DEVON 3 - Fakta yang ada

1105 Words
Memasuki gedung yang sudah penuh sesak oleh pengunjung membuat Devon kesusahan saat mencari keberadan Devi, sekretarisnya. Bahkan dikala ia sedang menyibak kerumunan orang tak jarang diantara mereka yang mengenalinya , berusaha menghentikan langkahnya dan menyapanya . Devon tak mungkin mengabaikan rekan bisnisnya begitu saja. Dan karena ia terlau lama meladeni beberapa orang yang mengajaknya mengobrol membuat Devon terlupa dengan tujuan nya berada di tempat ini. Untuk bisa ke tempat ini pun dengan penuh perjuangan setelah Devon berhasil meyakinkan kekasihnya bahwa ia hanya berada di tempat ini sebentar saja dan akan kembali lagi ke apartmen Denzel setelah selesai acara. Malam ini seharusnya ia memang menemani Denzel setelah satu minggu lamanya Denzel berada di luar kota. Lelaki itu yang juga seorang pengusaha dibidang eksport import akan sering bepergian ke luar negeri untuk urusan bisnis yang sedang ia geluti. Disaat Devon sedang mengobrol dengan salah seorang rekan bisnisnya, mata Devon menyipit mendapati kehadiran seseorang. Bahkan orang itu tidak sedang sendiri melainkan bersama ... devi, sekretarisnya. rahang Devon mengeras seketika . Dan dengan sopan Devon pamit pada salah rekanan nya tersebut . Dengan langkah lebar dan mata masih mengawasi dua orang berlainan jenis itu , Devon semakin mendekat. " Devi .... !" panggilnya lantang pada sekretarisnya yang tak menyadari akan kehadiran nya . Tubuh Devi menegang mendengar suara berat itu dan refleks perempuan itu menoleh. Mendapat tatapan maut dari atasan nya . detik itu juga Devi gugup luar biasa. "Pak Devon ...." ucapnya dengan suara sedikit bergetar. "Ya ...." " Anda sudah datang rupanya ." jawab Devi ramah. Mata Devon bukan lagi terarah pada Devi melainkan pada lelaki yang sedang bersama Devi. "Devon... kenapa malam sekali kau baru datang ?" sapa pria itu pada putra nya. Ya, Darco lah yang tengah menyapa Devon. Tatapan tidak suka, Devon layangkan pada pria paruh baya yang sialnya lelaki itulah yang telah menebar benihnya di rahim sang mama hingga terlahirlah dirinya. Tanpa repot - repot menjawab apa yang Devi dan Darco pertanyakan , begitu saja Devon meraih pergelangan tangan Devi dan selanjutnya menarik lengan itu membawanya menjauh dari Darco. Menerobos kerumunan orang membuat Devi terseok mengikuti langkah lebar Devon. Perempuan itu tak mengerti dengan sikap Devon yang seperti ini . Bahkan dia sempat dibuat terkejut dengan perilaku Devon yang tiba-tiba menariknya seperti ini. Ingin Devi protes tapi sepertinya akan sia-sia karena Devon adalah lelaki arogan dan keras kepala yang tak akan pernah mau menyerah atau mengalah pada orang lain, termasuk pada dirinya yang notabene adalah seorang wanita. Sampai diluar gedung Devi sudah tak tahan lagi. " Pak Devon ! lepaskan tangan saya . " bentak Devi dengan dibarengi tindakannya menarik lengan yang berada di dalam cekalan tangan besar Devon. Devon berhenti melangkah , berdiri dengan angkuhnya tanpa mau repot-repot menatap Devi yang sedang mengusap lengan bekas cekalan Devon. " Apa yang kau lakukan di tempat ini bersama lelaki itu , Devi ?" Devi mengernyit tak mengerti dengan maksud ucapan Devon. Devi tahu, jika hubungan papa dan anak itu sedang rengang dan tidak baik-baik saja. Devi pun tahu juga karena Darco yang memberitahunya. Hanya saja alasan apa yang membuat keduanya rengang lah yang Devi tidak tahu. " Apa Bapak lupa, jika Pak Devon sendiri yang meminta saya menghadiri acara ini ." Jawab Devi tanpa merasa bersalah sedikitpun karena memang Devi tidak salah. Jika tidak karena permintaan Devon yang memintanya untuk datang ke acara ini , tidak mungkin juga Devi bisa berada disini. " Aku tidak lupa sedikitpun jika aku menyuruhmu untuk menggantikanku sementara, hingga aku datang. Tapi aku tak pernah menyuruhmu untuk bersama lelaki tua itu ." " Kenapa anda berbicara seperti itu Pak Devon . Bahkan Pak Darco itu bukankah papa anda ? lantas untuk apa anda harus marah-marah pada saya karena kedapatan saya berada disini bersama Pak Darco. " Ucapan Devi barusan, membuat Devon langsung membalikkan badannya menatap Devi tajam. Menyipitkan matanya berharap menemukan hal lain yang tidak ia ketahui sama sekali tentang perempuan ini. "Jadi kau mengenal Pak tua itu sebagai papaku hm ?" Devi menelan ludah susah payah. Sial, dia keceplosan. Devi baru menyadari jika ia salah bicara. Bukankah Darco sudah mewanti-wantinya agar Devon jangan sampai tahu mengenai hubungan nya dengan lelaki tua itu. Bahkan Devon tak pernah tahu jika Devi sudah mengenal Darco jauh sebelum wanita itu bekerja sebagai sekretaris Devon sejak dua bulan lalu. " Kau mengenal papaku ? jawab aku Devi dan jangan hanya bisa diam !" Bentak Devon membuat Devi terjengit . Pada akhirnya perempuan itu mengangguk juga. "Darimana kau tahu jika Darco adalah papaku ?" Devi sungguh tak tahu kenapa Devon terlihat sangat marah hanya karena dia mengenal papanya. Lalu apa reaksi Devon seandainya tahu tentang hubungan yang sebenarnya antara dirinya dengan Darco ? bisa-bisa Devi akan digantung oleh Devon jika kedapatan status yang sesungguhnya antara dia dengan Darco . Ya Tuhan ! Devi tak tahu apa yang akan terjadi kedepan nya. " Apakah semua tentang saya Pak Devon harus tahu ?" Jawab Devi berani membuat Devon semakin geram saja pada perempuan berbaju hitam dengan bibir yang merah merona. " Aku tidak akan perduli dengan kehidupanmu, Devi ! Yang aku pedulikan hanya satu, karena kau mengenal papaku. " " Apa yang salah jika saya mengenal Pak Darco. Kenapa anda terlihat tidak suka dan ... membencinya ?" "Apakah semua tentangku kau juga harus tahu, Devi ?" Devi langsung mengatupkan bibirnya begitu saja. Devon membalikkan ucapan nya tadi.  "Asal kau tahu , aku tak akan suka jika mendapati perempuan dekat-dekat dengan papaku !" desis Devon tajam. Devi kembali menyipitkan mata memperhatikan Devon. " Anda cemburu Pak Devon ? karena saya mengenali papa anda ?" "Apa maksudmu ?" "Tadi anda bilang jika tidak suka ada perempuan yang dekat dengan papa anda ." Devon mengacungkan jari telunjuknya , " Kau ! " " Devon ! "  Seruan itu membuat Devon menurunkan jari telunjuknya yang mengacung di depan wajah Devita. Seruan itu adalah suara yang terlontar dari mulut Darco. Wajah Devon menegang mendapati Darco semakin mendekat ke arahnya. Entah kenapa hanya melihat Darco saja sudah membuat Devon tidak suka. Terlebih mengetahui fakta jika Darco menghadiri acara seperti ini tanpa membawa mamanya. Padahal di dalam sana banyak tamu undangan para pengusaha yang membawa serta istri mereka. Hanya membuat Devon cemburu saja dan merasa muak melihat tingkah sang papa. " Kau ini kenapa? Ada apa kau memarahi Devi seperti itu ?" tanya Darco begitu lelaki paruh baya itu berdiri di hadapan Devon. " Ini bukan urusan papa ." "Jelas ini urusan papa, Karena papa tahu kau pasti memarahi Devi karena kedapatan Devi bersama papa bukan ?" Wajah Devon memerah menahan amarah, papanya ini cukup pintar juga membaca isi pikiran nya. " Sampai kapan kau berhenti mengurusi hidup papa Hah ?" " Sampai papa berhenti bermain wanita ." " itu tidak mungkin, Dev. Dan asal kamu tahu  Devi ini adalah kekasih papa. " Begitu saja lengan Darco merangkul pinggang Devi dan membawanya rapat pada tubuh lelaki itu . Mata Devon membulat seketika tak bisa mempercainya, melihat kedekatan papanya bersama sekretarisnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD