Jejak pertama

1165 Words
"Zin... Zin... lihat! aku berhasil membuat burung. Burung ini nantinya yang akan menerbangkan kita Zin, Zin kamu ingatkan? dulu, kamu pernah mengajarkan aku membuatnya" pekik Eiji kegirangan. Tapi tidak dengan Zin. Lelaki yang sejak tadi dipanggil itu hanya membeku tak berniat sedikitpun membalas ucapan Eiji. Bahkan sekedar untuk menengok adiknya itu Zin malas. Bukan tanpa sebab, entah sejak kapan... ia merasa Daichi, ayah mereka jauh lebih mencintai Eiji. Zin tahu, Eiji memiliki kebutuhan khusus. Yang mengharuskan ia mendapat perhatian lebih. Penyakit yang ia derita sejak bayilah yang jadi penyebabnya. Down Syndrome trisomi 21. Seseorang dengan down syndrom jenis ini biasanya mengalami kelebihan kromosom 21. Yang membuat tumbuh kembang dan karakteristik penderita berbeda dari yang lain. Karena itu meski Eiji sudah berusia tujuh belas tahun, tapi sikapnya masih layak disebut anak kecil berusia enam tahun. Dulu memang Zin tak pernah mempermasalahkan hal itu, ia akan menerima Eiji apa adanya. Tapi saat Zin mulai dewasa semua terasa berubah. Apalagi Daichi lebih suka mengajak Eiji kemanapun tanpa dirinya. Zin berdiri ia menyingkir dari tempatnya. Belum juga mau memperdulikan Eiji yang menatap nanar ke abangnya itu. "Zin...!" panggil Eiji hambar, meski keterbelakangan tapi firasat Eiji kuat. Ia selalu tahu sikap orang yang tak menyukainya. Zin tetap diam seolah terus sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Yaitu memakai jaket kulit hitam dan mengambil kunci motor di meja dengan kasar. Kemana lagi pria itu kalau bukan ke arena tinju tempat ia melemaskan otot-otot di tubuhnya. "Zin... jangan pergi!" rengek Eiji. Ia bahkan memberengut persis anak-anak. "Lo ngapain sih daritadi ngerengek mulu, ribet tau gak!" ketus Zin kasar. Kembali ia menarik lengannya supaya pegangan Eiji di jaketnya terlepas. "Ayah... Ayah... Zin mau pergi!" adu Eiji. Ia memang selalu begitu, Eiji akan selalu tidak terima jika Zin keluar malam hari. Tapi malam ini, ia jauh lebih tak ingin Zin pergi. Daichi menatap punggung Zin yang hampir menghilang tertutupi daun pintu. Ia merangkul Eiji agar mengikuti Zin. "Zin... tolong malam ini jangan pergi. Temani adikmu, Eiji. Hanya malam ini saja" mohon lelaki tua itu. Ia menatap lurus kearah Zin berharap anak yang sangat ia sayangi itu mengerti keinginannya. Tapi justru Zin semakin murka, pria itu fikir... Daichi begitu egois. Meminta ia menanggalkan kebahagiannya demi menuruti Eiji. Ia hanya menggoyangkan tangannya. Seraya menolak perintah ayahnya itu. --- Zin sudah sampai di arena tinju. Tapi ia tak langsung membaur ke dalam sana. Zin memang tak suka basa-basi dengan orang lain. Sifatnya yang sosiopot mengantarkan ia untuk duduk menyendiri di pojokkan. Ia duduk di lantai. Kakinya terjulur ke depan. Mencoba merengangkan letih yang mendera. "Duh... aduh! Kaki siapa sih nih!" pekik Thom tak senang. Sementara Zin balik menatap malas pada Thom. "Kaki lo minggirin dong!" Thom menendang kaki Zin kasar. Tapi sayang tulang kokohnya sama sekali tak bergerak dari tempatnya. "Mata lo buta. Dari tadi juga kaki gue disini!" kata Zin pendek tapi sangat masuk ke hati. Membuat darah Thom mendidih. Ia menginjak tulang kering Zin. "Awhkk... dasar sialan!" hina Zin. Meski kakinya masih linu tapi ia mencoba berdiri. Sekarang ia sudah berhadapan dengan Thom. Thom sama sekali tidak gentar. Ia justru menoyol pelipis Zin keras. "Anak bodoh saja belagu!" kutipnya seraya tertawa miring. "Jangan mentang-mentang pelatih bilang lo hebat. Lo jadi belagu gini. Pelatih cuma mau hibur lo anak yang gak dianggap sama orangtuanya. Gitukan, guys?!" Thom berbalik melihat ke tiga temannya. Bibirnya tersenyum miring, menganggap jika kali ini ia sudah berhasil menjatuhkan Zin. Zin langsung mendorong Thom. Tanpa segan ia menduduki perut Thom dan memukul wajah yang paling Thom banggakan. "Guys... tolongin gue, pegangin dia. Sialan lo!" Zin memang menginjak kedua lengan Thom dengan sepatu ketsnya. Sampai Thom sama sekali tidak bisa melawan Zin. "Guys... lo pada kemana, cepet tolongin gue!" geram Thom yang hampir tak berbentuk karena terlalu babak belur. Matanya mencari ketiga temannya, tapi sayang tak ada yang berani pada Zin. Bahkan semua orang hanya mengitari pertengkaran ini. Edro mencoba maju satu langkah. Dan itu ditangkap oleh mata elang Zin. "Sekali lo ikut campur. Gue patahin leher lo!" ancamnya. Ia memang pria yang tak ingin setengah-setengah melampiaskan amarahnya. Edro yang diancam menelan ludahnya kasar. Sangat tak mau terjadi sesuatu dengan lehernya yang belum di garansi itu. Akhirnya Edro memutuskan berlari ke Pak pelatih. Hanya lelaki itu yang bisa menjinakkan Zin. "Sense... Sense tolong Zin dan Thom bertengkar!" katanya engap-engappan. Hito hanya menyeritkan alisnya. "Ini pasti karena Thom yang cari gara-gara?!" tebaknya. Edro hanya menunduk takut. Ia tak bisa terlalu banyak membela Thom. "Hhaah... ayok!" sahut Hito kemudian. Tangannya sambil menarik gagang pel. Karena tadi ia sedang bersih-bersih ruangan sebelah. "Zin...!" pekik Hito keras. Matanya melotot. Ia menjatuhkan gagang pel itu sehingga menimbulkan bunyi yang keras. Zin langsung bangun dari tubuh Thom. Dan berlari untuk mengambil gagang pel itu. Diletakkannya lagi di telapak tangan Hito. Santun! Zin tahu, guru adalah orang yang harus ia hormati. "Bersihin sisa darahnya! baru ajah saya pel'in!" kesal Hito memberikan pel itu ke Zin. Zin menerimanya dengan senang hati. "Sense... gitu ajah?!" tanya Edro takut-takut. Ia pikir Zin akan mendapat hukuman yang sangat berat. "Emang harus apa? Thom yang cari gara-gara. Wajar dong kalau dia dapat balasan dari apa yang ia kerjakan. Dan kamu tunggu apa lagi?. Bangun,'kan teman kamu itu sebelum ia terkena sodokkan gagang pel!" titahnya Zin jadi tersenyum. Memang pelatihannya itu sangat bisa diandalkan. Saat Zin masih membersihkan ruangan, Hito kembali mengamati Zin. Hito tahu, Zin punya kekuatan besar dalam dirinya. Ia bisa dengan mudah menjadi juara meski tanpa latihan sekalipun. Zin punya bakat yang datang begitu saja. Mungkin ini adalah anugerahnya. Tapi bisa juga berubah menjadi petaka untuknya. Seandainya saja ia tak bisa mengatur emosinya. Karena itu Hito bersedia melatih Zin. Bukan untuk membentuk otot-otot alami yang ia miliki. Bukan juga mengasah kemampuan yang hampir mendekati kata sempurna itu. Tapi hanya untuk mengatur emosinya agar lebih stabil. Meski mungkin itu sulit. Usianya yang baru dua puluh tahun membuatnya masih sering termakan perkataan orang. "Eeh... Sense!" sapa Zin saat menyadari dirinya ditatap. "Emangnya tadi kenapa, kok sampai lepas kontrol lagi?!" tanya Hito santai. Mulutnya sambil mengeluarkan asap dari cerutu yang ia hisap. "Bukan apa-apa, Sense...!" "Bukan apa-apa tapi gigi Thom patah dua" ledeknya. Zin hanya tertawa. "Maaf Sense malam ini saya mengecewakan anda!" "Seharusnya kamu meminta maaf pada dirimu sendiri. Kamu bukan mengecewakan saya, tapi kamu mengecewakan usaha kamu sendiri untuk berubah. Apa cuma karena satu dua kata yang membuatmu kehilangan dirimu? Zin... seseorang gak bisa memaksa orang lainnya untuk bersikap baik. Apalagi Thom, kau tahu,'kan mulutnya jauh lebih kejam dari ibu kontrakan pas awal bulan" canda Sense'nya itu. Zin mendorong lengan Sense'nya itu. Jarak usia yang cukup dekat membuatnya cepat akrab dengan Hito. "Pulanglah. Sejak tadi aku melihatmu tak fokus, pasti ada sesuatu yang kau fikirkan!" Zin diam. Jujur sejak tadi firasatnya tak enak. Permintaan Daichi dan tatapan memelas Eiji masih terus teriang di benaknya. Bahkan tiba-tiba saja dadanya bergerumuh perih, membuat ia sangat ingin meneteskan air mata. Ia membuang nafasnya kasar. Berdiri seraya mengambil tangan Hito untuk diciumnya. "Kalau gitu aku pulang, yah!" pamitnya. Mungkin tak ada salahnya jika ia menuruti permintaan Daichi malam ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD