Bab 2 Wanita yang Selalu Sial dengan Pria

1628 Words
“Selamat pagi!” sapa seorang wanita berambut pendek kepada Risa yang baru saja duduk di kursi kerja. “Pagi!” balas Risa dengan senyum cerah. Tapi, begitu wanita tadi berlalu, wajahnya seketika ditekuk suram. Suasana kantor masih terbilang sepi, perempuan ini memang terbilang paling rajin jika terkait mengejar masa depannya. Sejak kecil, Risa selalu berusaha yang terbaik, termasuk juga masalah percintaan. Namun, Tuhan sepertinya berkehendak lain. Mau sekeras apa pun dia berusaha sama seperti dia belajar mati-matian dan mengejar karir, tetap saja kisah cintanya selalu gagal. Sekarang, ayahnya datang dengan proposal perjodohan demi menolong perusahaan mereka yang hampir bangkrut. Sebenarnya, Risa enggan melakukan perjodohan. Tapi, jika dia tidak melakukannya, maka seluruh karyawan perusahaan pasti akan terancam diberhentikan tanpa pesangon. Jika itu sampai terjadi, kemungkinan kerusuhan hebat akan menghantui perusahaan, sudah pasti rumah dan anggota keluarga mereka akan menjadi sasaran kemarahan tiada habisnya dari banyak orang. Membayangkannya saja sudah membuat Risa berkecil hati dan kehilangan semangat. Nasib banyak orang berada di tangannya, termasuk keluarganya sendiri. Risa menelungkupkan badannya di atas meja kerja, menatap malas buku-buku kecil yang berisi perencanaan kerja yang sangat rapi dan terarah untuk bulan ini. Dia sangat ahli mengatur pekerjaannya sampai mungkin bisa dijuluki sebagai karyawan teladan. Andai saja kisah percintaannya semudah itu dikendalikan.... Tanpa sadar, Risa tertidur di meja. Selama hampir satu jam, Risa tenggelam ke alam mimpi. Tidak lama kemudian, seseorang membangunkannya ketika suasana kantor mereka mulai terlihat ramai. “Ris? Risa? Bangun, dong!” tegur suara seorang wanita. Risa membuka mata dengan sorot mata tidak fokus. Air liurnya menetes di salah satu sudut bibir dan membasahi meja. “Bangun! Bisa gawat kalau bos melihatmu tertidur, kan?!” Suara cemas itu membuat mata Risa terbelalak hebat. Buru-buru, dia pun menegakkan punggung, menghapus cepat air liur di sudut bibirnya. “Oh! Terima kasih, Vera!” ucap Risa pelan, perasaannya sangat kacau karena dipaksa bangun. Vera, teman kerjanya adalah seorang wanita dengan tubuh semampai dan rambut sebatas bahu yang diikat satu. Wanita itu mengenakan sifon hitam sebatas siku dan rok merah cerah. “Apa kamu sudah menyelesaikan materi presentasi kita hari ini?” “Um! Sudah,” jawabnya cepat, dan segera mengaduk-ngaduk isi tasnya. Risa mengambil sebuah Flashdisk merah, menyerahkannya kepada perempuan bernama Vera tadi. “Astaga! Kamu yang terbaik, Risa!” pujinya dengan wajah berseri-seri, meraih flashdisk tersebut, lalu mencubit-cubit gemas kedua pipinya. “Ok! Kalau begitu aku akan segera menyiapkan materi rapat kita sore ini!” Risa hanya tersenyum cengengesan diperlakukan gemas seperti anak kecil polos. Vera melambaikan tangan dan bergegas menuju meja kerjanya, posisinya satu baris dengan meja Risa, hanya saja dipisahkan oleh 3 meja lain di sana. Risa bertopang dagu geli, menatap bersemangat teman kantor sekaligus merupakan teman kuliahnya dulu. Keluarga Abdullah sebenarnya memiliki sebuah perusahaan besar di negara ini, Grup Sucipto. Tapi, itu adalah perusahaan yang tidak sesuai dengan apa yang ingin Risa tekuni. Ayahnya, Abdullah Sucipto, mendirikan sebuah perusahaan makanan dan minuman yang terbilang cukup sukses. Bisa dibilang, keluarga Abdullah adalah keluarga yang cukup kaya dan terkenal di kalangan para pebisnis ulung dan konglomerat. Sayangnya, tidak ada satu pun teman kantornya yang mengetahui hal itu, kecuali Vera. Kantornya pasti heboh kalau sampai mengetahui ada anak konglomerat bekerja di perusahaan mereka, bukan? Risa tidak suka disorot oleh banyak mata! Ayahnya begitu berharap agar dirinya menjadi tumpuan untuk melanjutkan bisnis tersebut, karena Raza, putra satu-satunya keluarga mereka ingin sekali menjadi dokter dengan kecerdasan dan bakat yang dimilikinya. Walaupun ditentang oleh keluarga dan tak mendapat dukungan apa pun, tapi dengan kemampuan otaknya yang luar biasa, maka Raza bisa mendapatkan beasiswa penuh dan menunjukkan kemampuannya sebagai calon dokter yang sangat menjanjikan. Ketika Raza lulus dengan nilai yang memuaskan dengan gelar terhormat, serta banyak yang menawarinya pekerjaan di berbagai rumah sakit sebelum lulus kuliah, kedua orang tuanya pun tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Oleh karena itu, Abdullah Sucipto menyerah, dan berharap anak perempuan satu-satunya menjadi penerus bisnisnya. Sayangnya, ternyata Risa lebih keras kepala daripada Raza. Dia malah memilih sebuah perusahaan iklan yang kini menjadi tempat untuk mengejar karir impiannya. Hari itu, selama bekerja, Risa hanya bisa melamun seperti orang yang kehilangan kemampuan berpikir. Bahkan saat rapat presentasi pun, beberapa kali bos mereka menegurnya sampai semua mata anggota tim menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Benar-benar sangat tidak biasa! “Ma-maafkan saya, Pak! Saya hanya sedikit lelah dan mengantuk saja.” “Lain kali, tolong perhatikan kesehatanmu sendiri, Risa Abdullah. Jika tidak bisa mengerjakan semuanya, kamu bisa meminta bantuan dari rekan kerjamu yang lain, bukan?” balas pria yang sedang memimpin rapat, mengerutkan kening melihat Risa yang berdiri dari duduknya karena kaget. “Baik, Pak! Maaf sekali lagi!” ucapnya cepat seraya menundukkan kepala meminta maaf kepada semua orang yang ada di sana. Selama rapat berlangsung, Risa bengong hampir seperti orang yang berada di rumah sakit jiwa, alih-alih berada di kantor kesayangannya. Bagaimana ketua mereka tidak menegurnya? Untung saja dia masih bisa berkilah dengan alasan kurang tidur gara-gara menyiapkan materi rapat selama seminggu penuh. Sebuah alasan yang bisa cepat diterima, mengingat proyek kali ini memang cukup berat dari perusahaan kelas atas. “Kamu ini kenapa, sih? Tidak biasanya bersikap tidak profesional seperti itu,” keluh Vera ketika mereka berdua kini sudah berada di dapur kantor, sibuk di depan mesin pembuat kopi. “Untung kita semua maklum.” Risa menghela napas lelah, wajah muram, duduk di sebuah meja dengan kedua bahu melorot. Membalas hal yang tidak ada kaitannya dengan topik pembicaraan. “Kamu bilang akan menikah akhir tahun ini, kan?” Vera mengangguk cepat dengan wajah berseri-seri, lalu memberikan segelas kopi untuknya. “Kenapa? Apa pacarmu sudah mau melamarmu? Kali ini sudah tidak gagal lagi, kan? Aku tidak tahu kamu pacaran lagi. Siapa dia kali ini?” Risa muram menatapnya, mata mendatar kesal, dan berkata dengan nada putus asa, “apaan? Sepertinya aku kena kutuk, deh. Kenapa setiap kali pacaran, semuanya gagal terus, ya?! Kamu tahu sudah berapa kali aku patah hati gara-gara ulah semua pria tidak berakhlak itu, kan? Aku sudah jomblo sejak awal tahun. Sudah muak menjalin hubungan yang tidak ada harapan sama sekali.” Dengan ganas, Risa meniup kopi panas di gelas plastik putihnya, wajah terlihat menggemaskan meski agak mendung memikirkan kisah cintanya yang lebih parah daripada tragedi kapal yang tenggelam. Sebelah kening Vera terangkat penasaran. “Lalu? Untuk apa tanya-tanya soal pernikahan?” Keringat gelisah menuruni wajah Risa, mulut ditutup rapat-rapat. Kalau sampai wanita di depannya ini tahu bahwa dia sudah putus asa mencari cinta sejati, maka pasti akan mendapat omelan luar biasa dengan keputusannya yang pasrah menikah bak beli kucing dalam karung. “Kenapa matamu menghindar begitu?” sindir Vera tajam, mulai mengendus sesuatu yang tidak bagus, alarm sensitifnya mulai bereaksi. “Tidak. Tidak apa-apa, kok. Aku hanya penasaran sedikit dengan pernikahanmu nanti. Bukankah kalian baru saling mengenal selama 1 bulan?” Vera tertawa bangga, begitu cerah. “Lama atau tidaknya kenal, kalau sudah cinta, ya, langsung menikah saja! Buat apa pacaran lagi? Lagi pula, aku tidak mau bernasib sama sepertimu, wahai temanku! Umur kita sekarang sudah hampir 30, sudah sangat siap untuk punya anak!” terang Vera percaya diri, satu tangan menepuk pundak Risa. Mata tersenyum senang. Risa sedikit panas dibuatnya, tapi hanya bisa mengalah. Benar. Risa memiliki prinsip ingin mengenal para calon suaminya terlebih dahulu alias para mantan pacarnya. Tapi, semuanya belum genap setengah tahun bersama, sudah kandas di tengah jalan. Berbagai kejadian dan alasan mewarnai tragedi kisah cintanya, mulai alasan klise seperti orang ketiga, selingkuh, sampai dijadikan tameng sebagai penutup kelainan seksual seseorang. “Terus, kenapa kamu selama ini mengomporiku soal pacaran?” “Risa, Risa. Kamu tidak mengerti. Aku dan Hadi itu sudah merasakan getar-getar cinta sejati sejak awal kami bertemu. Buat apa pacaran jadi prinsip kami? Kamu, kan, berbeda.” Tiba-tiba Vera terdiam dengan muka pucat, sepertinya sadar sudah mengatakan hal yang tidak boleh dikatakan. Wajah lawan bicaranya langsung menggelap mengerikan, mata menyipit seperti kucing ganas. “Maksudmu, aku berbeda karena suka bertemu pria-pria aneh?” Keringat dingin menuruni pelipis Vera, berdeham canggung, “bu-bukan begitu.” “Sudahlah, aku juga mengakui hal itu,” jelas Risa dengan helaan napas berat, lalu meminum kopinya meski masih panas menyengat bibir. “Risa! Itu masih panas! Kamu gila?!” “Ini bukan apa-apa!” ujar Risa dengan mata dipejamkan erat, menahan rasa terbakar di dalam mulutnya, karena di hatinya lebih panas lagi! Sebentar lagi, hidupnya untuk selamanya akan berada di tangan pria asing yang tak dikenalnya sama sekali! Gelas plastik kosong itu diremas kuat- kuat, wajah merajuk sedihnya mengeras menahan rasa kesal dan frustrasi. Mulut dimajukan. Tidak mengatakan apa-apa. “Risa? Kamu sungguh baik-baik saja?” Vera menatapnya penuh prihatin. Dengan isakan kecil, Risa menjawab dengan nada sedih, memelas tak berdaya menatap permukaan meja, tatapannya kosong, “sebenarnya, aku dijodohkan oleh ayahku.” Vera mematung hebat! “APAAA?!” serunya dengan kedua bola mata membesar kaget, spontan berdiri dari kursi mendengar kabar sangat mengejutkan itu. *** Di saat yang sama, Shouhei Shiraishi yang sedang membaca laporan keuangan di ruang kantornya, memiliki firasat tidak enak. Hatinya gelisah dan merumit, kening mengencang kuat. Seolah-olah dia bisa merasakan apa yang sedang dialami oleh Risa di tempat lain. Saking gelisahnya pria dengan wajah dingin menawan ini, gelas kopi yang diraihnya untuk diminum tiba-tiba saja tergelincir dari jari-jarinya yang lentik dan panjang, jatuh membasahi dokumen penting di atas meja. “Tuan muda!” pekik sang sekretaris yang berdiri di dekatnya. Shouhei menaikkan satu tangan, tanda dia baik-baik saja, mencegahnya mendekat. “Bawakan laporan baru, dan bawakan segelas air dingin untukku.” “Ba-baik!” ujar sang sekretaris gugup, berusaha tetap tenang. Sekretaris pria buru-buru keluar melaksanakan perintahnya dengan wajah pucat, karena ekspresi Shouhei Shiraishi tampak tidak baik-baik saja. Seperti penuh dengan awan badai yang siap untuk membunuh orang! Apakah hal itu ada kaitannya dengan perjodohan wanita yang disukainya? Bosnya mulai berubah sejak mengetahui berita mengenai perjodohan mengejutkan Risa Abdullah. Dia semakin dingin dan menakutkan!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD