I'm Sorry

1139 Words
Aaron menginjak pedal gas sehingga mobil sport berwarna merah itu semakin melaju kencang membelah jalanan yang lengang. Malam ini, tidak ada hiasan bintang yang menerangi di atas langit. Seperti turut merasakan kehampaan hati Aaron saat ini. Ucapan Derry yang mengatakan kalau dia mencintai Angela seolah terngiang bersamaan dengan bayang pergulatan panas yang Aaron pergoki. "Aargh!" Aaron berteriak frustasi. Tangannya memukul-mukul stir kemudi sebagai pelampiasan amarahnya. Setelah dua tahun Aaron dan Angela menjalin kasih dalam sebuah hubungan dan rencana pernikahan yang menghitung hari, tiba-tiba di runtuhkan semua harap yang telah di susun dengan penuh suka cita. Aaron Ricardo Muhammad namanya. Wakil Presdir di perusahaan Ricardo Crop. Usianya baru menginjak ke dua puluh enam tahun. Anak pertama dari tiga bersaudara. Derry adik pertama Aaron yang berusia dua puluh dua tahun dan Moza yang masih duduk di bangku SMA kelas dua belas. "Sial! Kenapa ini harus terjadi sama gue? Kenapa?!" Aaron berteriak frustasi di dalam mobil. Tidak sengaja ekor mata Aaron melihat ke arah spion mobil dan menangkap Derry yang sedang berusaha mengejar dengan motor sport hitamnya. Aaron menatap tajam lurus ke depan. Kecepatan laju mobil semakin bertambah. Akhir-akhir ini, Aaron memang menaruh curiga pada Derry, namun sebisa mungkin ia menepis kecurigaannya. Tapi, nyatanya kecurigaan Aaron terbukti nyata. Derry menyimpan rasa pada Angela sampai gelap mata dengan tega melakukan hal keji seperti itu. Dan Aaron, tidak mungkin melanjutkan rencana pernikahannya dengan Angela. Jika memang benar Derry yang telah memberi obat perangsang pada Angela tanpa sepengetahuan perempuan itu, tetap saja Aaron tidak mungkin menikahi seorang perempuan yang telah di miliki oleh laki-laki lain. Mungkin, Aaron terlalu egois karena mempermasalahkan kesucian Angela, namun saat mendengar kenikmatan penyatuan Derry dan Angela menimbulkan rasa jijik pada Aaron. Seolah, Angela menikmati permainan Derry pada tubuhnya. Terlepas dari itu, Derry adalah adik kandung nya sendiri dan telah ia ketahui kalau pemuda itu melakukan sesuatu yang terlarang tersebut atas dasar cinta. Dan Aaron tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selain melepas Angela untuk Derry. Walau sakit, Aaron mencoba meyakinkan hatinya kalau ini sudah merupakan cara semesta yang mengatakan kalau ia dan Angela tidaklah berjodoh. Kemunculan seekor kucing yang berlari menyeberangi jalan, membuat Aaron terkejut hingga refleks membanting stir dan.... "AAAA!!!" Brukk! Chittt.... "AYAH!!" Napas Aaron memburu. Jantung berdetak begitu cepat. Kaki nya lemas dengan keringat dingin yang membasahi telapak tangannya. Dengan gerakan slow montion, Aaron menoleh ke samping dan ia merasakan seolah ada bongkahan es yang menerjang tubuhnya. Seorang gadis menangis tersendu-sendu mencoba untuk membangunkan seorang pria yang tergeletak tak berdaya di atas aspal. Aaron mengangkat kedua tangannya yang bergetar. Di tatapnya kedua telapak tangan tersebut. Bayang kejadian kecelakaan beberapa menit yang lalu terlintas dalam pikiran Aaron. "Ayah, bangun! Ayah! Hikss.... hikss...." Derry bergegas turun dari atas motor. Setengah berlari menghampiri mobil Aaron. "Bang, turun!" Derry mengetuk-ngetuk kaca mobil Aaron sambil memintanya untuk keluar dari dalam mobil. Aaron melepas sabuk pengamannya lalu segera keluar dari dalam mobil. Matanya tak lepas dari seorang yang telah ia celakai dan gadis yang sedari tadi menangis sambil berusaha membangunkan kesadaran pria itu. "Bang, lo harus tanggung jawab. Lo udah nabrak orang itu," ucap Derry yang melihat kejadian tabrakan tadi. Aaron menggeleng pelan. Rasanya tidak percaya kalau ia yang telah menabrak pria itu. Amarahnya pada Derry telah hilang tergantikan rasa takut dan bersalah. Tubuh Aaron seolah mematung dan kakinya seolah berat untuk di ajak melangkah. Pikirannya kosong, terlalu shock menghadapi ini. "Ayah, bangun! Shena mohon jangan seperti ini, Ayah!" Darah tak berhenti mengalir dari bagian kepala belakang. Membuat Shena gemetar takut akan kehilangan sosok yang telah menjadi cinta pertamanya. "Bang, ayo bawa orang itu ke rumah sakit, Bang! Lo harus tanggung jawab!" Teriakan Derry seolah tidak di dengar oleh Aaron. Suara itu, membuat tangis Shena terhenti lalu mengakat kepala dan menatap sosok yang telah membuat ayahnya celaka. Tangan Shena terkepal kuat. Segera ia berlari menghampiri dua orang laki-laki itu. Dari yang Shena lihat, ia bisa menyimpulkan siapa si pelaku penabrakan tadi. Dan tatapan tajam Shena jatuh pada Aaron. Plak! "KAMU YANG TELAH MENCELAKAI AYAH SAYA! KAMU HARUS TANGGUNG JAWAB!" Shena berteriak dengan derai tangis tiada henti. Kedua tangan nya aktif melayangkan pukulan pada tubuh kekar Aaron. ♡♡♡ Di sinilah mereka sekarang berada, di depan sebuah ruang UGD yang menjadi tempat di tanganinya seorang pria korban kecelakaan Aaron. Aaron berdiri bersandar pada dinding rumah sakit yang di d******i warna putih. Tatapannya tak terlepas dari gadis bernama Shena yang sedari tadi berjalan mondar-mandir di depan UGD sambil menangis dan berdoa untuk ayahnya. Sedangkan Derry sedang mengurus administrasi di depan. "Ya Allah, selamat Ayah. Jangan ambil Ayah dari sisi hamba. Berikan keselamatan untuknya," ucap Shena penuh harap. Kaki Aaron seolah berat untuk di ajak melangkah mendekati Shena sekedar untuk menenangkannya. Namun, keberadaannya yang merupakan si pelaku terjadinya kecelakaan tadi, membuat Aaron tak berdaya dan merasa tidak pantas untuk menangkan kesedihan gadis itu. Pandangan mereka bertemu, lantas Shena melangkah mendekati Aaron. Kemarahan sangat terlihat jelas menyorot dari kedua matanya. Kepalan tangan Shena mengeras dengan rahang terkatup rapat. Plak! Sekali lagi, tamparan itu melayang pada pipi Aaron. "Ini semua gara-gara kamu! Apa salah Ayah saya sampai kamu harus menabraknya, ha?! Keterlaluan!" seru Shena. Aaron menundukkan pandangan. Dirinya memang bersalah dan ia tidak bisa menghindari kenyataan bahwa dirinya lah yang telah membuat kecelakaan ini terjadi. Akibat amarah yang membara dalam hati, orang lain yang menjadi korbannya. Ceklek! Pintu kaca ruang UGD terbuka dan menampilkan seorang dokter laki-laki yang menangani ayah Shena. Segera Shena melangkah mendekati Dokter Ridwan diikuti oleh Aaron. "Dokter, bagaimana dengan kondisi Ayah saya?" seloroh Shena bertanya secepatnya. "Sebelumnya, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menyelamatkan pasien. Namun, takdir berkata lain." Duaar! "Dokter, apa maksudnya?" Bibir Shena bergetar, menahan isak tangis. Dokter Ridwan menggelengkan kepala pelan. "Saya turut berduka cita atas meninggalnya Ayah Anda." Suasana mencekam begitu kentara. Kaki Shena terasa lemas seolah tak kuat menahan tubuhnya. Shena menutup mata, merasakan gejolak luka seolah hatinya di hujam dengan benda tajam. "Ayah...," lirihnya. Aaron segera menahan tubuh Shena yang hendak terjatuh. Namun, penolakan langsung Aaron dapatkan, bahkan ia merasakan pukulan bertubi-tubi dari gadis itu. "Pembunuh! Kamu telah membunuh Ayah saya! Kamu jahat!" teriak Shena, menyerbu Aaron dengan berbagai pukulan. Aaron hanya bisa diam menerima pukulan demi pukulan dari Shena. Tidak peduli seberapa sakit yang ia rasakan, karena sakit itu tidak sebanding dengan apa yang Shena rasakan saat ini. Kemudian, Aaron menarik pinggang Shena dan membawanya ke dalam dekapan. Gadis itu semakin meronta, namun Aaron tetap mempertahankan posisi ini sampai Shena sedikit tenang. "Kamu adalah lelaki yang paling kejam yang pernah aku temui! Kamu pembunuh! Hikss.... hikss.... Ayah...." Pukulan Shena semakin melemah sampai akhirnya terhenti saat merasakan tenaganya semakin tipis. Isakan demi isakan yang menyayat hati terus lolos dari bibirnya. Bahunya naik turun menghalau isakan yang semakin menjadi. Aaron semakin erat memeluk Shena. Tangannya mengusap punggung gadis itu. Tanpa sadar, Aaron menitihkan air mata. "Maafkan saya. Maaf...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD