3. Tiga

1004 Words
Sedikit pencerahan. Rahee ini anak panti asuhan yang sejak lulus SMA dia memisahkan diri dan tidak lagi dibiayai oleh panti. Justru Rahee menjadi tulang punggung di sana, tapi ya ... keadaan membuatnya tidak sanggup demikian. Menghidupi diri sendiri saja sulit, apalagi jadi tulang punggung. Rahee mendapatkan beasiswa jalur prestasi di perguruan tinggi dari zaman dia sekolah, tapi sayang itu hanya berlaku sampai dia semester tiga kuliah karena prestasi Rahee tidak bisa dipertahankan. Dia kacau sebab kuliah sambil kerja membuat konsentrasinya buyar. Karena mengandalkan beasiswa saja pun Rahee merasa kurang. Sedihnya hidup sebatang kara. Untung Rahee bertemu Marine, bank dari pundi-pundi dunianya. Alias kalau pinjam uang ya meluncurnya ke Marine, sampai numpuk dan Rahee pusing sendiri bagaimana cara bayarnya. Meski Marine ini anak orang punya, tapi kan uang itu bukan murni miliknya. Rahee tahu uang yang Marine pinjamkan adalah rupiah hasil kerja keras kakak-kakaknya. Dan soal kerabat Marine yang ada sepuluh dan semuanya laki-laki, hanya dua yang Rahee tahu, yakni: Bang Jae sama Bang Samud. Selebihnya entahlah, Marine nggak pernah cerita dan Rahee tidak terlalu memerhatikan isi rumah Marine berikut foto-foto keluarganya. "BAPAK BERCANDA?!" Adalah Rahee yang heboh sendiri, memekik sambil berdiri, memandang si pemilik lowongan kerja di koran eksklusif Radar Indo milik abangnya Marine. "Nyari istri kok pake lowongan. Jangan-jangan Bapak yang gak sehat, ya?!" "Sembarangan," desis Altarik malas. "Atau Bapak nggak laku?" Kini mata Rahee memicing. "Muka saya menunjukkan itu?" tanya balik Altarik. Sial! Bapak Altarik ini terlalu tampan dan jadi saingan Mas Kulin di tokoh fiksi. Jika perlu Rahee jabarkan terkait ketampanannya, atau gini deh, dia beri nilai sembilan puluh dari seratus. Ya, Rahee akui ... Bapak Altarik Yang Terhormat ini tampan maksimal. Maka untuk menjawab pertanyaan retorik itu Rahee menggeleng. "Terus kenapa Bapak nyari istri dengan cara kayak gini?" "Duduk dulu," tutur Altarik kalem maksimal. Rahee was-was jadinya. Kok ada, sih, cowok ganteng tapi gak waras macam Bapak Altarik Yang Terhormat? Nggak masuk akal nih manusia. Aduh, nggak berakhlak mungkin, ya? Rahee cerna baik-baik segala tindak tanduk Bapak Altarik. "Pak, kalo nyari istri caranya yang normal dikit kek. Pacaran atau lewat perjodohan kan bisa, bukannya sebar lowongan di koran." Satu lagi, Altarik nggak suka cewek banyak bicara apalagi nyinyir karena itu pasti memakan banyak waktunya. Tapi kali ini akan Altarik berikan toleransi. Altarik jaga emosi. "Saya nggak ada waktu buat nyari istri dengan cara yang kamu sebut normal. Kalo kamu mau bekerja dengan saya, silakan tanda tangani kontrak ini." Karena metode mencari istri secara normal adalah gagasan yang sangat membuang-buang waktu. Dan masih ingat, kan? Altarik benci itu. Rahee terperangah. Ternyata ada yang lebih uwouw dari akting cabulnya beberapa jam yang lalu. Ada manusia yang lebih totalitas nggak masuk akalnya daripada Rahee saat butuh duit. Ya. Altariksa Lorenzo namanya, tertera di selembar kontrak yang sedang Rahee baca sekarang. "TOTAL BAYARAN AKU SATU JUTA DOLAR?!" Rahee kontan membekap mulutnya, sedang mata melotot memandang Altarik tak percaya. Oh, god! Bisa jadi orang kaya baru dia seperti yang tayang di bioskop! "Ini nggak salah, Pak?" Altarik hanya menunjukkan wajah datarnya. "Nggak, kalau kamu sudah paham dengan isi kontraknya." Ah, iya. Rahee belum benar-benar membacanya. Dia terlalu bersemangat dan matanya langsung hijau kalau melihat yang berbau uang. Harap dimaklum. Ehm. "GILA!" Altarik meringis. Bisa bocor gendang telinganya kalau Rahee teriak-teriak seperti ini. Mungkin nanti tetangga kamarnya akan keluar satu per satu demi mengecek ada kehebohan apa di luar. "BAPAK GILA?!" Please. Altarik menahan kuat kekesalannya. Porsi sabarnya yang sedikit itu benar-benar digempur, digerus halus. "Bisa tidak kamu baca kontraknya nggak usah diteriaki begitu?" protesnya. Altarik mendengkus keki. Kesal sekali. "Mau teriak sepuluh kali pun kamu nggak bakal saya kasih piring cantik." Wah, bisa bercanda juga ternyata. Rahee geleng-geleng tak habis pikir. Lalu dia letakkan kertas kontraknya di meja. Menatap Bapak Altarik YTH dengan fokus penuh kepada sosoknya. "Jadi, satu juta dolar itu untuk seorang anak yang saya lahirkan?" "Ya." "Dan wajib laki-laki?" Altarik mengangguk. Rahee kontan membuang napas kasar. Dia melarikan pandangan sebelum kemudian asap mengepul keluar dari lubang pori-porinya. Tanda-tanda bahwa Rahee akan meledak saat itu juga. "BAPAK PIKIR PEREMPUAN ITU MESIN CETAK ANAK, APA?!" Sabar, Altarik, sabar. "Nggak." "TERUS MAKSUDNYA--" Yang Altarik pangkas. "Kamu cukup jadi istri dan melahirkan anak lelaki untuk saya, setelah itu terserah kamu mau apa. Mau pacaran lagi pun silakan, mau cerai juga saya oke-oke saja." "Gila nih manusia," desis Rahee dengan emosional tingkat dewinya. Altarik tidak suka dengan gagasan itu. "Nggak punya hati apa, ya?" imbuh Rahee lagi di sela-sela rasa tak habis pikirnya. Yang Altarik kerlingkan malas bola matanya. "Ah, ini mah gak punya otak namanya." "Sudah?" tegur Altarik kemudian saking tidak kuatnya atas nyinyiran Rahee barusan. "Kalo kamu nggak mau, ya silakan pergi tanpa satu juta dolarnya." *** "Gue ketemu sama orang gila." Sepulang dari pertemuannya dengan Bapak Altarik YTH itu Rahee langsung menghubungi Marine sambil menyeduh mie instan di ricecooker. Derita anak kos yang nggak ada kompor. "Siapa?" "Itu loh ... pemilik lowongan kerja di koran." "Mister Altarik?" Dan Rahee terbahak. "Mister gila lebih tepatnya." "Terus gimana? Lancar? Dia nawarin kerjaan apa emang?" Rahee ngakak part 2. Marine dengan sabar menanti penjelasan Rahee selengkap-lengkapnya. "Istri, Rin, ISTRI!" "WHAT?!" "Kaget kan lo? Sama! Gue juga, astaga! Orang waras mana yang nyari istri di lowongan kerja? Cuma Bapak Altarik YTH doang kayaknya." Lalu Rahee tuangkan mie hasil sentuhan mejikomnya di mangkuk. Rahee sudah ganti baju dengan pakaian santainya. "Yang lebih parahnya itu, Rin," menjeda, Rahee seruput mie panasnya, "dia kasih harga satu juta dolar! Fantastis banget nggak tuh tingkat kewarasannya?!" "Bentar, Ra ... lo nggak lagi ngarang bebas, kan?" Rahee kontan melegut air dukunnya sampai kandas. "Mana ada!" "Aneh banget soalnya, kok ada orang kayak gitu?" Rahee mengerling meski Marine tak lihat. Lalu berdecak dan kembali sibuk dengan mie-nya. "Buktinya gue ketemu tuh, beneran ada orang kayak gitu, Rin. Nih, ya, namanya mah bagus banget Altariksa Lorenzo. Tapi kepribadian sekaligus kewarasannya miris totalitas!" Terjadi keheningan. Rahee tiup-tiup mie panasnya. Lalu memakannya. Lama seperti itu sampai Rahee pikir sambungan teleponnya mati. Tapi, tidak. "Halo, Rin?" Hening. "Marine?" "Hah? Siapa tadi, Ra?" Nampaknya Marine terkesiap di sana. Rahee berdecak, "Siapa yang siapa?" "Altarik apa tadi namanya?" Mendadak keki. Penting banget, ya? Rahee nikmati kuah mie-nya sebelum kemudian menjawab, "Altariksa Lorenzo." "ANJING!" "b*****t!" Malah terjadi acara balas membalas kata-kata kasar. Rahee tersedak kuah mie-nya. Sedang di seberang sana Marine langsung mematikan sambungan teleponnya. Bangke memang! Rahee batuk-batuk pada akhirnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD