Two

3016 Words
Litha POV   Aku melangkahkan kakiku mengekori Bu Laras. Kemudian, langkah kami terhenti ketika sampai di ruang makan. Tampak pria yang menolongku tadi telah duduk di salah satu kursi. Siapa namanya? Orang-orang di sekelilingnya memanggilnya 'Tuan Muda'. Sepertinya ia bukan orang sembarangan. Dan entah apa yang membuatku percaya dengan setiap kata yang ia ucapkan. Di dekatnya, aku merasa aman. Aku percaya jika ia tidak akan menyakitiku. Padahal sebelumnya, aku selalu menghindar dari makhluk sejenisku, manusia. "Maaf telah membuat Tuan Muda menunggu lama." ujar Bu Laras sembari menunduk sopan. Aku mengikuti gerak-gerik Bu Laras. "Duduklah, Litha!" Aku mendongak menatap pria yang baru saja menyebutkan namaku itu. Sebenarnya namaku adalah Talitha. Ku rasa ia salah mendengar saat aku menyebutkan namaku. Tapi sudahlah. Litha panggilan yang cukup bagus. Kesadaranku kembali pulih ketika Bu Laras menuntunku untuk duduk di hadapan pria itu. Setelah itu, Bu Laras pamit undur diri. "Makanlah!" ujar pria itu lembut. Aku masih terdiam. Mataku asyik menatap senyum menawan pria itu. Astaga! Apa ini yang disebut malaikat? Indah sekali ciptaan Tuhan ini. "Litha!" panggilnya membuyarkan lamunanku. Aku mengejapkan mataku berkali-kali. Terdengar kekehan pelan dari mulut pria itu. Akupun ikut tertawa meski tidak tahu hal apa yang harus kami tertawakan. "Makanlah! Aku tahu kamu pasti sangat lapar. Aku sengaja membelikan bubur supaya perutmu tidak kaget karena terlalu lama kosong."  Aku mengangguk sembari memberikan senyuman tipisku. "Te..rima...kasih, Tu..Tuan." ujarku kaku. Pria itu kembali terkekeh. Tangannya terulur untuk menggenggam tangan kananku. "Rafael. Panggil aku Rafael!" ujarnya. "Ra..fael?" ulangku. Pria itu mengangguk sembari tersenyum. "Sekarang makanlah!" suruhnya. Aku mengangguk kemudian mulai menyuapkan sesendok bubur ke mulutku. Aku memakannya dengan lahap. Tak sampai sepuluh menit, mangkuk di hadapanku sudah kosong. Rafael menyodorkan segelas minuman berwarna putih padaku dan akupun segera menerimanya. Rasanya manis. Sepertinya ini adalah s**u. "Kamu sudah kenyang?" tanyanya. Aku mengangguk. "Terima ka..sih, Rafael." ujarku. Kini giliran Rafael yang  mengangguk. Rafael meraih selembar tissue kemudian mengusapkannya pada sudut bibirku. Aku sempat terpenjat, namun aku tetap diam. Memandangi mata indah Rafael yang tengah fokus menatapku juga. Ini adalah kali pertama aku merasa di perhatikan. Rafael adalah orang pertama yang berkomunikasi denganku setelah hampir tujuh tahun aku membisu dan hidup di jalan. Keluarga? Aku tidak punya. Kedua orang tuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan. Dan, semua orang menganggap bahwa akulah penyebab kecelakaan itu. Hingga akhirnya aku di buang, dan harus menjalani pedihnya hidup di jalanan. "Litha!" panggil Rafael. "Hmm..." "Untuk sementara waktu, tinggalah disini. Bu Laras akan menemanimu. Dan aku janji, akan mengunjungimu setiap hari." ujarnya. "Rafael mau kemana? Rafael tidak tinggal disini?" tanyaku. Rafael tersenyum kemudian membelai rambut panjangku yang tergerai. "Aku harus pulang. Sudah tujuh tahun aku tidak pulang. Keluargaku menantiku di rumah." jawabnya tenang. Keluarga? Dahiku berkerut. "Keluarga?" Rafael mengangguk. "Ya. Setiap orang pasti punya keluarga, bukan?" Rafael. Aku menggeleng. "Aku tidak punya." Jawabku. Rafael terdiam. Ia memandangku sendu. Ada apa? Apa aku terlihat menyedihkan di matanya? "Rafael menikah?" tanyaku hati-hati. Entah mengapa, sekarang aku penasaran dengan status pria itu. Siapa yang ia maksud 'keluarga'? Apakah anak dan istrinya? "Belum, Litha. Yang ku maksud keluarga adalah orang tua dan adikku." terang Rafael seakan paham dengan pikiranku. Aku mengangguk mengerti. "Segeralah beristirahat! Besok sebelum ke kantor, aku akan kemari dan sarapan bersamamu." lanjut Rafael. Aku kembali mengangguk. Rafael bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arahku. Ia menundukkan kepalanya hingga beberapa detik kemudian ku rasakan sesuatu menyentuh puncak kepalaku. Aku mematung untuk beberapa saat. Pria itu baru saja mencium puncak kepalaku? Benarkah? Rasanya jantungku mulai berdetak tidak normal. Apakah aku punya riwayat penyakit jantung? *   Hari berganti. Saat ini aku tengah duduk di depan meja rias. Aku menatap ke cermin. Memperhatikan Bu Laras yang sibuk menyisir rambutku. "Rambut Nona sangat indah." puji Bu Laras. Aku tersenyum mendengarnya. "Rafael mana?" tanyaku pada Bu Laras. "Mungkin sebentar lagi Tuan Muda akan sampai, Nona. Saya juga sudah menyiapkan sarapan untuk kalian." Bu Laras. Aku mengangguk paham. Suasana kembali hening selama beberapa saat. Hingga Bu Laras selesai menyisir rambutku. "Nona ingin rambutnya di gerai atau diikat?" Bu Laras. "Di gerai saja!" Mataku berbinar menatap pantulan Rafael dari cermin. Dia tersenyum ke arahku. "Selamat pagi, Tuan Muda." sapa Bu Laras pada Rafael. Rafael berjalan ke arahku kemudian menyentuh puncak kepalaku dan membelainya beberapa kali. "Kamu sangat cantik." puji Rafael. Aku menunduk saat melihat pipiku mulai bersemu merah. Rasanya sangat nyaman ketika pria itu di dekatku. Rafael memutar bahuku hingga berhadapan dengannya. "Apakah tidurmu nyenyak?" tanyanya lembut. Aku mengangguk. "Syukurlah." ujarnya sembari memainkan anak rambutku. "Sekarang, ayo kita sarapan! Aku harus segera ke kantor setelah ini." lanjutnya. Aku mengangguk. Detik berikutnya aku mengikuti langkahnya menuju ruang makan. Aku menatap nasi goreng di hadapanku dengan penuh minat. Aromanya sangat harum. Rafael membalikkan piring di hadapanku lalu mengisinya dengan nasi goreng. "Habiskan ya!" Aku mengangguk cepat kemudian segera menyantapnya. "Kamu sangat lapar ya?" tanya Rafael sembari terkekeh. Aku tersenyum kecil menanggapi ucapan Rafael, kemudian memperlambat kegiatan makanku. Selesai makan, Rafael menggandengku hingga ruang tamu. Lalu ia mendudukanku di sofa. "Rafael mau kemana?" tanyaku. "Aku mau kerja. Tapi, sepulang kerja aku akan segera kemari." Rafael. "Lalu, aku bagaimana?" Rafael membelai rambutku lembut. "Kamu disini saja! Beristirahatlah!" Aku sedikit tidak rela membiarkannya pergi. Aku menunduk sembari memainkan kuku jariku. "Hey!" panggil Rafael. Pria itu mengangkat daguku agar bertatapan dengannya. "Ada apa?" tanyanya. "Aku mau bersama Rafael." lirihku. "Aku harus kerja, Litha. Ini hari pertamaku bekerja. Dan kamu tidak bisa ikut." terang Rafael. Aku menghela napas kecewa. Tidak bisakah Rafael selalu disisiku? Hanya dia yang aku percaya. "Kenapa?" tanyaku. Rafael tampak berpikir. Setelah mendapat jawaban, ia kembali memfokuskan tatapannya padaku. "Ya...karena pekerjaanku di kantor sangat banyak. Dan aku tidak mau kamu bosan disana" "Apa karena aku mungkin akan merepotkanmu? Aku malu-maluin ya, Rafael? Karena aku berbeda dengan yang lainnya?" tanyaku hati-hati. Jujur, aku menyadari semuanya. Aku tidak seperti wanita pada umumnya. Aku lebih seperti wanita..... Gila. "Enggak, Litha. Tidak seperti itu." Rafael. Aku tersenyum miris kemudian melepaskan tanganku yang sedari tadi menahan lengan Rafael. "Litha, aku sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu. Kamu berbeda, karena kamu istimewa." terang Rafael. Aku mendongak. Menatap manik mata Rafael. Tidak ada kebohongan disana. Sepertinya, ia mengungkapkan apa yang benar-benar ada di hatinya. Tapi....aku sadar siapa aku, bagaimana latar belakangku. Meskipun Rafael melihat aku sebagai wanita normal, tapi bagaimana dengan pandangan orang di luar sana? Mereka pasti akan langsung tahu kalau aku memiliki gangguan jiwa. Mereka pasti akan mengejek dan mengusirku. Seperti orang-orang sebelumnya. "Aaarrrggh!" Aku meringis memegangi kepalaku yang terasa nyeri. Mataku terasa kabur. Semua objek yang tertangkap indera penglihatanku menjadi dua. "Litha! Hey kamu kenapa?" "Litha!" Tiba-tiba aku merasa tubuhku melayang. Rafael menggendongku ala bridal style membuatku sempat memekik kecil. "Hey, Litha, kamu baik-baik saja kan?" "Bu Laras! Bu Laras!" "Iya, Tuan. Astaga, Nona Litha kenapa?" panik Bu Laras. "Panggil dokter! Sekarang!" Setelah itu, aku tidak dapat mendengar apapun lagi. Aku hanya dapat melihat sosok Rafael di sisi tempat tidurku meski tidak begitu jelas. Yang ku rasakan saat ini adalah pusing. Sangat pusing dan nyeri di kepalaku. Aku merasakan genggaman hangat di tanganku. Namun aku tidak dapat membalasnya. Sayup-sayup, aku mendengar suara Rafael. Sepertinya ia tengah berbincang dengan seseorang. "Jadi, bagaimana kondisinya, Dok?" "Kondisi fisiknya sangat bergantung dengan mentalnya." "Maksud dokter?" "Mentalnya sangat rapuh. Ia mudah tertekan. Dan ketika ia tertekan, fisiknya akan ikut melemah, seperti saat ini." "Lalu, apa yang harus saya lakukan?" "Saran saya, dia di rawat di rumah sakit untuk beberapa hari ke depan. Sebab kondisinya sangat lemah dan tidak stabil." "..." "..." Pembicaraan masih terus berlanjut. Aku memegangi kepalaku yang masih terasa nyeri. Aku berusaha untuk duduk dan menyandarkan punggungku. "Kondisi psikologisnya tidak seperti orang pada umumnya. Sepertinya ia memiliki tekanan yang sangat besar di hidupnya yang membuat mentalnya terganggu. Dan, tidak dapat di pastikan, apakah dia bisa sembuh atau tidak. Bahkan saya khawatir, dia bisa melukai orang lain atau mungkin dirinya sendiri." Mataku memanas mendengar pernyataan Dokter itu. Separah itukah kondisiku? Jadi, selamanya aku akan gila? Lalu, apa yang akan terjadi pada Rafael jika aku tetap di sampingnya? Mungkinkah ia juga akan membuangku seperti mereka? Aku memegangi dadaku yang terasa sesak. Aku menangis dalam diam. Perlahan, aku menurunkan kakiku dari tempat tidur. Aku berusaha berdiri. Berjalan ke arah pintu dengan berpegangan pada tembok dan beberapa barang. Aku mendendap-endap agar tidak menimbulkan suara. Terutama ketika melewati Rafael dan Dokter yang masih sibuk dengan perbincangan mereka. 'Cklek' Aku membuka pintu apartemen yang ternyata tidak di kunci itu, kemudian kembali menutupnya dari luar. Aku berjalan menjauhi pintu apartemen Rafael, kemudian menuruni anak tangga. Sampainya di depan bangunan mewah itu, aku menghentikan langkahku. Aku melirik kesana-kemari. Dan yang ku dapati adalah, tatapan aneh dari orang-orang yang berlalu-lalang. Aku menatap kakiku yang tidak memakai alas apapun. Dan, beberapa saat kemudian aku sadar. Pasti mereka menganggapku sebagai orang gila. Air mataku kembali menetes. Namun dengan segera aku menghapusnya kasar. Aku berlari tanpa tujuan. Yang ku tahu hanya menghindar dari orang-orang yang memandangku aneh itu. "Awwh!" Aku memekik saat tubuhku membentur kerasnya aspal. Lutut sebelah kananku terasa perih. Dan setelah ku periksa, ternyata terdapat luka disana. Aku meniupnya beberapa kali. Rasanya sangat perih. Meski tidak seperih mataku yang menahan tangis. Aku tampak semakin menyedihkan sekarang. Isakan kecil mulai keluar dari mulutku. Dan telingaku menangkap bisikan-bisikan yang mencemoohku. Sebegitu anehkah aku? Isakanku semakin keras. Fisikku terasa sakit. Begitupun dengan jiwaku. Kapan semua ini akan berakhir? Mom, apa kau tak berniat menjemput puterimu ini? Aku sangat merindukanmu. Aku merindukan rasanya dicintai. Bayangan wanita paruh baya bermata biru itu kembali muncul di otakku. Dia Momku. Orang yang paling aku cintai, dan juga sangat mencintaiku. Aku selalu merasa lemah saat mengingatnya. Terutama ketika bayangan kecelakaan itu. Kecelakaan yang terjadi tepat di ulang tahunku yang ke-17. Kecelakaan yang telah merenggut nyawa dua orang yang aku cintai. Kecelakaan yang telah membuat hidupku berubah. Setelah cukup lama terduduk di pinggir jalan, aku berusaha bangkit. Rasa perih di lututku semakin menyulitkan usahaku. Namun aku tidak boleh terus disini. Aku harus segera pergi sebelum Rafael menemukanku. Meskipun aku tidak begitu yakin jika ia sedang mencariku. Seperti dulu sebelum bertemu Rafael, aku berjalan tanpa arah di pinggir jalan. Menahan rasa lapar dan haus, bukan sesuatu yang baru bagiku. Aku sudah terbiasa dengan semua ini. Pakaianku sudah acak-acakkan. Bajuku penuh noda khas jalanan. Aku sudah kembali menjadi Talitha, gadis jalanan dengan gangguan mental. Hari telah gelap. Aku masih belum menemukan tempat untuk beristirahat malam ini. Bahkan perutku pun belum terisi sejak pagi tadi. Langkahku semakin melamban. 'Brugggghh' "Aaarrrgghh" Lagi. Kesialan menghampiriku. Sebuah mobil menabrakku hingga aku tersungkur dan mendapat beberapa luka baru. Si pemilik mobil keluar dan berjalan cepat ke arahku. "Ah elah. Ternyata orang gila! Heh! Pergi sana! Minggir buruan! Mau mati apa?!" bentaknya. Aku seperti mengenali suaranya. Aku menatapnya. Hanya beberapa detik sebelum bayangan tujuh tahun lalu kembali muncul. Gadis itu... "Aaaarrrgghh" Kepalaku kembali terasa sakit. Aku menjambak rambutku kuat karena sakitnya. "Aaarrrggh" Aku terus memekik kesakitan. Rasanya benar-benar sakit. Kepalaku terasa akan pecah. Aku meronta saat merasakan sebuah tangan menyentuh kepalaku. Aku mendorong orang itu hingga ia tersungkur. Namun ia kembali mendekatiku. Ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajahku dan berusaha menurunkan tanganku. Apakah dia gadis tadi? Apa dia ingin menyakitiku lagi? "Pergiii!!! Jangan sakiti aku! Aku mohon pergii!!" pekikku. Namun sosok itu terus berusaha menurunkan tanganku yang tengah menjambak rambutku sendiri. "Aku bilang pergi! Tolong pergi!" "Hey! Litha! Ini aku." Aku masih terus menjambak rambutku dan menjerit histeris. Siapapun....tolong aku! Aku sangat takut. “Ku mohon, pergi! Jangan sakiti aku lagi. Aku takut.” "Litha stop! Litha ini aku, Rafael. Litha please, jangan seperti ini!" Rafael? Apa aku salah dengar? Ya. Aku pasti salah dengar. Yang menabrakku tadi adalah seorang gadis. Gadis yang wajah dan suaranya mirip dengan orang di masa laluku. 'Brukk' "Aaarrggh" Aku memukul keras orang tersebut hingga ia memekik kesakitan. Suara itu.....Rafael? Mataku membolat saat mendapati pria itu masih setia di hadapanku. Melihatku yang mulai diam, Rafael kembali mendekatiku dan segera memelukku erat. Sangat erat. "Ra..fael?" kagetku. "Kamu kenapa pergi? Aku mencarimu seharian ini. Aku mengkhawatirkanmu, Litha." bisiknya. Tunggu! Bukankah yang menabrakku tadi seorang perempuan? Dimana ia sekarang? Aku yakin. Dia orangnya. Bukan Rafael. Aku sangat mengenal suara dan matanya. "Litha, kamu kenapa?" tanya Rafael sembari melepas pelukannya. Ia menatapku sendu. Seakan menangkap keanehan pada tatapanku. Aku kembali memegangi kepalaku yang masih terasa sakit. "Litha..." "Maaf..." lirihku. "Kamu kenapa?" Rafael. "Ak..aku harus pergi, Rafael." ujarku kemudian mencoba berdiri. Belum sempat aku berdiri, tubuhku terhuyung. Namun, dengan sigap Rafael menangkapku. Rafael kembali menggendongku. "Kamu terluka. Kita pulang sekarang." ucapnya tegas. Tapi...aku harus pergi darinya. Aku tak ingin dia mendapat kesialan karenaku. 'Kau ini anak pembawa sial. Orang tuamu mati karena kamu. Semua salahmu.' 'Dasar pembunuh. Kamu telah membunuh orang tuamu sendiri.' 'Semua kesialan yang terjadi pada keluarga ini adalah karenamu. Kamu itu pembawa sial.' 'Pembunuh!' Kilasan masa lalu itu kembali terngiang di telingaku. Kepalaku semakin terasa pusing. Dan akhirnya, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Aku terbangun ketika sebuah cahaya masuk ke kamar yang aku tempati. Mataku terbuka perlahan. Menyusuri setiap sudut ruangan mewah ini. Tunggu! Kamar? Aku terkejut mendapati diriku terbaring di kamar yang malam kemarin ku tempati. Apartemen Rafael. Aku menggerakkan kakiku untuk turun dari tempat tidur. Tapi.... "Awwhh!" Kedua lututku terasa perih. Akupun segera memeriksanya, dan aku baru ingat jika seharian kemarin aku mendapat luka di tubuhku. Tapi....siapa yang sudah membalut lukaku? Aku mengingat kembali kejadian semalam. Yang ku ingat, aku tertabrak mobil, lalu melihat sosok gadis yang menabrakku dan seketika membuatku histeris. Kemudian, Rafael datang dan....apakah Rafael yang melakukannya? Dimana dia sekarang? 'Cklek' Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah pintu yang terbuka. "Selamat pagi, Nona! Ternyata Anda sudah bangun." sapa wanita paruh baya itu sopan. Bu Laras. "Dimana Rafael?" tanyaku. "Tuan Muda ada di ruang tamu, Nona. Beliau tidur disana setelah semalaman mengobati luka Anda." terang Bu Laras. Benarkah dia sendiri yang mengobati luka-lukaku? Tapi, lukaku sangat banyak. Ada lima luka di tubuhku. Pasti membutuhkan waktu cukup panjang untuk mengobatinya. "Mari, Nona, saya bantu Anda membersihkan diri." lanjut Bu Laras segera menuntunku ke kamar mandi. Dua puluh menit kemudian, aku selesai membersihkan diri dan berganti pakaian. Aku meminta bantuan Bu Laras untuk menemui Rafael. Bu Laras membantuku duduk di sofa samping Rafael tertidur. Tidak lama, terlihat pergerakan pada pria itu. Perlahan, ia membuka matanya, dan segera tersenyum setelah menyadari keberadaanku. "Kamu sudah bangun?" tanya Rafael dengan suara seraknya. Aku mengangguk kecil. Rafael bangun dari tidurnya kemudian duduk di sampingku. Aku menatap wajahnya yang tampak kelelahan. Perlahan, aku mengangkat tangan kananku untuk menyentuh pipinya. Dan membelainya beberapa kali. "Ada apa, Litha?" Pertanyaan itu membuyarkan lamunanku. Aku segera menarik kembali tanganku dan menundukan kepalaku. "Maaf!" lirihku. "Hey, untuk apa kamu meminta maaf?" Rafael. "Karena selalu merepotkanmu dan membuatmu lelah." jawabku. Rafael mengangkat daguku sehingga aku dapat melihatnya yang kini tersenyum. "Cukup dengan kamu selalu disisiku, maka aku akan baik-baik saja. Jangan pernah mencoba kabur lagi! Mengerti?" ujar Rafael. Aku tidak mengerti dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Memangnya kenapa dia akan baik-baik saja ketika aku disisinya? Aku bukan sesuatu yang berharga. Bahkan aku tidak dapat melakukan apapun selain membuatnya susah. "Maaf Tuan Muda, saya ingin mengganti perban Nona Litha." ucap Bu Laras yang baru saja datang dengan kotak P3K di tangannya. "Biar saya saja." balas Rafael singkat. "Biar Bu Laras saja, Rafael. Kamu mandi saja." sambungku. Rafael melangkah mendekati Bu Laras lalu mengambil alih kotak P3Knya. Setelah itu, ia kembali duduk di sofa yang sama denganku. Aku sedikit terpenjat saat tiba-tiba Rafael mengangkat kakiku dan meletakkannya di pangkuannya. Aku merasa ini tidak pantas. Aku ingin menurunkannya kembali, tapi Rafael menahannya. "Sudahlah, rilekskan dirimu dan gunakan bantal itu untuk bersandar!" suruhnya. Aku mengikuti arahannya. Yang ku lakukan kini hanyalah memperhatikan Rafael mengobati luka-luka di kakiku. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati dan sesekali meniupinya ketika aku merasa perih. Apakah dia benar-benar Rafael? Kenapa dia mau melakukan hal seperti ini hanya untuk gadis sepertiku? Setelah selesai mengganti perban di kedua kakiku, Rafael membantuku untuk duduk seperti semula. Ia menarik tanganku untuk mengobati luka yang terdapat disana. "Rafael!" panggilku di tengah kesibukannya. "Hmm.." balasnya. "Bukankah Rafael harus bekerja?" tanyaku hati-hati. "Iya. Setelah ini aku akan mandi dan segera ke kantor." "Tuan Muda, sebaiknya Anda segera bersiap! Biar luka Nona Litha saya yang mengobatinya. Jangan sampai Tuan Bisma marah karena Anda terlambat. Bahkan kemarin Anda tidak masuk di hari pertama bekerja." ujar Bu Laras. Aku menarik tanganku cepat dari Rafael. "Kamu bersiap ke kantor saja, Rafael!" pintaku. Rafael kembali menarik lenganku dan mengobatinya. "Rafael!" protesku. "Selesai ini aku akan segera bersiap. Tenanglah, Papaku tidak akan membunuhku hanya karena masalah ini." ungkap Rafael dengan tenangnya. "Aku tidak ingin kamu terkena masalah karena aku." lirihku. Selesai mengobati tanganku, Rafael mengalihkan pandanganya ke mataku. Tatapan kami bertemu. Aku dapat melihat jelas senyumannya. Tangannya menyentuh pipiku dan mengusapnya perlahan. "Aku akan baik-baik saja selama kamu disisiku," Ini kedua kalinya aku mendengar kalimat itu keluar dari mulut Rafael. Namun hingga sekarang, aku masih tak mengerti maksudnya. "Maka dari itu, jangan pernah kamu pergi lagi! Tinggalah disini, disisiku!" lanjutnya. Aku mengejapkan mataku berkali-kali. Rafael seperti ilusi. Ilusi yang sangat indah dan tampak nyata. Aku tidak dapat memastikan, apakah ini nyata, atau hanya mimpiku saja? Setelah itu, Rafael bangkit dari duduknya dan masuk ke kamar yang semalam ku tempati. Sebab, yang ku tahu di apartemen ini hanya terdapat dua kamar. Kamar yang ku tempati, dan juga yang di tempati Bu Laras. Dan di kamar yang ku tempati, terdapat banyak barang pria dan pasti semua itu adalah milik Rafael. "Nona, mari saya antar ke ruang makan!" Bu Laras. "Nanti saja, bersama Rafael." tolakku. Lima belas menit kemudian, Rafael keluar dari kamar. Ia sudah mengenakan pakaian rapi. Ia berjalan cepat ke arahku. "Kenapa kamu belum juga sarapan, Litha?" tanyanya. "Aku menunggumu." balasku. "Tidak perlu menungguku. Sepertinya aku sarapan di kantor saja. Ingat, makan yang banyak dan segera minum obatmu. Bu Laras akan membantumu." ujar Rafael. Aku mengangguk paham. Mataku terpejam saat merasakan bibir Rafael menempel di keningku. Hanya sebentar, dan dia segera membenarkan posisinya. "Aku pergi dulu. Nanti sore aku akan kesini lagi." pamitnya. Aku mengangguk dan mengikutinya hingga pintu apartemen. Aku menatap punggungnya yang menjauh, kemudian hilang setelah masuk ke lift. "Nona!" Aku membalikkan badanku dan mendapati Bu Laras sudah berdiri di hadapanku. "Mari, Nona sarapan dulu. Setelah itu saya akan menyiapkan obat Nona." Bu Laras. Aku mengangguk lalu menerima uluran tangan Bu Laras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD