03 : Mau kawin atau dirajam?!

1789 Words
Pagi hari di desa terasa sangat berbeda dengan di kota. Jam lima pagi di desa gunung kidul sudah terlihat terang. Mbok Munah yang kesengsem berat dengan sikap manis dan wajah imut milik Bebi, telah menyiapkan segelas s**u hangat plus ketan bakar koya untuk cowok itu. Diketuknya pintu kamar yang sementara ditempati Bebi. "Nak,Nak, katanya mau ikut Bapak ke sawah. Bangun Nak. Mbok sudah siapkan sarapan s**u dan ketan bakar." Tak ada jawaban. Tumben banget. Biasanya cowok imut ini paling gampang dibangunkan. Rasa penasaran Mbok Munah terbangkitkan melihat pintu kamar Bebi yang tidak tertutup sempurna. Buka enggak? Apakah sopan kalau dia nyelonong masuk? Kebetulan saat itu suaminya melewatinya, Mbok Munah langsung menyambar tangan suaminya. "Pakne, tolong lihat Nak Bebi di kamarnya. Biasanya ndak usah dibangunin dia sudah muncul. Ini kenapa ndak keluar-keluar? Jangan-jangan dia sakit, Pak." Pak Juroh pun membuka pintu kamar Bebi dan langsung membelalakkan mata melihat pemandangan didalam kamar. Mbok Munah semakin penasaran. "Ada apa toh, Pakne?" tanyanya sambil merangsekkan tubuh montoknya masuk kedalam kamar. Pak Juroh segera menutupi kedua mata istrinya. "Ibu ndak usah lihat! Bencana Bu!" Mbok Juroh menepis tangan suaminya, mendengar kata 'bencana' disebut dia merasa harus memeriksa keadaan anak titipannya. Masa Bebi dirampok? "Aaaargghhhhhhhhh!" teriak Mbok Munah histeris begitu melihat bencana yang dimaksud suaminya. Bebi terbangun mendengar teriakan itu, mata polosnya mengerjap heran mengetahui orang tua angkatnya berada di kamarnya. "Pagi Mbok, pagi Pak. Maaf Bebi bangun terlambat." Masih sempat ia menyapa dengan sopan sebelum menyadari tatapan horor di mata Pak Juroh dan Mbok Munah. Dia menunduk memperhatikan kondisi tubuhnya dan langsung menjerit panik. Astagah! Sejak kapan bajunya lepas semua gini?! Buru-buru Bebi menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Dan matanya seakan hendak meloncat dari sarangnya melihat sesosok tubuh polos wanita yang terungkap begitu selimut itu ditarik olehnya. "Aaahhh!" Jeritnya histeris. Spontan dia menutupi tubuh wanita itu demi sopan-santun. Tapi sekarang tubuhnya yang terpampang bebas. Bebi jadi bingung. Akhirnya ia merapat ke tubuh wanita yang masih tertidur itu supaya mereka berdua bisa sama-sama tertutupi. "Pak, Mbok... siapa dia? Mengapa dia bisa tidur di ranjangku dan menelanjangi aku?" tanya Bebi polos sambil menangis lirih. Elah, dia masih punya malu gak nangis keras-keras seperti korban perkosaan lainnya. Bagaimanapun dia itu cowok. Gawat, Mami pasti marah besar! Pikir Bebi kalut. "Nak Bebi, itu juga yang ingin kami tanyakan. Siapa dia?" sahut Pak Juroh dengan suara tajam. Bebi menggeleng dengan air mata bercucuran. "Bebi gak tau. Sungguh, Bebi gak tahu!" Mbok Munah mendecih kesal. "Tahu ndak tahu, kalian itu sudah tidur bareng Nak Bebi! Ini di kampung, dan adat kami sangat keras! Jadi kalian harus kawin sekarang juga!" Bebi syok seketika. Masa dia harus kawin dengan wanita yang wajahnya saja dia belum tahu karena wanita itu tidur telungkup?! Ini tragedi! Lagipula, dia masih berumur 16 tahun lebih. Masih SMA loh! Lalu bagaimana kalau nanti Mami marah? Pulang dari kegiatan sekolah menyelami kehidupan didesa, bukannya dapat ilmu Bebi malah dapat bini! Bebi ketakutan dan panik luar biasa. "Huaaaaaaaaa... Mamiiiii... tolong Dedek, Miiii!" tangis Bebi histeris. Tangisan melengkingnya membangunkan sosok yang sedari tadi tidur telungkup di sampingnya. Wanita itu otomatis menggeplak kepala Bebi gemas. "Diam Darl, berisik amat sih lo. Semalam lo mendesah, paginya menangis. Cih!" gumam Chiqita dengan mata terpejam. Dia masih mengantuk dan merasa pegal. Semalam entah berapa ronde mereka lalui. Sungguh percintaan yang amat melelahkan namun nikmattttt luar binasa. "Mamihhhhh, Dedek takut! Hik hik... huaaaa!" Tangisan histeris itu membuat mata Chiqita terbuka lebar. Tak pernah ada teman ONS (One Nihgt Stand)-nya yang menangis di pagi hari sambil memanggil maminya, yang ada malah minta imbuh/ nambah. Lalu tadi dia manggil dirinya sendiri apa? Dedek? OMG! Chiqita menoleh cepat dan menemukan sepasang mata polos berurai air mata yang terpaku menatapnya. Cowok itu melongo mengamatinya seakan Chiqita itu alien cantik. Andai Chiqita itu penggemar brondong pasti dia akan terpikat melihat ekspresi cute menggemaskan milik Bebi. Tapi dia anti brondong, apalagi yang masih perjaka! Dan dia yakin bocah ini pasti masih perjaka, tadinya! Sebelum dia mengunduh malam pertamanya secara tak sadar semalam. Ah ini sangat kacau! Tragedi! "Aaahhhhh!" teriak Chiqita sambil menjambak rambutnya frustasi. Bocah itu terkejut melihat respon Chiqita. Padahal tadinya dia yang ketakutan, dia yang nangis bombay. Hingga wanita itu menoleh padanya, dia terkesima. Dia seperti dewi yang ada dalam buku bacaan Bebi saat kecil. Cantik. Berkharisma. Dan matanya... astagah! Matanya tajam seperti mata Kitty, boneka kucing Bebi. Dada Bebi berdebar kencang, dia segera memegangnya. Mami, kenapa Bebi seperti ini? Jantung Bebi sepertinya gak beres, kenapa Mih? Mami selalu tahu apa yang seharusnya dilakukan Bebi, tapi sekarang Mami gak ada disini. Bebi bingung harus berbuat apa saat si dewi kucing itu berteriak sambil meremas rambutnya kencang! "Bukne, iki siapa merkosa siapa ya? Pakne kok bingung?" gumam Pak Juroh lugu. "Ndak perduli siapa yang merkosa Pak, mereka sudah berjinah. Hukum harus ditegakkan. Pilih kawin apa dirajam batu?!" Perkataan Mbok Munah serentak membuat Bebi dan Chiqita terhenyak. *** Xena datang tergopoh-gopoh ke balai desa dan menemukan sohibnya terduduk lesu dengan kepala yang ditelungkupkan diatas meja. "Chi, ini gak bener kan? Mereka bilang lo diperkosa semalam! Kalian bukan melakukannya suka sama suka?!" teriak Xena gak pakai disaring. Xena baru sadar saat melihat begitu banyak orang berkumpul di balai desa. Ups! Chiqita mengangkat wajahnya dan menatap sebal sohibnya yang gak ngerti sikon itu. Pak Kades berdeham untuk menetralkan suasana. "Silahkan duduk Bu Xena. Kenalkan, mereka semua para tetua di desa kami." Xena menyalami satu per satu para tetua desa lalu duduk di samping Chiqita. "Sebenarnya apa yang terjadi, Chi?" bisiknya penasaran. Melihat wajah suram dan berbeban berat milik Chiqita dia jadi sedikit percaya sohibnya itu telah diperkosa! Jangan-jangan gegara mabuk semalam, ada berandalan busuk yang memanfaatkan kesempatan dengan memperkosa Chiqita. Xena bergidik ngeri, ia jadi merasa bersalah karena sudah meninggalkan Chiqita sendiri. "Chi, maafin gue. Semalam gue meninggalkan lo sendiri karena gue pusing. Gue gak menyangka habis itu ada yang merkosa lo!" Chiqita menggeleng-geleng frustasi, seakan dia gak sanggup menerima nasib naasnya. Hati Xena jadi semakin tak enak, dan dia melampiaskannya dengan niat ingin menghukum pemerkosa itu seberat mungkin. Kebiri saja dia biar kontolnya tak nyoblos sembarangan! "Chi, siapa orang itu? Siapa berandal yang merkosa lo? Gue akan proses dia secara hukum! Kita bawa dia ke polisi! Mana dia?!" ucap Xena dengan emosi meluap-luap. Semua orang kecuali Chiqita menunjuk pada sosok imut yang tengah berjongkok ketakutan di ujung ruangan. Xena ternganga lebar menatap sosok polos nan lugu yang memandangnya ketakutan. Kemarahannya menguap seketika, berganti dengan rasa iba. Gilak! Ini sih jelas siapa merkosa siapa!! Hadeh Chiqita, gak salah lo ngajak main bayi polos begini?! Induknya bisa membunuh lo kalau tahu! Keluh Xena dalam hati sambil memandang geram sohibnya. "Chi, kenapa lo gak bilang kalau korban lo bayi polos seperti dia?!" desis Xena sebal. "Gue gak sadar. Semalam gue mabok ketika melakukannya. Hanya ingat enaknya main sama dia, kontolnya gede, dan greng tahan lama!" bisik Chiqita vulgar. Xena menoyor kepala Chiqita. "Lalu kenapa ekspresi wajah lo kayak dipaksa minum racun berbisa?" "Astaga, dia brondong SMA! Umurnya baru 16 tahun. Mampus aja gue disuruh ngawinin dia! Alamat gue dapat momongan bayi gede. Kini lo paham tragedi yang menimpa gue?!" pekik Chiqita frustasi. Dia tak sadar teriakannya membuat semua orang di ruangan balai desa menatapnya tajam. Xena paham kegundahan Chiqita, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Chiqita sudah nyemplung terlalu dalam. Dia tertangkap basah memperjakain brondong lugu yang modelnya imut gak ketulungan. Dia harus bertanggung jawab. Mau kawin atau dirajam batu? *** Acara nikahan Chiqita dan Bebi berlangsung sederhana. Tanpa kesan apapun. Mereka hanya disuruh menandatangani ini dan itu. Tanpa protes Bebi langsung menorehkan tanda tangannya. Dia sama sekali tak membaca dokumen yang ditanda tanganinya. Berbeda dengan Chiqita, dia membaca dengan seksama pasal-pasal yang ada di surat perjanjian itu. "Anjrit! Gue nikah betulan, Xen. Surat nikah ini asli, sah secara hukum," gerutu Chiqita pelan. Xena menatap sohibnya miris. "Ambil saja sisi positipnya, Say. Kini lo gak usah bingung cari partner ONS. Lo dapat yang brondong, hot pula mainnya di ranjang!" goda Xena. Chiqita menatap suami bayinya yang sedang memandangnya polos mirip anak kucing yang haus belaian. "Hmmm, jujur gue jadi ragu. Apa semalam gue terlalu mabuk hingga mengira permainan seks kami begitu panasnya?! Lo lihat, tampang bayi kayak gitu mana mungkin punya perkutut gede dan sanggup memuaskan nafsu seks gue?!" ceplos Chiqita. Xena tertawa ngikik mendengar komentar vulgar Chiqita. Dia memandang s**********n Bebi, lalu berbisik di telinga Chiqita, "Gue perhatikan memang tonjolannya jumbo, Say. Kalau permainannya, nah itu.. mana gue tahu?! Boleh mencobanya?!" Duk! Chiqita menyikut pinggang teman sesama mesumnya. "Apa lo juga pengin disuruh nikah sama bayi ini? Maminya bisa jantungan kalau tahu pulang-pulang anak bayinya membawa dua bini!" Dua cewek m***m itu tertawa ngakak, Pak Kades menatap heran pada mereka. "Ada yang lucu, Bu?" "E.. enggak Pak. Eh, ada! Itu adiknya lucu mukanya." Xena asal menunjuk Bebi. Bebi jadi salah tingkah, tapi dia mendekati Chiqita dengan malu-malu meong. "Tan... tante Chiki, Bebi boleh kembali ke teman-teman? Kata Bukne sama Pakne sekarang kalau Bebi pergi harus ijin Tante Chiki," kata Bebi polos. Tante Chiki? Dia memanggil istrinya sendiri 'Tante'? Dan Chiki! Chiqita paling sebal dipanggil Chiki, seperti nama snack jajanan anak SD saja! Ah parah nih nikah sama bayi. Tak mungkin Chiqita memarahi cowok yang baru semenit menjadi suaminya, dengan terpaksa ia tersenyum kaku. "Boleh Dek, silahkan. Tak usah buru-buru kembali. Lebih bagus lagi tak usah kembali selamanya," sindir Chiqita tajam. Xena mencubit lengan Chiqita gemas. Mulai deh mode jutek on Chiqita. "Apa sih?" protes Chiqita. Mata Bebi berkaca-kaca. Nah lho, baru diginiin saja sudah mewek! Chiqita semakin frustasi dibuatnya. "Kenapa?!" bentaknya galak. "E.. enggak. Bebi cuma suka Tante Chiki panggil Bebi 'Dedek'. Mami juga manggil Bebi gitu. Jadi ingat Mami, Bebi kangen Mami. Hik... hik.. hik.." Bebi terhisak pelan. Chiqita jadi gatal ingin menendang suami bayinya kembali ke rahim maminya! Ya Lord, apa nasibnya kurang apes? Sudah dipaksa nikah, dapetnya brondong model bayi. Cengeng, anak Mami pula!! Astaga! Ini pasti karmanya karena menjadi cewek jalang yang banyak mempermainkan perasaan kaum adam! *** Sekali lagi Xena bertanya pada Chiqita saat mereka berada didalam mobil dalam perjalanan pulang. "Chi, Apa lo betul-betul tega meninggalin suami bayi lo di desa?" "Yoi, urusan apa sama gue? Biarlah dia kembali netek ke maminya, gih!" sahut Chiqita cuek. "Tapi kalian sudah merit lho. Sah secara hukum!" "Bodo. Yang tahu cuma kita dan tetua desa yang kolot itu! Anggap saja angin lalu. Mimpi buruk!" Xena geleng-geleng kepala. Dia sedikit iba pada bayi polos itu. Sudah diperjakain, lalu ditelantarkan. "Shut up! Asal lo gak buka suara, kagak ada yang tahu gue udah merit! Nanti kalau ada waktu luang, gue akan mengurus perceraian gue. Asal ada duit, semua bisa dibereskan. Tul kan?" Xena menghela napas panjang. Ucapan Chiqita ada betulnya. Tapi dia terlalu menyepelekan kekuasaan Tuhan yang telah mengatur takdir untuknya. Entah bagaimana, hidupnya akan selalu berkaitan dengan Bebi, suami bayinya itu. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD