PROLOG

579 Words
Happy Reading ^_^ *** “Nick, tolong dengarkan aku dulu.” Seorang perempuan terlihat berusaha keras menjelaskan sesuatu. Dia menatap lekat-lekat kekasihya yang sedang marah dengan tatapan memohon. “Apa lagi yang mau kau jelaskan, Esther? Apa kau akan menyuruh aku tenang lagi? Sudah tak terhitung berapa kali aku berhasil menahannya, tapi kau tetap tidak memahami aku. Bahkan berusaha pun tidak.” “Lalu apa yang harus aku lakukan? Merebut kekuasaan seperti di drama-drama kampungan yang pernah aku tonton? Demi Tuhan, Nick, Oliver adalah adikku! Untuk apa aku berusaha bersaing dengan adikku sendiri hanya karena perusahaan?!” Perempuan itu, Esther Kinara Wang, atau yang kerap disapa sebagai Esther terlihat jengkel sekali. Dia selalu tidak suka dengan topik ini. Merusak hubungan kekeluargaan saja, pikirnya. Tapi di sisi lain dia pun tidak ingin hubungan percintaannya dengan Nick rusak. Dia teramat mencintai Nick. “Esther, selama ini kau hanya tahu kalau kau punya uang, tapi tidak tahu bagaimana caranya menghasilkan uang-uang tersebut. Lalu saat dunia tidak lagi memihakmu, kau pikir siapa yang akan memberimu uang-uang tersebut? Tidak ada. Tidak ada, kecuali dirimu sendiri.” “...” “Jadi selagi kau bisa mendapatkan sesuatu –dalam hal ini adalah posisi di perusahaan yang mana akan membuatmu menghasilkan uang yang banyak, maka kau seharusnya tidak boleh menyia-nyiakannya. Toh, ini juga untuk dirimu sendiri, Esther.” Esther menghela napas dengan lemah. Jujur, dia muak sekali. Topik ini selalu menjadi topik utama saat dirinya bersama Nick. Padahal tujuannya menemui Nick adalah untuk bersenang-senang selayaknya manusia pacaran pada umumnya. Tapi lihatlah apa yang didapatkan dirinya—hanya pertengkaran, pertengkaran, dan pertengkaran. Lalu, apa yang harus dia lakukan agar dia dan Nick berhenti membahas hal yang sama berulang kali? Haruskah dia menuruti perkataan Nick, yaitu bergabung dengan perusahaan keluarganya? Tapi meskipun begitu Esther masih tidak paham kenapa dirinya HARUS bergabung di perusahaan yang tidak diinginkannya. Maksudnya... untuk apa? Tanpa bekerja pun dia punya uang yang banyak dari persenan saham yang diberikan oleh Papa dan Mamanya. Bahkan sejujurnya kondisi finansialnya pun sudah diatur sedemikian rupa oleh Papa dan Mamanya sehingga pada momen terburuk sekali pun hidupnya dan hidup Oliver tetap tidak akan kacau balau. Dengan semua kepastian ini, kenapa Nick masih saja berusaha mendorongnya untuk masuk ke perusahaan Mama atau Papanya? “Nick, percayalah, aku akan baik-baik saja. Duniaku tidak akan hancur dalam sekejap karena Mama dan Papa sudah memikirkannya sampai ke titik yang orang-orang tidak akan pernah pikirkan.” “....” “Aku sangat-sangat berterima kasih karena kau begitu mengkhawatirkan aku. I love you, Nick. Dan thank you so much atas kepedulian kamu ke aku. Tapi, please, bisa kita berhenti di sini saja tentang hal ini? Jujur saja, aku muak membahas hal yang sama setiap harinya.” “Apa sesulit itu masuk perusahaan seperti permintaan aku, Esther?” Ini lagi... “Sudahlah. Jangan mengikuti aku lagi. Aku benar-benar tidak mau berbicara dengan kamu kalau kamu masih seperti ini.” Esther tercengang, apalagi ketika Nick masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkannya dengan ekspresi terperangah. Dia... ditinggalkan seperti ini? Seorang Esther Kinara Wang ditinggalkan di pinggir jalan seperti ini? Demi Tuhan— Ini bukan perkara dia tidak punya uang untuk mencegat taksi atau ponselnya mati sehingga tidak bisa menelpon supir yang selalu ditugaskan untuknya. Ini tentang harga dirinya. HARGA DIRINYA! Dia adalah Esther Kinara Wang... lalu apakah dia pantas untuk merasakan hal ini? Tentu saja tidak. Tapi cinta terlalu membutakan dirinya hingga Esther selalu berlapang d**a terlepas sesering apa pun Nick menginjak-injak harga dirinya. Sialan! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD