Episode 3

2121 Words
|Zenith. Tiga hari kemudian. Pukul 22.00| Delapan orang sudah berkumpul di sana. Zenith, ruangan pertemuan yang ada di tingkat tertinggi asrama The Academy. Kedelapan orang itu berpakaian hitam. Merekalah yang menamakan diri The Olympians. Seorang wanita yang berdiri di depan memulai rapat itu. "Mari kita mulai sekarang rapatnya, The Olympians! Untuk memudahkan penyebutan, mulai sekarang kita akan disebut sebagai The Guardians. Sepuluh Olympians muda sudah berhasil direkrut. Sebulan dari sekarang kita akan mulai proses penempaan mereka," katanya dengan nada berwibawa. "Hera, tolong sebutkan data-data para Olympians muda. Bukankah setiap kita akan menjadi pembimbing privat dari mereka?" "Ya, tentu saja. Masalah penentuan pembimbing privat, itu tinggal disesuaikan dengan spesialisasi mereka nanti. Dengan demikian mentor yang mendampingi akan benar-benar bisa mengeluarkan kemampuan mereka." Gumaman setuju terdengar di ruangan oktagonal (bersegi delapan) itu. Hera, satu-satunya wanita di situ, duduk, lalu mengedarkan kertas berisi data dari para siswa yang baru saja terpilih masuk The Academy. "Ah, menarik! Kita mempunyai siswa berdarah keturunan Jepang. Hades, dengan nama asli Hironimo, IQ 350. Karakteristik dasar kreatif dan kejam. Penganut Shinto modern." "Kau tentu tertarik karena dia mengambil nama yang sama denganmu, kan, Hades?" balas Hera sambil tertawa. Hades ikut tertawa. Dia berkacak pinggang sambil menjentikkan jarinya. "Salah satunya, tapi aku tertarik dengan IQ-nya yang super. Aku benar-benar ingin jadi mentornya." "Hei, hei, tidak bisa begitu, Hades. Seperti kata Hera tadi, mentor akan dipilih dan disesuaikan dengan kemampuan setiap siswa. Jangan main potong begitu!" "Aku bisa mengarahkannya untuk menguasai segala jenis strategi untuk melumpuhkan syaraf dalam waktu di bawah satu menit, ataupun dalam waktu perlahan supaya menyiksa," jawab Hades sambil mengangkat dagunya. "Hah! Tidak perlu menyombongkan diri begitu. Hera bisa mencuci otak sepasukan orang untuk menjadi antek-antek kita. Hephaestus bisa menyebar virus untuk mengacaukan sistem ekonomi dunia. Hermes juga bisa mengguncang pasar saham dan valas. Aku sendiri sanggup merancang pertunjukkan menakjubkan yang akan mengecoh setiap polisi dan badan intelejen dunia. Jadi bukan kamu seorang yang pantas jadi mentor Hades muda!" tutur Dionysius dengan berapi-api. Zeus angkat bicara juga. "Dionysius benar, Hades. Semua kita bisa saja menjadi mentor Hades muda. Lagipula masih ada sembilan Olympians muda lainnya. Tidak perlu berebut." "Benar,” kata Hermes mengiyakan perkataan Zeus. Apollo yang dari tadi hanya menyimak pembicaraan rekan-rekannya akhirnya ikut angkat bicara. "Bukankah justru seni mentoring yang tertinggi adalah mengolah dari yang tidak diunggulkan menjadi sesuatu yang bersinar indah dan tak terduga? Apa tantangannya kalau langsung memilih kandidat dengan potensi tertinggi?" tanyanya sambil menyindir Hades. "Kau!" Hades bangkit dari duduknya sambil menatap tajam ke arah Apollo. Apollo malah tersenyum melihat Hades yang mulai terpancing emosinya. "See? Hanya beberapa kalimat saja, kau sudah terpancing. Bisa jadi kalau kau yang jadi mentor Hades muda, dia malah akan terperosok karena tidak bisa mengendalikan kecenderungan alaminya." Hades akhirnya sadar kalau Apollo memang terlalu ahli dalam memprovokasi dirinya. Dia kembali duduk. "Amir, dengan panggilan Hermes. IQ 230, berasal dari keluarga miskin. Dia menuliskan tujuan hidupnya adalah untuk bisa menjadi kaya dan berpengaruh. Islam moderat. Sepertinya cocok sekali kumentori," papar Hermes sambil mengelus-elus janggutnya yang panjang. "Kami memiliki gairah yang sama. Ekonomi. Apa yang lebih indah dari itu? Mentor dan protege (anak didik) yang memiliki dorongan dan ambisi yang sama." Hermes menatap kertas berisi data tersebut sambil menyunggingkan senyum tipis. Hera mengangkat tangannya. Dengan lembut dia berujar, "Para Senior Olympians, para Guardians yang terhormat, pertemuan kali ini hanya untuk mendistribusikan data Olympians muda. Penentuan mentoring tidak akan dilakukan saat ini. Supaya mempersingkat waktu, biarkan aku yang membacakan data-data para Olympians muda lainnya." Tujuh orang lain yang ada di The Oracle mengangguk. Hera melihat sekelilingnya sambil tersenyum puas. "Selain dua orang yang sudah disebutkan oleh Hades dan Hermes, kita masih ada Aryana atau Ares. IQ 205. Menuliskan sebagai seorang ateis, yang tidak akan pernah taat aturan. Kita sudah lihat tadi siang, bukan, dengan beraninya dia malah memprotes begitu saja saat Aphrodite muda terpilih?" Ketujuh orang yang duduk di sana mengangguk lagi. "Lalu ada Amadeus atau Zeus. IQ 310. Beragama Hindu. Karakteristik standar orang jenius yang pendiam dan kutu buku," lanjut Hera lagi. "Zeus, bisa tolong lanjutkan membacakan enam orang sisanya?" "Tentu saja, Sayangku," sahut Zeus sambil melemparkan senyum manis ke arah Hera. Dengan cepat dia membacakan enam orang sisanya. "Dewa (Poseidon), IQ 280. Cerdik, pintar mencari jalan pintas. Yahudi. Lalu ada Lotus (Demeter). IQ 165. Beragama Budha. Karakteristik umum manis, baik hati, dan selalu mau menolong." Zeus menarik napas perlahan, baru kemudian melanjutkan lagi. "Meyli (Persephone), IQ 195. Tipikal anak baik yang taat orang tua dan tradisi. Berkepercayaan Kong Hu Cu. Lalu ada Belle (Aphrodite), yang tadi siang kita lihat sudah menjalin kontak dengan Ares dengan cepat. Belle (Aphrodite) IQ 200, agnostik. Berasal dari broken-family, juga mirip dengan Ares yang memiliki kecenderungan pemberontak." "Sepertinya The Academy akan sangat menarik. Aku tidak sabar untuk bertemu dengan mereka semua!" seru Hephaestus girang. Dionysius yang duduk di sebelahnya ikut tersenyum. "Boleh aku lanjutkan?" tanya Zeus. Hephaestus berdeham. "Maaf, silakan dilanjutkan." "Esther (Athena), IQ 260, beragama Kristen. Tipe gadis manis dan rajin. Terakhir tentu saja ada Hera, IQ 175. Sangat mencolok dengan makeup, sepatu hak tingginya. Aku saja sampai kaget waktu aku melihatnya pertama kali. Hera agnostik," papar Zeus lagi. "Back to you, my dear Hera," kata Zeus. Hera tersenyum lalu mengangguk ke arah Zeus. "Terima kasih, Zeus. Jadi para Guardians, itulah sepuluh orang Olympians muda yang akan kita gembleng selama empat tahun ini. Dunia tidak akan pernah sama lagi setelah 4 tahun ini. Harapanku sebelum empat tahun kita sudah bisa mengaplikasikan karya mereka. Bersiaplah akan tugas besar menciptakan The New Olympians. Dua minggu dari sekarang, aku akan memulai proses indoktrinasi." Kedelapan orang itu berdiri, seolah-olah membentuk segi delapan seperti ruang itu sendiri. Mereka mengangkat tangannya ke atas kepala, menumpukkannya ke atas tangan yang ada di sebelahnya. Lalu bersama-sama mengatakan yel-yel mereka. |The Olympus. Seminggu kemudian| Sepuluh mahasiswa akan mulai menempati asrama The Academy dari hari itu sampai semester satu berakhir. Asrama yang diberi nama The Olympus itu, memang cukup pantas diberi nama tempat dewa-dewi tinggal dalam mitologi Yunani. Sepuluh mahasiswa tersebut sampai sekitar pukul 10 pagi. Mereka membawa barang-barang mereka dalam koper. Beberapa dari mereka membawa banyak sekali barang. Dari kejauhan mereka bisa melihat bentuk dan arsitektur bangunan The Olympus yang berbentuk oktagonal (segi delapan). Bentuk bangunannya seperti menara dengan ukiran patung-patung dewa-dewi Yunani di sana-sini, sangat berciri khas bangunan kuno Eropa. Para mahasiswa menunggu di lobi. Mereka memperhatikan sekeliling sambil terkagum-kagum. Lobinya merupakan bangunan luas yang dihiasi dengan kubah berlukiskan pemandangan para dewa-dewi yang sedang berkumpul di The Olympus. Agak mirip konsepnya dengan lukisan di kubah St. Peter Basilica karena arsitektur dari The Olympus memang mengadopsi struktur dan arsitektur gereja di Roma tersebut. Bedanya di St. Peter Basilica gambar yang ada tentu saja bukan lukisan para dewa-dewi Yunani. Lantai lobi dari marmer hitam yang gemerlap. Mengesankan ruangan yang elegan dan mewah. Di ujung lobi ada meja resepsionis yang terbuat dari kayu jati. Dicat berwarna putih gading, sehingga terlihat kontras dengan lantainya. Di sana terdapat perkamen-perkamen (gulungan-gulungan kertas) yang menunjukkan data penghuni. Persis sekali dengan penataan hotel bintang lima. Dari petunjuk arah di lobi, para mahasiswa mendapatkan informasi mengenai ruang-ruang yang ada di sana. Selagi menunggu dan melihat-lihat, sekitar pukul sebelas Miss Veil tiba di lobi. Beberapa mahasiswa menyapa Miss Veil yang disambutnya dengan hangat. "Ayo, berkumpul dulu di dekat meja resepsionis. Mungkin sebagian dari kalian sudah melihat-lihat sekeliling. Lobi ini diberi nama Zero Point. Setiap kali kalian akan minta izin meninggalkan The Olympus, harus melapor di sini. Tanpa izin, kalian akan dikenakan sanksi." Miss Veil melihat sekeliling sambil tersenyum, memperhatikan untuk memastikan kesepuluh mahasiswa tersebut mendengarkan kata-katanya dengan saksama. "The Olympus terdiri dari 20 tingkat. Total terdapat 400 kamar di sini. Ayo ikut saya. Saya akan mengantarkan kalian ke kamar masing-masing, tapi sebelumnya saya akan menunjukkan sesuatu terlebih dulu kepada kalian." Dengan patuh sepuluh mahasiswa baru itu mengikuti Miss Veil ke elevator. Miss Veil menekan tombol 10. Sampai di lantai sepuluh, pintu elevator terbuka. Terlihatlah satu ruangan besar dengan karpet berwarna merah. Di tengah-tengah terdapat meja panjang. Di atasnya terdapat berbagai macam hidangan menggiurkan, siap untuk disantap. "Ruangan ini mestinya kalian sudah bisa menebak," ujar Miss Veil lagi. "Benar, ini ruang perjamuan makan. The Ambrosia. Nanti sesudah menunjukkan kamar kalian, silakan turun ke sini untuk santap siang." Para mahasiswa mengangguk-angguk dengan antusias. Mereka terus mengekori Miss Veil yang berjalan dengan langkah mantap ke arah timur. Dibukanya satu pintu, yang langsung disambut seruan kagum oleh para mahasiswa. Ruangan di sebelah The Ambrosia terdapat segala macam alat rekreasi. Mulai dari meja biliar, alat fitness, area bowling, perpustakaan kecil yang dilengkapi sofa panjang untuk membaca atau bahkan untuk berbaring, bahkan tanpa mereka duga, juga ada Spa dan whirlpool di sisi paling timurnya. "Ini ruang rekreasi. Diberi nama The Paradise. Tentu saja kalian bisa menggunakan semua fasilitas ini pada jam bebas kalian." Beberapa mahasiswa bertepuk tangan dengan girang. Mereka sangat antusias untuk segera mencoba sarana rekreasi yang tersedia. "Ayo, sekarang kita ke kamar kalian." Kembali para mahasiswa mengikuti Miss Veil ke elevator. Di tingkat 13 mereka keluar. Miss Veil berjalan ke arah utara. "Ini kamar kalian semua. Tingkat 13 disebut sebagai The Earth. Oh, ya, mulai sekarang biasakan diri kalian untuk saling memanggil dengan nama yang sudah kalian pilih. Jadi tidak diperkenankan untuk memakai nama asli kalian. Baik di The Olympus atau di The Academy, nama yang berlaku adalah nama-nama Olympians. Lupakan nama asli kalian. Mengerti?" katanya lagi dengan lembut, sambil tak lupa disertai senyum manis. Para mahasiswa menjawab serempak. "Mengerti, Miss." "Kalian akan menempati kamar sesuai dengan nama yang tertera di sana," lanjut Miss Veil. "Segera masukkan barang-barang kalian. Saya tunggu di sini." Hanya lima menit, para mahasiswa masuk ke kamarnya masing-masing. Mengagumi kamar mereka yang persis kamar hotel bintang lima. Setiap kamar memiliki pemandangan terbaik ke arah luar. Sesudah menaruh barang-barangnya, mereka keluar lagi. Kembali mereka mengikuti Miss Veil ke tingkat 15. Begitu keluar, mereka melihat 10 ruang besar ada di sana. Ternyata itu ruang pertemuan. "Kalian bisa menggunakan ruang The Brain ini jika ingin melakukan presentasi atau tugas kelompok. Tentu saja jika ingin menggunakan ruang di sini harus melapor dulu ke Zero Point." Sesudah melihat-lihat sejenak, mereka keluar lagi. Kembali mereka masuk ke elevator, kali ini mereka naik sampai tingkat paling atas The Olympus. Tingkat 20. Begitu keluar dari elevator, mereka memasuki satu ruangan besar yang disebut sebagai Zenith. Zenith memiliki kubah yang terbuat dari kaca berwarna yang bergambar para dewa di lingkaran terluar, lalu di bagian lebih dalamnya ada gambaran rasi bintang, sementara di paling dalam adalah gambaran bola dunia. Semua dibuat dalam warna monokrom, dasar putih, sedangkan semua gambar dan bentuk lainnya menggunakan warna hitam. Sisanya berwarna putih. Terdapat 20 kursi yang mengelilingi satu meja bundar. Tujuh kursi sudah terisi. Satu di antaranya sudah dikenal oleh para mahasiswa, Profesor Enigma. "Silakan mengambil tempat duduk. Tidak perlu sungkan," sahut Miss Veil lagi meminta para mahasiswa duduk. Sesudah mereka semua, termasuk Miss Veil juga, duduk, Miss Veil kembali berbicara. "Selamat datang di Zenith. Saya mewakili ketujuh profesor di sini secara resmi menyambut kalian, Para Olympians muda. Kami mengharapkan prestasi yang luar biasa dari kalian semua, karena kalian memang yang teristimewa dari yang istimewa." Tepuk tangan dari para profesor, diikuti para mahasiswa segera terdengar membahana di ruangan yang sangat luas itu. Miss Veil kembali melanjutkan kata-kata penyambutannya. "Anda semua adalah orang-orang terpilih yang sudah diseleksi dengan sangat cermat. Itu sebabnya untuk memastikan kalian semua berhasil sesuai dengan tujuan, kalian masing-masing nanti akan didampingi oleh mentor. Satu orang akan didampingi oleh seorang mentor. Kalian bebas untuk berdiskusi dengan mentor kalian. Setelah satu bulan, akan ditetapkan mentor untuk masing-masing dari kalian. Sebagai protege, pastikan kalian menghormati dan mematuhi mentor kalian. Tanpa itu, tidak akan bisa proses mentoring ini berjalan sempurna." Beberapa mahasiswa mengangguk mengiyakan kata-kata Miss Veil. Miss Veil melemparkan senyum kecil ke arah sepuluh mahasiswa itu lalu dia berdiri. Ketujuh profesor juga ikut berdiri. "Silakan ikut berdiri. Ikuti kata-kata dan tindakan saya!" Kesepuluh mahasiswa berdiri sambil terus memperhatikan Miss Veil. Miss Veil mengangkat tangannya, profesor di sebelahnya juga melakukan hal yang sama dan menumpukan tangannya di atas tangan Miss Veil, dan terus selanjutnya diikuti oleh para mahasiswa. "Di tangan kita, dunia akan berubah. Kitalah pemilik dunia ini. Jayalah Olympians selamanya!" Para mahasiswa ikut mengucapkan kata-kata itu. Sesudah itu, kubah kaca berwarna itu terbuka dan berganti dengan gambaran antariksa dengan rasi bintang. Suara Miss Veil terdengar dengan sangat jelas di seluruh ruangan. "Dengan ini kalian sudah resmi menjadi bagian dari The Academy. The Olympians muda, tidak ada batas yang tidak bisa kalian capai. Kami menunggu pemikiran dan prestasi gemilang dari kalian semua."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD