Bagian 3

1777 Words
Pram berhenti tepat di depan sebuah rumah yang amat megah dan mewah, dengan cepat ia keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah, mencari seseorang yang amat membutuhkan dirinya. Pram segera menuju kamar wanita sesampainya disana, ia melihat Lia sedang terbaring lemah dan ada seorang dokter muda bisa di perkirakan dokter itu seumuran dengan dirinya. "Sayang..." ucap Pram khawatir ia segera mendekati Lia. "Apa yang terjadi..." tanya Pram sambil melihat Lia pucat. "Aku hanya terpeleset sayang di kamar mandi, dan perutku sakit tapi dengan cepat dokter Azka datang setelah aku menelfonnya...." jawab Lia jujur. Pram pov. Aku sangat mengkhawatir kan Lia dan juga calon bayi kami. Tapi aku harus bagaimana??? Lia adalah wanita simpananku yang selalu ku agung-agungkan seperti bidadari cantik, harta apapun akan kuberikan untuknya, segalanya, bahkan seluruh apa yang ku punya. Kini Lia tengah tertidur di sampingku tepatnya di dalam dekapanku. Kubelai anak rambutnya yang menjutai begitu saja. Dan mencium bibir mungilnya. "Tidurlah sayang, setelah kau bangun. Aku akan membicarakan sesuatu..." ucapku yang terus terjaga. Selama di dalam perjalanan aku terus memikirkan Lia, aku harus menikahinya dan Madya harus menerima itu. Madya harus rela dengan semua itu atau aku akan meninggalkannya. Aku tidak bisa hidup tanpa Lia dan juga Madya, karena ke duanya sama-sama kucintai.  *** Lagi-lagi Madya di tinggal oleh suaminya entah kemana. Madya melihat masakannya yang belum tersentuh sedikitpun oleh Pram. Madya pov Aku menatap meja makan yang sudah kosong. Pram entah pergi kemana!! Dan lagi-lagi aku di tinggal. "Apa dia pergi ke tempat kekasih gelapnya itu..." tanyaku ke diri sendiri. Sebaiknya aku tidak berfikir negatif, mungkin saja ia sedang bekerja. ****** Lia terbangun dari tidurnya, ia melihat jam yang di berada di dinding sudah menunjukukan pukul lima sore. Lia memalingkan wajahnya melihat Pram tengah tertidur di sampingnya. "Pram, bangunlah..." Lia mengusap rambut Pram penuh dengan sayang membuat si empu yang mempunyai rambut itu terbangun. " kau sudah bangun...??" Tanya Pram sambil mengucek matanya. Ia bangun dari tidurnya menjadi duduk. "Kapan kita menikah sayang ... kandunganku makin membesar dan aku lelah bersembunyi dari keluargaku... aku sangat merindukan bundaku di rumah Pram..." tanya Lia sedih, memang Lia berkata jujur kalau dirinya sangat merindukan sang bunda di rumah. Pram yang sudah mengumpulkan nyawanya langsung bersandar di belakang,matanya melihat atap plafon bewarna putih. "Aku akan menikahimu tapi kita harus meminta restu pada Madya, bagaimapun juga ia istri pertamaku dan aku tidak akan berpisah dengan dia,  karena Madya adalah jodoh dari langit dan aku yang memintanya langsung pada tuhanku..." Pram menengok Lia. Pram berharap Lia mengerti maksudnya. "Apa dia tidak akan marah?? Ataupun cemburu!!! " tanya Lia ragu. "Entahlah, sekarang kita akan mencobanya..." pram langsung bangun dan menggendong Lia. "Eh eh kita mau ngapain..." tanya Lia kebingungan "Ke rumah orang tua Madya lebih tepatnya tempat tinggal aku dan Madya...." ucap Pram sambil membopong Lia menuju lemari pakaian. Mereka berdua sedang berganti baju dan sebagainya setelah itu mereka keluar dari kamar dan pergi dari rumah. "Apa Madya akan menerimaku Pram??? Aku takut..." ucap Lia saat mereka tengah berada di dalam perjalanan. "Madya wanita yang rela melihatku bahagia...jadi dia merestui kita karena kamu adalah sumber kebahagianku sayang...." jawab Pram yakin. Yah dia yakin bahwa Madya akan merestuinya. ****** Madya tengah menonton acara talkshow di ruang santai, tangannya terus memegang remot, kadang pikirannya melayang kemana-mana. ia teringat sang mamah, kedua anaknya dan juga Pram. Sebenarnya, Madya sama seperti perempuan di luar sana curiga ketika suami tidak sering di rumah kesal, marah dan sebagainya bertanya apa kamu selingkuh atau tidak perubahan sikapnya seperti orang lain dan tidak terlalu mengaggap Madya adalah istrinya. Tapi ia selalu tabah dan sabar, Madya pikir inilah dunia dan segala ujian yang tuhan beri. Madya pov Kehidupanku seperti tidak memiliki suami, selalu sendirian dirumah begitupun anak, aku sangat merindukan kedua anakku. Mereka masih betah berlibur di sana. "Assalamualaikum..." sapa Pram yang baru saja masuk. Aku langsung bangun dari tempat duduk menuju ruang tamu. "Sudah pulang,!!!!" Tanyaku dingin. "Permisi mbak..." sapa seorang wanita di belakang Pram, wanita itu kalau tidak salah, "Duduklah Lia, dan kamu Madya aku ingin bicara sesuatu bolehkah... tapi perkenalkan dulu wanita ini---" ucap Pram yang langsung di potong oleh Madya. "Aku sudah tau... aku bertemu dengan wanita itu di pasar, duduklah dulu Lia... dan kamu Pram ikutlah..." ucapku yang langsung masuk ke kamar. Aku duduk di tepi ranjang menunggu Pram mengatakan sesuatu. "Madya..." panggilnya, ia sedikit berjongkok di depanku matanya tak berani menatap wajahku. "Aku meminta izin untuk menikah dengan Lia..." pinta Pram. Jjjjjeddaaarrr!!!! Author pov Hati Madya bagaikan di hunus sembilu pisau yang sangat banyak. Jantungnya hampir berhenti berdetak. Ia bahkan tercengang dan pikirannya buntu. Ingin rasanya ia berteriak tidak menyunpah serapahi Pram dan wanita itu. Tapi lagi-lagi ia harus menahan amarah itu. "Pram..."panggil Madya nyaris tanpa suara, matanya mengeluarkan cairan bening dan juga hangat. "Madya, Madya please jangan nangis sayang... maafkan aku!!! Kumohon restui aku dan Lia, ia sedang mengandung anakku sayang...anak kamu juga kan..." Pram mencoba bangkit dan menatap mata Madya. Tangannya terulur untuk mengusap air mata istrinya namun Madya menepis tangan itu dengan kasar. Madya mengusap air matanya dengan cepat lalu ia berdiri di hadapan suaminya. "Aku mengizinkanmu untuk menikah dengannya, tapi ceraikan aku terlebih dahulu..." pinta Madya tajam. "Aku tidak akan menceraikanmu, tidak akan Madya... karena aku sudah berjanji dengan alm. Mamah kamu untuk menjaga dirimu...." balas Pram tak kalah tajam. "Darimana kamu mendapatkan wanita itu, bagaimana ia bisa mengandung anakmu Pram, kumohon jujur!!! " kata Madya sambil melihat Pram memelas. Pram menutup ke dua matanya ia takut kalau Madya tau itu akan membuat hatinya sakit. "Baiklah aku akan menjelaskannya." Pram mulai menceritakan bagaimana bisa ia bertemu dengan Lia, kerja di tempatnya dan juga jatuh cinta. Mengejar wanita itu hingga mereka menjalin sebuah hubungan selama beberapa tahun, memberikan beberapa hadiah untuk Lia sampai akhirnya mereka berdua memiliki bayi yang sedang di kandung Lia. "Pergilah Pram.... menikahlah sesuai harapan kalian...!!! Aku ikhlas!! Ucap Madya setelah mendengar penjelasan Pram. Entah apa yang di rasakan Pram yang jelas ia sangat bahagia walaupun ada rasa sedikit sedih karena Madya. Madya tersenyum sambil membelai kepala suaminya. bukannya Madya lemah dan tidak ingin memberontak. Tentu saja ia akan melakukan hal itu tapi nanti. Madya masih saja duduk di tepi ranjang dan Pram merunduk di hadapannya. Membuat Madya leluarsa membelai kepala suami tercintanya itu. "Pergilah dan menikahlah dengan Lia. tapi maaf, aku tidak bisa menghadirinya!!!" Kata Madya memberi tau Pram. Pram tersekedap sedikit. "Kenapa bisa Yaa, kamu harus jadi saksi pernikahanku dan Lia..." jawab Pram meyakinkan. Madya menggeleng pelan ia tersenyum penuh dengan kasih sayang. "Kita keluar...calon istrimu sedang menunggu..." Madya bangkin dari duduknya dan ingin berdiri namun Pram menahan dirinya. Justru Pram membaringkan Madya dan menindihnya langsung.  "Pram..." Madya mencoba untuk memberontak namun Pram menatap dirinya tajam. Tanpa banyak kata ia langsung mencium bibir istrinya menyesap setiap inci bibir merah muda itu lalu ia turun ke leher hingga terdapat sebuah kissmark cantik. Madya hanya menggigit bibirnya guna menahan hasrat yang menggelora di dalam dirinya. "Bana dokunmasına izin, metresi Pramoedya" biarkan aku menyentuhmu nyonya Pramudya. Ucap Pram menggunakan bahasa turkinya. Madya tidak menjawab apapun ia hanya diam namun menurut Pram, diamnya Madya adalah setuju. Tanpa banyak menunggu Pram langsung menyentuh Madya, ia membuka daster istri cantiknya kemudian bra dan celana dalam. Entahlah, menurut suami Madya itu kapan terakhir kali mereka hubungan badan, karena Pram yang selalu sibuk dengan Lia, hingga ia jarang berhubungan dengan Madya. Pram meneguk air ludahnya sendiri saat melihat tubuh mulus Madya bahkan sangking putih kulitnya ia bisa melihat urat-urat Madya yang kelihatan warna hijaunya. Buah dadanya pun tak kalah menggiurkan begitu bulat dan juga padat berisi. Jika di bandingkan dengan Lia mungkin ia kalah. p****g susunya bewarna ping dan meluncup ke atas. Sangat berbeda dengan punya Lia, seperti pepaya yang menggantung pikir Pram. Pram baru menyadari jika bentuk tubuh Madya tak kalah menggiurkan dibanding Lia. Karena Madya selalu memakai baju kaos longgar hingga buah d**a Madya tidak terlalu kelihatan. Pram masih menatap tubuh Madya hingga Madya menegurnya. "Pram aku kedinginan..." Madya berkata, membuat Pram tersadar "Tenang sayang,aku akan menghangatkanmu..." jawab Pram. Pram langsung melepas seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya hingga bertelanjang bulat dan menampilkan tubuh atletisnya. Madya yang melihat itu sedikit tersenyum. "Tak kalah menggiurkan bukan.." bisik Pram di telinga Madya, sebelum akhirnya Pram mencium dan menggigitnya. Madya menahan deru nafasnya. Kini tubuh mereka menyatu walaupun Pram belum memasukinya. Ada perasaan bahagia saat Pram menyentuhnya. "Siap sayang..." kata Pram yang sedang menghunuskan kejantanannya ke dalam liang Madya. "Ah..." erang Madya yang sedikit sakit di masuki oleh Pram. "Emhhh..." erang Pram saat memasukinya. Rasanya begitu sempit dan juga legit. Membuat Pram merasakan kenikmatan tiada batas. "Punyamu terlalu sempit sayang ahhh, ahhh..." ucap Pram di sela goyangannya. "Karena kamu jarang memasukinya Pram..." ucap Madya " be faster honey..." pinta Madya tak tertahankan "You wish my dalr.." jawab Pram dengan penuh senyum. ***** Lia nampak gelisah sedark tadi menunggu Pram dan Madya tak kunjung keluar. "Apa Madya mengizinkan aku dan Pram menikah atau tidak, akh jika sampai tidak di restui bisa batal rencana gue... bangke!!!  " umpat Lia. Handphone Lia berdering ia mengambil hp nya lalu melihatnya. Rupanya seseorang menelfonnya. "hallo sayang, kamu di mana??? Aku merindukan p*****r mungilku..." ucap seseorang di sebrang sana. Lia tau siapa yang menelfonnya. Lia nampak tersenyum sumringah. "Aku lagi di rumah Madya, istri pertamanya Pram..." jawab Lia sambil memilin rambut hitamnya. "Owh, rupanya an*ing kecil itu menuruti mu heh..." kata seseorang itu meremehkan "Diam lah mas, aku sedang berusaha!! " jawab Lia sambil melihat pintu kamar Madya dan Pram "aku begini karena keinginan kita untuk mendapatkan harta Pram." Ucap Lia lagi "Owh baiklah, tapi tadi pagi ku dengar kau terpeleset di kamar mandi sayang... kamu membuatku khawatir dengan anak kita!!! " "Aku berbohong, agar Pram menemuiku dan menjauh dari Madya... sudah aku tutup dulu, nanti rencana kita bisa gagal." "Hm..baiklah p*****r kecilku love you,!!! "Love you too..." Lia cepat-cepat menutup telfonnya lalu memasukan kembali ke dalam tas. Matanya terus mengawasi pintu kamar Madya dan Pram. ****** Pram baru saja selesai mandi begitupun Madya. Tetapi Madya langsung terkapar tak berdaya karena tenaganya kali ini benar-benar terkuras habis akibat Pram. "Sayang...'' guncang Pram ke tubuh Madya sambil menggosok kepalanya yang basah dengan handuk kecil. "Hm..."jawab Madya yang tengah menutup mata. Sungguh ia sangat lelah. "Yah tidur..." gerutu Pram "Aku lelah Pram, kalau mau pergi pergi saja!!" Ungkap Madya kesal. "Hm baiklah aku mau antar Lia pulang dulu..." Cup Pram mencium kepala istrinya sebelum beranjak pergi. ***** Cleekkk.... Lia langsung memperbaiki posisi duduknya saat Pram keluar dari kamar. Ia meneliti tubuh Pram dari atas sampai bawah "Apa Madya tidak memukulnya atau lainnya" ucap lia dalam hati. "Maaf menunggu lama, Madya mengizinkan kita menikah setelah aku memberikannya sedikit kenikamatan..." ucap Pram. "Kamu b******u dengannya..." selidik Lia. Pram hanya menggedikkan acuh. "Aku tidak berselera dengan tubuhnya..." bohong Pram nyatanya ia sangat-sangat berselera bahkan ingin memintanya lagi. "Baguslah sayang .... jadi kapan kita akan menikah..." "Bulan depan sayang ... sebaiknya kamu kuantar pulang..." Pram menarik tubuh Lia namun Lia menahannya "Apa kamu tidak menginap di mansion kita..??? Tanya Lia merajuk "Malam ini aku tidur bersama Madya dulu sebelum akhirnya bersamamu sayang..." jawab Pram lembut matanya memancarkan cinta. "Hm, baiklah sayang..." angguk Lia sambil tersenyum imut. Pram membawa Lia pulang kerumahnya dan segera kembali ke rumah Madya.  silahkan silahkan di votment wajib loh yaa... Hurt wedding author lagi ngetik naskahnya puanjaanggg jadi sabar yooo... maaf author tidak menepati janjinya. Publish at batakan 13 desember 2016 21 : 26 wita
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD