2. Dua

1032 Words
Marine adalah anak bungsu dari sebelas bersaudara. Dimulai dari kakak sulung sampai ke pangais bungsunya itu berjenis kelamin laki-laki, hanya Marine yang perempuan. Terkadang Marine malu kalau ditanya ada berapa saudaranya, sebab ayah dan ibunya membuat tim kesebelasan di rumah mereka. Namun, seperti kata sesepuh yang mengatakan: banyak anak, banyak rezeki. Terealisasi di keluarganya Marine. Semua kakak-kakaknya punya ladang duit sendiri, dimulai dari Umin Algazali—pemilik pameran seni rupa di Ibu Kota. Lalu Samudra Harta Wijaya adalah direktur di SN Entertainment—pengganti Mr. Suman—meski karena itu Samudra jadi jarang pulang, tapi sering kirim uang. Dan masih banyak abang-abangnya Marine yang lain. Terakhir, abangnya yang satu ini masih seorang mahasiswa tingkat akhir, yakni Jaelani Jeperi Bianto. Sayangnya, bukan Marine yang jadi peran utama, melainkan Raheema Dinata—kawan sepergibahan di kampus sekaligus sahabat Marine satu-satunya. Perempuan dengan gincu merah menyala di bibirnya itu sempurnakan misi pertama, yakni: menggagalkan perjodohan klien-nya. "Langsung aja, Om," tutur Rahee sambil menaruh cangkir kopi di meja dengan gaya sensualnya. "Aku suka yang besar." "Ya?" Rahee berdecak. "Itu. Aku nggak puas kalo main sama yang kecil. Om paham sampai sini?" Mantul nggak, tuh? Rahee janji sepulang dari tempat ini dia akan kumur-kumur pakai air garam biar kuman-kuman nakal di mulutnya nggak belingsatan. Ya. Selepas kemarin nyaris gagal mendapatkan lowongan kerja di koran sebab lowongannya ngaco—menurut Rahee—tapi pihak Altarik itu mengirimkan kepastian berisi alamat yang hari ini harus dia datangi. Di mana pagi ini juga ponsel Rahee berdering, tanda ada panggilan masuk dari temannya yang lain. Di sini, Marine memang hanya punya Rahee satu-satunya sebagai teman, tapi Rahee tidak. Dia punya banyak teman—garis bawahi—yang saling memanfaatkan. Contohnya, Rahee mau melakukan apa saja asal dibayar dan tidak melanggar norma aturan di negerinya. Seperti sekarang, sekadar menggantikan peran temannya sebagai orang yang dijodohkan dengan anak bangsawan—aduh, bahasanya! Apalah itu, om-om berduit pastinya. Di mata Rahee, lelaki di depannya ini om-om kaya raya. Dalam hati Rahee berdecak, kenapa Rere nggak mau dijodohin sama cowok nilai empat jempol macam Abyansah Chandra Gerhana? "Lo beneran Rere Sasmita?" Rahee ubah gaya duduknya, mempertontonkan paha mulus demi kelancaran aksinya. Padahal, Demi Tuhan! Risi sebenarnya. Yang secara terang-terangan Chandra pandangi. "Iya, Rere Sasmita. Aku nggak mau, ya, itunya suami aku kecil gitu. Ya kali kalah sama partner ONS." One night stand. Bisa ngomel sampai mampus ini Rere kalau sampai tahu apa yang Rahee lakukan. Tapi sudahlah, itu urusan belakangan. Yang terpenting sekarang adalah: gagalkan perjodohan. Maka Rahee akan membuat si Chandra Chandra ini ilfeel padanya. Gila saja! Sudah mirip cewek murahan + gampangan + pengisi kelabmalam ... gayanya 'suka sama yang jumbo,' padahal lihat kepunyaan cowok saja Rahee belum pernah. BAH! Mana boleh dia gagal! "Well, Om ini berpengalaman, kan?" Terus, Rahee, terus! Karena Chandra diam saja. "Aku nggak selera sama yang amatiran soalnya." Lalu Rahee condongkan tubuhnya, yang mana tatapannya terikat dengan pandangan Chandra di sana. Rahee katakan, "Aku tiga lawan satu juga pernah, loh." Fix. GILA BENERAN DIA! Heboh batinnya yang suci, meraung-raung sisi bangsatnya yang hakiki. Rahee ... Rahee. Belajar ngibul plus-plus begini di mana coba?! Bisa nangis darah Mami Kartini kalau tahu emansipasi wanitanya Rahee kotori dengan keberanian seksual tiga lawan satu ini. Astagfirullah. Chandra berdeham. Nah, baru Rahee duduk dengan normal. "Jadi, gimana? Masih sanggup lanjut perjodohannya nih, Om?" Sebagaimana adegan dalam komik di sebuah situs online, pergerakan Rahee di sana mencerminkan demikian, seakan dikutip dari The Office Blind Date karya NARAK, Perilla, dan Haewha ... begitulah Rahee Dinata bertingkah menyikapi proyeknya. *** Hal pertama yang Altarik benci adalah membuang-buang waktu. Dia tidak suka pada orang yang rendah kadar kedisiplinannya. Karena bagi Altarik ... waktu setiap detiknya itu berharga, ada nilainya, ada uang di dalamnya. Maka begitu seseorang datang dan mendudukkan pantatnya di kursi sambil bilang, "Maaf, Pak, saya terlambat. Tadi ada urusan penting yang baru bisa ditinggalin." Altarik mendengkus. "Kamu ditolak." "PAK!" Refleks Ranee dalam berkata. Ayolah, susah payah Rahee menempuh perjalanan menuju alamat yang terlampir GPS-nya setelah sebelumnya dia jadi aktris c***l dadakan. Yang mana pesan dari Bapak Altarik ini sempat Rahee lupakan gara-gara misi gagal! Om Chandra itu malah minta waktu untuk rundingan dengan keluarga besarnya daripada langsung batalkan perjodohan. Ah, membuat Rahee harus kerja dua kali saja! Menyebalkan. "Berani, ya, kamu teriak sama saya?" "NGGAK!" Spontan. Altarik melotot dan Rahee mingkem setelah sebelumnya bilang, "Maaf, Pak, refleks." Lagi, Altarik mendengkus. Meneliti penampilan sang pelamar kerjanya. Rok span hitam selutut dengan kemeja putih yang—astagfirullah—melotot lagi. Kancing baju perempuan itu terbuka, Altarik bisa lihat isinya. "Kamu sengaja godain saya?" "Hah?" Apa pula ini manusia?! Rahee mengerjap. Menggoda dari mananya coba? Sejak tadi Rahee duduk manis di kursi apartemen milik calon majikannya ini. Bukan lenggak-lenggok sensual seperti di tempat sebelumnya saat berhadapan dengan Om Chandra. Tapi ngomong-ngomong, mana bayinya? "Sudahlah," decak Altarik dengan raut datarnya. Dia sengaja membuka lebar pintu apartemennya agar si pelamar kerja itu langsung masuk saja dan menemuinya di kursi rotan sebelum ruang tamu agar tidak membuang-buang waktu. Tapi ... "Saya diterima kan, Pak?" Altarik tidak tahu sudah berapa kali dia mendengkus hari ini. "Nama kamu?" Rahee duduk tegak. "Raheema Dinata, panggil Rahee." "Usia?" "Dua puluh tahun bulan depan." Altarik diam sejenak. Yang Rahee perhatikan dengan harap-harap cemasnya. Tolonglah, dia butuh uang. "Single?" "Y-ya." Mendadak gagap. Masalahnya agak gimana gitu saat seseorang menanyakan langsung status jomblowatinya. Altarik pun berdiri, hal yang membuat Rahee terkesiap di tempat apalagi saat tangan lelaki yang baru ditemuinya ini terulur, tepat di d**a yang membuat Rahee kontan menepisnya. Kalem. Altarik stay cool. "Tolong bajunya kancingkan." "Ah, iya." Rahee tak kuasa menahan panas di area wajahnya, malu. Lalu selama Rahee mengawinkan kancing dengan lubangnya, Altarik memunggungi. Itu pasti gara-gara Rahee buru-buru ganti kostum selepas acara binalnya melawan gagasan perjodohan sang kawan dengan om-om ganteng. "Sudah?" "I-iya." Sial! Kenapa jadi keterusan gagapnya? Rahee meremas jemarinya. Altarik kembali duduk di tempatnya. "Kamu sehat, kan?" "Bapak ngira saya gila?!" Rahee heboh. Dia memang ekspresif. Lalu meralat, "Maaf." Altarik membasahi bibirnya. "Maksud saya ... kamu nggak ada riwayat penyakit atau segala sesuatu menyangkut kesehatan, kan?" Ah, itu. Rahee tersenyum. "Bapak tenang aja, saya sehat. Dijamin nggak punya penyakit menular atau apalah itu. Jadi anak Bapak bakal aman sama saya." "Baik." Altarik mengangguk, tapi tunggu! "Anak?" Satu alis mata Altarik terangkat. Rahee mengerjap. "Iya, anak. Di sini Bapak butuh pekerja wanita yang bisa ngurus anak karena buat jadi pengasuh, kan?" "Oh, bukan." "Bukan?" Rahee membeo. Sedang Altarik lanjutkan, "Saya butuh istri." ***       Note, nama tokoh sejauh ini: 1.       Raheema Dinata 2.       Altariksa Lorenzo 3.       Abyansah Chandra Gerhana 4.       Samudra Harta Wijaya 5.       Jaelani Jeperi Bianto 6.       Umin Algazali 7.       Marine
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD