin melihatnya saja. *** Sebuah paper bag berwarna putih berisi sebuah Barbie box set sudah berada ditangan Sadin setelah menukarkan sejumlah uang ratusan ribu yang diambilnya dari tabungan. Tidak apa uangnya berkurang, toh ia bekerja semuanya juga untuk Mika. Sungguh, Sadin tak sabar untuk segera memberikan ini pada Mika. Bagi Sadin senyum dan tawa Mika sudah seperti nafasnya. Sadin yang sedang berada di eskalator tiba-tiba melihat seorang lelaki yang berada diantara banyak orang di lobby. Lelaki yang tak lain adalah Duta itu seolah bersinar ditengah kerumuman sehingga sekilas saja sadin bisa menangkap sosoknya. Jangankan Duta, bahkan Vella saja tak ingin Sadin temui. Sadin menyelinap di balik pengunjung lain agar tak sampai terlihat. Tidak, Sadin bukannya berbesar kepala dengan berpikir bahwa Duta akan bersikap seperti Vella, Sadin bahkan berpikir Duta akan mengacuhkannya, sama seperti dulu saat Sadin memberitahukan kehamilannya. Sadin hanya tak ingin perasaanya menjadi kacau jika bertemu dengannya. Sadin berjalan menunduk menuju pintu keluar, membiarkan rambut panjangnya jatuh menutupi kedua sisi wajah. Sadin perkirakan 5 langkah lagi dirinya akan mencapai pintu keluar, jika saja suara itu tak terdengar.   "Tunggu..." Seketika itu juga Sadin membatu, tubuhnya menegang kala suara itu terdengar menusuk telinganya. Itu suara Duta. Enam tahun berlalu, dan Sadin masih bisa mengenali jenis suara itu dengan baik. Jangan berbalik. Pura-pura saja tidak mendengar! Perintah otak Sadin kuat. Sadin menurutinya dengan memulai langkahnya kembali. "Sadin?... " Sadin memejamkan mata kesal, kesal pada dirinya sendiri. Mengapa ia berhenti lagi. Harusnya ia mempercepat langkahnya pergi, jangan sampai berhadapan dengan Duta. Nyatanya Sadin masih diam ditempatnya hingga sosok pemilik suara itu berpindah ke hadapannya. Sadin mendongak, wajah itu tersenyum penuh syukur menatapnya. Sesaat Sadin terenyuh, lalu sedetik kemudian ingin menampar dirinya sendiri. Memangnya apa yang bisa diharapkan dari lelaki egois seperti dia? "Ya Tuhan, Sadin..." Sadin mundur selangkah saat tangan Duta terulur ingin menyentuh wajahnya. Menatap Duta dingin, berusaha tegar menghadapi luka di hadapannya. "Permisi, Anda menghalangi jalan saya." Senyum Duta memudar seketika. Tubuhnya menegang, tangannya yang terulur jatuh kaku di sisi tubuhnya. Sadin bahkan berpura-pura tak mengenalnya. Sadin masih marah. Duta sedih, namun setelah mengingat tujuan utamanya hanya meminta maaf, Duta berusaha bersikap ramah kembali. "Kamu apa kabar?" "Mungkin Anda salah orang." "Ini sudah enam tahun dari terakhir kali kita bertemu, mungkin segelas kopi hangat bisa mencairkan segalanya?" Ajak Duta tersirat. Tak ada perubahan ekspresi berarti di wajah Sadin, perempuan itu malah memalingkan wajahnya. Senyuman Duta mengiba, "pasti yang kamu ingat dari aku cuma kenangan pertemuan terakhir kita, kamu masih marah sama aku." Itu jelas bukan pertanyaan. Benar, itulah yang Sadin ingat dari hubungan mereka. Dan tidak benar jika Sadin marah padanya, lebih dari itu, Sadin sangat membencinya. "Anda membuang waktu saya, Tuan." Ucap Sadin sebelum melangkahkan kakinya menghindari tubuh tinggi tegap Duta, berjalan cepat keluar dari lobby. Sadin tak mengindahkan teriakan Duta memintanya berhenti. Sadin terus berjalan cepat, sampai tangan Duta berhasil mengcekal tangannya. Sadin tersentak hingga paper bag ditangannya terlempar jatuh ke jalan. "Lepas... " Bentak sadin tak dihiraukan Duta. Sadin menatap box barbie yang menyembul dari dalam paper bag, lalu ke arah sebuah mobil yang akan melintas. "Aku bilang lepas, Duta..  " Sadin berteriak frustrasi. Jika tak segera diambil, mobil itu bisa saja melindas barbie Mika. "Tidak, sebelum kita bicara. Kamu harus dengarkan penjelasanku, supaya semuanya clear." Air mata Sadin mengalir deras, bukan karena Duta tapi karena Barbie Mika. Dan hal yang ditakutkan itupun terjadi, mobil mewah pabrikan Jerman itu melindas Barbie Mika.   "Tidak.. " Teriak Sadin tercekat, matanya menatap nanar paper bag yang menjadi gepeng itu dengan tubuh perlahan melemas. "Mika..." Sementara itu, Duta bingung dengan tangisan Sadin. Perlahan cengkeramannya terlepas, membiarkan Sadin berlari memungut paper bag yang diketahui isinya adalah sebuah boneka Barbie. Sadin bukan lagi anak kecil berusia lima tahun, haruskah Sadin menangis seperti itu hanya karena sebuah boneka? Dan, sejak kapan Sadin menyukai boneka? "Ada apa ini?" Dan ternyata itu adalah mobil Vella. Dengan tergopoh-gopoh Vella berlarian menghampiri Duta dan Sadin yang bergetar melihat keadaan bonekanya. "Sadin.." Vella beralih menyentuh pundak Sadin. Sadin berbalik menghadap mereka dengan wajah berlinang air mata. "Cukup, semoga kita tidak pernah bertemu lagi." Vella mengatahui mobil yang dikemudikan supirnya tadi melindas sesuatu, melihat apa yang dipegang Sadin, Vella merasa bersalah. "Aku akan menggantinya, maaf. Tapi tolong jangan bicara seperti itu, kami semua kangen kamu, Din." "Menganti? Maksud kamu uang? Ya, itu mudah sekali keluar dari orang-orang seperti kalian. Boneka ini murah, bahkan sampah bagi kalian. Tapi asal kalian tahu seseorang sudah menunggu mendapatkan ini selama berhari-hari." "Kita, bisa bicarakan ini, Din." "Kita sudah nggak bertemu selama enam tahun, akan lebih baik kalau kita nggak perlu bertemu selamanya," desis Sadin dan berlalu pergi. Vella bersiap akan mengejarnya, tapi Duta menahannya. "Dia marah padaku, dia masih marah padaku." *** Wajahnya masih sembab saat Sadin tiba di tempat penitipan Mika. Sadin sengaja menunggu di atas motor, dan tak lama tampak Mika berlarian keluar. "Bunda... " Sadin mencoba tersenyum, meskipun sulit sekali. "Yuk, sayang." Belum sampai Mika merangkak naik ke boncengan, gadis cilik itu lebih dulu melihat sesuatu menyembul dibalik paper bag yang ada di alas kaki motor matic Sadin. "Wah... Barbie." Pekik Mika girang, "Ini hadiah yang bunda bilang tadi pagi ya?" "Mika - " Sadin tak ingin Mika melihatnya. Namun Mika lebih gesit mengambilnya. Lalu keceriaan di wajah Mika menghilang saat box berwarna merah jambu itu dikeluarkan. "Bunda kok... " Mika membolak-balik box Barbie ditangannya. "Kenapa penyok? Badan Barbienya juga jadi gepeng." Sadin turun dari motornya, berjongkok menyamakan tinggi dengan Mika. "Maaf ya, sayang. Bunda nggak sengaja menjatuhkannya. Bunda ceroboh sekali, Bunda janji akan membelikannya yang baru." Mika menunduk sedih, menyurukkan box itu ke d**a Sadin. "Ayo kita pulang, Bun." Mika sedih karena boneka impiannya rusak, namun bocah itu tak bisa menyalahkan kecelakaan yang dialami Bundanya. Dan, sepanjang jalan air mata Sadin tak henti menetes. Bukan ini yang diharapkannya. Bukan wajah sedih Mika, dan bukan juga kemunculan dua orang dari masa lalunya. Lagi - lagi sadin ragu, bisakah ia menjadi ibu yang baik buat Mika? Kalau untuk sekadar membelikan boneka Barbie saja tak bisa dan membuat Mika lagi-lagi bersedih. Ibu macam apa kamu, din.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD